Wanita Cadar Tanpa Mahkota

Wanita Cadar Tanpa Mahkota
Kelulusan


__ADS_3

Setelah menjemput Divia di rumah.Mereka segera pergi menuju sekolah lama nya,untuk melihat pengumuman.Benar saja banyak sekali pengawal kepolisian yang ada sana memantau keadaan.


Setelah melihat pengumuman itu,Raka dan Divia terlihat begitu bahagia,tanpa sengaja mereka pun berpelukan di depan Arkana.Membuat Arkana lalu pergi menjauh,dan menunggu mereka di mobil.


Semenjak kejadian Raka di rawat di rumah sakit,Arkana selalu mengantar dan menemani mereka saat berkencan.Meskipun sedikit berat dan enggan untuk melakukan nya,Arkana terpaksa menuruti itu semua demi Kakak nya itu,karena dia sangat menyayangi Raka.


Satu Minggu kemudian. . .


Arkana masih terlelap ia tidak ingin bangun lebih cepat hari ini,apalagi semalaman ia bermain game bersama dengan Lois,dan membuat nya belum tidur,ia tertidur setelah subuh.


"Arkana!"panggil Raka yang mencoba membangunkan adik nya itu.


"Arka!"teriak Raka lagi,yang masih berusaha membangunkan Arkana,yang masih enggan untuk membuka mata nya.


"Apa sih kak,aku masih ngantuk!"Arkana langsung menutup wajah nya dengan selimut.


"Bangun Arkana,aku butuh bantuan mu,aku mau kamu menemani aku pergi!"Arkana masih tidak mau bangun,dan ia sudah malas merespon Raka.


Karena kesal,Raka pun menarik selimut Arkana,dan membuang nya kelantai,serta menambah suhu AC sehingga membuat Arkana kedinginan.


"Raka,matikan AC nya,ini cukup dingin"Arkana masih tidak mau membuka mata nya,dia benar-benar sangat mengantuk.


"Bangun ayo,kalau enggak aku enggak mau matikan AC!"Raka pun bersikukuh pada pendirian nya.


Lima menit berlalu,Arkana pun tidak sanggup lagi menahan dingin nya,karena ia tidur tidak memakai baju.Dalam keadaan marah,Arkana bangun,lalu meraih remot AC di tangan Raka,dan mematikan AC.


Prang !


Setelah mematikan AC,Arkana membuang remot dan itu mengenai jendela,sehingga kaca nya pecah,lemparan Arkana begitu kuat,membuat Azizah dan Satria terkejut yang berada di meja makan.


"Sudah ku katakan,aku tidak mau bangun,apa kamu tidak dengar?"teriak Arkana,


"Apa salah nya sih menemani aku pergi!"


"Raka,aku sudah menemani kamu dalam satu Minggu ini full,bahkan aku selalu menjadi sopir mu,aku menemani mu kemana pun kamu pergi,aku tidak pernah mengeluh,bahkan aku lupa sama dunia ku sendiri,aku setiap hari seperti sopir pribadi mu,menemani kamu berkencan,dan juga menemani kamu mengantar Divia ke pameran lukisan,mengantar kamu untuk membawa Divia pergi ke tempat saudara nya.Apa itu belum cukup? Raka aku juga butuh waktu untuk istirahat,aku punya dunia ku sendiri!"pungkas Arkana yang tidak dapat lagi menahan emosi nya.


"Kamu pikir aku mau merepotkan mu,aku tidak mau seperti ini.Aku juga ingin seperti orang lain,yang pergi tanpa merepotkan orang lain,kalau aku bisa memilih aku ingin hidup normal tanpa bantuan orang lain.Aku benci sama diri ku sendiri tiap hari harus meminta bantuan mu,tiap hari harus merepotkan mu,tiap hari harus membawa mu bersama ku,aku bahkan berpikir sebagai manusia parasit,yang selalu menyusahkan hidup kalian!"air mata Raka tak sengaja menetes,dan itu membuat Arkana terkejut.


Ceklek!


"Apa yang terjadi ? kenapa kalian pagi-pagi sudah ribut?"Azizah berjalan masuk,dengan di ikuti Satria dari belakang.


Arkana dan Raka terdiam,tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Azizah.


"Raka,apa masalah mu ?"tanya Satria.


"Hari ini aku meminta Arkana untuk menemani ku pergi,ada yang ingin ku beli di mall,tapi dia tidak mau bangun di saat aku mau membangunkan nya!"tukas Raka,


"Raka,kamu tahu Arkana capek,dia butuh istirahat,kenapa kamu harus pergi pagi-pagi begini? kenapa tidak siang saja!"saran Azizah,


"Benar ya,aku terlalu merepotkan kalian,aku terlalu menyusahkan kalian,jika aku normal seperti kalian,aku tidak ingin merepotkan siapapun di keluarga ini!"tegas Raka,Azizah terkejut mendengar ucapan anaknya itu.


"Kamu mau kemana?"Arkana menahan tangan Raka yang ingin pergi,


"Aku akan pergi sendiri,aku enggak butuh bantuan mu"


"Tunggu,aku bisa menemani mu,tunggu aku dalam waktu sepuluh menit,aku akan pergi mandi!"setelah mengatakan itu,Arkana pun pergi ke kamar mandi.


Itu lah Arkana.Tidak akan bisa melihat Raka dalam kesusahan atau kesedihan,bukan tidak mau menemani nya,Arkana juga punya alasan,selain ngantuk ia capek jika harus setiap hari menjadi sopir Raka.


Setelah Arkana pergi ke kamar mandi.Azizah pun memberi nasehat untuk Raka.


"Kamu lihat? itu lah Adik mu,bahkan dia tidak bisa melihat mu bersedih,dia tidak akan bisa melihat mu dalam tekanan batin.Raka berhenti bersikap keras kepala,kamu harus memikirkan perasaan orang disekitar mu,terutama keluarga mu!"Azizah mengusap pelan pundak Raka.


"Benar kata Mama mu,Arkana sudah banyak mengalah,jangan sia-sia 'kan waktu di saat kalian masih bersama-sama disini.Satu Minggu lagi,Arkana akan pergi ke Inggris,disaat itu juga kamu akan merasa kesepian!"tukas Satria.


"Mama,Papa.Maafkan Raka,Raka terlalu egois,maaf Raka sudah bersikap kasar pada kalian"


"Kalau kamu menyadari kesalahan mu,Papa senang!"


Arkana keluar dari kamar mandi,lalu segera memilih baju di lemari.


"Arkana,aku meminta maaf,kalau kamu tidak bisa pergi,kita pergi nanti siang saja"Raka pun meminta maaf sama Arkana.


"Pergi ya pergi,lagian aku sudah mandi,tunggu sebentar lagi,kamu tidak perlu risau,aku tidak akan marah pada mu!"sahut Arkana,lalu menoleh sembari tersenyum ke arah Raka.


"Kami menunggu mu di luar"Azizah dan Satria serta Raka pun pergi meninggalkan kamar.


"Eemmm"Arkana pun segera bersiap-siap,dan tak lama kemudian,ia pun keluar untuk menemui Raka di ruang tamu.


* * *


Tiba di sebuah mall yang ada di Jakarta.Raka dan Arkana segera turun dari mobil.


"Sebenarnya apa sih yang ingin kamu beli?"akhirnya Arkana pun bertanya,karena sudah penasaran,sejak tadi saat pergi.


"Hari ini Divia ultah,aku ingin membelikan sesuatu untuk nya!"


"Jadi,kamu mendesak aku untuk segera pergi,hanya karena Divia ultah?"


"Iya!"Raka pun berjalan ke arah pintu masuk,Arkana menggelengkan kepala nya seraya mengikuti Raka dari belakang.


'Semenjak mereka pacaran,Raka menjadi orang yang tak masuk akal,sangat menyebalkan'batin Arkana.


Tiba di depan toko,Raka bingung hadiah apa yang harus ia beli untuk pacar nya itu.


"Ada apa?"Raka menoleh,ke arah Arkana yang ada di belakang nya.

__ADS_1


"Hadiah apa yang harus ku beli?"


"Beli yang berguna untuk nya!"tukas Arkana,


"Aku akan membelikan kalung untuk nya!"


"Eeemmm,suka hati mu"


Raka pun berjalan ke arah toko perhiasan,dan melihat-lihat kalung disana,ada banyak model pilihan.


Arkana pun berjalan ke arah toko lain,sembari menunggu Raka.


Setelah membungkus hadiah yang akan di berikan oleh Raka kepada Divia,Raka pun pergi untuk membayar ke kasir,dia melihat Arkana juga membeli sesuatu namun ia tidak tahu,apa yang di beli Arkana.


Setelah membayar,Raka membawa hadiah itu bersama nya,dan memasukan nya ke dalam paperbag.


"Sudah selesai?"tanya Arkana.


"Sudah,aku hanya membeli ini saja,ayo pulang!"


"Loh,enggak jadi ke rumah Divia?"tanya Arkana,


"Enggak,dia akan ke rumah kita nanti malam,mama mengundang nya makan malam"


"Mama? kok aku enggak tahu?"


"Oh,berarti sekarang kamu sudah tahu 'kan?"Raka dan Arkana pun pergi meninggalkan mall.


Di tengah perjalanan,Arkana terus melirik ke arah Raka yang sedang memainkan ponsel,ia tahu pasti saat ini Raka sedang mengobrol dengan Divia.


"Tadi aku melihat mu ke toko sebelah,apa yang kamu beli?"tanya Raka,


"Aku tidak membeli apapun,aku hanya mampir aja"


"Eeemmm"


Tiba di rumah,benar saja,semua orang yang ada di rumah,sibuk menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan Divia dan ibunya.


"Hallo tampan"sapa Anita yang keluar dari dapur.


"Loh,Tante disini?"


"Iya,papa mu undang Tante untuk bantuin mama kalian"tukas Anita yang lanjut membuat beberapa desert untuk nanti malam.


"Dimana Papa?"


"Papa kalian masih ada meeting,dia akan pulang sore!"


"Kalau gitu aku ke kamar"ujar Raka yang langsung pergi.


"Arka!"panggil Azizah,dari arah belakang,Arkana langsung pergi untuk melihat nya.


"Ma,kenapa harus capek-capek metik disini,kita bisa membeli nya di pasar!"Arkana berjalan masuk ke dalam kebun kecil milik keluarga purna.


"Bantu mama bawa masuk.Kalau di beli memang praktis enggak capek.Nah,kalau kita beli di luar yang ini mau di kemanain,di buang gitu?"


"Eemmm,benar juga,mubazir jadi nya.Wes lah ku bawa masuk dulu mah"Arkana pun melangkah masuk ke dalam rumah.


"Bi Rani,apa benar hari ini acara pertunangan Raka dengan Divia,aku tahu nya dari Pak Satria?"


"Loh iya memang nya Neng? tapi Bibi enggak tau tuh,mungkin benar saja sih Neng,soalnya Den Raka dekat bangat sama Non Divia,ia juga setiap hari pergi bertemu dengan Non Divia dan itu membuat nya sedikit lebih ceria dari biasa nya"pungkas Bi Rani.


'Tunangan? apa cuma aku yang enggak tahu soal ini? heeh! mungkin benar banyak sekali yang sekarang tidak akan aku tahu lagi tentang keluarga ini' Arkana pun melangkah masuk ke dapur,dan meletakkan buah tersebut di atas meja dapur,lalu ia bergegas pergi ke kamar.


Ceklek !


Tiba Arkana di kamar,ia melihat Raka yang sedang melihat cincin di tangan nya.


"Kamu beli cincin? bukan nya kamu beli kalung?"tanya Arkana,


"Iya aku beli kalung sebagai hadiah ultah Divia,lalu cincin ini untuk pertunangan ku dengan Divia!"pungkas Raka.


"Kok aku enggak tahu,kalian berencana untuk bertunangan? "Arkana duduk di tepi ranjang,tepat nya di depan Raka.


"Kenapa aku harus memberitahu kamu,yang tunangan aku bukan kamu 'kan?"


"Oh"Arkana menanggapi jawaban Raka dengan kecewa,lalu ia bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.


* * *


Malam pun tiba. . .


Anita,Azizah dan juga Rani sedang membantu menyiapkan semua menu di atas meja makan.Begitu selesai sholat magrib,mereka langsung bergegas untuk menyambut tamu yang akan datang.


"Mas,Paman Dika jadi datang?"tanya Azizah,saat melihat Satria keluar dari kamar nya.


"Masih dalam perjalanan sayang"jawab Satria yang kini berjalan ke arah meja makan.


Semua menu yang masak telah di hidangkan ke atas meja.


"Anita,jangan pulang dulu,kita makan malam bersama,kamu telah banyak membantu"tukas Satria,


"Terimakasih Pak sebelumnya!"sahut Anita,


Terdengar suara mobil yang terparkir di luar rumah,Rani segera mengintip,dan benar saja,itu Mentari dan Divia baru saja tiba.


"Nyonya,Non Divia dan Mama mya baru tiba"

__ADS_1


"Kami akan menyambut nya Bi,pergi panggil Raka dan Arkana ya!"


"Baik Nyonya!"Rani pun bergegas pergi ke kamar Raka dan Arkana.


Tiba di depan kamar mereka,Rani tidak langsung mengetuk,karena ia mendengar suara Raka dan Arkana yang sedang berdebat soal pertunangan itu.


"Raka,di antar aku dan Kamu memang tidak jauh berbeda.Namun,aku adik mu apa salah nya sih memberitahu aku,kalau kamu akan bertunangan,kita berdua akan memiliki keluarga masing-masing suatu saat nanti,tapi dengan kamu bersikap begini,aku ragu kalau kamu tidak pernah menganggap aku adik mu!"setelah mengatakan itu,Arkana berbalik dan berjalan ke arah pintu.


"Aku bukan tidak ingin memberitahukan mu,aku tidak ingin merepotkan mu,membuat kamu khawatir akan hal ini,pasalnya kita baru berumur lima belas tahun,aku takut kamu akan memberi pendapat yang berbeda dengan ku,jadi aku memilih untuk tidak memberitahu kamu!"


"Benar apa yang kamu katakan Raka.Aku memang khawatir,aku takut ini hanya lah cinta monyet,aku takut suatu saat kamu akan pergi meninggalkan Divia disaat kamu mengenal orang lain.Karena perjalanan hidup bukan hanya tentang cinta saja,kita punya keluarga,kelak dewasa kita punya pekerjaan,belum tentu pasangan kita akan menghargai itu semua!"


"Aku tau,aku paham dengan apa yang kamu maksud,tapi Arka aku sudah memutuskan,aku hanya ingin restu kamu,restui langkah awal kami sampai ke jenjang pernikahan!"


"Aku akan selalu merestui kalian.Ingat jangan pernah menyesal telah mengambil keputusan hari ini,apapun yang terjadi ke depan nya kamu harus selalu yakin dan percaya keputusan mu ini adalah keputusan terbaik untuk kalian berdua!"


Setelah mendengar apa yang di katakan Arkana,lalu Raka memeluk nya dengan erat.


Tok ! Tok ! Tok !


Ceklek !


Arkana membuka pintu,dan Rani sudah berdiri di sana dengan senyuman khas nya.


"Aden,Nyonya memanggil Anda berdua!"


"Baik Bi,kami akan segera kesana!"


Rani segera pergi meninggalkan mereka berdua di depan kamar.


"Ayo kita ke ruang makan!"Arkana mengajak Raka,lalu kedua nya berjalan bersama,sungguh dua pangeran tampan yang sangat mempesona.


Bahkan orang yang di meja makan,tidak mengedipkan mata melihat kearah dua ini,meskipun dua orang berdiri di depan meja,tetap akan terlihat satu orang,karena mereka sangat mirip.Untung saja yang satu dingin cuek.Yang satu lagi,ramah dan suka tersenyum,jadi mereka bisa membedakan nya.


Perjamuan makan malam pun berjalan dengan lancar,bahkan Azizah dan Satria membahas pertunangan Raka dan Divia.Kali ini Arkana terdengar biasa saja,ia juga tidak syok.


Setelah acara pertukaran cincin,dan semua orang terlihat bahagia dengan pertunangan itu.


"Jadi,kalian akan sama-sama menyelesaikan sekolah kalian dulu sampai ke university,setelah mendapat perkejaan baru kalian akan menikah"tegas Satria,


"Apa ini tidak terlalu cepat?"tanya Miranti,semua orang terkejut,pasal nya cincin telah bertukar baru Miranti memberi pendapat.


"Tidak,Raka dan Divia sama-sama sudah mengenal satu sama lain,jadi waktu ini tidak terlalu cepat,seperti yang saya katakan pernikahan akan berlangsung setelah mereka lulus,dan itu akan kami tanggung semua proses nya"


"Terimakasih banyak Pak!anda sudah banyak membantu saya dan anak saya"tukas Miranti,semua orang terlihat tersenyum dan bahagia dengan acara tersebut.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponsel Satria bergetar,ia langsung menatap layar ponsel nya.


"Saya permisi dulu!"Satria pun bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan ke arah ruang tamu.


Satria langsung mengangkat panggilan nya,dengan nomer asing.


"Apa? bagaimana bisa?"suara Satria terdengar sampai ke arah meja makan.Dan tak lama Azizah terlihat menyusul ke ruang tamu.


"Ada apa Mas?"tanya Azizah menyentuh bahu Satria,pria itu terlihat syok dan ia juga kaget.


"Paman sayang"Satria langsung memeluk Azizah dengan erat,dan ia ambruk di dalam pelukan sang istri.


"Paman Dika dan keluarga nya mengalami kecelakaan,dan seseorang baru saja menghubungi kita.Dan itu hanya kecelakaan tunggal yang menyatakan sopir nya mengantuk berat!"pungkas Satria,Azizah juga terkejut.Selain Dika dan Selly,ada anak mereka yang berumur enam belas tahun.


Melihat Satria dan Azizah dalam keadaan sedih,Arkana pun pergi untuk melihat mereka.


"Ma,apa yang terjadi?"tanya Arkana panik saat melihat Azizah dan Satria duduk di lantai ruang tamu.


"Paman Dika dan Selly mengalami kecelakaan,dan mereka sudah diantar ke rumah duka,kita harus segera kesana sayang"


"Iya ma,aku akan memberitahu Raka!"Arkana pun bangkit,lalu berjalan ke arah meja makan.Tiba disana,dengan berat hati Arkana memberitahu mereka kabar duka itu.


"Boleh kami ikut?"tanya Divia,


"Maaf Tante,Divia,sebaik nya kalian pulang saja,perjalanan cukup jauh,jangan membahayakan diri kalian!"


"Hati-hati di jalan,kami mendoakan semoga amal ibadah korban di terima di sisi Allah"


"Amiin"


Setelah Divia dan ibu nya pulang,Anita pun berpamitan kepada Satria.


"Anita,tolong handle semua pekerjaan besok!"


"Baik Pak!"


Anita pun berlalu.Setelah semua tamu pergi,Satria pergi ke kamar untuk mengambil kunci mobil,lalu membawa beberapa perlengkapan yang mereka perlu di sana.


Satria sudah menghubungi kepala desa untuk menunggu mereka tiba.Dan itu membuat Satria panik setengah mati.


"Raka,Arkana,apa yang kalian lakukan,cepat sedikit!"teriak Satria,dan itu membuat Azizah terkejut.


"Mas,kenapa berteriak, mereka juga akan segera keluar!"


Tak lama kemudian,Raka dan Arkana pun keluar,dan segera masuk ke dalam mobil.Terlihat Satria yang begitu panik dan gelisah.


"Mas,kuatkan hati mas,kita sedang dalam perjalanan,hati-hati lah mengemudi"ucap Azizah memperingati Satria.


"Iya sayang,maaf aku sudah membuat mu khawatir"

__ADS_1


"Eeemmm"Azizah memegang tangan Satria,lalu Satria mulai fokus menyetir dengan tenang,menuju desa gelap.


__ADS_2