Wanita Cadar Tanpa Mahkota

Wanita Cadar Tanpa Mahkota
Kehidupan mereka


__ADS_3

Al baru saja berangkat kerja,kini hanya tinggal Aisyah bersama dengan Alex dan Maryam.


"Bagaimana kabar Papa Umi?"tanya Aisyah.


"Masih sama sayang,belum ada tanda-tanda ia akan membuka mata nya"


Alex terbaring lemah di tempat tidur,Maryam masih begitu setia merawat sang suami,meskipun usia nya juga tidak muda lagi,namun Maryam tidak meninggalkan Alex walau hanya satu menit,kadang ia lupa makan hanya untuk menunggu Alex membuka matanya.


"Umi istirahat lah,biar Aisyah yang menjaga Papa,jika papa bangun,Aisyah akan memberitahu Umi!"tukas Aisyah yang kasian dengan kondisi Maryam.


"Tidak apa-apa,Umi akan menunggu disini,sampai mas Alex bangun"


Meskipun Aisyah sudah membujuk,Maryam juga tidak mau bergerak dari tempat duduk nya,ia terus menggenggam tangan Alex.Tangan yang dulu begitu kekar dan lengan berotot,kini hanya keriput dan kit yang kendur.


Aisyah langsung keluar dari tempat itu,karena mendengar suara mobil.


Tiba Aisyah di teras,ia melihat Atika yang datang bersama dengan El.Hanya ada mereka disana,anak-anak sedang menuntut ilmu di negara orang.


"Assalamualaikum,kak ipar!"ucap El dan Atika,


"waalaikumsalam"jawab Aisyah,berjabat tangan dengan Atika lalu memeluk wanita itu sebentar.


"Dimana Papa?"


"Ada di kamar,langsung ke kamar saja,aku akan menyiapkan minuman untuk Kalian"


El dan Atika pun berlalu ke arah kamar,dimana Alex dan Maryam berada.Aisyah masuk ke dapur dan menyuruh pelayan untuk menyiapkan minuman untuk El dan Atika.


* * *


Meskipun sudah berada begitu lama di Inggris,Kejora dan Bara tidak melupakan keluarga mereka di Indonesia.


"Mentari!"teriak Kejora dengan keras,


"Sabar ma,sedikit lagi!"Mentari juga berteriak tidak kalah keras dari Kejora.


"Kenapa sih,harus teriak-teriak,sampai sakit ini kuping!"timpal Bara,


"Anak mu itu mas,kalau enggak teriak enggak dengar dia!"Kejora langsung menarik koper nya keluar dari rumah.


Di depan mobil,sopir sedang menunggu nya.


"Mau berangkat sekarang Nyonya?"


"Tunggu Tuan sama Mentari belum keluar"sopir mengangguk,Kejora kembali masuk dan melihat suami dan anak nya.


Begitu Kejora masuk ke dalam rumah,ia tidak melihat adanya Mentari bersama dengan Bara.


"Mas,dimana Mentari?"


"Belum keluar!"


"Aku akan melihat nya!"Kejora pun berjalan ke arah kamar Mentari.


Ceklek !


"Kenapa lama sekali sih?"tanya Kejora begitu pintu terbuka.


"Astaga...Mentari!"Kejora menghampiri Mentari yang sedang memasukan beberapa hadiah ke dalam koper nya.


"Apa yang kamu lakukan? untuk apa ini semua hah?"tanya Kejora,sembari mengangkat salah satu hadiah yang ada di depan nya.


"Ini untuk aku bagikan untuk teman-teman aku di indonesia.Disini juga ada beberapa hadiah untuk Raka dan Arkana!"


Kejora hanya bisa menghela nafas,lalu melihat Mentari yang meninggalkan nya di kamar.


Melihat Mentari sudah keluar,Kejora pun segera menyusul.


"Mama cepat!"teriak Mentari dari luar,ternyata Mentari dan Bara sudah masuk mobil lebih dulu.


"Dasar anak itu!"gumam Kejora yang mempercepat langkah nya.Lalu, tiba disana,melihat Bara yang sedang menunggu nya.


"Cepat masuk,kita akan terlambat jika tidak segera tiba disana!"


"Iya!"Kejora pun segera masuk ke dalam mobil,begitu juga dengan sopir,yang sudah mengambil posisi kemudi.


* * *


Arkana baru saja selesai mengikuti pembelajaran nya.Edward sudah menunggu Arkana sepanjang hari di depan mobil.


Ceklek !


"Tuan Arkana silahkan !"


"Terimakasih paman!"


Arkana langsung masuk ke dalam mobil,lalu Edward juga ikut masuk.


"Paman,boleh kah,kita singgah di toko eskrim dulu? Aku ingin makan es krim coklat!"


"Eeemmm,tapi Tuan..."Edward tidak melanjutkan ucapan nya,


"Sebentar saja Paman,kita makan di mobil juga boleh!"


"Yasudah,tidak boleh lama ya Tuan,hari ini anda ada latihan berkuda!"


"Siap Paman!"Arkana pun senang sehingga senyuman di bibir nya terukir begitu manis.


Tak lama kemudian,mobil tersebut berhenti di depan sebuah toko eskrim.


"Tuan,tunggu disini,biar saya yang membeli nya"


"Tidak apa-apa paman,aku akan pergi membeli nya!"Arkana pun segera turun,dan masuk ke dalam toko eskrim tersebut.

__ADS_1


Tiba di depan pintu,Arkana melihat Pelayan yang kemarin membuat ia terpesona kini sedang berbicara dengan seorang pria.


"Sudah ku katakan aku tidak mencintai mu,kenapa kamu memaksa!"teriak pelayan wanita itu,


"Tapi,aku suka dan orang tua kita telah berjanji akan menikah 'kan kita!"tegas pria itu lagi,


"Aku tidak mau menikah dengan mu,kamu hanya akan menumpang hidup di keluarga itu.Dari dulu memang itu yang kamu inginkan!"


"Berani nya kamu menghina ku!"


Pak!


Arkana memegang tangan pria itu yang ingin menampar pelayan wanita tersebut.


"Lepas,siapa kamu berani ikut campur urusan kami?"Pria itu menatap geram ke arah Arkana.


"Saya tidak senang ada pria yang ingin memukul seorang wanita,kalau Bernard terjadi,itu pasti pecundang"cibir Arkana.


"Jadi Mouza pria ini yang membuat mu membatalkan pernikahan kita"Wanita itu terkejut dan membulatkan mata nya,karena ia sendiri tidak mengenali Arkana,dan bahkan ia tidak mengingat dengan wajah Arkana.


"Heem,iya.Dia calon suami ku!"tegas Mouza,memeluk lengan Arkana.


"Su-suami?"ulang Arkana menatap tajam ke arah Mouza.


Pria itu menatap kesal ke arah Mouza,


"Urusan kita belum berakhir,aku akan membawa Tante kesini,dan sampai saat nya kamu tidak akan bisa menolak pernikahan ini!"tegas Pria itu lalu segera pergi meninggalkan Mouza di dalam tempat itu.


Mouza masih senang memeluk lengan Arkana hingga tanpa sadar,Arkana sudah menatap nya dengan tajam.


"Eh,maaf-maaf!"Mouza langsung melepaskan tangan Arkana.


"Tuan,maaf saya telah menempatkan Anda dalam masalah saya,tapi untung saja ada anda yang membantu sehingga pria gila itu segera pergi"Mouza sedikit menundukkan kepala nya.


"Tidak masalah,berikan satu kotak es kirim rasa coklat untuk ku!"


"Iya tunggu sebentar!"Mouza pun segera mengambil nya,dan memasukan itu ke dalam paperbag Arkana,ia juga menyelip 'kan selembar kertas ke dalam paperbag tersebut.


"Berapa?"Arkana membuka dompet nya.


"Free.Yang ini free untuk Tuan,dan tidak perlu membayar ini,anggap saja ini sebagai tanda terimakasih saya!"tukas Mouza,sekali lagi menundukkan kepala nya.


"Tidak,tidak usah.Saya akan membayar nya"Arkana memaksa,Mouza juga memaksa untuk tidak perlu di bayar oleh Arkana.


"Tuan,apa Anda sudah selesai,Tuan Albert menyuruh kita untuk segera pulang"


"Sudah paman.Terimakasih untuk satu kotak es krim"Mouza mengangguk dengan bahagia,ia pun tersenyum ke arah Arkana.Disaat Arkana sudah masuk ke dalam mobil,Mouza masih melihat ke arah mobil Arkana,sampai mobil itu hilang dari pandangan nya.


* * *


Sekitar jam 2:00,semua orang sudah berkumpul di ruang kerja.Hanya ada Edward dan Arkana.Di atas kursi ada Albert dan juga beberapa pengawal yang mendampingi Albert.


"Edward,bagaimana perkembangan Arkana?"meskipun ada Arkana disana,Albert tetap ingin mengetahui itu semua dari Edward.Karena ia hanya memastikan apa selama ini Edward bekerja dengan benar-benar merawat Arkana.


"Bagus,itu yang ingin saya dengar.Edward satu lagi apa yang membuat kalian hari ini terlambat untuk kembali ke villa,sehingga membuat saya menunggu selama dua puluh menit lebih lama dari sebelum nya"


Edward melirik ke arah Arkana ,terlihat Arkana yang gugup.


"Maaf,Tuan.Hari ini saya membawa Tuan Arkana untuk membeli es krim,setelah berapa jam belajar di sekolah aku melihat Tuan begitu murung,jadi mengajak nya untuk menikmati es krim,supaya hati nya kembali adem"Pungkas Edward,Albert segera melirik ke arah Arkana,yang dari tadi menundukkan kepala nya,tidak berani menatap Albert.


"Arkana!"panggil Albert,Arkana langsung mendongakkan kepala nya.


"Iya Om"


"Kamu tidak perlu lagi datang berlatih tembakan,karena menurut informasi dari atasan mu,kamu sudah menguasai ilmu nya,dan untuk berkuda,kalau kamu ada waktu senggang silahkan datang,kalau enggak,lebih baik habiskan waktu mu untuk belajar,karena di university itu,biasa nya murid akan lulus dalam waktu dua tahun paling cepat,dan paling lama empat tahun.Aku berharap kamu salah satu mahasiswa yang akan lulus dalam waktu dua tahun!"tegas Albert,Arkana terkejut mendengar itu semua.Bagaimana tidak,biasa orang - orang akan lulus dalam waktu empat.Tapi,Arkana di tuntut untuk lulus waktu lebih cepat dari kampus yang lain.


"Akan Arkana usahakan Om"jawab Arkana dengan tegas,tanpa ada rasa takut,sehingga membuat Albert tersenyum puas dengan jawaban Arkana.


"Baik lah,kalau begitu kamu boleh keluar,dan istirahat!"Arkana pun bangkit dari tempat duduk nya,dan meninggalkan ruangan tersebut.


Ke esokan nya. . .


Arkana baru saja keluar dari rumah nya,lalu tidak melihat adanya Albert di meja makan,tapi hanya ada Edward saja.


"Dimana Om Albert?"


"Oh,Tuan sudah kembali tadi malam!"


"Secepat itu?"


"Benar"Edward pun menarik kursi untuk Arkana,dan pelayan menghidangkan sarapan pagi untuk Arkana.


Dua puluh menit berlalu,Arkana telah selesai sarapan,ia segera mengikuti Edward menuju mobil untuk berangkat ke kampus.


Di University . . .


Hari ini Arkana di panggil ke ruangan Lektor kepala,tentu saja itu membuat Arkana sedikit gugup.Bagaimana tidak,selama ini ia tidak pernah membuat kesalahan apapun.Namun,hari ini panggilan itu,justru membuat Arkana sedikit cemas dan gelisah.


Tok ! Tok ! Tok !


"Masuk!"


Ceklek !


Pintu terbuka,Tuan Sing menatap Arkana dengan senyuman,ia pun bangkit dari kursi nya menuju sopan.


"Bapak manggil saya?"tanya Arkana dengan sopan,


"Silahkan duduk"titah Tuan Sing saya Arkana berdiri di samping sofa.Setelah mendapatkan perintah itu,ia pun segera duduk di depan Tuan sing.


"Benar,saya memang memanggil kamu kemari,karena hanya ingin memberitahu kamu soal hasil nilai kerja keras kamu selama ini"tukas Tuan Sing,dan menyodorkan kertas putih ke depan Arkana,Pria ini segera mengambil dan melihat nya.


"Itu lah hasil kamu selama beberapa bulan disini,dan itu sangat memuaskan kami sebagai orang pengurus tempat ini.Saya yakin Tuan Albert telah berbicara dengan kamu,ada dua puluh mahasiswa yang akan lulus dalam waktu dua tahun,saya harap kamu salah satu nya!"tegas Tuan Sing,tapi masih menatap Arkana dengan senyuman yang tak pernah memudar di bibirnya.

__ADS_1


"Apakah saya mampu?"tanya Arkana dengan ragu.


"Tentu saja kamu mampu,bagaimana pun nilai yang kamu peroleh itu sangat luar biasa!"pujian Tuan Sing membuat Arkana merasa jika diri nya bisa melewati dua tahun kedepan.


"Baik lah Pak,kalau begitu saya permisi dulu,dan terimakasih atas kepercayaan Bapak kepada saya!"


Tuan Sing hanya mengangguk,saat Arkana akan berlalu dari hadapan nya.


* * *


Pagi-pagi sekali,Satria telah meninggalkan Azizah di rumah,bahkan ia tidak sarapan atau pun menyapa sang istri pagi ini.


"Nyonya mau pergi?"tanya Rani,saat melihat Azizah sudah rapi.


"Iya,aku akan pergi ke kantor Mas Satria"


"Baiklah,hati-hati Nyonya"


"Terimakasih Rani!"


Azizah pun segera keluar dan masuk ke dalam mobil nya,Rani melihat kepergian Azizah,dan itu tepat di jam 08:00 pagi,setelah Raka pergi Azizah pun ikut pergi.


Tiba di depan kantor Purna,Azizah tidak melihat adanya Anita di lobi,biasanya wanita itu akan berada di sana setiap pagi dan sampai di jam 10:00 pagi.


Azizah langsung berjalan ke arah ruangan Satria,terdengar dari luar ada Anita yang berasa di ruangan tersebut.


Tok !Tok ! Tok !


"Masuk!"


Ceklek !


"Sayang!"Satria terkejut,saat melihat Azizah menyusul dirinya ke kantor.


Di dalam ruangan Satria ada beberapa dewan departemen keuangan dan juga dewan karyawan.


"Mas,apa yang terjadi?"tanya Azizah.


"Aku sedang membereskan pekerjaan ku yang belum selesai,dan harus selesai akhir tahun ini"pungkas Satria.


Azizah berjalan ke arah meja Satria,dan melihat Azizah berjalan ke arah nya,Satria pun bangkit dari tempat duduk nya,lalu menyuruh Azizah untuk duduk.


"Kamu duduk aja mas!"


"Tidak usah,kamu yang duduk,aku bisa memeriksa ini bersama dengan mereka"Satria pun berjalan ke arah sofa,disana ada dewan pemasaran dan dewan keuangan.


Di sofa lain,ada Anita dan juga dewan karyawan.


"Anita suruh mereka untuk mengantar beberapa gelas minuman keruangan aku!"


"Baik Pak!"


"Bu,apa yang ingin anda minum?"tanya Anita,


"Teh saja"


"Tidak mau jus Bu?"


"Ada jus juga?"


"Sudah,semenjak dua bulan terakhir ini!"


"Baik lah,jus jeruk!"


"Baik Bu"Anita pun segera mengambil telepon yang ada di atas meja Satria,lalu menelpon bagian dapur kantor Purna.


Azizah melihat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terlihat begitu sibuk.


Di kampus. . .


Meskipun Raka dan Divia mengambil jurusan yang berbeda.Raka tetap menunggu Divia agar bisa pulang bersama.Entah kenapa Raka terlalu mengedepan 'kan Divia,sehingga ia lupa akan penyakit nya semenjak ia kenal dengan Divia.Itu salah satu alasan Azizah kenapa memperbolehkan Raka dekat dengan Divia,karena Divia Raka lebih bersemangat.


"Raka,kamu menunggu ku?"tanya Divia yang baru saja keluar,


"Iya ayo kita pulang"


"Eeemmm"Divia pun memegang tangan Raka,dan ke dua nya melewati lorong kampus,berjalan ke arah tempat parkiran.


Tiba di tempat parkiran,sang sopir sudah menunggu mereka.Raka segera membuka pintu untuk Divia,lalu ia baru masuk ke dalam mobil,setelan Divia masuk.


Beberapa jam berlalu. . .


Setelah mengantar Divia untuk pulang,baru lah Raka Pulang.


Mendengar suara mobil,Rani segera membuka pintu depan untuk Raka.


"Loh,Bi tumben cepat!"


"Biar Aden enggak menunggu begitu lama!"


Raka pun segera masuk,ia melirik jam yang baru setengah satu siang.


"Dimana mama?"


"Nyonya belum pulang,kata nya tadi ke tempat Tuan"


"Ke kantor papa?"


"Iya Den"


"Bi,Aku ke kamar dulu"


"Iya Den"

__ADS_1


Raka pun segera pergi menuju kamar nya.Begitu juga dengan Rani yang berlalu menuju dapur.


__ADS_2