WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Bertemu part 2


__ADS_3

Vio beralih menatap Adit tajam, seolah meminta penjelasan, Adit yang sedang sibuk dengan ponselnya serasa sedang dikuliti oleh bosnya, dirinya mendongak menatap balik Vio.


Pasalnya Adit tidak begitu menyimak percakapan mereka,"Kamu itu berbicara apa sayang?"


"Iya aku sekarang sudah tidak punya mama lagi, karena aku ditinggal mama kemalen."


"Ditinggal, lalu sekarang mama dimana?"


"Mamaku tidul, dan sekalang lumahnya pindah di bawah tanah."


"Maafkan saya." satu kata yang keluar dari mulut Adit, bibirnya terkatup rapat, pasalnya dirinya sendiri juga lupa mengenai hal ini.


"Memangnya mama sakit apa sayang?"


"Mama sakitnya lama bunda, makanya sampai dibawa kesini, dan aku pindah sekolah disini."


Mendengarkan penuturan yang menyayat hati bagi Vio, membuatnya tak tahan jika dia harus bertanya lebih dalam lagi, Vio menangkup tubuh imut Chris dan memberikan pelukan hangat layaknya seorang ibu.


"Jangan bersedih iya nak, masih bunda yang akan menemani Chris sampai dewasa nanti."


"Apa bunda setelah ini juga akan meninggalkan Chlis sendilian lagi?" tanya polos bocah kecil itu.


"Bunda tidak akan meninggalkan anak gantengnya papa ini, asalkan sepulang sekolah anak bunda bisa mampir dulu kerumah bunda,"


"Bagaimana? apa anak bunda yang tampan ini akan setuju?"


"Tapi kenapa bunda tidak tinggal saja dengan Chlis."


"Tidak bisa sayang,"


"Kenapa tidak bisa?"


"Loh bunda kan punya rumah sendiri, nanti rumah bunda bagaimana kalau ditinggal, di rumah juga ada nenek."


"Nanti nenek akan bersedih jika bunda tinggal."


Chris terdiam sejenak memikirkan kata-kata Vio baru saja,"Baiklah aku setuju kalau begitu."


"Tapi bunda harus janji jangan tinggalkan aku lagi." menautkan jari kelingkingnya ke tangan Vio, meminta tanda persetujuannya.


"Baiklah bunda janji."


"Tapi bunda memiliki satu permintaan buat anak ganteng bunda."


"Apa itu?"


"Bunda meminta pertemuan kita hari ini dan seterusnya dirahasiakan dari papa."


"Bagaimana, apa anak bunda keberatan?"


"Tapi kenapa harus dirahasiakan?"


"Iya dong, kalau papa tahu terus marah pada bunda bagaimana?"


"Terus kita tidak bisa bertemu lagi deh, terus kalau tidak bisa bertemu nanti kita kalau kangen kan jadi susah ketemunya." Vio berusaha menjelaskan secara logika, agar anak yang kritis seusianya itu mau menerima penjelasan dari Vio.


"Baiklah kita rahasiakan ini berdua iya, asisten Adit tidak boleh tahu."

__ADS_1


Padahal asisten Adit sejak tadi menyimak percakapan mereka, Adit sampai menggelengkan kepalanya mendengarkan dua orang beda generasi itu.


"Jadi nanti sepulang sekolah, minta saja di antarkan ke tempat bunda sama asisten Adit iya, dan kalau di depan papa harus silent iya."


"Baiklah bunda, aku setuju."


"Baiklah sekarang ayo kita cari makan dulu, anak bunda pasti lapar "


Vio jadi teringat saat terakhir kali dirinya berkunjung ke rumah Rey, ketika Chris masih bayi, bahkan dirinya tidak di ijinkan menyentuh putra semata wayangnya itu, padahal Vio sangat ingin menggendongnya, ketika mengingatnya membuat Vio takut pada Rey, jika Rey pasti akan marah padanya mengenai kedekatannya dengan Chris.


Padahal diam-diam Vio sering mengunjungi Angel dan bermain bersama Chris sampai Chris beranjak sekolah di Kelompok Bermain. Bahkan saat Angel sedang sibuk dengan kegiatannya tak jarang pula Angel menitipkan Chris padanya.


Namun lama kelamaan muncul perasaan bersalah pada Angel, dan dirinya berniat mundur dari hubungan ini. Tetapi malah yang terjadi diluar perkiraannya.


"Kita mau makan dimana bunda?"


"Anak ganteng bunda maunya makan dimana?"


"Aku ingin makan ayam goleng klispi."


"Baiklah, ayo kita cari."


Mereka berjalan-jalan di sepanjang jalan taman, yang di pinggir jalan raya dipenuhi dengan aneka jajanan mulai dari cepat saji sampai makanan ala restauran.


Adit hanya menjadi pengawal mereka saja jika sedang seperti ini,"Kenapa aku merasa seperti mengawal mereka saja iya." gumam Adit berdecak.


"Adit Chris ingin makanan ayam goreng Crispy disitu."


"Baiklah ayo,"


Ketika baru saja duduk, mereka banyak membicarakan hal-hal baru yang dialami Chris, bukan Vio dan Adit, namun melainkan Chris yang mendominasi ceritanya.


"Ayo makan dulu iya, nanti kita lanjut ceritanya lagi." Vio memotong percakapan Chris kala pesanan mereka datang.


"Kau juga makanlah Adit, atau kamu akan kelaparan mengikuti kita seharian."


"Hemm."


"Apa di sekolah sini tidak ada liburnya?" tanya Vio disela-sela makannya.


"Adalah, mana ada sekolah seperti itu."


"Tapi ini weekend, kenapa masih sekolah saja Chris?"


"Sekolah disini memang untuk anak-anak orang kaya, yang jika dihari weekend sibuk, maka bisa masuk,"


"Jadi tidak wajib untuk hari weekend?"


"Hemm kamu betul."


Chris asyik dengan makanan di piringnya, setelah mereka makan, Adit kembali mengajak mereka pulang, karena dirasa sudah terlalu lama dirinya membawa tuan kecilnya keluar rumah tanpa sepengetahuan tuan Rey.


"Ayo kita kembali."


"Kenapa buru-buru sekali." Vio.


"Apa kamu lupa jika aku sudah terlalu lama membawa taun kecil keluar rumah."

__ADS_1


"Akan menjadi masalah bagi kita nanti, jadi ayo menurutlah."


"Atau keberadaanmu akan diketahui olehnya."


"Ck mana peduli dia."


"Kau tak tahu, jika selama dia menyewa beberapa detektif, hanya untuk mencarimu?"


"Benarkah?"


"Apa kelihatannya aku sedang membual?" kesal Adit.


"Ehmm iya-iya, aku percaya padamu, baiklah ayo kita pulang."


"Anak bunda yang ganteng, sebaiknya kita pulang iya, kita bisa bertemu lagi besuk, sepulang sekolah Chris."


"Baiklah ayo."


Untung saja Chris tidak susah untuk dibujuk, sehingga tidak memerlukan waktu lama.


Perjalanan yang mereka tempuh juga tidak begitu jauh, pertama yang diantarkan adalah Vio terlebih dahulu, namun Chris tidak diperkenankan turun, karena nanti akan memakan waktu lagi.


"Bye...byee bunda, sampai bertemu besuk iya." tangan kecil itu melambaikan sebagai tanda perpisahannya.


"Bye ... bye... anak tampan bunda."


Sebelumnya banyak perdebatan ketika mobil sedang melaju, namun perdebatan tetap dimenangkan oleh Vio, sedangkan Adit yang duduk di jok depan menyimak saja, seolah seperti sedang mengantarkan istri dan anak majikannya. Ehh memang kan benar jika mereka berdua itu istri dan anak majikannya.


"Apa anda tidak ingin pindah di kursi depan tuan kecil?" tanya Adit.


"Tidak,"


Bilangnya tidak, tapi Chris melompat dari celah juga untuk pindah di kursi depan. Jangan lakukan hal berbahaya seperti lagi tuan, atau nanti tuan akan marah padaku.


"Iya jangan bilang pada papa lah kamunya."


"Tapi saya ingatkan anda juga jangan dibiasakan."


"Tidak akan."


"Kenapa anda jadi sensi lagi tuan."


"Aku masih kangen sama bundaku."


"Tidak usah merajuk seperti itu, atau nanti papa tuan kecil akan memarahiku, karena melihat anaknya yang sedang merajuk seperti ini."


"Besuk kan bisa bertemu lagi."


"Aku jadi ingin cepat-cepat berganti hal hali."


"Sabarlah tuan kecil,"


"Apa asisten Adit punya nomol bundaku?"


"Tentu saja."


Sebuah ide muncul begitu saja dari pikiran bocah kecil itu.Dia akan melakukan vidio Call nanti malam. Saat ayahnya sudah tidur.

__ADS_1


__ADS_2