Wanita Cadar Tanpa Mahkota

Wanita Cadar Tanpa Mahkota
Keluarga kecil


__ADS_3

Setelah satu Minggu setelah berada di Inggris.Satria sudah mengemas semua barang yang akan mereka bawa pulang ke Indonesia.


"Mas,apa kamu sudah katakan pada Arkana tentang pernikahan Raka dan Divia?"Azizah duduk di tepi ranjang.


"Belum,kenapa harus terburu-buru,bukan kah,mereka akan menikah setelah lulus kuliah Divia?"


"Iya memang benar,tapi Raka meminta di percepat,katakan lah tiga tahun lagi!"


"Itu masih lama tidak perlu memberitahu Arkana,kita jangan menganggu Arkana dulu,biar dia fokus pada sekolah nya dulu!"


"Eemmmm"


Azizah dan Satria keluar dari kamar dengan membawa koper bersama mereka.Di ruang tamu sudah ada Raka dan yang lain menunggu Satria dan Azizah.


"Tuan Arkana,mobil nya sudah siap,hari ini anda ada jadwal wawancara untuk masuk ke university!"tegas Edward.


"Baik.Tolong tunggu sepuluh menit lagi"


"Baik Tuan,saya menunggu Anda di mobil"


Setelah berpamitan dengan Azizah dan Satria,serta Raka dan juga Divia.Arkana pun pergi menemui Edward di mobil.


Setelah mobil Arkana pergi meninggalkan villa.Azizah dan Satria pun pergi menggunakan mobil yang lain untuk ke bandar udara.


Tiba di university,Edward langsung membuka pintu untuk Arkana.


Arkana memakai kemeja putih,celana hitam,serta sepatu hitam,sehingga memancarkan aura nya,ia terlihat begitu tampan.Pandangan semua orang teralih kepada Arkana yang keluar dari mobil Mercedes terbaru,penampilan Arkana seperti pangeran yang baru keluar dari istana.


"Tuan silahkan !"Edward memakaikan mantel bulu untuk Arkana,lalu Pria itu juga mengantar Arkana menuju ruangan Lektor kepala.


Semua mahasiswa melihat ke arah Arkana,dan tentu saja membuat Arkana bingung karena tidak ada mahasiswi di university tersebut.


"Paman,kenapa disini tidak ada siswi?"


"Tentu saja tidak ada,ini university yang di kelola oleh keluarga King,disini hanya ada beberapa jurusan khusus laki - laki.Jurusan militer dan juga ada beberapa jurusan Bisnis dan jurusan olahraga!"


Setelah mendengar itu semua,baru lah Arkana mengerti,kenapa orang tua nya menitipkan Arkana selama tujuh tahun disini,ternyata ini alasan nya.


"Tuan,yang lulus dari ini semua nya bibit unggul!"Edward tersenyum melihat ke arah Arkana.


Bagaimana tidak unggul,semua yang mengikuti ajaran sekolah disini adalah para bangsawan semua,tidak di buka untuk umum,hanya keluarga dari kalangan atas saja yang bisa bersekolah disana.


Di Inggris ada sekolah khusus bangsawan yang di kelola oleh keluarga King,dan di NY asal sekolah peduli kasih yang di kelola oleh El dan Atika.Sekolah itu gratis dan khusus bagi orang yang kurang mampu,dan memiliki tingkat pembelajaran yang baik juga.


Tentu saja Al sudah mengelola Xander dengan begitu pesat,dan bisnis haram dari segala bidang sudah di lenyap 'kan oleh El beberapa tahun lalu.


Ayin dan Caston kini menetap di menara,mengurus beberapa bisnis ekspor impor milik keluarga Xander,yang di pimpin oleh Caston sendiri,Alex hanya menerima beberapa persen keuntungan nya saja,bisa di bilang keluarga Alex termasuk keluarga yang sukses.


Ceklek !


"Selamat datang Tuan Edward!"sapa seseorang yang berada di ruangan Lektor kepala.


Arkana melihat,pria itu sangat menghormati Edward,dia bukan hanya sekedar sopir,bahkan pria ini telah menguasai puluhan bahasa asing,dan itu bisa di akui oleh Arkana sendiri.Ilmu bela diri Edward juga bagus,dan satu lagi,dalam bidang ilmu olah raga Edward selalu mendapatkan juara pertama.Tidak heran,jika Albert mempercayai Edward untuk mengurus Arkana.


Author penasaran berapa gaji Edward setiap bulan ?


Albert:Author tidak perlu tahu,yang jelas gaji Edward seharga kapal pesiar.OMG 😱


Jika Albert mampu menggaji 'kan Edward segitu,tentu saja harta kekayaan Albert tidak dapat di hitung lagi,dia salah satu pewaris keluarga King dan juga keluarga Guntur yang tersisa.


Setelah menyapa orang itu,Arkana dan Edward pun masuk.


"Ini Tuan Sing,dia berasal dari Korea Selatan,dan sudah menempat disini selama dua puluh tahun.Arkana jika kamu butuh apapun katakan pada beliau.Dan Tuan Arkana,nanti Anda akan mengambil jurusan bisnis manajemen,itu akan di bimbing oleh Tuan Sing langsung !"


Arkana memberikan salam nya kepada Sing,lalu mereka bertiga mengobrol,membahas tentang kelangsungan sekolah Arkana.


* * *


Tiba di villa,Arkana terlihat begitu lelah,Edward memperhatikan itu,dan memberikan Arkana segelas jus saat ia sedang berada di ruang tamu.


"Minum lah,biar kamu kembali terlihat segar!"Edward meletakkan gelas tersebut di depan Arkana.


"Terimakasih paman"Arkana pun mengambil gelas itu,dan ia tersenyum.


"Tuan Arkana,boleh kah saya bertanya?"


"Eeemmm"Arkana hanya melirik sembari meminum jus yang di tangan nya.


"Apakah Anda tidak ingin keluar dari tempat ini,misal nya pergi jalan-jalan gitu,selama anda berada di sini,saya tidak melihat anda keluar dari tempat ini.Bahkan,kemarin saat keluarga anda disini,anda tidak menemani mereka jalan-jalan!"


Melihat tatapan Arkana,Edward menunduk,lalu Arkana meletakan gelas tersebut di atas meja.


"Jika aku boleh pergi,maka aku akan pergi ke tempat dimana aku bertemu seseorang dan membuat aku nyaman!"setelah mengatakan itu,Arkana bangkit,dan tersenyum ke arah Edward.


Edward menatap kepergian Arkana ke arah tangga,


"Tuan Arkana,tidak pernah jatuh cinta,pasti ia merasa kesepian !"gumam Edward yang membersihkan gelas kotor.


Di dalam kamar,Arkana mengambil ponsel milik nya,yang sudah lama tidak di lihat oleh nya.Lalu,ada beberapa pesan masuk,Arkana sengaja tidak membuka nya,ia tidak ingin melihat pesan yang penuh dengan kata rindu itu.


"Meskipun jarak memisahkan kita,namun rasa ini tidak pernah terpisah,masih butuh beberapa waktu lagi untuk menghilangkan rasa ini"

__ADS_1


Arkana tersenyum ada foto dia,mentari dan juga beberapa orang lain nya disana,foto tersebut tersimpan di memori ponsel nya.


Setelah melihat itu,Arkana pun pergi membersihkan tubuh nya.


Pada malam hari,Edward sudah menunggu Arkana di meja makan.


"Oh,paman belum makan?"tanya Arkana,


"Saya masih menunggu Tuan"


"Mari makan,ayo kita makan bersama"


"Baiklah!"Edward pun menemani makan malam Arkana,dengan begitu ia tidak akan merasa kesepian lagi.


Mereka berdua terlihat begitu akrab,berada dalam villa yang sama,selama ini tidak menunju 'kan kedekatan kedua nya.Namun,setelah tiba tahun terlewatkan,Arkana mulai menghargai sosok Edward,orang yang selalu ada untuk nya,orang yang selalu melindungi dan membantu nya dalam hal apapun.Arkana sudah mengerti arti hadirnya Edward dalam diri dia,pria itu sangat menghargai nya bahkan ia menghormati Arkana yang bukan anak dari majikan nya.Edwars memperlakukan Arkana sama dengan memperlakukan anak Albert.


* * *


Dua bulan kemudian. . .


Raka baru saja pergi dengan di antar sopir,karena ia akan menjemput Divia untuk berangkat ke kampus bersama.


"Mas,mau berangkat?"tanya Azizah,saat melihat Satria yang baru saja keluar dari kamar nya.


"Aku akan sarapan nanti di kantor,hari ini ada pekerjaan yang lain,yang harus ku selesaikan!"


"Baiklah mas,hati-hati di jalan!"


"Iya sayang,aku pergi dulu!"


Satria mengecup kening Azizah,begitu juga dengan Azizah yang mencium punggung tangan Satria.


Setelah mobil Satria keluar dari halaman rumah.Dia pun kembali ke dalam,dan melihat Rani yang sedang sibuk di dapur.


"Ran,baju Tuan sudah kamu setrika?"


"Belum Nyonya,aku berencana melakukan itu sebentar lagi,setelah masak!"pungkas Rani yang sibuk dengan panci penggorengan.


"Biar aku saja,kamu masak saja!"


"Tapi Nyonya!"


"Tidak apa-apa,hanya beberapa pasang!"


Azizah pun berlalu dari dapur,menuju tempat setrika,dan ia melihat hanya ada satu keranjang baju yang belum di setrika oleh Rani,lalu Azizah pun membantu meringankan pekerjaan Rani.


Di sisi lain,ada Satria yang baru saja tiba di kantor.Meskipun usia nya sudah menginjak umur sekitar empat puluh tiga tahun.Namun,Satria terlihat masih begitu gagah,ia pun memasuki lobi,di sana ada Anita sudah menunggu perempuan yang berusia empat puluh tahun itu.


"Pagi pak!"sapa Anita,


"Sudah pak,dan ini berkas yang di antar pak Rangga tadi pagi!"


"Dia mampir?"


"Benar pak,tapi dia langsung pergi lagi!"


"Oh,baik lah!"


Satria pun segera pergi menuju ruangan nya,disana sudah ada beberapa berkas yang menumpuk di atas meja nya.


Berkas yang di tinggal Satria selama satu Minggu,membuat Satria harus lembur untuk memeriksa nya,apalagi ini sudah akhir tahun.


Waktu pun berlalu,kini sudah jam 17:20 sore.


Tok ! Tok ! Tok !


"Masuk!"


"Pak ini sudah sore,apa Anda tidak akan pulang?"Tanya Anita,


"sebentar lagi,selesai ini aku pun akan pulang!"


"Bagaimana kalau anda pulang sekarang,dan saya akan membantu anda untuk membereskan ini!"


"Tidak masalah,kamu bisa pulang duluan,lagian ini hanya aku yang boleh memeriksa nya,kamu tidak kan bisa!"


"Tentu saja aku tidak bisa,karena disini,butuh tanda tangan Bapak!"Anita pun tertawa kecil,lalu berpamitan untuk pergi pulang.


Azizah baru saja selesai membereskan sajadah nya,ia melirik jam di dinding sudah pukul 18:40 dan Satria belum juga pulang,sehingga membuat Azizah sedikit cemas.


Setelah menyimpan perlengkapan sholat nya,Azizah pun mengambil ponsel dan hendak menghubungi Satria.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka,dan ternyata Satria telah pulang.


"Mas,kamu sudah pulang!"


Azizah menghampiri Satria,dan mengambil tas kerja di tangan Satria.


"Tunggu disini,aku akan menyiapkan air hangat untuk mas!"Satria pun dengan patuh menunggu di tepi ranjang,Azizah segera berlalu ke kamar mandi.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian,ia pun keluar.


"Mas,air nya sudah siap,kamu mandi dulu,nanti aku siapkan baju ganti,kita makan sama!"


"Baik Sayang"Satria pun berjalan ke arah kamar mandi,dan Azizah menyiapkan baju ganti untuk satria.


Di meja makan . . .


Rani tengah menata beberapa sayuran dan lauk di atas meja.


"Rani ambil 'kan sayur kangkung itu!"titah Azizah,Rani pun meletakkan piring sayur di depan Azizah,lalu ia pergi menuju dapur .


"Dimana Raka?"


"Katanya makan malam di rumah Divia.Miranti mengundang nya makan malam"


Mereka berdua pun melanjutkan makan malam,terlihat Azizah melayani sang suami dengan begitu baik.


Tengah malam,Azizah tidak mendapati Satria di ranjang,lalu ia segera turun dan mencari sosok sang suami.


Sampai di luar kamar,Azizah melihat ruang kerja Satria yang masih menyala lampu nya.


Ceklek !


Mendengar suara pintu terbuka,Satria mendongakkan kepala nya menatap sang istri yang berjalan masuk.


"Kenapa mas belum tidur?"


"Masih belum selesai pekerjaan ku,dan ada beberapa berkas yang belum ku selesai 'kan!"


"Mau aku buat 'kan kopi mas?"tanya Azizah,


"Boleh sayang,gula nya sedikit saja ya!"


"Oke mas!"


Azizah pun pergi meninggalkan ruangan kerja Satria,dan berlalu ke ruang dapur.


* * *


Pagi hari. . .


Arkana sudah siap dengan pakaian nya yang rapi.ia juga menenteng tas sekolah lalu menuruni satu persatu anak tangga.Seperti biasa para pelayan sedang menunggu Arkana.


"Pagi Tuan Arkana"


"Pagi Paman"


Pagi"jawab Edward sembari melemparkan senyum ke arah Arkana.


"Paman,boleh tidak hari ini sarapan di luar?"


"Maaf Tuan,belum bisa ini termasuk salah satu kedisiplinan yang di sini,tidak di perbolehkan untuk sarapan di luar,karena menu yang di sediakan disini lebih sehat!"pungkas Edward,Arkana hanya menanggapi nya dengan senyuman kecut.


"Yasudah,Aku mau sandwich saja Paman!"


"Pelayan,siapkan sandwich untuk Tuan Arkana"


"Baik"


Pelayan pun segera pergi ke dapur untuk mengambil apa yang di minta oleh Arkana.


Setelah selesai sarapan,Edward mengantar Arkana pergi ke kampus,dan Edward akan menunggu Arkana sampai ia akan pulang lagi,karena Albert tidak membiarkan Edward meninggalkan Arkana sendiri di luar villa.


Sore hari,untuk pertama kali,baru saja pulang dari pelatihan menembak,Edward membawa Arkana untuk mampir di swalayan eskrim.


"Kenapa kita kesini paman?"


"Aku akan membawa Tuan Arkana untuk makan eskrim,disini salah satu tempat favorit bagi semua orang!"


Arkana turun dari mobil,dan mengikuti langkah kaki Edward yang berjalan masuk ke dalam swalayan eskrim tersebut.


"Selamat datang Tuan,ingin order eskrim rasa apa?"wanita itu berbicara dalam bahasa Inggris,Edward tersenyum langsung memesan beberapa kotak eskrim kepada pelayan tersebut.


Setelah pesanan Edward selesai,wanita itu mengantar nya kepada meja Edward dan Arkana.


"Kita akan makan disini,Paman?"


"Benar Tuan,kalau di bawa pulang nanti tidak enak lagi!"


"Eeemmm"


"Silahkan di cicipi,semoga hari-hari mu seindah warna eskrim ini,dan hati mu sedingin eskrim ini"ucapan manis yang di ucapkan wanita itu,membuat Arkana menoleh ke arah nya,yang semula hanya sibuk melihat ke arah jendela saja.


"Terimakasih!"ucap Edward


"Tidak masalah Tuan,permisi!"dengan sopan,wanita itu segera pergi meninggalkan meja itu,namun Arkana masih menatap nya begitu lama.


Senyuman wanita itu,membuat Arkana tersenyum,apalagi saat wanita itu bercanda dan bercerita bersama dengan teman yang lain,itu membuat Arkana tidak dapat memindahkan pandangan nya.


"Tuan silahkan!"ucapan Edward membuyarkan lamunan Arkana.

__ADS_1


"Terimakasih paman"Arkana pun mengambil eskrim yang ada di depan nya.


Sungguh lembut dan juga begitu dingin,bahkan Arkana tidak dapat memakan nya dengan begitu lahap.Sangat berbeda dengan eskrim yang ada di Indonesia,disini sangat lembut bahkan begitu lembut.


__ADS_2