
Arkana dan Raka sudah rapi,dan akan siap menghadiri acara pemeran lukisan.Begitu Raka dan Arkana keluar dari kamar mereka.Azizah melihat nya dengan heran.Pasalnya Anak Azizah tidak pernah kelayapan kemana-mana di hari libur.Kecuali,ikut Azizah dan Satria.
"Eeemm,ini anak Mama sudah pada ganteng mau kemana nih?"tanya Azizah,yang menghampiri sang anak.
"Kami 'kan ujian nya sudah selesai.Jadi,hari ini ada teman kelas kami yang ikut acara pameran lukisan,Aku dan Arkana datang untuk memberi support kepada teman kami"tukas Raka,
"Kamu saja aku enggak!"ketus Arkana,yang sedang kesal,di paksa ikut oleh Raka.
"Nah,ini kepada raut wajah nya muram? ada apa sayang?"tanya Azizah memegang lengan Arkana.
"Enggak ada ma,mau nya hari ini Arkana tidur dan istirahat di rumah,tapi Raka malah ngajak pergi!"ungkap Arkana,Azizah hanya tersenyum.
"Pergi lah sayang,kalau ada apa-apa di jalan kamu bisa menjaga nya"bisik Azizah,Arkana pun mengangguk dan patuh pada bujukan Azizah.
"Mau kemana ini jagoan Papa?"tanya Satria yang baru saja keluar kamar dengan kaos hitam serta sarung wadimor yang masih melekat di pinggang nya.
"Hari ini 'kan bukan hari Jumat kenapa Papa pakai sarung?"tanya Raka,Satria pun hanya bisa tersenyum.
"Anak kecil tau apa,urusan orang dewasa"
"Iiihh papa.Narsis!"ketus Raka,lalu mereka semua tertawa.
Azizah sangat bahagia melihat keharmonisan keluarga kecil nya.Azizah tidak menyangka dapat hidup bersama dengan pria yang begitu penyayang dan hidup nya di penuhi dengan cinta.
"Kami berangkat dulu Pa.Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam.Hati-hati sayang,pulang nya jangan telat,ingat waktu sholat ya!"
"Siap Mama"
Raka dan Arkana langsung pergi meninggalkan kediaman Purna.Azizah dan Satria sudah terbiasa tinggal berdua ketika anak-anak nya pergi sekolah.
"Mas,enggak kerja?"
"Kerja,hari ini ada meeting di Andara grup.Mau ikut? dari pada bosan dirumah?"
"Boleh,aku pun sudah lama enggak bertemu dengan Putri!"
"Eeemmm,ayo siap-siap"
Satria dan Azizah pun bergegas ke kamar,untuk bersiap akan pergi ke kantor Andara.
* * *
Mobil Arkana dan Raka,baru saja berbelok ke arah gedung,dimana pameran sedang berlangsung.
"Ini benar alamat nya?"tanya Arkana kepada Raka,yang sedang melihat layar ponsel.
"Menurut alamat yang di kirim sama Divia benar sih,itu gedung nya.Tapi,kenapa sepi ya?"
"Entah,yang tau 'kan kamu,aku dari tadi hanya nyetir!"pungkas Arkana.
Tak lama mereka pun melihat Divia yang melambaikan tangan nya ke arah mobil mereka berdua.
Divia sangat cantik,berpenampilan berbeda dari sebelum nya,Raka yang melihat itu tersenyum - senyum sendiri,karena mengingat ini juga kencan pertama nya dengan Divia.
"Itu Divia,ayo cepat parkir kan mobil nya!"titah Raka yang tak sabaran,
"Sabar,ini juga lagi mau parkir,apa kamu mau aku nabrak mobil orang?"ketus Arkana sembari menatap kesal ke arah Raka.
Begitu mobil sudah di parkir dengan benar,Raka segera turun duluan,tanpa menunggu Arkana yang siap parkir mobil.
"Hai Divia"sapa Raka yang berjalan ke arah Divia.
"Hai,kalian datang tepat waktu,acara nya sudah mau di mulai"
"Ayo masuk!"Raka mengajak Divia untuk masuk.Namun,gadis ini menoleh ke arah mobil,dengan alasan ingin menunggu Arkana.
"Sudah kita duluan saja,Arka bisa menyusul nanti nya"
"Eeemm,yasudah"
Dari dalam mobil,Arkana dapat melihat kedekatan Raka dan Divia,ia hanya bisa menggelengkan kepala nya saat melihat ke dua nya yang sedang di mabuk cinta monyet.
Arkana langsung turun,untuk menyusul mereka yang sudah masuk duluan.Di luar terlihat sepi,namun begitu masuk ke dalam ruangan tersebut,sangat ramai dan juga berdesakan di pintu masuk menuju aula pameran.
Arkana melihat Raka yang berjalan bergandengan tangan dengan Divia,Arkana tahu,kalau Raka pasti akan menyatakan cinta nya kepada wanita itu,pasalnya mereka sudah dekat sejak duduk di bangku TK dan SD,serta SMP.Benar-benar jodoh.
"Cinta monyet!"gumam Arkana,yang berjalan mengikuti mereka dari belakang,dengan gaya nya yang santai,dan dingin,banyak menarik perhatian para gadis yang datang kesana.Seperti biasa nya penampilan Arkana lebih menonjol dari Raka.
"Divia yang mana lukisan mu?"tanya Raka,lalu Divia menunjuk ke arah sebuah lukisan,seorang pria yang sedang menikmati pemandangan,dengan latar pria itu memiliki bayangan nya.
"Aku kok enggak asing ya dengan lukisan ini?"gumam Raka,
"Memang iya"sahut Divia yang tersenyum.
"Aku baru ingat,ini 'kan pemandangan di sekolah kita dan pria ini kenapa mirip dengan ku?"tanya Raka kepada Divia,gadis ini terus tersenyum.Ada yang secara diam-diam menikmati lukisan milik Divia,orang itu Arkana siapa lagi yang saat ini sedang menatap lukisan itu dengan lekat.
"Pemandangan ini memang pemandangan sekolah kita,dan pria ini tentu saja kalian berdua,kalian kembar,aku sengaja membuat bayangan nya,seperti nyata disini.Kalian tau,lukisan ini yang banyak di minati orang yang datang kemari"pungkas Divia,
__ADS_1
"Apa tema lukisan ini?"tanya Raka lagi,
"Cinta dalam diam"sahut Divia,lalu tertawa geli,
"Aku hanya asal-asalan saja memberi nama tema"lanjut Divia yang masih tersenyum geli.
"Tapi tema nya bagus kok!"
"Ayo kita ke sana,nanti disana ada banyak lukisan dari para senior!"
"Iya ayo"Raka pun mengalungkan lengan Divia,awal nya Divia terkejut,tapi ia segera menepis perasaan aneh nya dan membiarkan Raka memeluk lengan nya.
"Alcana!"teriak seorang gadis,Arkana langsung menoleh,yah gadis itu mentari,anak nya Kejora dan Bara.
"Kenapa Kakak ada disini?"tanya Mentari begitu tiba di depan Arkana.
"Berhenti panggil aku Alcana,aku Arkana !"ketus Arkana yang kesal,
"Iya-iya maaf!"kini mentari sudah tumbuh menjadi anak yang cantik dan juga periang.
"Siapa dia?"tanya Divia,saat melihat Mentari yang berbicara dengan Arkana.
"Dia anak Om Bara,teman Papa ku"
"Eemmm.Aku baru lihat Arkana bisa sedekat itu dengan orang lain,biasa nya dia begitu cuek!"ungkap Divia.
"Tapi kamu tau,hanya Mentari yang bisa membuat Arkana kesal,tapi mereka tidak pernah benci satu sama lain,Arkana selalu perhatian sama Mentari,meskipun Mentari sering bikin Arkana jengkel"Raka dan Divia masih menatap ke arah dua orang yang sedang berdebat tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Dengan siapa kamu datang?"tanya Arkana,
"Sama Papa,itu Papa!"
"Om Bara!"sapa Arkana,saat Bara menghampiri mereka.
"Kamu sendiri Arka?"tanya Bara,
"Sama Raka,Om"
"Owh,tumben kalian hanya berdua.Oh,Om tahu,kalian 'kan sudah besar,apa itu pacar Raka?"tanya Bara,menggoda Arkana.
"Bukan,hanya teman!"jawab Arkana cuek,
"Tapi,Pa sebentar lagi seperti nya mereka akan pacaran,lihat saja Kak Raka begitu peduli sama cewek itu,berbeda dengan Kak Arkana,yang selalu cuek dan dingin,kayak kulkas sepuluh pintu"cibir Mentari,lalu melirik ke arah Arkana.
"Anak kecil tau apa soal cinta"Arkana pun pergi meninggalkan Mentari dan Bara yang sedang terkekeh.
"Kak Arka tunggu!"teriak Mentari yang menyusul Arkana,
"Iya Om"Arkana pun terpaksa mengiyakan nya,karena ia segan menolak permintaan Bara.
Drama cinta monyet pun di mulai,dimana Mentari yang tak ingin lepas dari Arkana,apalagi saat mengetahui Divia yang terus menatap Arkana,membuat Mentari tak ingin lepas dari Pria itu.
"Tari,Lo bisa enggak sih,berdiri dengan tenang,tidak usah memeluk lengan Gue,Gue risih banget tau!"ketus Arkana,sembari melepaskan tangan Mentari dari lengan nya.
"Tapi Mentari suka Kak?"sahut gadis ini,membuat Arkana menghela nafas nya.
Raka yang memperhatikan mereka hanya bisa tersenyum.
"Mereka cocok ya"bisik Raka kepada Divia,
"Ia"jawab Divia singkat,memperlihatkan senyuman manis nya kepada Raka,membuat Raka semakin tidak bisa menahan diri untuk menyimpan perasaan nya lebih lama lagi.
Waktu pun berlalu begitu cepat,tidak terasa,jam sudah menunjukan pukul 16:12 sore hari.
"Mau pulang bersama?"tanya Raka kepada Divia yang sedang menunggu jemputan nya.
"Eemmm,enggak usah,Aku takut merepotkan Kalian"tolak Divia dengan sopan,itu selalu membuat Raka jatuh cinta kepada Divia,sikap sopan dan lembut nya membuat Raka tidak bisa berpaling dari Divia.
"Enggak apa-apa kok,Mentari juga ikut kami,ayo biar sekalian kami jemput!"
"Iya ikut saja"sambung Arkana yang berjalan kearah mobil dan segera menempati kursi kemudi,begitu juga dengan Mentari yang sudah duduk di samping Arkana.
Divia tersenyum saat mendengar ucapan Arkana,pertama kali ia mendengar suara lembut Arkana,biasanya selalu cuek dan ketus kepada nya.
"Kalian mau pulang atau enggak!"teriak Mentari,
"Iya pulang,tunggu sebentar,sibuk kali pun kau!"Raka pun segera mengajak Divia untuk masuk,dan tentu mereka akan mengantar Divia dulu,baru mengantar Mentari ke rumah.
* * *
Divia segera turun begitu sampai di depan rumah nya,terlihat Miranti yang sedang menunggu sang anak pulang.Begutu tahu,Divia di antar oleh Raka dan Arkana,Miranti segera mendekat dan menyuruh mereka untuk singgah.
"Mampir dulu nak,kalian pasti capek 'kan baru pulang dari pameran"
Arkana orang nya tidak suka singgah dimana pun atau pun bertamu ke rumah orang yang belum ia kenal keluarga nya.
"Iya Tante,ayo Mentari kita turun dulu"ajak Raka.Akhrinya Arkana pun ikut turun saat melihat tatapan Raka terus mendesak nya.
Rumah yang sederhana,dan juga terlihat begitu nyaman.Mereka fokus pada foto yang ada di dinding,milih Ayah Divia.
__ADS_1
"Itu Papa ku,sudah meninggal saat aku berusia umur satu tahun,kata ibu ku,Ayah ku pria yang gagah dan pemberani"pungkas Divia,Raka dan yang lain tersenyum mendengar cerita Divia.
"Di minum dulu nak!"Miranti meletakkan nampan berisi minuman yang di sungguh 'kan untuk mereka bertiga.
"Maaf,aku mau ke toilet,ada dimana ya?"seru Raka yang merasa sudah kebelet.
"Boleh pakek kamar mandi yang ada di kamar Divia,diantar dulu nak"titah Miranti,
"Ayo Raka!"Divia pun segera mengantar Raka ke kamar mandi yang ada di kamar nya.
Ceklek !
"Itu kamar mandi nya,maaf tidak sebagus yang dirumah mu"tukas Divia tersenyum.
"Tapi,disini yang paling nyaman"
"Kamu masuk saja,aku akan menunggu nya diluar!"
"Oke"
Raka pun segera ke kamar mandi,Divia menunggu nya di luar kamar.
Lima menit berlalu,seharusnya Raka sudah selesai dari kamar mandi,tapi pria itu belum juga keluar,sehingga membuat Divia membuka pintu kamar dan mengintip nya dari luar.
Ceklek !
"Ra,udah belum ?"tapi tidak ada jawaban,akhirnya Divia masuk,dan melihat Raka di depan meja belajar,
"Raka"panggil Divia,pria itu menoleh,
"Eh iya"Raka segera menghampiri Divia di depan pintu kamar.
Divia pun kembali mengantar Raka menuju ruang tamu dan bergabung dengan yang lain.
Di Tempat Lain. . .
Satria dan Azizah baru saja selesai mengikuti rapat di Andara grup.
"Sudah lama kita tidak bertemu"tukas Azizah yang menyapa Putri.Pasalnya,wanita ini baru saja tiba di kantor suaminya.
"Iya,akhir-akhir ini aku sibuk di klinik"
"Apalagi aku sibuk ngurus anak sama suami"Azizah pun tersenyum,lalu Putri dan Azizah mulai bercerita tentang keseharian mereka.
"Oh ya,dimana Lois?"
"Lois,sudah kembali ke Bali,ikut Papa ku"tukas Putri,
"Oh,jadi dia sambung sekolah disana?"
"Iya benar"
Aldo dan Satria terlihat sedang menyusun rencana kerjasama mereka dengan perusahaan Justin.
"Para ladies,seperti nya kita akan berlibur ke Thailand!"ungkap Aldo yang berjalan ke arah Azizah dan Putri yang duduk di sofa.
"Wah,kebetulan sekali,tahun ini kita belum liburan 'kan ya mas"sahut Putri yang begitu semangat.Namun,berbeda dengan Azizah,yang terus melihat ke arah Satria,karena Azizah tahu kenangan pahit Satria ada disana.
"Eeemmm,bagaimana dengan mu Satria?"tanya Aldo,
"Aku terserah kalian saja,bagaimana dengan kalian aja,aku ikut saja"
"Mungkin kita tidak usah ikut mas,kita bisa ikut lain kali 'kan mas"
"Enggak apa-apa,itung-itung bawa Raka dan Arkana jalan-jalan sayang"
Azizah melihat raut wajah Satria yang berubah,seperti pandangan Azizah mungkin Satria sudah bisa menerima kenyataan pahit itu,karena itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu.
Setelah membereskan berkas kerjasama nya dengan Andara dan perusahaan Justin.Satria pun pamit untuk pulang,karena waktu sudah sore.
"Aldo,kami berdua pamit pulang dulu,sebentar lagi magrib.Kami juga belum tahu,Raka sudah pulang atau belum"
"Memang nya mereka pergi kemana?"
"Pergi melihat pameran,yang ada di kota"
"Waah,itu di selenggarakan oleh Bara,tadi rencana juga mau melihat nya tapi aku teringat meeting hari ini"pungkas Aldo,
"Iya Raka dan Arkana,sudah pergi sejak pagi,dan ini belum ngabarin kami"
"Mungkin mereka sudah pulang,dan sudah di rumah"Sambung Putri,
"Mungkin benar kata mu"timpal Azizah,
"Kalau begitu kami pamit dulu ya"
"Iya hati-hati di jalan bro"
"Eeemm"
__ADS_1
Azizah dan Satria pun berlalu dari ruangan Aldo,terlihat Satria yang merangkul pinggang ramping Azizah menuju tempat parkiran.