WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Pesta Kebun


__ADS_3

"Loh nak Vio mana tuan Adit?" tanya nenek Sam yang baru saja keluar dengan membawa nampan ditangannya berisi dua gelas minuman hangat itu.


"Adit sudah pergi nek."


"Lah terus bagaimana ini?"


"Padahal nenek sudah membuatkan dua gelas minuman hangat ini." ucap nenek Sam dengan nada sedih.


"Sudah sini biar Vio saja yang minum." Vio segera mengulurkan tangannya untuk mengambil minuman diatas nampan itu.


"Tapi ini coklat panas loh nak Vio, apa tidak apa-apa?" tanya nenek Sam merasa khawatir.


"Kalau sekali-sekali iya tidak apa-apa lah nek."


Vio langsung meneguknya hingga tandas tak tersisa. "Ya sudah kalau begitu yang satunya lagi buat nenek saja."


Nenek Sam segera mengambilnya, karena dirasa Vio sudah makan kue banyak dan juga ditambah minuman coklat hangat.


"Apa nenek suka?"


"Setahuku kan nenek tidak suka dengan minuman yang berbau coklat begini?"


"Akan nenek coba."


"Bilang saja nenek takut aku kekenyangan kan." ejek Vio mencebik.


"Aku hanya khawatir saja nak Vio, besuk lagi nenek buatkan yang lebih banyak lagi."


"Hemm baiklah terserah nenek saja."


"Nek..." suara Vio kembali terdengar memanggil nenek Sam.


"Aku mau bicara dengan nenek."


"Mau bicara apa?"


"Aku besuk pagi akan pindah dari sini nek."


"Lohh kenapa mendadak sekali, apa nenek ada buat salah dengan nak Vio?" tanya nenek Sam mendadak panik.


"Tidak, nenek tidak ada membuat salah dengan Vio."


"Lalu kenapa nak Vio ingin pindah dari sini?"


"Itu karena akan ada perayaan kebun nek di aula sebelah."


"Jadi mungkin Adit hanya khawatir saja jika terlalu berisik atau bagaimana."


Nenek Sam terdiam sebentar, sepertinya suasana hatinya berubah menjadi sendu. Setelah mendengarkan Vio akan pindah dari tempatnya.

__ADS_1


"Nenek akan sendirian lagi setelah ini."


"Tidak nek, nenek akan aku ajak bersamaku."


"Bagaimana?" tanya Vio menaik turunkan alisnya, menatap intens nenek Sam.


"Baiklah akan nenek pikirkan lagi nanti."


"Ini sudah malam, sekarang kamu tidurlah, ayo nenek antar sampai ke kamar kamu."


"Sudahlah nek tak perlu repot begini, aku kan bisa sendiri, sebentar lagi bahkan aku akan menjadi ibu."


Tapi nenek Sam tak menghiraukan ucapan Vio baru saja, dirinya bangkit dari duduknya dan menarik tangan Vio menuju kamarnya, Vio yang ditarik tangannya mengikuti saja langkah kaki nenek Sam.


"Tidurlah, dan jangan memikirkan hal lain." nenek Sam menaikkan selimut Vio sebatas dada. Lalu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.


Setelah kepergian nenek Sam, Vio berusaha memejamkan matanya, dirinya berpikir yang tidak-tidak. "Kenapa Adit mengajakku pindah ditempatnya untuk sementara waktu?"


"Apa akan ada tuan Rey berkunjung ke Villanya juga." gumam Vio membolak balikan tubuhnya.


Bahkan waktu sudah lewat tengah malam, tapi Vio tak dapat memejamkan matanya dengan tenang, dirinya terus berpikiran tentang tuan Rey.


***


"Bagaimana persiapannya, apa sudah siap seratus persen?"


"Sudah tuan,"


Mereka berjalan beriringan di ikuti asisten Adit dibelakangnya, "Apa sudah kamu bawa file nya salinan MOU dengan tuan Yamada?"


"Sudah tuan."


Mereka berjalan beriringan dengan Adit mengekor dibelakang tuan Rey. "Jangan sampai hari ini ada korban lagi." batin was-was.


Tampaknya persiapan pesta kebun kali ini akan dilaksanakan dengan sangat meriah, bahkan Rey sendiri mengundang kolega bisnisnya dari berbagai kalangan.


Dan juga datang dari berbagai negara tetangga, jalanan siang itu nampak tidak begitu ramai, udara sejuk membuatnya mengganti jasnya dengan mantel yang selalu ia sediakan kemana saja. Bukan dirinya yang menyiapkan, melainkan suster Ana.


"Anda mengganti pakaian anda tuan?" tanya Adit yang melirik ke arah Rey.


"Tidak lihat kamu jika bukan bajuku yang ku ganti, tapi hanya menggunakan mantel." ketusnya.


"Ehmm iya tuan, saya melihatnya, saya hanya terheran, siapa yang menyiapkan semua itu, biasanya kan nyonya Angel ketika masih ada,"


"Atau nona Vio."


Adit menjeda ucapannya,"Tapi kali ini siapa lagi yang menyiapkan pakaian anda tuan?"


"Diamlah kamu terlalu ingin tahu, membuatmu pendek umur." kelakarnya.

__ADS_1


Adit tak lagi bertanya, mulutnya menjadi bungkam sepanjang perjalanan, membuatnya perjalanan yang di lalui selama satu jam itu berasa seta hari satu malam.


Mereka turun ketika aula pertemuan masih sepi, belum ada satu tamu pun yang datang, hanya ada waiters yang mondar mandir ke sana kemari menyajikan makanan di atas meja yang dihias sedemikian rupa.


Seluruh waiters menyambut kedatangannya dan juga para pekerja yang ikut merayakan party perayaan kebun ini. Mereka turut berbaris dan memberikan salam kehormatan sebagai pemilik kebun anggur terbaik di negara Tokyo.


"Selamat sore tuan." sapa mereka serempak, dengan kepala menunduk hormat.


Rey hanya mengangguk sekilas dengan kedipan mata yang membuat semua orang takjub dengan wibawanya, "Dia memang pemimpin yang agung." puji salah seorang karyawan kebun anggur itu.


"Itu benar, bahkan dia sekarang sudah menduda." sahut karyawan perempuan yang satunya lagi.


"Siapa perempuan beruntung yang akan menjadi istrinya nanti."


"Tapi kedengarannya dia memiliki seorang putra."


"Tak apa, hanya seorang putra saja yang masih kecil, aku rasa jika menjadi perempuan itu pasti bisa mengendalikannya, asal bisa mengendalikan ayahnya terlebih dulu."


"Kau gila net."


Perempuan berkulit putih yang diketahui namanya bernama Janet itu telah mengambil spekulasinya sendiri. "Diamlah aku hanya berusaha menggapai mimpiku."


Teman-temannya sampai menggelengkan kepalanya pelan, hingga Adit membubarkan barisan mereka. Dan menyuruhnya untuk kembali pada tugasnya masing-masing.


"Apa anda tak berniat memiliki istri lagi tuan?" tanya Adit begitu hati-hati.


"Bicara omong kosong apa yang keluar dari mulutmu, tidak lihat jika aku sedang menunggu istriku." ketusnya, kemudian melepas mantelnya dan mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal yang sangat nyaman.


"Saya hanya bertanya saja tuan, karena tuan kecil masih membutuhkan sosok ibu sepertinya."


"Akan lebih baik jika dia memiliki ibu lagi."


"Kamu saja yang cari sendiri sana, tak usah mengaturku."


Adit terdiam, dirinya tak lagi bertanya, "Kamu titipkan siapa Chris?"


"Tuan Chris?" Adit membeo.


"Dia cerita jika katanya memiliki ibu baru."


Seketika seluruh tubuh Adit menegang, darahnya seolah berhenti berdetak, tangannya bahkan keluar keringat dingin, dalam hatinya menjerit ingin memberitahukan dimana Vio berada. Bahkan ketika beberapa bulan ini penyebab Rey mual, pusing dan muntah akibat Vio yang mengalami kehamilan tetapi dirinya yang tersiksa, Adit sampai tak tega melihatnya.


"Benarkah tuan, tapi saya rasa itu hanya cerita khayalan tuan kecil saja tuan."


"Jangan sampai kau lengah mengawasinya." Rey mengusap kasar wajahnya.


"Akan saya cari tahu tuan."


"Hemmm."

__ADS_1


"Nampaknya tuan Rey lebih baikan dari kemaren mual dan muntahnya." batin Adit bermonolog.


__ADS_2