
Sore ini Angel sudah diperbolehkan pulang ke rumah, Tuan Rey sibuk memerintah sana sini, untuk menyambut kepulangan istri tercintanya.
Tadi dirinya sudah menyuruh Adit untuk menyiapkan pesta kecil-kecilan di rumahnya. Sebagai penyambutan Angel pulang ke rumah, yang akan di hadiri keluarga besarnya saja.
Angel yang berada di kursi roda melihat kesibukan suaminya memasukkan barang-barangnya yang tersisa, karena tadi dirinya memang sedang mengerjakan pekerjaan kantor.
"Ayo." Mendorong kursi roda Angel menuju mobil jemputan.
Adit sendirilah yang menjemput bosnya ini, lalu mengangkat tubuh Angel masuk ke dalam mobil, dan memposisikan dengan nyaman.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya tuan Rey tiba-tiba.
Adit yang sedang mengemudikan mobilnya membenarkan letak spion dan melihat ke arah bosnya.
"Sesuai permintaan anda tuan."
Tuan Rey hanya mengangguk saja. Sepertinya Adit akan menyampaikan sesuatu namun masih ia tahan. Adit tidak mau merusak kebahagiaan bosnya.
Biarlah acara ini berjalan dulu dengan lancar, untuk masalah ini sebisa mungkin ia tangani dulu. Nanti sisanya biar bosnya yang menangani.
Mereka diam larut dalam pikirannya masing-masing. Tak ada lagi pembicaraan setelah itu. Angel memejamkan matanya dalam pelukan suaminya. Sedangkan tuan Rey hanya diam saja. Entahlah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Berbeda dengan asisten Adit yang sesekali melirik ke arah spion untuk mengamati dua manusia yang duduk di belakangnya ini.
Jarak dari rumah sakit menuju ke rumah sekitar satu jam kurang lebih, tergantung dari kecepatan mengendarai mobilnya dan juga keramaian di jalan. Mobil yang mereka kendarai sudah memasuki pelataran rumah besar itu.
Tuan Rey menunggu Adit membukakan pintu mobilnya, setelahnya dirinya mengangkat tubuh istrinya dan menggendong ala bridal style, reflek Angel mengalungkan tangannya di leher suaminya. Tak ada pembicaraan apa pun, semua terasa datar-datar saja. Tuan Rey memasuki rumah besarnya, sudah ada seseorang yang membukakan pintu rumah besarnya yang bagaikan istana ini.
Rumahnya yang berada di Bali yang menjadi tempat tinggal Vio tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rumah besarnya yang mereka tinggali bersama dengan Angel. Mungkin saja hanya seperempatnya dari rumah yang mereka tinggali bersama Angel, saking besarnya.
Padahal rumah yang di tinggali Vio cukup mewah dan besar, tetapi ternyata masih tak bisa di bandingkan dengan rumah utamanya di kota Moscow.
Dirumahnya juga terdiri puluhan pelayan perempuan dan laki-laki, yang ke semuanya memiliki bagian dan tugasnya masing-masing. Di setiap bagian sudut rumahnya memiliki pelayan yang bertugas membersihkan dan bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing.
Rumah itu berlantai tiga, dan lantai paling atas dengan fasilitas rofftoop untuk bersantai dan lapangan basket.
sedangkan di lantai tiga berisi alat untuk nge-gym, berbagai alat itu ia datangkan dari berbagai negara, yang ke semuanya memiliki fungsi platinum.
__ADS_1
Untuk kamar pribadinya dan juga Angel berada di lantai dua, dengan View mengarah langsung pada taman pribadinya. Di taman itu mendadak ia rubah menjadi kebun sayur dan buah-buahan. Ia jadi teringat Vio yang sangat menyukai kebun sayur dan buah.
Oleh karenya dirinya membangun juga di rumah besarnya yang berada di Moscow. Agar jika dirinya kangen dengan Vio, bisa melihat kebun ini untuk mengobati rasa kangennya.
Dilengkapi lift pribadi yang mengarah langsung tembus kamarnya, selain itu di lain tempat juga ada fasilitas lift serupa. Jika ingin memanggil pelayan tinggal memencet tombol di kamarnya yang tembus ke ruangan dapur. atau di daerah sekitar paviliun belakang, yang menjadi tempat tinggal pelayannya.
Pantas saja saat bersama Vio, apa pun yang diminta Vio langsung ia berikan. Hingga membuat Vio tak bisa berkata-kata lagi.
Dirinya memang masuk dalam jajaran sepuluh besar pengusaha kaya di dunia. Tak heran jika dirinya bisa menghidupi sepuluh istri dalam waktu bersamaan. Ibarat perumpamaan.
Suasana dirumah megah itu sudah di sulap seperti gedung mewah dengan hiasan bunga hidup di setiap sudut ruangan.
"Selamat datang nyonya." Ucap seluruh pelayan yang berbaris rapi kanan dan kiri. Mereka mengangguk hormat pada tuan dan nyonya besar di rumah ini.
Tuan Rey hanya mengangguk dan diam seperti biasa berjalan ke arah masuk menuju lift yang terhubung ke kamarnya, di ikuti Adit dari belakang.
Tangan Adit hanya melambai saja mereka sudah paham apa artinya. Mereka sudah di perbolehkan mengerjakan tugasnya masing-masing.
Adit menunggu tuan Rey di dalam ruangan kerjanya. Bahkan penguasa tertinggi di dalam rumah itu Aditlah urutan ke dua setelah tuan Rey dan nyonya Angel, yang ke tiga di tempati oleh kepala pelayan.
"Kenapa banyak sekali hiasan dirumah ini?" Tanya Angel hati-hati pada suaminya.
Tuan Rey mendudukkan tubuh istrinya di sofa yang berada di ruangan kamarnya dengan hati-hati.
"Mereka sedang menyambutmu."
"Ayo gantilah pakaianmu."
Tuan Rey mengambil paper bag yang ada di meja dan memberikan pada istrinya.
"Kamu tak usah mengikuti aku, aku bisa sendiri." Angel.
Baiklah aku akan menunggumu dari luar, jika mengalami kesulitan kamu bisa memanggilku.
Angel hanya mengangguk saja sebagai jawabannya. Lalu menutup pintu dengan perlahan dan membenahi dirinya.
__ADS_1
Sedangkan tuan Rey berjalan ke arah sofa tunggal dan duduk di sana. Membuka ponselnya dan melihat ada laporan apa saja tentang Vio hari ini.
Dirinya mendapatkan laporan dari orang suruhannya yang bertugas mengikuti kemana pun Vio pergi, hari ini Vio tak pulang ke rumah, Vio menginap di rumah Fani.
"Ikuti saja terus kemana pun dia pergi." Perintahnya di dalam chat yang ia kirim pada orang suruhannya tadi.
Dirinya menggenggam ponselnya dan memejamkan mata sejenak. Pandangan tajamnya melunak kali ini.
Angel yang sudah selesai berganti pakaian, membuka pintu ruang ganti itu perlahan, dan mengamati suaminya yang tak jauh dari pandangannya.
"Sepertinya dia sangat kelelahan." Dalam hati Angel merasa sangat bersalah, karena dirinya banyak sekali telah merepotkan suaminya.
Angel memberanikan diri dengan berdehem pelan.
"Ehmm maaf, Rey apa aku sangat menyusahkanmu?" Tanya Angel hati-hati.
"Kamu ini bicara apa, kemarilah." Kedua tangannya menengadah, siap menyambut istri tuannya itu untuk menghampirinya, tanpa banyak kata Angel menurut, berjalan ke arahnya dan memeluk suaminya.
"Maafkan aku Rey, jika belum bisa menjadi istri yang sempurna."
Angel berbicara dengan di iringi air mata di pelupuk matanya. Sehingga baju yang dipakai suaminya basah karenanya.
"Sudahlah jangan memikirkan banyak hal, kamu fokus saja menjaga kandunganmu."
"Apa ada yang kamu inginkan?"
Angel mendongak menatap suaminya, lalu menggelengkan kepalanya.
Baiklah sekarang ayo duduklah, aku bantu menyisir rambutmu. Mereka bangkit menuju meja rias dan tuan Rey berdiri di belakang Angel, mengambil sisir lalu menyisirnya perlahan.
Setelah itu berganti dirinya yang berganti pakaian menggunakan kemeja berwarna navy yang senada dengan dress yang di kenakan oleh Angel.
Adit mengetuk pintu kamarnya, sepertinya keluarga besarnya sudah berkumpul dan menunggu acara dimulai.
dan
__ADS_1