Wanita Cadar Tanpa Mahkota

Wanita Cadar Tanpa Mahkota
Raka dan Divia


__ADS_3

Hari Minggu telah tiba,hari ini Raka tidak memiliki jadwal pemeriksaan,ia berulang kali mengirim pesan kepada Arkana.Namun,tidak satu pesan Raka di balas oleh Arkana.Kecuali email,karena semenjak Arkana sekolah di Inggris,ia lebih fokus belajar dari pada main ponsel.


Raka keluar kamar,dengan memakai sweater hitam dan juga celana hitam,sepatu putih bertali,ia berjalan ke arah meja makan,disana ada Azizah yang sedang menata sarapan.


Cup!


"Pagi ma!"sapa Raka,sembari mengecup pipi Azizah,


"Pagi sayang.Wah wangi sekali,mau kemana?"tanya Azizah sembari melirik ke arah Raka.


"Mau jalan-jalan sama Divia ma,hari ini ada acara pameran Divia ma,Mama mau ikut ?biar pergi sama kita!"tukas Raka,yang duduk di kursi nya.


"Boleh juga,kebetulan sekali papa sudah berangkat tadi pagi ke Korea untuk acara peresmian kontrak baru!"ujar Azizah,lalu meletakan roti di atas piring Raka.


"Mama sarapan dulu,setelah itu ganti baju,nanti Raka wa Divia dulu"


"Iya sayang!"mereka pun melanjutkan sarapan pagi.


Sementara itu,ada bi Rani yang sedang berdendang di dapur sembari membersihkan dapur.


"Sia-sia kupertaruhkan harta, jiwa, dan raga


Namun pada akhirnya aku yang kecewa


Pada akhirnya kuterluka


'Ku tak kuasa menanggung beban derita cinta menyiksa


Laksana diriku sedang mengejar badai


Laksana 'ku mengejar badai


Kau halalkan segala cara


Demi kepuasan duniamu"


Dari arah meja makan,Raka terkejut,mendengar nyanyian Rani.


"Ma,Bi Rani nyanyi?"tanya Raka,


"Iya,he he he!"Azizah hanya tertawa kecil,saat mendengar Rani semakin berdendang ria di dapur.


"Seperti nya Bi Rani sedang bahagia ma"


"Bahagia apa nya,lagu nya sedih gitu"timpal Azizah yang tertawa geli.Setelah selesai sarapan,Azizah pun berjalan ke arah kamar untuk ganti baju.


Sekitar dua puluh menit,ia keluar lagi dari kamar,lalu menuju dapur.


"Ran,Aku pergi dulu,temani Raka,kamu di rumah saja,kalau mau pergi belanja,semua pintu di kunci ya,uang belanja ada di lemari itu!"


"Iya -Nya,hati-hati -Nya!"


"Iya Ran"


Azizah pun segera pergi meninggalkan Rani di dapur,sementara Raka sudah menunggu nya di mobil.


* * *


Azizah dan Raka,tiba di tempat pameran,hari ini Divia pergi bersama dengan Miranti.Jadi,Raka tidak perlu menjemput nya.


"Sayang,benar ini tempat nya? "


"Benar ma,aku sudah pernah pergi sekali kesini,dan benar disini,dulu pergi nya berdua sama Arkan!"


"Nah,mama baru ingat.Selama ini kamu ada hubungi adik mu enggak Raka?"


"Ada ma,tapi Arkana jarang balas,paling lewat email aja!"tukas Raka,mereka berdua berjalan ke arah pintu masuk ke dalam gedung.


Begitu tiba di dalam ruangan,Raka melihat Divia yang melambaikan tangan ke arah nya.


"Assalamualaikum Tante!"sapa Divia,sembari mencium punggung tangan Azizah.Lalu,Azizah memeluk nya.

__ADS_1


"Dimana mama mu?"


"Mama sudah pulang,ada hal penting yang harus mama kerjakan.Ayo Tante,Divia bawa keliling!"Azizah hanya mengangguk,lalu mengikuti langkah Divia,begitu juga dengan Raka,ia tidak pernah tersenyum melihat ke arah gadis itu.


Azizah sangat bahagia dengan suasana itu,dimana ia dapat melihat Raka bahagia selalu tanpa terbeban dengan penyakit yang ia derita sebelumnya.


"Raka,mama akan pergi mengangkat telepon papa sebentar,kamu mengobrol lah dulu dengan Divia!"


"Baik Ma"Azizah pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Divia membawa Raka ke meja nya,lalu ia memperlihatkan lukisan dua orang yang mengenakan baju pengantin.


"Divia peralatan melukis ini terlihat baru,apa kamu membeli nya yang baru?"tanya Raka,saat melihat alat lukis milik Divia yang ada di atas meja.


"Tidak,ini hadiah ulang tahun,setiap tahun aku akan mendapatkan hadiah ini,aku juga tidak tahu,siapa pengirim ini.Hadiah ini sudah di kirim selama tiga tahun belakangan ini"pungkas Divia,dengan tersenyum ke arah Raka.


Seketika Raka teringat akan sesuatu,namun ia menepis rasa curiga yang sempat terlintas di pikiran nya.


"Sangat bagus alat tulis ini,aku yakin orang yang mengirim ini pasti orang yang sangat sayang pada mu,karena alat tulis ini edisi terbatas hanya ada setahun dua kotak,dan kamu mendapatkan setiap tahun satu kotak"tukas Raka,Divia menaikan alisnya.Dia memang suka melukis namun ia tidak tahu jika alat tulis itu sangat mahal dan langka.


"Ayo kita liat lukisan yang lain,hari ini senior ku juga datang"ajak Divia,Raka pun menurut saja kemana di bawa pergi oleh kekasih nya itu.


* * *


Satria baru saja kembali dari kerjaan nya,dan kini sudah pukul 23:14.Karena membawa kunci cadangan,Satria pun tidak menganggu tidur orang rumah.


Ceklek !


"Sayang kamu sudah pulang?"


Suara itu mengejutkan Satria,bagaimana tidak,yang Satria tahu,semua orang seharusnya sudah tidur,tapi Azizah malah menunggu Satria di ruang tamu.


"Kenapa belum tidur sayang?"


Azizah mengambil tas di tangan Satria,lalu mencium punggung tangan suaminya,serta mencium pipi Satria,seperti biasa yang tidak akan di lewatkan Azizah kebiasaan itu.


Satria juga mengecup kening Azizah dengan lembut.


"Aku menunggu mu mas,aku takut mas belum makan,jadi aku bisa memanaskan sayuran untuk mas!"


"Sayang apa kamu sudah makan?"


Azizah menggelengkan pelan kepala nya,Satria membulat 'kan matanya.


"Kenapa tidak makan dulu,ayo aku suapin!"


Azizah tahu,Satria pasti sangat lelah,apalagi malam ini ia lembur,dengan usia nya yang tak muda lagi,seharunya itu akan rentan sakit.


"Aku bisa makan sendiri sayang,kamu mandi saja dulu,nanti aku menyusul"saran Azizah,


"Tidak,kita akan sama-sama ke kamar,aku sudah makan,masak ia kamu enggak makan.Ayo sini aku akan menyuapi mu !"Satria pun menarik kursi yang ada di meja dapur,ia juga mengeluarkan semua sayuran untuk di letakkan di atas meja,Azizah hanya memperhatikan sang suami yang sedang sibuk itu,sesekali ia tersenyum saat melihat tingkah Satria.


Setelah semua tertata rapi di atas meja,Satria pun mengambil sedikit nasi dan lauk,serta sayuran bening untuk Azizah.Dengan penuh kesabaran ia menyuapi satu persatu sendok nasi masuk ke dalam mulut Azizah,sampai tidak tersisa di piring.


Setelah Azizah selesai makan,ke dua nya pun berlalu ke kamar tidur,untuk istirahat.


Ke esokan pagi nya. . .


Di meja makan,Raka terlihat begitu sibuk dengan ponsel nya.


"Raka habiskan dulu sarapan mu sayang,nanti kamu telat ke sekolah!"


"Sebentar lagi ma"


"Apa sih yang membuat mu sibuk dengan ponsel,sehingga makanan pun kamu anggurin?"tanya Satria yang baru saja tiba di meja makan.


"Aku ingin memesan satu kotak alat lukis untuk tahun depan Ma, yang edisi terbatas itu!"


"Kamu ingin membeli itu untuk Divia?"tanya Azizah,Raka pun mengangguk nya tanpa beban.


"Mama tahu, itu penting untuk kamu,tapi kamu juga harus memikirkan diri mu sendiri,makan dulu setelah itu minum obat,Mama akan mengantar 'kan kamu hari ini,sopir kita tidak masuk kerena sakit!"

__ADS_1


"Oke ma"


Raka pun menyimpan ponsel nya,lalu melanjutkan sarapan bersama dengan keluarga nya.


* * *


Sore hari di Inggris . . .


Arkana baru saja selesai belajar bahasa asing,kini ia telah menguasai beberapa bahasa asing.


"Tuan Arkana,apa ada yang bisa saya bantu?"seru Edward asisten Albert yang di perintahkan untuk menjaga Arkana.


"Tidak ada.Jam berapa latihan menembak dan berkuda? apakah masih ada waktu untuk aku belajar melukis?"tanya Arkana.


"Saya sudah menghubungi pelatih anda,jadwal menembak dan berkuda sekitar dua jam lagi.Kalau anda ingin belajar melukis,anda harus bisa membagi waktu nya.Sedangkan jadwal anda sudah sangat padat,apa tidak seharusnya anda tidak perlu mengambil seni melukis? Tuan Albert,hanya memerintahkan anda untuk fokus pada sekolah anda dan ilmu bela diri!"


"Kalau Om Albert sudah berkata begitu,aku tidak akan melanggar nya,ayo kita pergi ke lapangan,lebih cepat lebih baik!"


"Baik Tuan,mari ikut saya!"


Edward pun mengantar Arkana menuju lapangan berkuda dan menembak.Dalam satu Minggu Arkana harus membagi waktu dalam dua hari untuk melatih ilmu bela diri,dan tiga jam dalam sehari untuk belajar bahasa asing.


Selain bersekolah,tidak ada waktu Arkana terbuang sia-sia,bahkan ia lebih sibuk dari orang lain.Arkana memiliki waktu tidur delapan jam,ia harus tidur tepat waktu,dan bangun telah waktu,sungguh Edward mengajari Arkana dengan sangat baik,dan bahkan kini Arkana sudah sangat mandiri dan disiplin.


Di dalam perjalanan,Edward selalu berbicara dengan bahasa Indonesia,karena hanya Arkana yang mengerti akan bahasa itu.


"Tuan Arka,boleh kah saya bertanya?"


"Eemmm,silahkan!"sahut Arkana melihat ke arah pria itu.


"Kenapa anda memilih untuk mengambil manajemen bisnis di sini,biasa nya anak seusia anda,lebih senang tinggal bersama dengan ke dua orang tua mereka?"


Pertanyaan itu membuat Arkana diam,ia enggan menjawab,namun memilih untuk diam,itu seperti ia akan dianggap orang yang tidak sopan oleh Edward.


"Papa memiliki cabang bisnis di NY.Jadi,aku akan meneruskan nya setelah lulus disini,aku punya tujuan datang kemari,bukan hanya sekedar pergi meninggalkan rumah dan keluarga.Namun,tujuan dan mimpi ku sangat besar,aku memiliki tanggung jawab di pundak ku kelak,dan aku hanya ingin menjadi anak yang selalu di banggakan Mama dan papa!"Arkana tersenyum,namun tidak menunjukkan kalau ia bahagia jauh dari ke dua orang tua nya,Edward dapat merasakan itu.


"Maaf jika pertanyaan saya lancang Tuan!"


No problem"sekali lagi,Arkana tersenyum dan membuat Edward sedikit lega.


Perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh,namun karena mereka asik mengobrol tak terasa Edward sudah memarkirkan mobil nya.


Ceklek !


"Silahkan Tuan"Edward membuka pintu untuk Arkana.


"Terimakasih Paman"Edward hanya tersenyum,meskipun Arkana di kenal pria yang dingin di villa,tapi ia masih bisa bersikap begitu sopan kepada Edward.


Edward segera mengantar Arkana menuju lapangan berkuda,setelah memilih kuda yang akan ia gunakan untuk berlatih,lalu Edward pergi untuk memeriksa ruangan pelatihan lain nya.


Beberapa jam telah berlalu,Arkana pun selesai berlatih,dan Edward membawa nya kembali ke villa.


Di dalam perjalanan,Edward melihat ke arah Arkana melalui spion depan,Arkana terlihat begitu lelah,namun ia tidak pernah sekali pun mengeluh di depan Edward,padahal ia bisa saja meminta libur kepada Edward hanya saja Arkana memilih untuk diam dan patuh menjalani kehidupan nya itu.


Sampai di villa,mobil berhenti tepat di depan pintu utama dengan jarak beberapa meter,seperti biasa Edward turun lebih dulu,untuk membuka pintu mobil.


Ceklek !


"Tuan Arkana,silahkan turun,kita sudah tiba!"ujar Edward,namun tidak ada tanggapan dari Arkana,disaat Edward melihat nya,ternyata Arkana tertidur dalam perjalanan pulang.


"Tuan Arkana!"panggil Edward dengan pelan,ia mulai membangun 'kan Arkana,karena bagaimana pun ini baru jam 19:00 Arkana harus membersihkan diri,serta makan malam,setelah itu,ia baru mengulang pelajaran dari sekolah nya.


"Tuan Arkana!"


"Emmm iya.Maaf Paman,aku ketiduran!"Arkana pun segera turun,dan sedikit menunduk kepala nya dengan sopan.


"Tuan masuk lah,anda perlu membersihkan diri anda,setelah itu,aku akan menunggu Anda di ruang makan"


"Baik!"Arkana segera masuk,begitu pintu terbuka,pelayan sudah menunggu nya di depan pintu.


"Tuan,air hangat sudah di siapkan,makan malam juga sudah siap!"

__ADS_1


"Baik!"Arkana langsung menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai atas.


Begitu lah hidup Arkana sekarang,waktu sangat berharga untuk nya,bahkan ia tidak memiliki waktu untuk menyentuh ponsel,padahal dulu nya Arkana termasuk orang yang paling suka bermain game di ponsel,tapi sekarang waktu nya habis untuk memperbaiki diri agar menjadi orang yang sukses.


__ADS_2