Wanita Cadar Tanpa Mahkota

Wanita Cadar Tanpa Mahkota
Pov Arkana


__ADS_3

Begini lah rutinitas kami setiap hari,bangun subuh,sholat dan tidur lagi,kadang juga ikut ngaji sama Mama dan Papa,kadang bila kurang tidur,ya ketiduran di mushola rumah.


Hari ini,aku melihat Raka sudah rapi dengan baju kemeja lengan panjang,dan kancing terbuka,serta memakai kaos putih di dalam nya,dengan rambut sudah di sisir rapi,aku melihat Raka masih sibuk berdiri di depan kaca rias.


Niat nya aku ingin bertanya sama Raka.Kenapa pagi-pagi sekali sudah rapi.Biasanya pagi bangun jam sepuluh kalau kami tidak memiliki kegiatan apapun,tapi pagi ini ia terlihat lain.Raut wajah nya selalu saja mengukir senyum,dan itu sangat jarang sekali terlihat.


"Ada apa? kamu terus menatap ku?"


Itu lah pertanyaan yang di lontarkan Raka kepada ku,yang sejak tadi terus menatap nya dengan heran.


"Kamu mau pergi?"tanya ku kemudian,setelah diam beberapa saat.


"Iya,aku mau pergi menonton bersama dengan Divia!"sahut nya tanpa menoleh ke arah ku,tentu saja aku kaget.Dia mau pergi nonton,otomatis dia bawa mobil.


"Bawa mobil?"Aku bangkit dari sandaran ku kursi tadi.


"Iya,masak ia aku jalan kaki?"jawab nya enteng,ku dengar ia tertawa saat mendengar pertanyaan bodoh ku itu.


"Raka,bagaimana bisa kamu bawa mobil? Papa enggak akan bolehin kamu !"Aku berusaha memperingati nya.


"Tapi,hari ini Papa sama Mama pergi ke kondangan dan akan pulang malam.Jadi,aku akan bawa mobil,sekali aja apa salah nya sih!"


Aku melihat dia mulai kesal dengan ku yang terus saja mengkhawatirkan nya.


"Tapi,Ra"ucapan ku terhenti,saat ku liat dia menatap ku dengan tajam.Aku tahu,Raka sedang menyuruh ku untuk berhenti bicara.


"Aku tidak akan memperbolehkan mu pergi!"itu lah kata-kata terkahir ku,karena aku tidak ingin dia kenapa-napa.


"Ada apa sih dengan mu? kamu terlalu ikut campur masalah ku,aku ingin pergi,dan satu lagi,jangan sampai Mama papa tahu,aku bawa mobil"tegas Raka,sebelum ia keluar dari kamar,dan membawa kunci mobil bersama dengan nya.


Melihat Raka yang sudah pergi,aku pun bergegas untuk mengejar nya.Hingga Bi Rani pun melihat aku yang berlari ke arah pintu utama.


"Aden ada apa?"itulah yang mu dengar dari Rani.


Aku tidak menjawab,ada hal penting lain yang harus ku kejar.Namun,tiba ku di luar,Raka sudah pergi dengan membawa mobil.


"Raka!berhenti!"


"Raka"


"Raka"


Aku mengejar hingga sampai di depan rumah,namun Raka tidak mau berhenti juga,dan aku pun memutus untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Loh Aden balik lagi? bukannya tadi pergi sama mobil?"tanya Rani,


"Yang pergi Raka"


"Apa?"Rani terkejut,karena ia pun tahu,Papa dan Mama melarang Raka untuk mengemudi.


"Tapi bukannya Tuan udah peringatkan kita tidak boleh membiarkan Den Raka pergi sendiri dengan mobil?"


"Tau ah bi,aku juga kesal,Raka enggak mau dengerin aku!"


Aku pun pergi ke kamar meninggalkan Bi Rani sendiri di ruang tamu.Tiba di kamar,aku melihat Lois menelpon ku beberapa kali.


"Lois,ada apa?"


Aku memutus menghubungi nya kembali,takut ada hal yang penting.


[Pergi nonton yuk,hari ini ada film hangout seru Lo,pemeran utama nya ada Prilly!]


Aku mendengar Lois begitu antusias ingin menonton film itu,namun aku jarang pergi menonton,apalagi di bioskop hampir tidak pernah sama sekali.


"Males"Aku ingin menutup panggilan itu,namun aku teringat,jika Raka juga pergi menonton.Mungkim saja mereka pergi menonton film itu.


"Eh,oke lah,Kau jemput aku ya!"


[Oke,dalam sepuluh menit aku tiba]


"Oke"


Setelah panggilan terputus,aku pun segera bersiap-siap,karena sesuai janji sepuluh menit Lois akan tiba,apalagi pria itu taat sekali sama waktu.Ha..Ha..Ha..


Tit..Tit...


Baru saja selesai mandi,dia sudah tiba dan membunyikan klakson mobil nya.


"Tunggu sebentar ya!"teriak ku dari arah kamar,dan ku lihat Lois yang berdiri di samping mobil nya,dengan kaca mata hitam.Memang anak Om Aldo suka sekali pamer kegantengan nya itu.

__ADS_1


Tidak menunggu lama,aku pun sudah siap berpakaian,dan segera keluar dari kamar.


"Aden mau pergi?"tanya Rani,saat melihat ku yang sudah siap dan rapi.


"Iya,bilang sama Mama,aku pergi sama Lois dan Raka"


"Iya Den,hati-hati"


"Iya Bi"


Tiba di luar aku segera masuk ke dalam mobil Lois.


Di tengah perjalanan,Lois seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.


"Tumben Lo enggak ajak Raka,biasa nya kalian berdua selalu bersama?"


Nah 'kan benar,dia dari tadi mau nanya soal Raka yang enggak ikut.


"Raka sudah pergi duluan,dia pergi sama Divia"


"Divia?"ulang Lois menatap ke arah ku,


"Heeemmm"


"Oh,aku tahu Raka 'kan ngefans sama Radika,ku pikir tadi kamu akan mengajak dia sekalian untuk menonton"


"Mungkin dia juga pergi menonton kesana!"


"Mungkin!"


Lois pun segera menaikan kecepatan mobil nya saat melihat jam di tangan hampir waktu nya tiba film itu akan di putar.


* * *


Metropole XXI. . .


Aku dan Lois sudah berada di lantai bioskop,dan ternyata Lois sudah memesan tiket dengan via online,saat kami di perjalanan tadi.


Setelah membeli beberapa cemilan,aku dan Lois segera masuk,karena sebentar lagi akan di tayangkan sesuai jadwal nya.


Seperti biasa ruangan itu,selalu saja tidak terang dan sedikit gelap,itu yang membuat aku tidak betah ke tempat sepeti itu.


"Raka ada di barisan terakhir"bisik Lois,aku pun melihat ke arah yang ia tuju.


"Gila,Raka lebih gercep dari Lo"cibir Lois,Aku cuma dia seraya berjalan ke arah kursi sendiri.


Lois,terus saja melihat ke belakang,dan memperhatikan dua orang yang sedang berkencan itu.


"Apa kau enggak malu,terus saja melihat ke belakang?"tanya ku pada dia,aku saja risih,masak dia enggak malu sih?


"Gue penasaran mereka pacaran atau enggak sih?"


Aku hanya diam memilih untuk nonton,apalagi film nya seru,sayang di lewatkan begitu saja.


Sekitaran tiga puluh menit kami berada di dalam ruangan itu,dan film pun habis.Dari jauh ku liat Raka dan Divia yang keluar dari ruangan itu,dengan bergandengan tangan.Fiks Mereka berdua pasti sudah pacaran pikir ku begitu.


Aku pun mengajak Lois,untuk mengikuti mereka dari belakang secara diam- diam.Aku dan Lois berdiri sedikit jauh dari mereka,karena kami tidak ingin ketahuan oleh Raka.


Pov Arkana selesai!


* * *


Divia dan Raka lalu berhenti di sebuah restoran yang ada di dalam mall.Mereka berdua memesan makanan.Arkana dan Lois juga ikutan memesan makanan,apalagi itu sudah siang,sudah waktu nya makan.


Setelah makan siang pun selesai,Divia dan Raka memilih untuk pulang,karena Raka sendiri takut ketahuan sama Azizah dan Satria.


"Kita pulang sekarang?"tanya Raka,


"Eeemmm,boleh"


Raka kembali menggandengkan tangan Divia,dan mereka berjalan ke arah pintu keluar.Namun,tiba-tiba saja,Raka dan Divia berhenti tepat di depan pintu masuk.


"Apa yang terjadi?"tanya Divia,saat melihat raut wajah Raka yang pucat.


"Raka,wajah mu sangat pucat!"Divia memegang wajah Raka,dan menyentuh dahi Raka.


Raka mulai keringat dingin,dia merasakan sesak di dada nya dan itu sangat sakit.


"Aggrrh"Raka menyentuh dadanya tentu saja itu membuat Divia panik.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Raka,katakan sesuatu?"Divia mulai panik dan khawatir,apalagi saat Raka diam menahan rasa sakit,saat di tanyain oleh Divia.


Dari jauh,Arkana melihat itu,dan ia merasakan ada yang tidak beres dengan mereka berdua.


"Kau mau kemana?"Lois menahan lengan Arkana yang ingin pergi.


"Gue mau nyusul mereka"


"Lo gila?nanti di kira penguntit sama mereka"


"Tapi,gue khawatir sama Raka"


Dugh!


Terdengar suara orang yang jatuh,dan itu adalah Raka.Lois dan Arkana menoleh secara bersama,sehingga mereka terkejut,akan pemandangan itu.


"Raka!"teriak Arkana.Lalu Arkana dan Lois segera berlari ke arah Divia dan Raka.


"Raka,bangun!"Arkana mulai memangku tubuh Raka,dan sesekali memanggil Raka dan menyuruh nya tetap sadar.


"Kita bawa ke rumah sakit !"saran Lois yang membantu Arkana,mengendong Raka.


"Aku ikut"mereka menoleh ke arah Divia.


"Heeem,kamu boleh ikut"sahut Arkana,dan segera membawa Raka ke parkiran mobil.


"Pakek mobil kamu saja,nanti mobil ku biar aku suruh jemput sama sopir"tukas Lois,


"Oke!"


Lois mengambil alih kemudi,Arkana memangku tubuh Raka,dan Divia duduk di depan.Namun,ia terus saja melihat ke belakang,melihat Raka yang belum sadarkan diri.


"Raka bangun"Arkana mulai menepuk pan pipi Raka,namun ka tetap tidak siuman.Arkana mulai panik.


Lois langsung membawa Raka ke rumah sakit Purna.


Begitu mereka tiba,Arkana segera berteriak memanggil perawat dan dokter.Karena Raka memang pasien rawat jalan,mereka segera berlari ke arah Raka dan Arkana.


"Tuan muda"seru mereka,saat melihat Raka,


"Kalian tunggu di luar,biarkan dokter yang memeriksa nya"


"Dok,lakukan yang terbaik"


"Tentu"dokter pribadi Raka,dokter Anwar segera memeriksa nya.


Arkana,Lois dan Divia menunggu nya dengan cemas di luar ruangan IGD.Lois meminta Arkana menghubungi Satria dan Azizah.Namun,Arkana ragu,ia takut kalau Satria dan Azizah akan marah,bila tahu Raka masuk rumah sakit.


"Kenapa kau masih berdiri! cepat hubungi Om dan Tante,agar segera kemari!"titah Lois,


"Kamu aja deh"Arkana,memberikan ponsel nya kepada Lois,dan Lois pun segera menghubungi Satria dan Azizah.


Divia sendiri tidak tahu riwayat penyakit yang di derita oleh Raka,karena Raka tidak pernah memberitahu Divia akan hal itu.Dan selama ada obat Raka tidak pernah mengalami sesak atau semacam nya,ia tidak pernah sampai pingsan setelah capek.Namun,kali ini benar-benar fatal,selain mengemudi,Raka juga tidak minum obat,karena harusnya hari ini Azizah membawa nya ke rumah sakit.Tapi,Azizah berjanji akan membawa nya sore hari,dengan syarat Raka tidak boleh pergi kemana-mana,karena obat nya habis di pagi hari,Azizah sudah memberi peringatan anak-anak itu.


"Aku sudah menghubungi Om dan Tante.Kamu tahu,suara Tante sangat panik,bahkan ia tidak berhenti menanyakan kabar Raka!"


"Aku tahu,itu akan terjadi,dan orang yang disalahin pasti aku,karena aku lalai menjaga Raka!"jawab Arka kini yang terduduk lemas di depan ruangan IGD.


"Apa yang terjadi dengan Raka? kenapa dia tiba-tiba pingsan?"akhirnya Divia memberanikan diri untuk bertanya kepada Arkana atau pun Lois.


Arkana mendongakkan kepala nya,lalu bangkit dari duduk,dan kini ia berdiri di depan Divia.Untuk pertama kali mereka berdiri dalam waktu yang dekat,dan netra ke dua nya saling tatap satu sama lain.Membuat Divia lupa apa pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan pada Arkana.


"Tunggu!"


Di saat Divia berbalik dan ingin mencari tempat duduk,Arkana menghentikan langkah Divia,wanita ini menoleh.


"Bukan kah,kamu ingin tahu apa yang sedang terjadi sama Raka?"ya suara Arkana tetap datar dan dingin seperti sebelumnya terhadap Divia.Karena bagi Arkana Divia adalah orang lain.


Divia hanya mampu mengangguk 'kan kepala nya,ia tidak berani menatap netra Arkana.Karena Divia tahu,bahwa Arkana tidak pernah menyukainya atau mau berteman dengan nya.


"Raka mengalami gagal jantung sejak bayi,ia sudah lama hidup dengan bantuan alat medis.Yang membuat Raka bertahan sampai saat ini adalah kebesaran sang maha pencipta,ada mujizat melalui obat yang di konsumsi Raka,dengan itu ia dapat bertahan.Kami sudah mencoba segala hal agar dia sembuh,bahkan kami mencari pendonor sampai di usia Raka dua puluh tahun.Namun,belum ada pendonor yang cocok"pungkas Arkana.Tentu saja jawaban Arkana membuat Divia syok,mata nya membulat,tangan nya refleks menutup mulut.


"Jadi,kamu sudah tahu 'kan sekarang? satu lagi,Raka melakukan ini semua memaksa pergi dengan membawa mobil,itu semua karena kamu.Karena Raka mencintai mu,ia ingin membuat kamu terus tersenyum dan bahagia"lanjut Arkana.Tiba-tiba raut wajah Divia berubah,ia tidak ingin seseorang mencintai nya lebih dari diri nya sendiri.


"Kenapa? kenapa harus aku? kenapa dia tidak jujur? dia tidak perlu membuat ku bahagia,kalau dia sendiri tidak pernah bahagia?"Divia menatap netra Arkana,buliran demi buliran kini telah membasahi pipi Divia.


Melihat Divia begitu rapuh,membuat Arkana tidak tega,dan ia pun menyuruh Divia untuk pulang.


"Kamu pulang lah,biar 'kan kami yang menunggu,aku akan memberitahu mu,kalau Raka siuman!"tukas Arkana,

__ADS_1


"Tidak aku akan menunggu nya.Biar pun ia akan sadar besok! aku akan menunggu nya.Biarkan aku menunggu nya disini!"Divia memaksa,agar Arkana tidak menyuruh nya untuk pergi.


__ADS_2