Wanita Cadar Tanpa Mahkota

Wanita Cadar Tanpa Mahkota
lima tahun kemudian


__ADS_3

Lima tahun telah berlalu.Kini Raka dan Arkana sudah berusia lima tahun lebih,dan Satria sudah mendaftarkan mereka di sekolah taman kanak-kanak.


"Sayang...!"teriak Satria dari arah kamar,teriakan nya lebih kencang dari sebelum nya.Kali ini Satria benar-benar sudah seperti tinggal di hutan.Setiap hari berteriak seperti Tarzan,membuat kepala Azizah pusing yang sedang berada di dapur.


"Iya mas,tunggu sebentar sayang ku!"sahut Azizah yang sedang menggoreng telur mata sapi untuk anal-anak nya yang mau pergi sekolah.


"Mama lihat lah Raka,suka sekali menganggu ku yang sedang berpakaian!"teriak Arkana dari arah kamar di sebelah kamar Satria.


"Iya sayang,iya tunggu sebentar!"


"Enggak anak,enggak bapak,suka sekali teriak pagi-pagi,haduuhh!"Azizah pun mematikan kompor nya,lalu melepas celemek,serta keluar dari ruangan dapur menuju kamar di mana Satria berada.


"Sa..."


"Apa Haah?"Azizah sudah berdiri di belakang Satria yang ingin berteriak dan memanggil Azizah lagi,namun orang nya sudah keduluan berdiri di belakang dia.


"Sayang,bantu ambilkan jas dan kemeja ku dong,aku hari ini ada seminar Lo sayang"tukas Satria yang mendekat,lalu memeluk sang istri yang masih berantakan habis dari dapur.


"Mas lepas,aku masih kotor,entar kamu bau bumbu lo!"Azizah berusaha melepaskan Satria yang memeluk nya dalam keadaan hanya memakai handuk saja.


"Mama....!"teriak Arkana dari arah kamar sebelah.


"Apa lagi itu?"tanya Satria,


"Entah!"sahut Azizah yang berjalan ke arah lemari,lalu mengambil kemeja dan jas yang di minta oleh Satria barusan.


Semenjak Atun cuti dan tidak lagi bekerja,Rani pun memilih untuk mengantar Atun kembali ke kampung.Rani akan kembali bekerja satu Minggu lagi.Selama mereka bekerja,baru kali ini Atun dan Rani mengambil cuti.Beda nya Atun tidak kembali bekerja,Rani masih akan kembali bekerja di keluarga purna.


Setelah membantu memakai 'kan jas dan dasi sang suami.Azizah pun berjalan ke arah kamar Raka dan Arkana.


Ceklek !


Dugh!


Langsung saja bantal yang di lempar Arkana mengenai wajah Azizah.


"Malam!"teriak mereka berdua dan segera turun dari ranjang,berlari ke arah Azizah.


"Mama maaf!"ucap Arkana,dan memegang tangan Azizah.


"Eeemm,anak mama sudah siap mau ke sekolah? mama udah siapin sarapan buat kalian"bukan nya marah,Azizah malah bersikap begitu lembut kepada anak nya.Sehingga membuat Raka dan Arkana tidak tahan kalau tidak memeluk Azizah.


"Mama memang yang terbaik"Raka dan Arkana langsung memeluk Azizah yang sedang berlutut di depan Mereka berdua.Bahkan,Raka dan Arkana juga mencium ke dua pipi Azizah.


"Mama mau nanya,tadi yang mulai duluan siapa?"tanya Azizah,setelah melihat ke dua anak nya akur,baru lah Azizah mempertanyakan pokok permasalahan mereka.

__ADS_1


"Dia!"Raka dan Arkana saling menyalahkan satu sama lain.


"Raka 'kan udah besar,enggak boleh nakal tau,nanti di marahin Bu guru kalau Raka nya nakal,dan Arkana juga enggak boleh nakal,kalian berdua adalah saudara kembar,harus saling bantu satu sama lain.Tidak boleh berantem ataupun ribut"Azizah mengusap kepala ke dua anaknya memberikan nasehat kepada mereka.


"Arkana,meskipun kamu adik,tapi kamu harus memaklumi sikap Kakak kamu ya sayang,jangan di ambil hati,Raka hanya sedang bercanda sayang,kamu harus banyak-banyak ngalah sayang"


"Kenapa harus Arkana,padahal yang mulai duluan adalah Raka!"ketus Arkana yang kesal,Azizah hanya tersenyum.


"Iya,Mama tau,yang nakal Raka,tapi 'kan anak mama yang ini bijak dan baik,enggak nakal,jadi harus banyak-banyak ngalah ya sayang!"meskipun merasa Arkana merasa jika orang tua nya pilih kasih,tetap Arkana menuruti apapun yang di katakan Azizah,dia tidak pernah marah atau pun membenci mereka,dia tetap sayang pada Raka dan pada ke dua orang tua nya.


Satria berdiri di ambang pintu,melihat ke tiga orang itu yang sedang mengobrol.


"Raka juga tidak boleh selalu menggoda adik nya ya.Raka harus bisa menjaga Adik nya,tidak boleh nakal,harus lebih bijak dari Arkana,oke sayang"tukas Satria yang ikut nimbrung,mereka pun menoleh ke arah suara itu.


"Papa!"teriak Arkana dan Raka,lalu memeluk Satria,


"Bagaimana jagoan Papa,udah siap berangkat ke sekolah?"tanya Satria,


"Sudah dong!"jawab mereka serentak.


"Ayo kita sarapan "Satria pun membawa ke dua anak nya ke meja makan,sementara Azizah mengikuti mereka dari belakang.


Penyakit jantung yang di derita Raka masih menyebar sampai saat ini,meskipun setiap seminggu sekali Azizah dan Satria membawa Raka ke rumah sakit.Namun,Satria dan Azizah belum memutuskan untuk melakukan tindakan operasi untuk Raka,mereka takut dengan kondisi sang anak yang tergolong masih kecil.


Semenjak Sunarsih meninggal dua tahun lalu,akibat gagal jantung,membuat Azizah dan Satria semakin takut akan kehilangan Raka.


Di meja makan,terlihat Satria memberikan satu persatu telur goreng untuk ke dua anak nya.Namun,karena tadi Azizah terburu-buru untuk melihat mereka di kamar.Azizah hanya menggoreng satu sosis saja,sehingga Raka tidak kebagian.


"Lah,papa mana punya ku?"tanya Raka,saat melihat isi piring nya dan piring Arkana berbeda.Ada roti,sosis dan telur.Sedangkan,milik Raka hanya ada telur dan roti.


"Sayang,kenapa sosis nya hanya ada satu"


"Lah iya hanya satu? bukannya aku tadi goreng dua sayang seperti biasa"sahut Azizah yang baru saja tiba di meja makan.


"Hanya satu ini sayang!"sembari memperlihatkan isi piring Raka.


"Tunggu mama goreng lagi ya!"Azizah pun berbalik menuju dapur.


"Enggak usah ma!"teriak Arkana,menghentikan langkah kaki Azizah.


"Biar punya ku saja untuk Kakak,pagi ini Aku sedang tidak ingin sosis!"


Azizah terkejut saat mendengar pernyataan Arkana,bagaimana ia tidak terkejut,Arkana sangat suka sosis Ayam apalagi daging sapi.Tapi,pagi ini ia mau mengalah untuk Raka.


"Mama 'kan udah capek dari tadi,mending kita sarapan sama"ajak Arkana.Azizah tersenyum,memang Arkana selalu bersikap bijak,dia seperti mewarisi sifat Azizah semasa kecil.Namun,berbeda dengan Raka,dia lebih bersikap sedikit nakal,mengikuti sifat masa kecil Satria.

__ADS_1


Mereka berempat pun melanjutkan sarapan bersama.Sungguh keluarga yang begitu harmonis.Membesarkan dua anak dengan sikap yang berbeda semakin membuat Azizah lebih dewasa lagi,dalam merawat dan menjaga mereka,bagaimana pun Azizah tidak ingin Anak-anak nya merasa kurang nya kasih sayang.


Waktu sarapan berlalu,Arkana dan Raka,serta Satria berpamitan kepada Azizah untuk berangkat sekolah.Sedangkan,Satria berangkat ke kantor.


Blam!


Azizah menutup pintu utama,lalu ia kembali ke meja makan,membersihkan meja makan,serta mencuci piring kotor.Menjadi ibu rumah tangga tidak membuat Azizah mengeluh,padahal bisa saja mereka mempekerjakan Art baru.Namun,Azizah memilih Rani untuk kembali.


Setelah membersihkan dapur serta rumah.Kini Azizah kembali ke kamar untuk membersihkan diri,melihat jam di dinding sudah pukul setengah sepuluh,sebentar lagi,Arkana dan Raka akan pulang,dan Azizah harus menjemput mereka di sekolah.


Tiga puluh menit berlalu begitu saja.Azizah sudah rapi dengan pakaian biasa,gamis dan bercadar.Azizah segera mengambil kunci mobil yang ada di nakas,setelah mengikuti kursus kemudi ia pun sudah bisa di andalkan untuk mengemudi sendiri.Karena,antar jemput anak sangat penting bagi Azizah.


Setelah memarkirkan mobil nya di depan sekolah Arkana dan Raka.Azizah pun turun dari dalam mobil,lalu berjalan ke arah ruangan kelas mereka.


Keluarga Purna termasuk keluarga yang paling kaya di komplek mereka.Bahkan,bisnis purna kini sudah memiliki cabang di luar negeri,atas saran dari Alex.Namun,Azizah memilih naik mobil matic dengan harga bisa di bilang lebih rendah,karena mobil itu Azizah beli dengan uang hasil tabungan nya yang diberikan Satria.Padahal,Satria sudah menawarkan mobil mahal,Azizah menolak nya.


Azizah berjalan ke arah ruangan dimana,para istri - istri dan ibu-ibu sosialita sedang menunggu anak mereka di luar kelas.


"Assalamualaikum"ucap Azizah yang baru saja tiba disana.


"Waalaikumsalam"jawab seorang wanita yang duduk sendiri di pojokan.Sementara,wanita -wanita yang terlihat glamor dengan kaca mata hitam yang melekat di mata mereka,memandang rendah ke arah Azizah,mereka melihat penampilan Azizah yang biasa-biasa saja.


Biasa nya Rani yang selalu turun menjemput Raka dan Arkana,Azizah akan menunggu di mobil,berhubung Rani cuti,Azizah sendiri yang turun menjemput,mereka semua mengira Azizah adalah baby sister Arkana dan Raka.


"Belum bisa pulang ya?"tanya Azizah pada wanita yang duduk di pojokan.


"Iya belum bisa"jawab nya dengan ramah.


"Oh ya,kenalkan saya Azizah"


"Saya Miranti,ibu Divia.Itu anak saya"sembari menunjuk ke arah anak perempuan yang duduk di dekat jendela.


"Saya ibu Arkana dan Raka,anak laki-laki kembar itu"


"Waah,saya sangat suka sama mereka,selain pintar mereka juga suka bergaul.Divia sering bercerita tentang mereka kalau pulang"


"Divia juga anak yang manis"Azizah dan Miranti terlihat begitu dekat dan mengobrol satu sama lain.


Setelah menunggu hampir tiga puluh menit,Arkana dan Raka pun bisa pulang.


"Mama"teriak Raka langsung berlari memeluk Azizah dengan manja.Berbeda dengan Arkana yang berjalan begitu santai.


"Terimakasih sudah memberi pinjaman pensil untuk aku,ini aku kembalikan!" seru Divia,


"Aku sudah tidak butuh lagi,kamu simpan saja"jawab Arkana dingin,lalu melewati Divia,anak perempuan itu hanya memandang Arkana dengan senyuman manis nya,saat Arkana melewati nya.

__ADS_1


Azizah pun mengajak Raka dan Arkana untuk kembali pulang,sebelum meninggalkan tempat itu,Arkana masih sempat menoleh ke arah Divia yang masih tersenyum ke arah nya.


__ADS_2