Wanita Cadar Tanpa Mahkota

Wanita Cadar Tanpa Mahkota
Dua tahun kemudian


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat.Satu Minggu lalu,Arkana telah mengabari Azizah jika ia akan wisuda di university nya.Azizah sangat senang mendengar kabar,jika anak nya lulus dalam waktu dua tahun,sesuai yang di target 'kan oleh Albert.


Hari ini terlihat sebuah mobil memasuki halaman rumah Satria.Mengetahui Azizah kurang sehat sudah selama tiga bulan,Aldo dan istri pun berencana untuk menjenguk nya.


Tok ! Tok !Tok !


"Tuan,Den Aldo di luar"seru Bi Rani dari luar kamar,


"Suruh mereka langsung masuk!"


"Sayang,tunggu sebentar,aku akan melihat mereka"


"Baik mas"jawab Azizah dengan raut wajah yang tersenyum dan begitu cantik.


Satria pun bangkit dari duduk nya,lalu ia keluar untuk menemui sahabatnya tersebut.


"Aldo,kapan tiba?"tanya Satria,saat melihat Aldo dan istri yang berada di ruang tamu.


"Baru saja,bagaimana keadaan Azizah?"tanya Aldo,yang segera bangkit dari duduk nya bersama dengan sang istri.


"Emmmm"Satria menggelengkan kepala nya,


"Kamu yang kuat,aku yakin ia akan segera baik-baik saja"Aldo tetap memberi semangat untuk Satria.


"Dia hanya memiliki satu ginjal,telah mengurus rumah selama ini,sehingga ia lupa akan kesehatan nya,untuk mencari donor ginjal saat ini,bukan lah,waktu yang tepat,bahkan operasi nya bisa gagal kapan pun,ini salah ku,aku yang tidak pernah menjaga nya dengan baik!"


"Kamu yang tenang,kamu sudah menemani nya sampai saat ini,jangan pernah menyalahkan diri mu sendiri,kalau Azizah melihat mu begini,ia akan sedih"Aldo menepuk pelan bahu Satria.


"Aku ingin melihat Azizah"


"Ayo aku antar kalian untuk menemui nya"Satria pun mengantar Aldo dan Putri pergi menuju kamar mereka.


Ceklek !


"Assalamualaikum"ucap Putri,begitu pintu kamar terbuka,


"Waalaikumsalam " jawab Azizah dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir nya,di tangan nya ada kita suci Alquran dengan urusan yang kecil.Melihat itu,putri tertegun.


"Bagaimana keadaan mu?"


"Alhamdulillah,baik.Allah masih memberi aku nikmat sehat yang luar biasa,sehingga aku masih bisa melihat kalian"jawab Azizah dengan tegas sembari tersenyum.Namun,Satria meras getir di hati nya,saat mendengar jawaban sang istri,bagaimana ia berkata baik-baik saja,saat ia terlihat begitu lemah,sudah sebulan penuh ini hanya berbaring di tempat tidur setelah sakit selama tiga bulan.


"Kenapa tidak menginap di rumah sakit?"tanya Putri yang memegang tangan Azizah,terlihat tangan itu yang kurus dan berkeriput.


"Di sini lebih betah,aku bisa melihat anak dan suami ku yang merawat ku,bahkan ke dua nya tidur di sebelah ku,kapan lagi bisa menikmati momen seperti ini"


"Cepat sembuh,aku enggak bisa berlama-lama,karena hari ini Papa akan berkunjung kemari dari Bali bersama dengan Lois!"


"Titip salam untuk semua orang,sampaikan maaf ku kepada mereka,kadang ada tutur bahasa ku yang melukai hati mereka.Putri,Aldo maaf 'kan segala salah ku kadang ada canda atau pun sikap ku yang membuat kalian tersinggung,sekali lagi aku meminta maaf"


"Kamu tidak perlu meminta maaf kepada ku,namun aku sudah memaafkan mu,aku juga meminta maaf jika aku ada melukai hati mu"Putri memeluk Azizah sekali lagi,sebelum ia pamit pulang.


"Kami pulang dulu"


"Iya,hati-hati"


"Assalamualaikum"ucap Putri,


"Waalaikumsalam "


Satria mengantar mereka sampai ke depan,setelah Aldo dan Putri,benar-benar telah pergi.Satria pun kembali ke kamar.


"Kamu sudah menghubungi Arkana ?"


"Tidak,dia tidak perlu tau bagaimana kondisi ku saat ini"


Drrt...Drrtt..Drtt..


Baru saja mereka membicarakan Arkana,ponsel Satria telah bergetar,disaat Satria melihat ponsel nya,itu Arkana yang melakukan panggilan video call.


"Sayang,Arkana menelpon!"


"Tunggu mas,jangan di angkat dulu"


"Kenapa?"Satria pun bingung,


"Mas,tolong ambilkan bedak dan lipstik ku"pinta Azizah,meminta tolong kepada Satria,


Satria pun segera mengambil nya,dan Azizah sedikit berdandan,agar tidak terlihat wajah pucat nya saat Vidio call bersama dengan Arkana.


"Assalamualaikum Papa,Mama"ucap Arkana begitu panggilan terhubung.


"Waalaikumsalam"jawab Azizah dan Satria bersama.

__ADS_1


"Ma,bagaimana keadaan mama?"


"Alhamdulillah sayang,sehat luar biasa.Bagaimana dengan mu sayang?"


"Arka baik ma.Ma besok Arkana akan mengikuti ujian akhir,hari ini dan besok,berlangsung selama dua hari.Hari ini jam dua siang Arkana akan ujian,sebelum Arkana ujian,Arkana meminta doa restu kepada Mama,agar ujian Arkana lancar,dengan nilai yang baik"


"Amiin sayang,doa mama dan Papa selalu menyertai mu,sayang jangan telat makan,jaga kesehatan mu sayang,ingat jangan sia-sia 'kan perjuangan mu selama ini,apapun yang terjadi Mama dan papa mencintai mu sayang"


"Tunggu,kenapa wajah mama terlihat sedikit lemas? apa mama sakit?"


"Tidak sayang,mama baik-baik saja"


Satria menatap ke arah Azizah,saat sang istri mulai membohongi Anak nya itu.


"Ma,Arkana mau mengikuti ujian dulu,Paman Edward sudah memanggil"


"Baik sayang,hati-hati sayang"


"Assalamualaikum"ucap Arkana sembari melambaikan tangan nya.


"Waalaikumsalam " jawab Azizah,setelah panggilan itu terputus,Azizah tak kuasa menahan air mata nya,ia tidak ingin membuat Arkana khawatir.Namun,kalau Arkana tahu,dia telah membohongi nya itu akan membuat Arkana semakin sakit.


"Kenapa kamu tidak memberitahu Arkana kalau kondisi kamu sekarang kurang sehat?"tanya Satria yang menemani Sang istri yang tengah berbaring di tempat tidur.


"Aku tidak ingin membuat Arkana khawatir dengan kondisi ku,apalagi ia harus mengikuti ujian akhir untuk bisa ikut wisuda tahun ini,jika dia gagal dia harus memulai di tahun pertama lagi,aku tidak ingin anak mu gagal"


"Beri tahu Arkana kondisi mu saat ini"tegas Satria,


"Tidak Mas,kamu tahu,sat ini ia sedang mengikuti ujian akhir nya,dan itu berlangsung sampai besok,jika dia pulang ke sini,untuk melihat keadaan ku,maka usaha dan perjuangan dia akan sia-sia begitu saja!"air mata Azizah menetes,


"Jangan menangis aku tak ingin kamu bersedih"Satria menyeka air mata nya,lalu memeluk Azizah sebentar.


"Mas,seandainya aku yang pergi lebih dulu,ampuni segala dosa ku,ridhoi aku.Tolong sampaikan maaf ku kepada semua orang yang mengenal ku.Jaga anak-anak kita,didik mereka menjadi anak yang berguna,bekal mereka dengan ilmu akhirat juga,temani aku sampai jasad ku terkubur dan tak terlihat lagi!"bisik Azizah,sontak membuat Satria terkejut,dan seketika air mata mengalir di pipi nya,


"Sayang,apa yang kamu katakan?"Satria memegang ke dua pipi Azizah,wanita ini tersenyum begitu cantik.


"Ada apa,kenapa kamu melihat ku begitu dekat,apa aku masih terlihat begitu cantik di usia ku yang tak muda lagi?"


"Bagi ku kamu selalu muda,ada air wudhu yang selalu membuat wajah mu bersinar seperti bidadari,jika kamu yang akan pergi lebih dulu,maka aku orang yang akan mengantar kepergian mu tanpa alas kaki,agar tubuh ini tahu,betapa sakit nya kehilangan diri mu"Satria kembali merebahkan kepala nya di pangkuan Azizah,dengan lembut Azizah membelai rambut Satria,membuat Satria begitu nyaman.


"Di hari di mana aku akan menghadap sang ilahi,aku meminta satu hal kepada mu,jangan tangisi jasad ku,ikhlaskan kepergian ku,aku tidak ingin kamu bersedih!"


Satria terlihat enggan menanggapi ucapan Azizah itu.


Sepuluh menit kemudian,Satria kembali lagi dengan bubur di tangan nya,ia dengan sabar menyuapi Azizah,hingga bubur itu habis,lalu memberikan minum sedikit demi sedikit untuk Azizah.


Ceklek !


Pintu kamar terbuka,mereka menoleh ke arah pintu.


"Sudah pulang sayang?"tanya Azizah,dengan raut wajah nya yang tersenyum.Akhir-akhir ini,Azizah sering sekali memperlihatkan senyum nya kepada Raka dan Satria,tentu saja itu membuat Satria semakin gelisah dan begitu cemas.


"Kemari lah sayang,duduk disini"Raka pun segera berjalan ke arah Azizah dan kini merebahkan kepala nya di pangkuan sang ibu.


Dengan lembut,Azizah membelai rambut Raka,sesekali ia mencium nya.


"Bagaimana kuliah mu hari ini sayang?"tanya Azizah,


"Lancar ma,hari ini Mama Divia mengundang kita kerumah nya untuk makan malam ma,tapi melihat kondisi mama yang sedang kurang sehat,apa enggak seharusnya kita undang ke sini saja ma?"


Azizah melirik sang suami,meminta pendapat Satria.Karena ia tahu,mereka pasti ingin membahas pernikahan Raka dan Divia.


"Benar kata Raka,kita undang kesini saja,aku akan memesan makanan dari luar,kita tidak perlu menyuruh Rani untuk memasak"


"Kalau menurut mas itu baik,silahkan saja,aku pun tidak masalah,kalau harus menyambut calon besan dalam keadaan begini"Azizah tersenyum.


"Kalau begitu aku akan memberitahu Divia ma,aku ke kamar dulu"cup,Raka mengecup pipi Azizah,lalu berlari keluar dari kamar itu.


Setelah Raka keluar dari tempat itu,Satria menyuruh Azizah untuk istirahat.


"Sayang,kamu istirahat saja dulu,soal makan malam biar urusan aku dengan Rani"


"Iya mas,maaf aku tidak bisa membantu mu"Azizah mengelus lengan Satria yang sedang membenarkan selimut nya.


"Tidak apa -apa sayang,kamu baik-baik saja,Aku sudah senang"setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri,Satria tidak lupa mengecup kening Azizah.


* * *


Malam tiba. . .


Di meja makan,terlihat Divia dan Ibu nya sedang menikmati malam malam itu.Di sisi lain ada Raka dan ke dua orang tua nya sedang menikmati makan malam juga.


Satria masih setia menyuapi Azizah,karena Satria tidak ingin Azizah capek.

__ADS_1


"Mas,cukup.Kamu makan saja dulu"


"Kamu habisi dulu makanan mu,setelah itu minum obat,aku bisa makan setelah kamu!"


Azizah pun mengalah,dan akhirnya Azizah menghabiskan makan malam nya.Miranti dapat melihat dua orang yang saling sayang satu sama lain,seketika ia teringat akan suami nya yang dulu,memperlakukan nya begitu baik.


"Maaf,kalian harus menunggu begitu lama"ucap Satria,saat ia setelah selesai menghabiskan makan malam nya.Sementara yang lain,telah selesai duluan.


Baik Miranti atau pun Azizah membicarakan pernikahan Raka dan Divia,tentu itu membuat Azizah senang,karena itu juga satu keinginan Azizah,ia ingin melihat salah satu anak nya dapat menikah dan Azizah dapat melihat itu.


"Tiga bulan lagi,Raka dan Divia akan selesai semester baru ini,kita dapat menikah 'kan mereka"ujar Satria,


"Bagaimana menurut Anda Nyonya?"tanya Miranti,


"Saya apapun pilihan Anda akan setuju saja,bagaimana dengan Anda?"Azizah berbalik bertanya.


"Saya terserah sama Tuan dan Nyonya saja,jika tidak keberatan,saya ingin di akhir bulan karena itu bertepatan dengan acara tahunan papa Divia!"ungkap Miranti,


"Oh tidak masalah,itu lebih baik.Bukam begitu mas?"


"Benar sayang"jawab Satria tanpa ragu.


Bukan menentukan tanggal nya saja malam ini,bahkan mereka juga memilih baju pernikahan yang akan mereka kenakan nanti.


"Sovenir nya akan Papa urus besok,Anita bisa membantu kita,untuk resepsi nya Papa punya kenalan,yang bisa membantu kita juga.Jadi,Nyonya Miranti,anda tidak perlu takut akan biaya itu semua,kami akan menanggung nya"pungkas Satria.


Mendengar itu semua tentu saja membuat Miranti dan Divia senang,karena bagaimana pun biaya pernikahan tidak lah murah,dengan di bantu oleh Satria mereka merasa di ringan 'kan.


Melihat jam sudah sekitar 22:00 malam.Miranti pun berpamitan untuk pulang,apalagi besok Divia masih ada jam kuliah di pagi hari.


Raka sudah duluan masuk kamar,Rani membereskan meja makan.Satria membawa Azizah untuk kembali ke kamar.


"Mau langsung tidur?"tanya Satria,


"Mas aku belum sholat,biar 'kan Aku sholat dulu baru tidur"


"Yasudah,aku bantu!"


"Tidak usah mas,aku bisa sendiri!"


"Kalau begitu aku akan menghubungi Anita sekalian mengirim beberapa berkas pekerjaan kepada nya"


"Iya mas"


"Ingat setelah selesai sholat langsung tidur!"


"Iya sayang"Satria mengecup kening Azizah tidak cukup sekali,bahkan ia hampir mencium kening Azizah sekitar sepuluh kali.


"Mas,apa yang kamu lakukan,kalau begitu aku tidak akan sholat-sholat"cetus Azizah,


"Iya sayang,maaf!"he he he, Satria pun membiarkan Azizah untuk berwudhu,sementara dia pergi ke ruangan kerja nya.


Ceklek !


Satria langsung masuk,dan berjalan ke arah meja kerja,setelah duduk Satria membuka laptop nya.


Bahkan ia mengambil ponsel dan menghubungi Anita.


[Hallo pak,ada apa? ini sudah jam 10 Lo pak!]ketus Anita terdengar sedikit kesal.


"Ha ha ha,maaf-maaf Aku telah menganggu jam istirahat mu.Anita,tolong besok kamu pesan sovenir pernikahan untuk Raka dan Divia,tolong bantu cetak undangan acara bulan Maret tanggal 25,jangan saja ya!"


[Siap Pak.Ada lagi pak?]


"Aku akan mengirim email untuk mu,kamu bisa memeriksa nya besok pagi!"


[Iya Pak,saya tutup ya]


Panggilan terputus,Satria pun menyimpan kembali ponsel nya,lalu ia mengirim email untuk Anita.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:30 malam.Satria segera menutup kembali lagi laptop nya,dan ia pun mematikan lampu ruangan tersebut.


Blam!


Setelah menutup pintu,Satria berjalan ke arah kamar nya yang tak jauh dari ruangan kerja nya.


Ceklek !


"Oh,masih sholat,kenapa baru sholat?"gumam Satria yang berjalan ke arah kamar mandi,meletakkan jam di atas kaca rias.


Setelah sekitar lima belas menit dari kamar mandi,ia pun keluar dengan baju piyama yang telah ia ganti.


Disaat Satria sedang membenarkan ranjang nya,ka tertegun,dan menyadari sesuatu.Lalu ia berbalik dan melihat ke arah Azizah yang masih dengan posisi semula,jantung Satria berdetak begitu kencang,bahkan kaki nya, kaku tidak dapat bergerak.

__ADS_1


__ADS_2