
Di luar ruangan tempat di mana Raka sedang di periksa.Azizah dan Satria menunggu nya dengan cemas.
"Oek..Oek..."dari luar terdengar suara tangisan Raka,sekali lagi membuat Azizah tidak bisa tenang.
"Sayang sabar.Aku yakin Raka akan baik-baik saja"Satria mulai menenangkan sang istri.
"Ini tidak mudah Sat,kami sudah berusaha beberapa bulan yang lalu,saat kamu hilang.Tapi,dokter juga tidak bisa mengobati Raka sampai sembuh"timpal Aldo yang begitu kecewa.
Ceklek !
Dokter Sella keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana dok?"
"Raka sudah tertidur setelah perawatan.Azizah kamu yakin akan selalu menggunakan alat itu untuk membuat Raka bertahan hidup?"
"Lakukan yang terbaik dok,apapun itu kami akan menyetujui nya"sambung Satria.
"Kalau begitu,biarkan Raka di rawat disini dulu selama beberapa bulan untuk perkembangan nya.Percayakan Raka pada ku,aku akan menjaga nya dengan baik"
Azizah ragu dengan keputusan Sella,namun ia juga tidak ingin Raka selalu menderita,Azizah ingin Raka segera sembuh.Satria menguatkan Azizah dan meminta sang istri untuk merelakan itu.
"Baik lah dok,biarkan kami bertemu dengan Raka"
"Iya,jangan bawa masuk Arkana ke dalam ya"
"Iya dok"Aldo pun menunggu di luar ruangan.Sementara,Satria dan Azizah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Blam!
Satria menutup kembali pintu ruangan itu,terlihat Raka yang sudah tertidur begitu pulas di dalam box baby.Banyak alat yang terpasang di tubuh Raka membuat Azizah tidak dapat menahan air mata nya.
"Mas,apa semua ini akan baik-baik saja?"Azizah melirik ke arah Satria,yang saat ini juga berdiri di sebelah nya.
"Serahkan semua pada Allah sayang.Mas yakin semua akan baik-baik saja.Kita pasti akan segera berkumpul kembali seperti dulu"
"Iya mas"
Azizah pun mendekat box bayi,lalu menyentuh wajah anak nya yang tertidur.
__ADS_1
"Ayo kita pulang,kita harus membawa Arkana kembali"
"Sebentar lagi mas,aku masih belum bisa meninggalkan Raka sendiri disini"Azizah masih tidak tega meninggalkan Raka sendiri di rumah sakit.Namun,ia harus bisa merelakan itu agar Raka segera sembuh.
Satria segera membawa paksa Azizah keluar dari ruangan Raka.Melihat Azizah yang begitu sedih membuat Satria juga ikut sakit.Apalagi saat melihat Azizah menangis membuat Satria begitu tidak berdaya.
* * *
Sudah dua hari Azizah meninggalkan Raka di rumah sakit.Satria pun merasa khawatir bila meninggalkan Azizah di rumah dalam keadaan sedih.
"Sayang,aku pergi dulu.Hari ini ada meeting,aku janji aku akan pulang lebih cepat hari ini"
"Eeeemm"sahut Azizah pelan,tanpa melihat kearah Satria,dalam pelukan nya ada bingkai foto milik Raka.
"Sayang,kamu tidak boleh terlalu bersedih begini,kasian Arkana.Dia juga butuh kasih sayang mu.Ayo kita keluar dulu,seperti nya Arkana sudah di meja makan"
Azizah pun menurut saja,saat Satria membawa nya keluar dari kamar.Surnarsih sudah kembali ke desa gelap.Kini hanya tinggal mereka berlima di rumah Purna.
"Bi bawa 'kan bubur bayi kesini"titah Satria.
"Baik Tuan"Atun segera kembali ke dapur.Azizah terlihat begitu tidak bersemangat.Bagaimana dia bisa duduk dengan tenang,sedangkan Raka sedang berjuang untuk melawan penyakit nya.
"Sini Ran,biar aku yang mengendong nya"
Rani pun memberikan Arkana kepada Azizah,terlihat raut wajah Arkana yang berubah begitu lucu kesengajaan di gendong oleh Azizah.
Semenjak tahu Raka sakit,Azizah lebih fokus ke Raka.Azizah sangat jarang bermanja dengan Arkana.
"Kamu suapi Arkana saja,aku bisa ambil sendiri"Satria segera sarapan,karena dia harus pergi ke kantor.Orang kantor sudah menelpon Satria,bahwa ada meeting pagi ini.
A few minutes later. . .
"Sayang,aku berangkat dulu,kamu baik-baik di rumah ya,hari ini aku akan pulang cepat.Nanti kita berkunjung ke rumah sakit "pamit Satria sembari mengecup kening sang istri yang sedang menyuapi Arkana dalam gendongan nya.
"Iya mas,hati-hati mas"
"Iya sayang.Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
Satria pun berlalu menuju pintu utama.Satria sesekali melirik jam tangan yang ada di tangan nya masih ada waktu untuk dia segera tiba di kantor.
Begitu tiba,Satria segera memarkirkan mobil nya.Satria juga melihat mobil Aldo dan yang lain sudah tiba disana.Satria telat lima menit.
"Pak,pas sekali anda sudah tiba"
"Anita,apa mereka semua sudah datang?"
"Sudah pak,Aku tadi sudah meminta ijin kepada mereka dalam waktu sepuluh menit,dan mengabari Anda sudah di jalan"
"Kerja yang bagus.Ayo kita ke ruangan meeting"
Anita dan Satria bergegas menuju ruangan meeting.
Ceklek !
"Selamat pagi"sapa Satria,
"Pagi"jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Maaf,atas keterlambatan saya"ucap Satria sembari tersenyum,lalu duduk di kursi kepimpinan.Sebelum Satria memulai rapat ia melirik kursi Ceo milik sang papa,Aldo mengetahui itu.
"Hari ini kita kedatangan tamu istimewa"seru Aldo,Satria pun tersadar lalu melirik ke arah dua orang yang berbeda dari sebelum nya.
"Maafkan saya yang belum menyapa anda berdua.Senang bertemu dengan Anda,Tuan Albert king dan Tuan Justin Arlando"
Dua pria yang di sebut oleh Satria adalah Klien negara asing yang cukup berpengaruh di perusahaan itu,dan sudah banyak membantu Purna.
"Senang bertemu dengan Anda"
Albert dan Justin pun berdiri untuk bersalaman dengan Satria.
"Baiklah,mari rapat nya kita mulai"
Satria pun memulai rapat nya,dia mulau membahas proyek lama yang sempat terkendala dengan hilang nya dia beberapa bulan yang lalu.
"Saya meminta maaf proyek ini sempat tertunda sebelum nya,dan ada banyak klien yang bekerja sama dalam proyek ini juga ikut menghilang,banyak yang meninggalkan Purna"ungkap Satria,yang kini berdiri dari tempat duduk nya.
Satria pun mulai memperlihatkan layar proyektor yang telah di atur oleh Anita.
__ADS_1
"Saat saya hilang dan tidak ada kabar,purna bukan tidak mampu mengatasi masalah nya sendiri.Namun,hanya saja ini kesempatan bagi purna untuk menyingkirkan orang - orang yang mencari keuntungan tanpa mau rugi sedikit pun.Sebelum proyek ini berjalan dengan lancar,Anita telah menyimpan semua data-data proyek,dia bisa saja melakukan itu sesuai dengan yang semestinya.Namun,Anita tidak melakukan itu,ia tetap percaya kalau saya akan kembali untuk memegang proyek ini,dan begitu saya tiba benar saja banyak yang telah pergi dari purna"penjelasan Satria membuat Albert begitu kagum.