
Hari Sabtu adalah hari yang di pilih oleh Aldo untuk mereka pergi ke Thailand.Karena hari Senin mereka ada meeting di perusahaan Justin,dan hari Minggu mereka bisa jalan-jalan,sebelum kembali ke negara sendiri.
"Raka,bawa masuk koper ini sayang ke dalam mobil"
"Iya ma"Raka pun membawakan koper yang diberikan Azizah kepada nya.Sementara Arkana,sedang membawa Satria untuk membawa berkas perkejaan ke Thailand,untuk Justin.
"Arkana bisa lebih cepat sedikit,ini sudah jam berapa,nanti Om Aldo marah-marah Lo?"ujar Raka yang berteriak dari mobil,menunggu Arkana yang sedang mengambil tas milik Satria tertinggal di kamar.
"Sabar atuh sayang,enggak boleh teriak-teriak begitu,Arkana juga capek mondar mandir dari tadi"bela Azizah,
"Maaf ma"Raka pun menunggu Arkana dengan patuh di dalam mobil.
"Nih Pa"Arkana memberikan tas yang ia ambil di dalam kepada Satria,setelah semua nya beres mereka pun segera pergi ke bandar udara,karena disana sudah ada Aldo yang menunggu mereka.
* * *
Perjalanan dari Jakarta ke Thailand,Chiang Mai memakan waktu lima jam.Aturan nya mereka akan tiba tiga jam yang lalu di Bangkok.Namun,Aldo dan Satria memilih untuk pergi ke Chiang Mai dulu,karena mereka memiliki waktu sehari untuk jalan-jalan di Chiang Mai.
Smile Lanna hotel adalah pilihan mereka,setelah mereka tiba di Chiang Mai.Satri dan Aldo memilih untuk beristirahat dulu,sebelum membawa keluarga mereka untuk jalan - jalan.
Keluarga Aldo dan Satria bertemu di De Lanna restaurant.Mereka memilih makan malam bersama di tempat itu.
"Apa harus duduk terpisah?"tanya Putri,
"Tidak perlu,satu tempat saja,Lois bisa bergabung sama Arka dan Raka"tukas Aldo,sembari masuk ke dalam restoran.
Mereka pun segera masuk ke dalam restoran tersebut untuk makan malam.
Di Tempat lain. . .
Selain fokus pada pendaftaran masuk sekolah SMA.Divia juga fokus mengasah skill nya di bagian melukis.Divia meletakkan ponsel nya di depan,lalu ia mulai melukis gambar seseorang yang ia ambil secara diam-diam.Wajah tampan pria itu,selalu membuat Divia kagum.
Setelah selesai melukis Divia mendapatkan pesan Wa dari Raka,dan mereka mulai mengobrol melalui pesan singkat,sampai Divia tertidur,menunggu balasan dari Raka,yang sedang sibuk bersama dengan keluarga nya,yang saat ini sedang liburan ke Chiang Mai.
Ke esokan pagi nya. . .
Divia yang mendapatkan undangan beasiswa pun bergegas untuk datang ke sekolah tersebut,agar bisa segera mengisi formulir nya.Ternyata undangan itu di saran 'kan oleh Azizah kepada Satria,karena sudah seharusnya Azizah membantu Miranti,wanita yang mau di ajak bicara oleh nya sepuluh tahun yang lalu.Wanita yang sederhana dan tidak sombong.
Purna secara diam-diam,telah menaruh harapan kepada Divia,dan memberikan beasiswa untuk Divia sampai ke university.
"Mama doakan Divia lancar wawancara nya"
"Iya sayang,mama pasti doa 'kan yang terbaik"setelah berpamitan,Divia pun pergi meninggalkan rumah.Sebekum ia naik taxi,Divia sudah mengabari Raka,bahwa ia akan ikut wawancara hari ini,bahkan Divia meminta doa agar wawancara nya lancar,dan ia lulus mendapatkan beasiswa itu.
Meskipun ke dua nya tidak saling menyatakan perasaan satu sama lain,namun Raka dan Divia terlihat begitu dekat.Raka sendiri juga sering curhat dan minta perhatian kepada Divia,begitu juga dengan Divia yang sering memberi harapan dan perhatian kepada Raka.
Namun,ke dua nya tidak pernah tahu,apakah itu cinta atau murni hanya sebagai sahabat.
* * *
Kejora baru saja menjemput Mentari di rumah Andara.Andara dan Mela juga baru saja akan berangkat ke tempat kerja.
"Assalamualaikum ma"ucap Kejora yang langsung menyium punggung tangan mertua nya.
"Loh,kapan tiba sayang,kata Bara kamu pergi dinas ke Inggris sayang?"
"Aku baru pulang semalam,rencana mau jemput Mentari,tapi udah malam sekali,jadi tunggu pagi"
"Mentari lagi serapan bentar Mama panggil 'kan
"Enggak usah ma,biar aku saja,lagian mama mau pergi 'kan?"
"Iya benar,tuh Papa lagi ambil mobil"mereka melihat Andara yang sedang mengambil mobil di garasi.
"Kalau begitu,Kejora masuk dulu ma"
"Iya sayang"setelah Kejora masuk,Mela pun menghampiri Andara yang sedang menunggu nya di depan pagar.
__ADS_1
Tiba Kejora,di dalam ia melihat Mentari yang sedang sarapan.
"Sayang!"
"Mama"teriak Mentari yang terkejut melihat Kejora datang menjemput nya.
"Mentari kangen ma"Mentari langsung memeluk Kejora,dan begitu juga kejora yang sudah sangat merindukan anak nya,ia segera memeluk dan mencium kening Mentari berulang kali.
"Dimana Papa mu?"
"Papa sudah berangkat kerja sejak pagi ma,Papa bilang mama hari ini pulang,dan benar saja Mama sudah pulang"
"Sudah selesai sarapan nya ayo kita ke tempat Papa"
"Tunggu sebentar ma,Papa pasti sudah kangen sama Mama"
"He he he,jangan menggoda orang tua!"Kejora langsung mencubit pipi Mentari,membuat Mentari harus menahan rasa sakit,tapi ia malah tersenyum menerima perlakuan Kejora.
Setelan selesai sarapan,Mentari dan Kejora pun berpamitan sama pembantu di rumah Andara,lalu baru mereka meninggalkan tempat tersebut.
* * *
Sungguh roda kehidupan itu terus saja berputar,begitu juga dengan roda kehidupan keluarga Adam.
Setelah apa yang terjadi di lima tahun yang lalu,hidup keluarga Adam berubah drastis.Zuhra yang baru saja bebas dari tahanan memilih untuk mendiamkan diri di dalam kamar,mungkin ia akan malu untuk keluar dari kamar dan bertemu dengan orang -orang yang akan menghina nya nanti.
Dulu,disaat roda kehidupan nya di atas,Zuhra lupa menoleh ke bawah,sehingga ia tidak sadar sifat sombong nya telah menghancurkan kebahagian orang di sekitar nya.Selain Zaki,ada ke dua orang tua nya yang juga begitu kecewa atas sikap nya dulu.
Tok ! Tok ! Tok !
Zuhra tidak mau menjawab,apa lagi datang untuk membuka pintu kamar,ia lebih memilih untuk berdiam diri.
Tok ! Tok ! Tok!
Ketukan yang ke dua membuat Zuhra harus menutup telinga nya.Dia sudah katakan tidak ingin bertemu dengan orang lain,namun sikap nya itu semakin membuat keluarga nya khawatir dan gelisah,mereka takut Zuhra akan berbuat hal yang nekat dan fatal.
"Zuhra mau sendiri kak,tinggalkan Zuhra sendiri!"
Zuhra merasa bersalah,ia merasa jika dia lah yang menghancurkan hidup Zaki,dari menggagalkan pernikahan Zaki,Zuhra juga sering melibatkan keluarga nya dalam masalah pribadi nya yang iri kepada Azizah.
"Zuhra,bukan 'kan pintu nya,kakak ingin bicara dengan mu? Ayo keluar!kalau enggak Kakak dobrak pintu nya!"
Mendengar perkataan Zaki,Zuhra pun memilih untuk membuka pintu kamar,karena ia tidak ingin membuat Zaki mendobrak pintu kamar nya.
Ceklek !
Zaki menatap sendu kearah adik perempuan nya itu.Seharusnya ia sudah memiliki anak jika Zuhra telah menikah,namun karena ia pernah mendekap di balik jeruji besi,tidak ada seorang pun yang mau datang melamar Zuhra,dan itu hampir membuat kedua orang tua nya stres,anak gadis satu-satu nya harus melajang seumur hidup menjadi perawan tua.
"Boleh Kakak masuk?"tanya Zaki.Zuhra mengangguk,sembari membuka lebar pintu kamar.
Lalu Zaki duduk di kursi meja belajar milik Zuhra,kamar yang tidak pernah lagi ia masuk dan kini susana nya semakin terlihat begitu sepi, dan jauh dari kata damai,disana hanya ada banyak kenangan yang indah,kenangan masa lalu Zuhra sebelum masuk penjara.
"Apa yang kamu pikirkan ?"tanya Zaki saat Zuhra duduk di tepi ranjang.
"Sedang memikirkan dosa ku !" jawab Zuhra dengan jelas,
"Apa kamu tidak memikirkan masa depan mu? tidak memikirkan pria yang akan menjadi suami mu kelak,ayah dari anak-anak mu?"
Zuhra menatap sang Kakak,ia sedang berpikir,pertanyaan bodoh apa yang sedang di bicarakan Zaki kepada nya.
"Kenapa Kakak bertanya begitu? apa kehidupan ku seperti ini terlihat sangat menyedihkan ?"bukan nya menjawab,Zuhra malah berbalik bertanya kepada Zaki.
"Bukan begitu? sejak lahir,kamu sudah membuat orang lain iri dengan kehidupan mu yang cukup baik.Memiliki orang tua yang sangat mencintai mu"pungkas Zaki,pria ini berusaha berbicara dengan sangat hati-hati agar tak menyakiti perasaan Zuhra.
"Tapi,nyata nya aku yang iri akan kehidupan orang lain yang begitu bahagia,aku selalu merasakan kurang nya kasih sayang,padahal aku memiliki orang tua yang lengkap
Di mana mereka saat aku merasa keterpurukan,disaat aku merasa dunia ini akan hancur,disaat aku merasa kedinginan di balik jeruji besi.Kakak bisa hitung,Abah dan Ummi hanya datang tiga kali menjenguk ku di penjara!"
__ADS_1
Tak terasa air mata Zuhra menetes,hingga membasahi piyama yang ia kenakan.Zuhra tidak pernah merasa seburuk itu kehidupan sebelumnya.Namun,begitu ia melangkah kaki nya di kantor polisi,kehidupan nya berubah salam sekejap.Tidak ada lagi baju bagus,mobil mewah,dan kasur empuk serta tidur nyenyak,semua itu telah sirna.
"Zuhra"Zaki memeluk sang adik dengan sangat erat,ia menenangkan Zuhra agar tidak lagi menangis.
"Jangan pernah menoleh kebelakang saat kamu akan berjalan lurus ke depan,karena kamu tidak akan tahu,ada bahaya apa di depan yang sedang menunggu mu.Namun,kamu perlu mengingat apa yang telah terjadi di masa lalu,akan selalu menjadi pelajaran di masa depan,tanpa mengurangi rasa percaya diri kita untuk bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi"
Sungguh Zaki adalah sosok Kakak yang baik untuk Zuhra,bahkan Zuhra sendiri merasakan betapa besar nya cinta dan kasih sayang Zaki kepada nya.
"Zuhra,perlu kamu ingat,Abah bukan tidak sayang padamu,atau bukan tidak datang untuk melihat kabar mu,hanya saja,Abah berusaha keras untuk membebaskan mu,tapi itu tidak semudah yang kita bayang 'kan.Keluarga purna telah menekan polisi agar tidak memberi jaminan kebebasan kepada kamu,sehingga itu membuat Abah dan Ummi setiap hari harus bersedih mengingat kamu yang masih berada dalam jeruji besi"
Zaki menyeka air mata Zuhra,
"Jangan pernah merasa kalau kamu sendiri,masih ada aku,Abah dan Ummi yang sayang pada mu"
"Terimakasih banyak Kak,kamu memang yang terbaik"Zuhra kembali memeluk Zaki,
"Ada pria yang ingin ta'aruf dengan mu,apa pendapat mu?"akhir nya Zaki,memberikan diri untuk bertanya.
"Aku tidak ingin menikah Kak"mendengar jawaban Zuhra membuat Zaki tersenyum.
"Kamu takut,pria itu tidak bisa menerima mu?"
"I-Iya"Zuhra tidak berani menatap netra Zaki,
"Pria itu menerima mu dengan baik,ia tidak mempermasalahkan masa lalu mu,yang ia tahu,kini di masa depan hanya ada kalian berdua tidak ada masalah yang lain"ungkap Zaki,Zuhra masih mencerna ucapan Zaki barusan,karena ia tidak mau salah mengambil keputusan.
"Zuhra,bagaimana ?"tanya Zaki,saat melihat Zuhra yang tak memberi jawaban kepada Zaki.
"Jika Abah dan Ummi setuju,maka Zuhra juga setuju,karena Kakak,Abah dan Ummi pasti tahu yang terbaik untuk Zuhra"
"Jangan pernah menyesali nya ya Zuhra,karena telah memilih keputusan ini?"
"Iya Kak,Zuhra ikhlas lahir batin"
Mendengar jawaban Zuhra,membuat Zaki tenang,dan ia sangat berharap jika Zuhra sepenuh nya telah berubah,dan kembali ke jalan yang benar,karena Zaki tidak ingin Zuhra salah pergaulan lagi.
"Kalau kamu setuju,maka Kakak akan mengundang pria itu untuk datang melamar mu,karena Kakak sudah sangat yakin dengan pilihan Kakak ini,apalagi jika dia bisa menerima mu dalam keadaan buruk,maka dia adalah pria yang bisa membimbing mu ke jalan yang benar"
"Amiin,semoga ini jodoh Zuhra yang di atur oleh Allah",
"Amiin"
Setelah semua urusan nya selesai dengan Zuhra,Zaki pun berpamitan kepada Zuhra,untuk kembali ke kamar nya.
Sebelum ia menutup rapat pintu kamar itu.Sekali lagi,Zaki menoleh dan tersenyum kepada Zuhra,yang masih duduk di tepi ranjang.
Di luar kamar Zuhra,Zaki merogoh ponsel yang ada di dalam saku Koko nya.Lalu ia menghubungi seseorang yang di yakini adalah orang yang akan berta'aruf dengan Zuhra,sang adik nya.
"Assalamualaikum"ucap Ustaz Zaki,begitu panggilan terhubung.
[Waalaikumsalam,ustaz ada apa?]tanya seseorang yang di hubungi oleh Zaki.
"Zuhra,telah setuju untuk ta'aruf dengan mu,jadi kapan anda berencana untuk datang kemari?"
[InsyaAllah secepatnya,saya akan mempersiapkan semua nya besok,dalam waktu dua hari saya akan datang ke rumah untuk melamar Zuhra Ustaz]
"Lebih cepat lebih baik,bukan begitu ustaz?"
[Benar]
"Kalau begitu,sampai bertemu nanti di hari lamaran Ustaz,saya doakan semoga Allah mempermudahkan jalan ustaz"
[Amiin,Saya pun berharap begitu.Assalamualaikum]
"Waalaikumsalam"
Panggilan pun terputus,Zaki segera menyimpan kembali ponsel di dalam saku Koko nya,lalu ia menuruni satu persatu anak tangga.Zaki harus memberitahu Abah dan Ummi mengenai kabar baik yang telah di rencanakan oleh nya sejak dulu.Meskipun ia sendiri belum menikah,Zaki sangat menginginkan jika Zuhra yang lebih dulu menikah dan berumah tangga,setelah itu ia baru akan memikirkan kebahagian nya .
__ADS_1