WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Kesalnya Rey


__ADS_3

Hari ini adalah hari akhir pekan, dimana sebagian orang yang memiliki keluarga akan pergi hanya sekedar liburan atau staycation saja, "Suster Ana, kenapa papa selalu sibuk saja?"


"Bahkan ini akhir pekan." ucap bocah kecil yang wajahnya rupawan, sebagian besar turunan dari ayahnya, dan ibunya kebagian seperempatnya mungkin.


Suster Ana yang saat ini sedang menemani Chris bermain mendongak, menatap bocah yang sejak bayi ia asuh dengan tatapan iba.


"Sabarlah tuan kecil, mungkin papa sedang banyak kerjaan, sehingga membuatnya sangat sibuk." dengan sabar suster Ana berusaha menjelaskan.


"Tapi kapan, aku ingin jalan-jalan seperti teman-temanku."


Bahkan sejak Angel telah tiada, keadaan rumah itu tak sehangat dulu, walupun Rey kerap berpindah-pindah tempat tinggal dan juga sibuk dengan urusan pekerjaannya, namun Chris tak merasa sendirian, apa lagi ia dan ibunya dulu sering dikunjungi Vio.


"Suster Ana, kenapa bunda Vio juga tak pernah menengoku."


Pertanyaan itu seketika membuat suster Ana bingung, dirinya harus menjawab apa, pasalnya dirinya sendiri juga tidak tahu keberadaan Vio dimana.


"Bagaimana kalau kita nanti sore jalan-jalan bareng ditaman kota?" sebuah ide muncul begitu saja dibenak suster Ana. Dari pada dirinya puyeng dengan banyak pertanyaan yang diajukan oleh Chris.


Chris terdiam sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu,"Bagaimana? sebelum aku berubah pikiran."


"Baiklah baik, aku ingin bermain dan makan permen kapas yang ada di taman bermain." katanya.


"Tidak, kau tidak boleh banyak makanan manis tuan kecil, atau nanti gigimu akan rusak, dan papa akan marah."


"Tapi nanti kau boleh membeli marsmallow sebanyak yang tuan kecil mau." katanya memberikan pilihan yang lain.


***


"Bahkan ini akhir pekan, masih saja menghubungi orang." dumel Adit pelan, kala dirinya baru saja menerima panggilan masuk di ponselnya.


"Siapa?" Vio ketika melihat kearah Adit dengan gumaman pelan.


"Tidak, tak usah kau pikirkan,"


"Sekarang waktunya makan siang kan." kini Adit mengalihkan pembicaraan.


Vio hanya mengangguk sebagai jawabannya. "Ayo aku suapi, keburu makanannya dingin."


Ketika Adit menoleh di atas meja disebelah Vio berbaring sudah ada jatah untuk makan siangnya, "Tak usah, aku bisa makan sendiri." Vio merebut mangkok yang berada di tangan Adit.


"Baiklah, makan dengan tenang, tak usah terburu-buru seperti itu."


"Dan jangan sekali-sekali kau berfikir untuk melenyapkan bayimu, aku bisa merawatnya jika kau tak mau merawatnya."


Namun ucapan itu hanya dianggap Vio sebagai angin lalu saja, bahkan mungkin saja Vio tidak begitu mendengarkan omelan Adit baru saja.


"Sudah...? ini minumnya." Adit menyodorkan minuman kepada Vio.


"Jika butuh sesuatu hubungi saja nomorku, nomorku masih yang lama,"

__ADS_1


"Memangnya kamu itu siapa?"


"Pacar bukan, suami juga bukan." Vio berujar dengan ketus.


"Aku asisten suami kamu kalau kamu lupa nona."


" Ck, itu dulu tetapi sekarang sudah bukan lagi, kalau kamu lupa."


"Baiklah terserah kamu saja mau menganggap aku apa," Adit bangkit dari duduknya dan meninggalkan sebuah kartu di atas meja.


"Gunakan ini jika kau mau, jika tidak iya simpan saja, jangan membuat dirimu susah." pesan Adit.


Vio mendongak menatap wajah Adit penuh tanda tanya,"Aku ada kerjaan,"


"Siapa yang tanya."


"Tapi pandanganmu seperti ingin menanyakan sesuatu."


Vio kembali menoleh, menatap kartu yang tadi diletakkan oleh Adit.


"Kartumu ini bawa saja, aku tak berhak menerima bantuanmu, lagian aku masih bisa bekerja."


"Aku tak memintamu untuk berhenti, tapi jika kau butuh bisa kau gunakan."


"Kau harus bisa jaga dirimu baik-baik, aku akan kembali lagi secepatnya jika pekerjaanku sudah selesai."


Walaupun Vio terdiam ditempatnya, tetapi ia lega mendengarkan omongan Adit barusan.


Bertepatan dengan keluarnya Adit, nenek Sam telah kembali dengan diantar oleh Akash, pekerja kebun yang tak tega melihat nenek setua nenek Sam pergi sendirian.


"Tuan Adit anda?"


"Ehmm iya nek, aku harap nenek Sam bisa menjaga Vio dengan baik, sepertinya dia gadis yang baik." ucap Adit, ketika dirinya berpapasan dengan nenek Sam di depan pintu. Seolah Adit baru saja mengenal Vio.


"Itu pasti tuan, dan terimakasih atas kunjungannya." nenek Sam mengangguk hormat, lalu memberi jalan untuk Adit.


***


"Nenek..."


"Apa yang nenek bawa itu?" tanya Vio yang melihat rantang berisi makanan ditangan nenek Sam.


"Ini ada makanan Korea, malatang."


"Hari ini nenek tak masak banyak."


"Apa kamu mau?"


"Coba sini nek aku lihat."

__ADS_1


Padahal juga baru saja dirinya makan makanan dari klinik yang dikirim padanya. Tetapi melihat masakan nenek Sam yang harum dan sangat menggoda ini membuatnya ingin melahap untuk yang kedua kalinya.


"Kenapa kau terlambat, tak biasanya bertemu klien seperti ini membuat dirimu terlambat."


"Walaupun hari weekend sekali pun." timpal Rey lagi.


Seketika membuat Adit bungkam, pasalnya tadi dirinya berangkat dari klinik tempat Vio dirawat, bukan dari apartemen tempat tinggalnya.


"Maaf tuan, tadi saya sedang menjenguk rekan yang sakit."


"Jangan diulangi lagi, semua pekerjaan akan kacau jika kau sedikit saja mengabaikannya." Rey duduk dengan tenang, matanya beralih melihat berkas-berkas yang ada diatas meja.


Hari ini mereka ada janji temu dengan klien bernama tuan Yamada, untuk pemasok anggur yang dimiliknya sebagai bahan dasar minuman wine terbaik.


Berbagai diskusi dan juga kesepakatan mengenai kerjasama telah mereka bahas, karena anggur yang ditanam Rey memiliki kualitas premium.


"Baiklah tuan, untuk salinan MOU kontraknya akan kami kirim lewat email." kata tuan Yamada.


Lalu mereka mengakhiri rapat siang hari itu, hingga menjelang hampir petang baru selesai. Karena banyaknya hal yang harus mereka bahas sekalian.


"Setelah ini kau ada pekerjaan apa lagi?" tanya Rey, pandangan matanya menatap layar ponsel ditangannya.


"Sa..saya tuan?"


"Tentu saja kamu, memangnya dengan siapa lagi aku berbicara, dengan pelayan." ucap Rey memicingkan matanya.


"Tentu saja pulang tuan, kemana lagi."


"Kalau begitu sekalian jemput Chris bersamamu, aku masih harus menyelesaikan beberapa hal lain." katanya.


"Memangnya tuan kecil pergi kemana tuan?"


"Pergi ke taman bermain, bersama suster Ana, kau tahu kan apa yang harus kamu lakukan."


"Syukurlah..., hanya menjemput tuan kecil, seharusnya tak apa-apa kan, tak perlu berdebar seperti ini." dalam hati Adit bermonolog.


"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi dulu untuk menjemput tuan kecil."


"Hemmm."


Bahkan Rey semakin jauh hubungan dirinya dengan putra semata wayangnya, walaupun hari weekend sekali pun.


Namun tak dapat dipungkiri jika kerja kerasnya selama ini meningkat dengan signifikan semenjak istrinya meninggal sebulan yang lalu.


Apakah ini keberuntungan atau suatu ujian bagi dirinya,"Tuan saya kemaren seperti melihat nona sekitaran sini tuan." ketika Rey sedang melakukan panggilan dengan orang suruhannya, saat ini dirinya sudah berada didalam mobil, perjalanan menuju tempat berikutnya untuk menyelesaikan pekerjannya.


"Cari dengan benar, kau kan seorang detektif, kenapa tidak becus mengurus ini saja." kesal Rey membentak orang suruhannya, pasalnya bukan hanya seorang saja, tapi beberapa orang dan telah menyebar ke berbagai negara, bahkan di negeri tempatnya Vio semula tinggal juga tersebar detektif suruhannya.


Rey mengeram kesal, pasalnya dirinya seperti tak memiliki jati diri saat ini, namun di pandangan orang lain dirinya adalah sosok ayah idaman, selain itu juga pemimpin idaman banyak kaum hawa, para bawahannya saja terkagum dengan caranya bekerja bagaikan mesin tak kenal lelah.

__ADS_1


Rey menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi, sang pengemudi hanya mengamati saja dibalik spion, tidak berani untuk hanya sekedar mengobrol ringan.


__ADS_2