
Waktu terus berputar,Raka dan Arkana yang dulu hanya di kenal bocah nakal dan bocah cerewet oleh Azizah.Kini Raka dan Arkana sudah tumbuh besar,usia mereka kini sudah beranjak di umur 15th.
Rencana yang sebelumnya sempat di bahas oleh mereka saat usia Raka dan Arkana berusia lima tahun,yang mana salah satu anak Azizah harus mengikuti jejak keluarga Alex.Namun,sampai saat ini mereka belum mengirim salah satu anak mereka kesana,karena mereka tahu,membiarkan mereka hidup dengan menikmati masa muda adalah hal yang sudah seharusnya.
Karena masa muda akan segera berlalu,tidak akan terulang dua kali dalam hidup ini.Tujuan Alex membimbing Arkana,bukan tujuan untuk mengatur hidup mereka.Hanya saja,Arkana butuh wawasan yang luas,karena pewaris purna wajib mewarisi perusahaan cabang yang ada di NY.
Hari ini,Satria masih berada di NY,setelah sepuluh hari berada disini,meninggalkan anak dan istri nya untuk bisnis.
"Satria,kamu sudah seharusnya mengirim Arkana kesini,kamu seharusnya menikmati masa tua mu bersama sang istri "tukas Alex yang kini duduk di kursi roda,meskipun usia nya sudah tergolong paling tua diantara Satria dan Azizah.Alex masih terlihat begitu tampan.Hanya saja kaki nya mengalami kelumpuhan beberapa tahun lalu,akibat jatuh dari tangga.
"Tuan,anda tau aku tidak dapat menolak permintaan istri ku saat dia meminta Anak-anak nya berada disisi nya hingga tua,hingga dia merasa tenang disaat dia akan pergi meninggalkan mereka.Rasa takut Azizah lebih besar dari pada rasa takut ku,dia takut jika nanti dia pergi anak-anak nya masih belum bisa mengikhlaskan kepergian nya.Padahal,kita semua tau,hidup dan mati hanya tuhan yang tau"
"Itulah wanita,dia akan memilih setia merawat anak nya dari pada menikah lagi,setelah suami nya meninggal.Kalau suami jaman sekarang,kuburan istri belum kering,dia udah menggatel cari perawan lagi"cibir Maryam yang berlalu dari hadapan mereka.Membuat Satria terkekeh,beda hal nya dengan Alex yang mengerutkan dahi,Alex merasa jika dirinya sedang di sindir oleh sang istri.
Rumah utama milik Alex terlihat begitu sepi,karena anak-anak mereka sudah pindah dan memilih untuk tinggal di rumah masing-masing.Sekali-kali pulang untuk melihat Alex dan Maryam.
"Baiklah,kalau begitu,aku akan pamit,sebentar lagi pesawat nya akan take off!"ujar Satria,sembari melihat jam di tangan nya.
"Baiklah,aku menunggu Arkana datang kemari,dan melanjutkan bisnis mu disini"
"Pasti,saya permisi.Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"Satria pun pergi meninggalkan rumah utama menuju bandar udara.
* * *
Jam dua siang lebih sepuluh menit.Arkana dan Raka baru saja pulang dengan membawa mobil sendiri.Awal nya,Azizah ragu memberikan mobil untuk mereka,tapi Arakan memaksa dan akhirnya Azizah pun menyerah.
Arkana masih sama seperti dulu,cuek dan dingin.Berbeda dengan Raka yang selama murah senyum dan suka bergaul.Memang seperti sudah di takdir 'kan,kalau Divia akan satu sekolah lagi dengan Raka dan Arkana.Bahkan,mereka satu kelas yang sama.
Raka semakin hari semakin dekat dengan Divia,rasa peduli Raka terhadap Divia,membuat Wanita itu berteman dengan begitu nyaman Raka.Namun,sebaliknya Divia tidak pernah akur dengan Arkana,bahkan mereka sangat jarang untuk mengobrol.
"Anak-anak ayo makan dulu!"teriak Azizah dari arah meja makan.
"Iya ma"Sahut mereka serentak,lalu segera menemui Azizah di meja makan.
Meskipun ada garis kerutan di wajah Azizah,tidak membuat kecantikan nya memudar,malah ia terlihat begitu segar meskipun usia nya memasuki usia hampir empat tahun.
Rani masih saja memilih sendiri,padahal kalau untuk menikah seharusnya Rani sudah bisa dan wanita ini malah memilih untuk mengabdi di keluarga Purna.Bahkan,aset Rani di kampung sudah sangat banyak,wanita ini benar-benar memanjakan ke dua orang tua nya dengan sangat baik di usia tua mereka dari hasil jeri payah nya.
"Masak apa mama hari ini?"tanya Raka,yang menarik kursi untuk duduk.
"Soto ayam sama tahu goreng,ada perkedel juga"
"Waah enak!"Raka langsung mengambil piring dan menaruh nasi nya.Namun,sebaliknya Arkana terlihat tidak berselera.
"Arkana tidak mau makan?"tanya Azizah,saat melihat anak nya hanya diam saja.
"Eeemmm.Mau telur mata ayam ma!"
"Telur mata sapi,mana ada mata ayam"ketus Raka yang menyela ucapan Arkana.
"Telur aja,telur ayam.Sudah jelas ini telur mata ayam kalau di goreng!"bantah Arkana.
"Sudah-sudah,telur aja mesti kalian ributin!"Azizah pun melerai perdebatan mereka berdua.Lalu,menyuruh Rani untuk memasak telur sesuai yang di minta oleh Arkana.
"Mah,papa akan pulang ini hari?"
"Belum tau,sayang.Mama sudah menghubungi nya,tapi Papa mu tidak mengangkat panggilan mama"
"Mungkin masih sibuk ma"
"Bisa jadi"
Setelah Rani membawakan telur goreng untuk Arkana.Mereka pun mencicipi masakan yang sudah di siapkan oleh Azizah dan Rani.
* * *
Jam 06:12 pagi,Azizah sedang menyiapkan baju dan juga perlengkapan sekolah Raka dan Arkana.
Ting..Tong...
Dari arah kamar,Azizah mendengar suara bel berbunyi,ia pun segera keluar untuk membuka pintu.
Ting..Tong...
Bel masih berbunyi ke dua kali nya,saat Azizah belum membuka nya.
__ADS_1
"Siapa sih,pagi-pagi datang bertamu"gumam Azizah,saat mendengar bel pintu terus berbunyi.
Ceklek !
Azizah terkejut,saat ia membuka pintu seseorang sedang berdiri di depan nya dengan buket bunga mawar di tangan,dan juga tangan satu lagi memegang jas yang sudah di lepas nya.
"Assalamualaikum.Istriku!"
"Waalaikumsalam .Mas!"setelah Azizah mencium punggung tangan Satria.Pria itu,segera menarik Azizah dalam pelukan nya.
"Mas,kenapa enggak kabarin aku kalau mas sudah tiba,aturan nya kami bisa menjemput mas"
"Aku lebih senang memberi kejutan begini kepada kalian semua"
Azizah pun mengajak Satria untuk masuk,dan membawa masuk koper serta barang bawaan Satria.
Begitu tiba di dalam kamar,Azizah segera meletakkan bunga mawar,di dalam vas,yang sudah di sediakan oleh Azizah.
"Anak-anak sudah bangun?"
"Sudah,mungkin sedang bersiap-siap untuk ke sekolah"
"Aku akan mandi dulu,setelah itu akan istirahat sebentar"
"Iya mas"
Azizah mengutip pakaian kotor yang baru saja di lepas oleh Satria dari tubuh nya.Lalu,ia membawa pakaian itu keluar dari kamar nya.
Dari bangun tidur,mandi,sholat,Azizah bahkan belum sempat beristirahat.Meskipun ada Rani yang membantu nya,Azizah memilih untuk merawat anak dan suami nya sendiri.Dia tidak akan merepotkan Rani,karena Azizah berpikir itu sudah kewajiban nya.
"Mama ambilkan kaos kaki Raka yang baru"teriak Raka dari arah kamar mereka,Azizah yang sedang menyiapkan bekal mereka pun terpaksa pergi ke kamar Raka dan Arkana.
Rani,yang melihat itu,segera membereskan bekal si kembar.
Setelah semua selesai dan mereka sarapan.
"Papa sudah pulang ya ma?"
"Iya,tadi pagi,ini masih istirahat di kamar"
"Kami berangkat dulu ma,hari ini adalah ujian terakhir kami!"
"Iya ma"jawab mereka yang sudah berada dalam mobil.
Setelah Raka dan Arkana pergi,Azizah pun lanjut menyiapkan sarapan untuk Satria.
"Ran,minta susu segelas ya,yang hangat!"
"Baik Nya!"Rani pun segera membuat susu yang di minta oleh Azizah.
Tak lama kemudian,ia pun berjalan kearah kamar,dengan membawa nampan bersama dengan nya,ada sarapan pagi untuk Satria.
* * *
Raka dan Arkana,baru saja selesai ujian,dan hari ini adalah hari terakhir mereka mengikuti usia nasional di sekolah menengah pertama.
"Hai"sapa Divia yang baru saja keluar dari ruangan kelas,
"Hai,bagaimana ujian mu?"tanya Raka,
"Alhamdulillah,lancar.Bagaimana dengan kalian berdua?"Divia melirik ke arah Arkana yang sibuk dengan ponsel di tangan nya.
"Kami juga sama,Alhamdulillah semua nya lancar"
Divia terus memperhatikan Arkana,disaat Arkana melihat ke arah Divia.Wanita ini segera berpaling,dan detak jantung nya begitu kencang,karena pandangan netra Arkana tidak dapat di gambarkan,pandangan nya terlalu seram.
"Divia,boleh kah aku meminta nomer Wa mu?"Raka mengeluarkan ponsel nya.Mereka bertiga sudah bersama-sama sejak kecil,namun tidak ada yang berani minta nomer wa dari dulu.
"Tentu saja boleh.Kamu akan masuk sekolah menengah atas dimana?"tanya Divia,setelah memberikan nomer ponsel nya kepada Raka.
"Aku akan masuk di Jakarta Intercultural School,bagaimana dengan kamu?"tanya Raka,
"Aku juga akan masuk di sana,bahkan mama sudah mengambil formulir nya"
"Bagus dong,kita bisa sama-sama lagi,enggak nyangka ya,kita dari TK disekolah yang sama hingga SMA nanti"
"Iya benar"
__ADS_1
Raka dan Divia terlihat mengobrol begitu akrab,satu sama lain.Bahkan,untuk menghilangkan rasa canggung,Arkana mendengar musik melalui handset nya,ia berjalan di belakang mereka berdua.
Arkana menatap layar ponsel nya,lalu ia tersenyum melihat beberapa foto yang tersimpan di sana.
"Mau pulang bareng?"ajak Raka,tapi Divia malah melirik ke arah Arkana.
"Boleh ya?"tanya Raka kepada Arkana,dan Arkana pun mengalah,membiarkan Divia untuk ikut bersama.
Disaat Raka memilih untuk duduk berdua dengan Divia di belakang ,Arkana harus bisa menahan diri agar tidak memarahi Raka,meskipun diri nya di jadikan sopir.
"Ha...Ha...Ha...Kamu bisa aja"Arkana terus mendengar gelak tawa Divia dan Raka,entah apa yang sedang mereka nonton di dalam perjalanan,sehingga bisa membuat mereka berdua tertawa begitu lepas.
Tak lama kemudian,mereka tiba di rumah Divia.
"Terimakasih untuk tumpangan nya,saya duluan,Raka terimakasih"
"Sama-sama "jawab Raka dengan ramah.
"Terimakasih Arkana"
Arkana tidak menjawab,Divia tersenyum kecut lalu ia segera turun,dan Raka pindah ke depan di sebelah Arkana.
"Tunggu dulu"Divia kembali menghentikan mereka yang akan pulang.
"Besok hari Minggu,ada acara pameran lukisan,datang ya,ada beberapa lukisan aku yang ikut pameran juga"pungkas Divia.Memang Divia sudah pandai melukis saat duduk di bangku TK.Tidak menyangka kebiasaan itu,di terapkan oleh Divia hingga dewasa.
"Pasti kami akan..."
"Maaf kami tidak bisa datang"Arkana langsung menyela ucapan Raka.
"Oh,tidak apa-apa"Divia terlihat sedikit kecewa.
"Kami akan datang memberi dukungan untuk mu"sambung Raka,langsung saja wajah Divia berubah,dan ia sudah semangat kembali.
"Oke,sampai bertemu besok"Divia melambaikan tangan nya ke arah mereka berdua.
* * *
Sudah jam 23:10 malam.Tidak biasa nya Raka bergadang,dan itu membuat Arkana terbangun.
"Kamu masih belum tidur?"tanya Arkana yang terbangun saat akan ke kamar mandi.
"Iya,masih chat dengan Divia,tidak sabar nunggu besok,mau cepat pagi"Raka terus saja tersenyum memperhatikan layar ponsel nya.Arkana pun berlalu ke kamar mandi.
Arkana baru saja selesai membuang air kecil,ia pun kembali naik ke atas ranjang.Lalu melihat Raka yang gelisah.
"Ada apa?"karena penasaran,Arkana pun bertanya.
"Aku membawa status Wa Divia,seperti nya dia sedang galau"tukas Raka,
"Pasti soal cinta!"timpal Arkana.
"Bagaimana bisa? kata nya Divia masih jomblo dan belum pernah pacaran"mendengar jawaban Raka.Arkana tersenyum,lalu kembali berbaring di sebelah Raka.
"Arka!"panggil Raka,Arkana menoleh.
"Eeemmm"sembari memeluk guling,dan menghadap ke arah Raka.
"Kalau aku nyatakan cinta sama Divia,kira-kira di terima enggak ya?"tanya Raka.Arkana langsung terkejut,dan raut wajah nya berubah,dari sebelumnya.
"Arka?"panggil Raka,saat Raka tidak mendengar jawaban Arkana.
"Aku ngantuk,mau tidur dulu.Kamu juga cepat tidur,katanya besok mau ke pameran lukisan,kalau sampai telat bangun jangan salah 'kan aku"
"Tidak akan telat bangun,ada Mama yang bangunin sholat subuh"
"Terserah!"ketus Arkana,yang membalikkan tubuh.Lalu menarik selimut menutupi tubuh nya.
Raka terus saja memperhatikan layar ponsel nya.Sesekali ia tersenyum,dan Arkana mengetahui itu.
Raka benar-benar sedang di mabuk cinta,bahkan ia tidak henti-henti nya melihat layar ponsel nya membuat ia susah untuk tidur.
Dari arah kamar lain,ada Satria dan Azizah yang sedang melepaskan rindu mereka setelah LDR selama sepuluh hari.
"Mas,pelan,nanti anak-anak bisa dengar"bisik Azizah.Tentu saja membuat Satria harus was-was karena kamar mereka bersebelahan.
Tidak mudah untuk Meraka berdua bersabar dalam menjalani hidup sampai detik ini.Meskipun banyak sekali masalah yang menerpa keluarga ini,namun Azizah dan Satria bisa mengatasi satu persatu masalah mereka.
__ADS_1
Sudah lewat sepuluh tahun lama nya.Zuhra pun sudah kembali menghirup udara segar.Zuhra sudah banyak-banyak belajar dari kesalahan nya.Satria tidak membiarkan Zuhra bebas dengan jaminan.Bagaimana pun keluarga Adam memohon,Satria tetap pada pendirian nya.Dia tidak akan mudah goyah,apalagi menyangkut harga diri istri nya.
Zaki juga sudah berusaha sekeras apapun,namun tidak membuah 'kan hasil,dan akhirnya dia hanya bisa menunggu sampai hari ini,sampai Zuhra bebas dengan sendiri nya.Bahkan,Zuhra belum menikah,ia sudah menjadi perawan tua di dalam jeruji besi,itu lah karma yang ia dapatkan dari hasil mulut nya yang tajam,melukai hati wanita seperti Azizah.