
Melihat Divia begitu rapuh,membuat Arkana tidak tega,dan ia pun menyuruh Divia untuk pulang.
"Kamu pulang lah,biar 'kan kami yang menunggu,aku akan memberitahu mu,kalau Raka siuman!"tukas Arkana,
"Tidak aku akan menunggu nya.Biar pun ia akan sadar besok! aku akan menunggu nya.Biarkan aku menunggu nya disini!"Divia memaksa,agar Arkana tidak menyuruh nya untuk pergi.
Arkana hanya bisa menghela nafas,lalu melihat wanita itu yang cemas berdiri di depan pintu ruangan IGD.
Dari jauh,terlihat Azizah dan Satria yang berlari masuk ke dalam ruangan rumah sakit.
"Mama"gumam Arkana yang berjalan ke arah mereka.
"Bagaimana keadaan Raka sayang,apa yang terjadi,kenapa Raka seperti ini? apa dia baik-baik saja?"berbagai pertanyaan yang tak henti-henti di lontarkan oleh Azizah,ia tidak membiarkan Arkana menjadi satu pertanyaan pun.
"Sayang,tenang"Satria menenangkan istri nya.
"Sudah ku katakan,jangan pergi,dan jangan kemana-mana,apa kalian lupa dengan apa yang ku katakan tadi pagi?"untuk pertama kali nya Azizah meninggikan suara nya di depan Arkana,dan itu membuat raut wajah Arkana berubah.
"Kenapa kamu tidak bisa melarang nya untuk pergi? apa kamu sudah tidak perduli dengan nya lagi? Arkana jangan lupa kamu sehat untuk menjaga Kakak mu yang sakit! Dia bertahan selama ini karena obat.Iya aku tahu,ini bukan salah mu,ini salah ku karena telah membiarkan kalian di rumah berdua,harusnya aku sebagai ibu bisa menjaga kalian!"
"Sayang tenang,untuk apa kamu marah-marah.Semua telah terjadi!"Satria hanya bisa membujuk Azizah tenang.
"Arka maaf.Mama begini karena mama tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian.Kamu harus tahu,mama mencintai kalian berdua"ucap Azizah,sembari memegang tangan Arkana.
'Mencintai kami berdua,atau hanya Raka?'
Arkana menatap netra Azizah yang masih merasa cemas dan khawatir,karena dokter belum keluar sejak dari tadi.
"Arkana bisa mengerti.Ma,Arkana akan mencari makanan untuk kami makan!"Arkana pun menarik tangan Lois untuk pergi dari tempat itu.
Setelah Arkana dan Lois pergi,Satria pun memperingati sang istri agar tidak bersikap demikian kepada Arkana.Karena selama ini Arkana telah banyak mengalah untuk Raka.
"Jangan marahin Arkana begitu,kalau ia salah paham bagaimana?"
"Maaf mas,aku hanya panik,Aku mencintai mereka berdua sehingga aku tak ingin apapun terjadi kepada mereka"
"Tenang lah,semua akan baik-baik saja"
Divia mendekat ke arah Azizah dan Satria.
"Permisi Tante,Om"Azizah menoleh ke arah Divia,
"Saya Divia,teman Raka.Raka seperti ini bukan salah Arkana,karena ini kesalahan aku dan Raka,kamu yang pergi ke bioskop bukan Arkana"ungkap Divia,Azizah menghela nafas.
"Sudah tidak apa-apa sayang,kamu pulang lah,biar kami yang menunggu disini"
"Ijinkan saya menunggu Tante,saya mohon,bagaimana pun Raka begini juga karena aku!"
Setelah melihat ketulusan Divia,Azizah dan Satria pun membiarkan gadis itu menunggu nya.
Ceklek !
Dokter Anwar keluar dari IGD.
"Dok,bagaimana kondisi anak saya?"
"Tuan muda,sudah melewati masa kritis,dan saat ini ia akan baik-baik saja.Tuan muda,juga sudah siuman,jika ingin melihat nya,kalian hanya boleh masuk satu atau dua orang "
"Baik dok,kamu mengerti! persediaan obat Raka teman habis,berikan kami stok yang lain"
"Baik.Akan saya antar segera"
Dokter Anwar pun pergi meninggalkan mereka.Setekan dokter itu pergi,Azizah dan Satria bergegas masuk untuk melihat keadaan anak nya.
Divia menunggu di luar ruangan,dan ia juga ingin melihat keadaan Raka.Namun,ia menunggu setelah Azizah dan Satria keluar.
Azizah langsung mendekat ke arah ranjang Raka,tentu saja banyak alat medis yang kembali terpasang di tubuh Raka.
"Mama,jangan menangis,Raka baik-baik saja"Raka memegang tangan Azizah yang membelai wajah nya.
"Bagaimana bisa ini baik-baik saja,bahkan kamu sebelumnya tidak bisa bernafas,dan itu sesak!"
"Ma,aku baik-baik saja,aku melihat Arkana sebelum aku tiba disini,dimana dia?"tanya Raka,
"Arkana,sedang berada di kantin bersama dengan Lois"pungkas Azizah,yang duduk di sisi Raka.
__ADS_1
"Ma,kalau bukan karena Arkana,mungkin aku tidak bisa lagi melihat Mama dan Papa,Arkana banyak mengalah untuk ku.Selama ini dia merawat dan menjaga ku,Mama jangan pernah sekalipun memarahinya,ini bukan salah nya,ini semua salah ku"
Azizah menangis semakin tak karuan,saat mendengar penjelasan Raka.Ia baru saja memarahi anak nya,padahal Arkana selalu berusaha menjaga Raka.
"Kamu istirahat lah,Mama akan pergi melihat Arkana di kantin"
Tanpa menunggu jawaban dari Raka,Azizah dan Satria segera berbalik,dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Melihat Orang tua Raka sudah keluar.Divia pun meminta izin untuk melihat keadaan Raka di dalam.
Satria dan Azizah berjalan ke arah kantin.Mereka mencari Arkana dan Lois.Dari jauh,Satria melihat mereka berdua yang duduk di bangku taman rumah sakit
"Arka,aku akan pamit pulang,aku akan datang lagu besok"
"Emmmm,terimakasih.Hati-hati di jalan"
"Iya"Lois pun pergi meninggalkan Arkana di taman.
Satria dan Azizah segera mendekat ke arah anak nya.
"Arkana!"lirih Azizah dengan suara berat nya,lalu duduk di dekat Arka yang menoleh ke arah mereka.
"Mama"Arka langsung memeluk Azizah tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Ma,aku enggak bisa bayangkan kalau sesuatu terjadi kepada Raka.Mama tau 'kan,kami lahir itu bareng,kemana-mana berdua,bahkan kami saling berbagi apapun berdua,Arka jujur tidak berniat untuk membuat Raka dalam bahaya"
"Sayang,cukup.Raka udah enggak apa-apa kok,meskipun ia harus di rawat beberapa hari lagi,tapi ia beberapa hari lagi udah boleh pulang kok,kita rawat jalan seperti biasa sayang"
Arkana hanya mengangguk saja dengan apa yang di katakan Azizah.
"Arka,Papa titip Raka ya,Papa sama Mama akan kembali ke rumah.Nanti malam,Papa dan Mama datang lagi"
"Baik Pa,Arka bisa menjaga Raka"
Setelah Azizah dan Satria meninggalkan taman.Arkana pun pergi untuk melihat keadaan Raka yang ada di ruang IGD.
Di dalam ruangan tersebut,terlihat Raka dan Divia mengobrol banyak.Mereka sangat akrab,bahkan orang lain bisa ragu kalau hubungan mereka hanya teman saja.
"Sekali lagi,maaf sudah membuat mu takut!"Raka memegang tangan Divia.
"Kamu baik-baik saja,aku udah senang.Kenapa kamu enggak pernah cerita sama aku kalau kamu mengidap penyakit ini,seharusnya aku tidak menyetujui kamu untuk pergi menonton.Harusnya kita bisa mengobrol di rumah saja"
"Divia.."
"Eeehmm"
"Mari bersama -sama untuk waktu yang lama,dan selalu bersama tidak tahu sampai kapan,pokoknya mari selalu hidup bersama"
Divia tercengang mendengar ucapan Raka.Sebelumnya,Raka tidak pernah berkata seperti itu,selama mereka berteman,namun hari ini Raka berani mengutarakan isi hati nya.
"Divia,aku tidak hanya menyukai mu,tapi aku juga mencintai mu!"lanjut Raka,
"Raka..."
"Ssstttt!"Raka meletakkan jari telunjuk nya di bibir Divia.
"Aku serius,aku tidak sedang bercanda,aku benar-benar menyimpan perasaan ini untuk mu,sejak kita duduk di bangku TK.Kamu gadis pertama yang membuat aku tersenyum setiap hari.Jadi,apa jawaban mu?"
Divia terus menatap Raka dengan senyuman yang tak pernah memudar di bibir pria ini
"Divia"lirih Raka lagi,ia tahu ini jawaban yang sulit yang harus ia dengar dari mulut Divia.Namun,kalau ia tidak mengatakan nya,ia takut akan menyesal seumur hidup nya.
"Raka,mari untuk selalu bersama,dalam waktu yang lama,tidak peduli duka atau suka,mari tetap bertahan,tidak peduli hujan atau badai mari selalu berjuang.Tidak peduli sepi atau bersama mari selalu mendukung satu sama lain,tidak peduli dekat atau jauh mari selalu menghargai waktu satu sama lain"pungkas Divia.
'Aku berjanji akan selalu mendukung mu,dan selalu berada di sisi mu'
Mendengar jawaban Divia membuat Raka lebih bersemangat,ia pun mengecup punggung tangan Divia.
Arkana yang sejak tadi berada di balik pintu pun hanya bisa diam mendengar semua percakapan mereka berdua.
Arkana mengukir senyum,akhirnya Divia tidak meninggalkan Raka dalam keadaan Raka yang tengah sakit.Arkana berharap Raka dan Divia bisa hidup berdua selama nya hingga kakek nenek,dan maut yang memisahkan mereka.
Ceklek !
Pintu ruangan Raka terbuka,membuat Arkana terkejut.
__ADS_1
"Arkana!"seru Divia yang baru saja keluar dari ruangan tesebut.
"Di-Divia,kamu mau pulang?"
"Eeemmm,iya!"
"Arkana,kamu kah itu?"tanya Raka,dari dalam ruangan.
"Iya Kak!"sahut Arkana,tapi tatapan nya masih melihat ke arah Divia.
"Bantu antar Divia pulang,sebentar lagi sudah malam,aku takut hujan akan turun"
"Tapi Kak..."
"Tolong..."
"Baiklah.Aku akan bilang sama perawat,agar Kakak ada yang jagain"
"Iya!"
Arkana dan Divia lalu pergi meninggalkan tempat itu.Atas permintaan Raka,akhirnya Arkana setuju mengantar Divia untuk pulang.
Di dalam perjalanan,benar saja hujan pun turun,dan cuaca begitu dingin apalagi hembusan angin yang terus menerpa.Meskipun berada dalam mobil,hawa hujan masih terasa,padahal Arkana sudah mengecil 'kan AC mobil nya,saat melihat Divia kedinginan.
Bagaikan kota mati,di dalam mobil sepi dan sunyi,baik Arkana atau pun Divia tidak berbicara satu patah kata pun,mereka berdua sama-sama diam dalam waktu yang lama,hingga mobil pun berhenti tepat di depan rumah Divia.
"Terimakasih sudah mau mengantar 'kan saya.Saya duluan,dan hati-hati di jalan selamat sampai tujuan"
"Eeem"hanya itu yang di dengar oleh Divia,benar tebakan Divia,Arkana tidak pernah mau berteman dengan siapapun,meskipun saat ini Divia kekasih Raka,namun Arkana masih bersikap seolah ia tidak tahu apa-apa.
Setelah Divia masuk ke dalam pekarangan rumah nya.Arkana pun menancapkan gas mobil nya menuju rumah,karena ia sudah mendapat pesan dari Azizah,kalau mereka sudah tiba di rumah sakit.Dan meminta Arkana untuk tinggal di rumah saja,karena mereka tidak mau Arkana ikut sakit bila menjaga Raka di rumah sakit.
* * *
Ke esokan pagi nya. . .
Seperti biasa,dengan celana selutut,Arkana duduk bersantai di depan kolam renang,sembari memainkan ponsel nya.
Lalu,Arkana melihat status sosmed milih Raka dan Divia,secepat itu mereka sudah mengumumkan kepada dunia tentang status mereka.Tapi,tidak ada satu pun dari merek yang mau berbagi kabar itu dengan Arkana.
Pak!
"Melamun aja!"Lois mengagetkan Arkana,benar saja Arkana kaget dengan kedatangan Lois ke rumah nya.
"Ada apa? pagi-pagi Lo dah disini?"
"Emang Gue enggak boleh main kesini ya?"tanya Lois,
"Boleh enggak pulang juga boleh"Arkana pun menyimpan ponsel nya di dalam saku celana nya.
"Ayo kita berenang!"ajak Arkana,
"Boleh"tanpa menunggu waktu yang lama untuk jawaban,Lois segera menyetujui nya,padahal ia sudah mandi saat pergi dari rumah.
Terlihat Arkana dan Lois yang sedang berlomba renang,sembari melatih ketrampilan mereka dalam berenang,karena berenang itu sangat di butuh,selain bisa menyelamatkan diri sendiri,kita juga bisa menyamakan orang lain saat dalam masa bahaya.
"Mau ikutan juga?"seru seseorang,Arkana dan Lois segera berhenti dan menoleh ke arah sumber suara itu.
"Loh,kamu sudah pulang Raka?"Arkana dan Lois terkejut,saat melihat Raka yang duduk di kursi roda dan kini sudah kembali pulang.Yang bikin mereka terkejut adalah,kedatangan Divia disana.Berarti gadis itu menjemput dan mengantar Raka udah pulang.
"Raka bawa masuk tamu ke dalam,jangan disini tidak sopan melihat kami sedang berenang"cibir Arkana yang melanjutkan renang nya.
Hati Divia getir mendengar itu,bagaimana pun posisi nya saat ini adalah kekasih Raka,harus nya ada rasa dalam diri Arkana untuk menghargainya sebagai kekasih sang Kakak.Namun, nyata nya Arkana adalah pria yang tidak suka bergaul dengan banyak orang.Sampai saat ini teman nya hanya ada Lois dan Mentari,bahkan dengan Divia saja dia jarang mengobrol,meskipun sudah kenal sejak TK.
"Ayo kita masuk,sepertinya Bi Rani sedang membuat bolu enak"tukas Raka,menyentuh tangan Divia yang ada di bahu nya.
"Eemmm,aku akan membawa mu masuk ke dalam"Divia masih bisa tersenyum,lalu memutarkan arah kursi roda milik Raka.
Setelah mereka pergi,Lois mendekat ke arah Arkana yang sudah di ujung kolam renang.
"Arkana bukan kah,kamu bilang Raka akan pulang satu Minggu lagi?"
"Eemmm iya benar.Mungkin dia tidak betah di rumah sakit,Kamu tau Raka termasuk orang yang keras kepala"
Mereka berdua lalu melanjutkan renang nya,dan beberapa saat kemudian Arkana naik ke pinggir kolam,lalu duduk disana.
__ADS_1
"Aden,Nyonya menyuruh kalian untuk masuk,makan siang nya sudah siap!"ujar Rani yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.
"Iya Bi,kami akan segera masuk!"Rani pun berlalu ke dalam,dan meninggal 'kan mereka berdua.