WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Pergi dengan Adit


__ADS_3

Adit sedang perjalanan menuju Negara Ginseng, tentu saja tidak bisa dihubungi untuk saat ini, karena pesawat yang membawa mereka baru saja take off.


"Bagaimana, apa bisa dihubungi?"


"Tidak, ponselnya tidak aktif."


"Baiklah kita tunggu sampai nanti malam, atau paling tidak besuk."


"Kira-kira kemana perginya tuan Adit?"


Mereka bertanya-tanya dalam hal ini sekaligus bingung diwaktu bersamaan. Bagaimana tidak ini waktunya sangat tidak memungkinkan mengganti sampul produk mendadak.


Perlu adanya desain ulang, dan pengeditan yang lumayan memakan waktu lama, karena yang mereka utamakan adalah hasilnya bukan asal jadi saja.


Kelompok staf bagian desain sampul tentu saja bingung memilih model pengganti dan mendesain ulang.


Sedangkan Rey benar-benar sama sekali tidak bisa ditawar soal ini. Mereka berharap jika bisa menghubungi Adit bisa membantu permasalahannya.


Waktu siang hari, Angel bosan berada di ruangan suaminya yang tidak melakukan aktivitas apa pun, sehingga dirinya keluar ruangan dan berjalan-jalan menuju kantin kantor.


"Anda akan pergi kemana nyonya?" Tanya Mia hati-hati.


"Aku bosan berada di dalam ruangan suamiku, apa kamu tahu dimana suamiku?" Tanya Angel berusaha ramah.


"Ehhmm kalau ada hal lain yang anda butuhkan bisa meminta pada kami nyonya."


"Tidak, aku akan mencarinya sendiri, kamu teruskan saja pekerjaanmu."


"Ada apa ini?" Tiba-tiba saja Rey datang menghampiri perdebatan mereka.


"Tidak, aku hanya bosan saja "


"Ayo kembali lagi ke ruangan, tidak usah berkeliaran kemana-kemana jika tidak bersamaku."


Angel masih berdiam diri ditempatnya, dirinya yang ditatap seperti itu tentu saja mengerti akan isyarat suaminya. Jika tuan Rey tak mau dibantah.


Dengan berat hati mengikuti langkah kaki suaminya memasuki ruangan tadi kembali.


"Akan sangat berbahaya jika kamu pergi tanpaku."


"Kalau boleh tahu kenapa."


"Tak usah banyak tanya, aku tak suka dibantah."


Seketika Angel terdiam dengan wajah murungnya, tentu saja hal itu tidak dilihat oleh Rey yang saat ini sibuk memeriksa berkas-berkas laporan masuk.


Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu, ternyata OB sedang mengantarkan banyak makanan, dari yang ringan hingga berat, ada juga buah-buah segar, semuanya tersaji di atas meja di dalam ruangan Rey.


"Untuk apa kamu memesan makanan sebanyak ini?"


"Memangnya untuk siapa lagi!" Tanya balik tuan Rey datar.


"Makanlah, aku tahu kamu membutuhkan itu semua."


Tak ada reaksi apa pun dari Angel, ia masih mengamati makanan diatas meja itu satu persatu.


"Kenapa hanya dilihat saja."


Rey berjalan mendekat kearah Angel dan duduk di sebelahnya, karena Angel duduk di kursi panjang.


"Bukaklah mulutmu."

__ADS_1


Seperti biasa, wajah datarnya tak ingin dibantah dan tak suka mengulang kata-katanya. Hingga buah-buahan yang dipotong kecil-kecil diatas piring itu hampir habis. Barulah tuan Rey menyudahi acara menyuapi istrinya.


Angel antara senang dan tidak, dirinya senang karena diperhatikan dan disuapi makannya, tetapi tidak senang jika segala sesuatu dipaksa oleh suaminya.


"Anak daddy pintar," Mengusap perut Angel pelan dan menciumnya.


"Wahhh calon jagoan daddy sudah tidak sabar ingin bertemu iya, makanya menendang-nendang seperti ini."


Berbicara sendiri dengan perut Angel, Angel yang dibelai lembut seperti itu merasa hatinya menghangat dan rasanya ingin seperti ini terus.


"Apa ini membuatmu sakit?" Tanya tuan Rey sesekali mengusap perut Angel lembut.


"Tidak, aku malah senang jika dia merespon ketika diajak berbicara."


"Benarkah ini tidak membuatmu sakit?"


Angel menggelengkan kepalanya pelan. Lalu tersenyum melihat ekspresi kaget suaminya.


"Bersabarlah Son, sebentar lagi kita akan bertemu."


"Baik daddy." Angel menirukan suara anak kecil.


Tuan Rey mencium sekali lagi perut Angel lalu berpamitan pada calon anaknya untuk melanjutkan sisa pekerjaannya.


Pikiran tuan Rey saat ini terpecah belah, bagaimana tidak memiliki dua istri masing-masing membutuhkan dirinya.


Saat ini raganya bersama Angel, tetapi pikirannya ingin menemani Vio, andai Angel sebentar lagi tidak mau melahirkan mungkin saja dirinya sudah meluncur dengan pesawat pribadinya menyusul Vio.


Pekerjaannya masih menumpuk, hal ini menuntutnya untuk menyelesaikan lebih cepat agar dirinya bisa mengerjakan hal lainnya dan hari berikutnya bisa cuti dan menemani salah satu istrinya.


Dirinya bekerja hingga lupa waktu makan siang, Angel yang sudah kekenyangan sehabis disuapi olehnya tadi tertidur di kursi sofa.


Dirinya menoleh sekilas memperhatikan wajah istrinya. Lalu tanpa berpikir panjang mengangkat dan membawanya keluar ruangan untuk membawanya pulang.


"Baik tuan."


"Nyonya sedang ketiduran tuan."


"Ehmm." Jawab Rey singkat.


Kolega bisnisnya yang mendengar dirinya pulang ke Bali menghubunginya, rencananya akan mengundang dirinya makan malam di rumahnya.


***


.


.


Tujuh jam dua belas menit adalah penerbangan rata-rata dari Denpasar Bali ke Seoul. Sore hari mereka sudah sampai di rumah sakit terkenal untuk perawatan kulit.


Sampai di sana Adit langsung membawa Vio ke rumah sakit, agar lebih cepat mendapatkan penangan yang tepat dari dokter ahli.


"Aku takut," Vio meremas kemeja yang dikenakan Adit dengan kuat, "Kau tenanglah jangan seperti ini."


" Aku yakin kamu adalah wanita yang kuat. Aku akan menemanimu dalam semua proses ini."


"Tapi aku tak bisa mencium bau rumah sakit lebih lama."


"Bersabarlah, dokter akan memberikan kamu obat tidur jika kau tak tahan dengan baunya."


Andai saja kamu bukan jatuh di pelukan lelaki yang sudah beristri, pasti saat ini suami kamu akan menemani dalam suka dukamu. Adit bermonolog dalam hati dan menatap iba Vio.

__ADS_1


Jika aku memiliki segalanya, bolehkan aku merebutmu dari bosku sendiri. Batin Adit masih menerka-nerka.


Tetapi ia tidak seberani itu, Adit masih sayang nyawanya, tuan Rey yang merupakan mantan ketua mafia itu mana mungkin melakukan hal sekeji ini.


"Anda hanya boleh menunggu diluar ruangan tuan, karena kami akan memulai pemeriksaan." Suster memberikan info pada Adit.


Lalu dirinya duduk di depan ruangan perawatan Vio, baru saja dirinya akan mendudukkan tubuhnya, sudah terdengar bunyi ponselnya di saku celanannya.


"Iya tuan."


"Apa kalian sudah sampai dirumah sakit."


"Sudah tua,"


"Kenapa kau tak mengabariku jika sudah sampai di rumah sakit."


"Maafkan saya yang lalai tuan, aku baru saja keluar ruangan, karena tadi sedang mengobrol dengan dokter nona Vio." Kilahnya beralasan.


"Apa Vio sudah diperiksa oleh dokter?"


"Lalu bagaimana kondisinya sekarang."


Pertanyaan bertubi-tubi hingga membuat Adit bingung yang mana yang akan ia jawab lebih dulu.


"Saat ini masih diperiksa oleh dokter tuan."


"Nanti saya akan mengabari anda jika pemeriksaan sudah selesai."


"Baiklah berikan kabar padaku apa pun kondisinya, aku titipkan dia kepadamu untuk sementara waktu."


"Baik tuan, saya akan menjaga nona Vio dengan semampu saya."


Lalu panggilan itu dimatikan sepihak, selang beberapa menit lagi ada panggilan masuk dari staf bagian desain produk.


"Iya hallo."


"Tuan Adit, selamat siang menjelang sore, anda dimana?"


"Kenapa." Tanya Adit.


"Ehmm itu tuan saya mau meminta solusi anda,."


Lalu staf bagian desain produk itu menceritakan masalahnya dari awal hingga akhir. Adit hanya mendengarkan saja tanpa menyela sedikit pun ceritanya.


"Jika mengganti model dalam waktu cepat ini tidak mungkin."


"Apa lagi tiga hari peluncuran produk baru sudah dijadwalkan, dengan terpaksa tetap menggunakan Vio sebagai modelnya." Adit.


"Baiklah jika begitu aku akan membantumu berbicara dengan tuan Rey. Lalu apa balasan kamu jika tuan Rey berhasil dibujuk." Canda Adit.


"Apa pun yang anda minta tuan."


"Benarkah apa pun." Adit menahan tawanya agar tidak pecah, mendengarkan suara seseorang dibalik telepon yang sedang gelisah itu.


"Baiklah aku akan memikirkannya nanti."


Percakapan itu berakhir, "Bisa-bisanya mereka menjadikan Vio sebagai model." Adit bergumam sendiri dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak tahu saja mereka siapa Vio, mungkin mereka hanya menganggap jika foto desain Vio sebagai modelnya itu tidak bagus."


Adit menduga-duga jika Vio sebagai model produknya nanti akan membuat produknya tak laku, padahal bukan itu maksud tuan Rey. Tentu saja Adit tahu jika istri mudanya ini tak ingin publish

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2