
Dengan langkah pelan,Satria berjalan ke arah Azizah yang masih dengan posisi sujud saat Satria masuk tadi.
"Sa-sayang!"lirih Satria,sembari menggerakkan tangan nya ingin menyentuh Azizah yang tengah sujud.
Dugh!
Satria terduduk di lantai,lalu ia sedikit demi sedikit menggeser 'kan tubuh nya agar lebih dekat dengan Azizah.Saat itu,perasaan Satria sudah tidak karuan lagi,ia tidak tahu harus berkata apa.
"Sayang"Satria menyentuh Azizah yang tak bergeming saat di panggil oleh dirinya.
Dugh!
Disaat Satria menyentuh dan memanggil Azizah,betapa kaget nya dia,tubuh Azizah jatuh kesamping dengan tubuh yang sudah dingin dan kaku,hanya ada senyuman yang selalu terukir dari bibir nya.Seketika itu,Satria histeris saat melihat Azizah yang sudah menutup mata.
"Engg-enggak,sayang ini enggak mungkin, sayang!"teriak Satria dengan keras sembari cepat- cepat memangku tubuh Azizah yang sudah dingin itu.
"Sayang bangun,aku tahu kamu hanya pura-pura bukan,sayang bangun,jangan tinggalin aku sayang.Jangan lakukan ini,aku tidak ingin kamu tinggal,please jangan main-main untuk hal ini segera lah buka mata mu,ku mohon..."Tangan Satria terus menepuk pelan pipi Azizah,tangan nya yang gemetar lalu menyentuh pergelangan tangan Azizah.
Tangisan Satria pecah,seketika suara nya menggelegar di seluruh ruangan.
"Azizah bangun!"teriak Satria dengan lantang,dan itu membuat Rani dan Raka terbangun.
Dari arah kamar Raka,Raka terbangun ia terkejut dari tidur nya saat mendengar suara teriakan Satria.
"Apa yang terjadi?"gumam Raka,yang langsung turun dari ranjang nya,dan keluar menuju kamar Satria.
Tiba di depan kamar Satria,Rani juga sudah ada di sana,namun ia tidak berani mengetuk pintu.
Raka langsung membuka,kebetulan Satria belum mengunci pintu saat ia masuk.
"Pah,apa yang terjadi,kenapa Papa menangis?"tanya Raka mendekat ke arah Satria yang sedang memangku tubuh dingin milik Azizah.
"Mama mu Ra,Mama mu!"teriak Satria,sembari mendongakkan kepala nya ke arah Raka yang berdiri tepat di depan nya.
"Tidak,ini tidak mungkin 'kan pa.Ma..Mama!"teriak Raka,tangisan nya pecah,dan seketika tubuh Raka ambruk ke lantai,Rani segera menolong nya
"Den Raka!"teriak Rani yang memegang tubuh Raka,
"Ran,cepat hubungi dokter Sella,Raka butuh pertolongan"mengingat riwayat penyakit jantung Raka.Satria pun panik saat melihat Raka terjatuh dan pingsan.
"Sayang,jangan tinggalkan aku sayang,aku mohon.Aku tidak akan bisa hidup tanpa mu,bagaimana aku,bagaimana dengan anak-anak kita,mereka masih membutuhkan mu,sama seperti aku"Haaa...
"Azizah!"
Lagi-lagi Satria tidak berhenti menangis,hampir satu jam lama nya Satria memangku tubuh Azizah.
Tak lama kemudian,Aldo dan keluarga nya datang,serta dokter Sella datang membawa beberapa alat perlengkapan medis untuk Raka.
Sementara dokter Sella membantu Raka,yang lain membantu menenangkan Satria.
"Sabar Satria, sabar!"Aldo memeluk dan menepuk punggung Satria.Aldo dapat melihat,meskipun Satria tak lagi menangis namun terlihat dari wajah nya yang datar,ia masih syok dengan kepergian sang istri.
"Kamu sudah memberitahu Arkana ?"
Satria hanya menggelengkan kepala nya mendengar pertanyaan itu.
"Aku akan memberitahukan nya"tukas Aldo,
"Jangan,Azizah tidak ingin Arkana tau,bahkan selama ini Arkana tidak pernah tahu kondisi Azizah"
"Kamu gila,bagaimana pun Arkana itu anak nya,dan Azizah adalah ibu Arkana,bagaimana kalau Arkana tahu,kalian menutupi ini semua dari nya,apa yang akan terjadi kepada Arkana?"tanya Aldo,di tengah perdebatan mereka.
Ponsel milik Satria bergetar,dan itu sudah di jama 01:12.
Drrt...Drrt...
"Tumben Arkana menelpon!"gumam Satria,
"Ayo angkat,apapun keadaan nya kamu harus memberitahu nya!"
Dengan berat hati,Satria pun keluar dari kamar tersebut,dan mengangkat panggilan Arkana.
"Hallo,sayang kenapa malam-malam menelpon,tidak seperti biasanya"
__ADS_1
"Papa kenapa lama sekali mengangkat nya.Arkana sudah di bandar udara di antar sama paman Edward,Arkana telah menyelesaikan ujian akhir Arkana,dan akan wisuda dua bulan lagi,hari ini Arkana akan pulang kesana,dan kembali kesini setelah dua bulan lagi,ini sudah jam 05:00"
Mendengar ucapan Arkana yang begitu bahagia,Satria tidak dapat menahan air mata nya.
"Kalau begitu segera kembali sayang,papa menunggu mu"
"Iya pa"
Panggilan terputus,Aldo sudah berada di belakang Satria sejak tadi.
"Kenapa tidak memberitahu nya?"
"Hiks,dia akan tiba besok,ternyata ujian akhir nya telah selesai dalam satu hari,aku tahu Arkana pasti mengejar nya,karena dia sudah katakan ia ingin pulang,hari ini tepat lima tahun dia telah meninggalkan kami.Di saat ia kembali dia akan melihat suasana ini,apa yang harus ku ceritakan pada nya besok Do.Katakan,aku harus bagaimana? apa aku harus tersenyum dengan kepulangan Arkana,atau menangis karena kepergian istri Ku,ajari aku untuk sabar Do,karena aku merasa aku belum bisa cukup sabar untuk menghadapi ini semua!"
Aldo menarik Satria dalam pelukan nya,dan sekali lagi menenangkan pria itu.
"Langkah,rejeki pertemuan maut,itu semua rahasia Allah,kamu harus ikhlas agar Azizah tenang di sana,jangan menangis,kalau Azizah melihat mu begitu ia akan terluka"
"Tapi ini sangat sulit,bahkan aku tidak bisa membayangkan jika besok Arkana pulang dan melihat semua nya"
"Kamu harus kuat,ada anak-anak mu yang membutuh 'kan kamu"
Setelah Satria mulai tenang,Aldo membawa nya ke kamar,dan ia duduk di sisi ranjang,tepat nya di sebelah jasad Azizah.Malam ini Aldo dan keluarga nya memutuskan untuk menginap,begitu juga dengan dokter Sella.Mereka telah menghubungi Bara,namun Bara tidak dapat pulang,karena satu alasan yang tidak dapat ia tinggalkan.
Bahkan Aldo memberitahu kepada keluarga Albert,karena bagaimana pun mereka masih seperti kerabat Azizah.
Maryam tidak dapat pulang,kondisi Alex belum sembuh,dan ia tidak mungkin meninggalkan sang suami sendiri.
Aisyah dan Al segera mengambil penebangan besok pagi,agar segera tiba di indonesia.
* * *
"Indonesia I'm Coming !"teriak Arkana dengan lantang,tidak peduli dengan pandangan orang di sekitar nya.
Setelah melihat sekitar nya,Arkana menyadari,jika Papa nya belum menghubungi nya,saat ini masih jam 06:00 pagi,tiba Arkana di bandar udara.
"Langsung naik taxi saja"gumam nya lagi,setelah memberhentikan sebuah taxi Arkana langsung naik,dan memberitahu sopir taxi alamat nya.
Tubuh kaku Azizah masih berbaring di tempat tidur,dokter Sella menyarankan nya untuk segera di mandikan.
Namun,Satria menyuruh mereka untuk menunggu Arkana lebih dulu,apalagi saat ini Raka masih belum siuman.
"Kenapa tidak langsung di mandikan?"
"Tunggu Arkana masih dalam perjalanan pulang!"
"Emm,Satria kenapa orang-orang tidak datang kemari?"
"Karena Azizah tidak ingin di kunjungi oleh orang banyak saat ia telah tiada"
Di tengah perbincangan dokter Sella dan Satria,mereka di kejutkan dengan teriakan Raka dari kamar nya.
"Mama...!"suara itu mengagetkan Satria atau pun pengunjung lain nya.Mendengar teriakan itu,dokter Sella dan Satria bergegas lari ke arah kamar Raka.
"Raka!"teriak Satria,saat melihat Raka sudah berdiri di depan kamar nya,semua alat medis yang yang terpasang sudah di cabut nya,bahkan tangan nya terlihat mengeluarkan darah.Dokter Sella membantu nya,segera untuk menutupi.
"Papa dimana Mama?"tanya Raka,yang berjalan ke arah Satria,dengan tubuh yang sempoyongan.Satria segera memapah tubuh Raka menuju kamar nya.
Pintu kamar sudah di biarkan terbuka,di dalam sana,ada putri,Andara dan juga Mela,ada Aldo yang berdiri di dekat jendela,kini juga melirik ke arah Raka,dengan air mata yang terus mengalir begitu saja.
Divia dan Miranti baru saja tiba,setelah Raka duduk di sisi ibu nya,Divia dan Miranti berdiri di dekat pintu.
"Ma..."Raka menggenggam tangan Azizah,Satria menekan bahu Raka,menyuruh Raka untuk lebih kuat,tapi apa boleh buat air mata tidak mau berhenti,dan terus saja menetes.
"Ma..."lirih nya lagi,suara nya pelan,dan serak,"Kenapa mama pergi,kenapa mama tinggalkan Raka,setelan ini bagaimana kehidupan kami tanpa diri mu"Haaaaaaaa....
Raka menangis di atas tubuh Azizah,Satria langsung menarik nya dan menjauhkan Raka dari sana.
"Jangan menangis,ikhlas 'kan ibu mu"Putri mencoba menenangkan Raka.
Suasana masih berkabung semua orang ada di dalam kamar.Rani sudah pergi untuk melihat ustaz yang akan membantu untuk mengantar Azizah ke tempat istirahat nya yang terkahir.
Di saat waktu yang bersama,semua orang pun berdatangan berkunjung ke rumah Purna,mereka masih termasuk kerabat dekat Azizah.
__ADS_1
Ada Aisyah dan juga Al,serta Zayn dan Zuhra yang ikut melayat.Bahkan,Zaki juga ikut hadir begitu tahu kabar duka.
Aldo menyambut mereka,namun tidak memperbolehkan mereka untuk masuk.Hanya Al dan Aisyah yang boleh masuk untuk melihat jasad Azizah,namun Al menunggu di depan kamar Satria,menghargai sang pemilik kamar.
Sebuah taxi berhenti tepat di depan rumah Purna.Dengan wajah di hiasi senyuman manis,Arkana segera turun setelah membayar nya.
"Mama,Papa Raka aku pulang "gumam nya berjalan masuk ke halaman kediaman purna.
Arkana terkejut melihat halaman rumah nya di penuhi dengan banyak mobil.Arkana berpikir hari ini pernikahan Raka dan Divia,ia begitu sedih kenapa orang tua nya tidak memberitahukan nya.
Dengan langkah besar ia pun melangkah masuk,dan langsung mendorong pintu depan.
Braak!
"Mama Papa!"teriak Arkana begitu pintu terbuka.Zayn dan yang lain yang berada di ruang tamu kaget dengan kedatangan Arkana.
Satria yang mengetahui Arkana telah tiba langsung saja keluar kamar dan melihat nya.
"Papa"Arkana tersenyum melihat Satria yang berjalan ke arah nya,ia pun berlari untuk memeluk Satria.
"Papa dimana Mama?"tanya Arkana,
"Mama ada di dalam"
Semua orang memandang ke arah Arkana,pandangan itu membuat Arkana heran dan bingung.
"Pa,kenapa banyak sekali orang,dimana mama,tidak biasa nya mama menunggu di kamar,apa dia sedang memberi kejutan untuk ku?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Satria menetes kembali air mata nya,ia segera menyeka agar tidak terlihat oleh Arkana.
Di saat Arkana berdiri di depan pintu kamar,dia melihat semua orang yang menatap nya dengan sedih,ada Raka di sisi ranjang yang duduk di lantai,langsung saja perasaan Arkana tak karuan.
Pikiran nya terus membayangkan hal-hal yang sulit untuk di gambarkan.
"Tidak!"teriak Arkana,Satria memegang bahu nya.
"Ini tidak mungkin 'kan pa?"Arkana sudah langsung menebak,padahal ia masih berdiri di depan pintu.Arkana langsung melangkah maju ke arah tempat tidur Azizah.
"Ma...Mama"lirik Arkana dengan langkah besar,
"Mama,aku datang kamu telah berjanji akan menyuapi ku makan jika aku pulang bukan,kini aku sudah tiba disini,ayo ma kita makan,Arkana rindu dengan suapan mama!"
Dugh!
Tubuh nya terjatuh di depan ranjang Azizah,Satria langsung berlari untuk memegang.
"Mama!"lirih Arkana,ia menangis begitu terisak-isak,namun ia menahan sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara nya,sehingga membuat ia semakin sakit dalam isak tangis nya.
"Sudah sayang,kita harus ikhlas,rela 'kan Mama mu pergi,jangan memberatkan nya,ayo kita bangun,kita harus membiarkan Mama kalian di mandikan!"
Setelah Satria mengecup kening dan ke dua pipi Azizah,lalu Raka dan Arkana bergantian mencium punggung Azizah serta memberi kecupan terakhir di dahi sang ibu.Arkana bahkan sempat memeluk nya dengan erat,sehingga tangisan yang sejak tadi di tahan kini pecah,membuat seisi kamar terkejut.
Satria langsung menarik tubuh Arkana agar menjauh dari Azizah.Aldo membantu Raka,kini hanya tinggal Putri dan Miranti yang membantu untuk memandikan Azizah.
Jam 09:20,semua orang telah siap mengantarkan jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir.
Mobil ambulance milik purna pun telah tiba,dan beberapa orang membantu mengangkat keranda milik Azizah ada Arkana dan Raka serta Satria di bagian depan.
Aldo dan Andara membantu di bagian belakang.Mereka segera memasukan keranda tersebut ke dalam ambulance.
Hampir tiga puluh menit berlalu,mereka tiba di tempat pemakaman.Sopir ambulance dan dua orang perawat membantu menurunkan jenazah.
Raka dan Arkana serta Satria segera mengambil posisi mereka.Tiba di depan tanah yang berlobang besar,tempat peristirahatan terakhir Azizah,Satria tidak kuasa menatap nya sekali lagi air mata nya tumpah,padahal ia sebisa mungkin untuk menahan nya.
Tiba disana,Satria segera turun ke dalam tempat itu dan di susulin oleh Arkana dan Raka.Semua orang yang menyaksikan itu tidak dapat menahan air mata mereka.
Perlahan-lahan jenazah mulai di turun 'kan dan Satria menutup satu persatu tubuh sang istri dengan papa yang telah di sediakan disana.
Setelah Raka dan Arkana naik,kini hanya tinggal Satria yang belum naik.
"Papa!"panggil Raka dan Arkana,mengulurkan tangan mereka.Satria mendongakkan kepala nya,lalu meraih tangan kedua anak nya.
Tiba Satria di atas,sedikit demi sedikit,tanah mulai berjatuhan ke dalam tempat itu,sehingga menutup seluruh kuburan itu,setelah menabur bunga di tempat itu,Satria dan ke dua anak nya tidak langsung pulang,mereka berada di tempat itu selama satu jam kemudian.
__ADS_1