
Angel yang merasa bosan dengan perjalanan kali ini ikut merogoh ponselnya dan menscroll layarnya, padahal juga tak ada yang menarik. Hanya menghilangkan kejenuhan saja.
Lima belas menit terasa satu hari lamanya jika dalam situasi membosankan seperti ini, "Auhhh...!!!" Pekik Angel memegang perutnya dengan mendesis.
"Kenapa, apa ada yang sakit," reflek tuan Rey menaruh ponselnya di pangkuannya dan memegang punggung Angel, sedangkan tangan yang satunya memegang perut Angel.
"Tidak, hanya saja." Angel kembali mendesis memegang perutnya lagi.
"Apa kita kerumah sakit sekarang."
"Hah tidak, tidak aku tak mau."
"Ini tidak apa-apa hanya tadi dia menendang-nendang saja di sana."
Gila saja, nanti dikatakan dokter berlebihan jika bayinya sedang aktif saja sampai dibawa kerumah sakit, mana ada seperti itu. Dimana-mana bayi menendang juga normal tak ada masalah kan seharusnya.
"Benarkah." Tuan Rey antusias memegang perut Angel, dan mengelusnya perlahan.
"Hah iya, ini apa, kakinya atau tangannya,"
"Hah kenapa bisa membuatku geli." Seketika ekspresi datarnya melunak, ketika meraba perut buncit istrinya.
"Mungkin dia lagi senang di sapa daddy nya." Angel tersenyum senang.
"Kau jangan nakal disana Son, kita akan bertemu klien, kau jadilah anak yang pintar." Lalu mencium perut Angel penuh perasaan.
Tetapi ada hal lain yang mengalihkan perhatian Angel, ponselnya yang ia letakkan di pangkuannya tadi belum sempat Rey keluarkan, sehingga nampak jelas chat di sana bernama my little wife.
Hal itu mengalihkan perhatian Angel, seketika jantung Angel berdetak kencang, keluar keringat dingin di beberapa bagian tubuhnya, hatinya terasa nyeri.
"Mungkinkah dia memiliki wanita lain? lalu siapa." Batin Angel bertanya-tanya. Sekuat tenaga ia memendam rasa cemburu dihatinya, agar tak diketahui oleh suaminya.
Dari kemaren ia terus komunikasi membahas satu wanita bernama Vio, baiklah hari ini tak ada bukti apa pun, besuk-besuk mungkin Angel sendiri yang akan mencari tahu. Dirinya menjadi dilema.
Yang Angel tahu selama ini Rey adalah tipe lelaki yang sangat pekerja keras, bahkan hampir seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk bekerja, dirumah ketika waktu libur saja hanya di ruangan kerja seharian. Keluar ruangan hanya beberapa menit atau jam ketika membutuhkan sesuatu.
Angel memaksa sudut bibirnya untuk tersenyum dan memandang kearah suaminya. Hingga tidak terasa mobil yang membawa mereka sudah sampai di pelataran restauran yang disebutkan oleh tuan Aldo kolega bisnisnya.
"Sudah sampai tuan, nyonya." Sopir pribadi mereka lalu turun membukakan pintu untuk tuan Rey, setelah itu bergantian membukakan pintu Angel.
"Ayo, jika ada yang membuatmu tak nyaman bicaralah."
__ADS_1
Angel hanya mengangguk patuh lalu menautkan tangannya ke lengan Rey.
"Wahhh selamat siang tuan Rey dan nyonya Rey." Sapa Aldo rekan bisnisnya.
Mereka saling berkenalan satu sama lain, tuan Aldo memiliki banyak anak angkat setelah kepergian anaknya saat berusia lima tahun menjadi korban penculikan dan saat ini entah kemana perginya. Hingga dirinya mendirikan rumah anak, yang isinya anak-anak tidak memiliki orang tua.
Tetapi saat ini dirinya hanya datang bersama dengan istrinya saja nyonya Via.
"Anda pandai sekali mencari istri tuan, sangat cantik." Nyonya Via memberikan pujiannya pada Angel.
"Terimakasih nyonya, anda juga sangat cantik." Angel membalas dengan sopan.
"Apa kami datang terlambat?" Rey.
"Tidak, hanya lebih cepat kami sepuluh menit saja." Aldo.
Tuan Rey memposisikan tubuhnya duduk bersebelahan dengan Angel, sedangkan nyonya Via yang sebelumnya sudah mendengarkan cerita dari suaminya tentang tuan Rey.
Tak henti-hentinya mengagumi sosok laki-laki gagah berwibawa didepannya ini. Sungguh walaupun usianya mencapai setengah matang, tetapi masih terlihat muda dan tampan, pantas saja suaminya walaupun lelaki sangat memuji wibawanya dan pencapainnya.
Andai saja putrinya tidak hilang delapan belas tahun lalu, mungkin saat ini dirinya sudah pilah pilih buat calon mantu.
Angel melihat dan mengukir senyum tipisnya, "Apa ada hal lain yang anda pikirkan nyonya."
"Hah tidak, mari silahkan makan." Mama Via.
"Semoga tuan Rey dan nyonya menyukai jamuan makan malam ini."
"Kami sangat menghargai dan menyukai semua makanan yang ada di Indonesia nyonya." Angel.
Tuan Rey hanya diam menyimak obrolan para istri mereka.
"Apa nyonya Angel berencana melahirkan di sini?"
Nyonya Via menanyakan hal ini lantaran melihat perut Via yang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan.
"Ehmm iya nyonya sepertinya begitu, tetapi semua keputusan ada pada suamiku ingin memilih rumah sakit yang mana."
"Apa nyonya Via ada rekomendasi rumah sakit disini yang bagus?" Angel.
"Ehmm iya aku rasa di Rumah Sakit X itu pelayanannya bagus nyonya."
__ADS_1
Angel mengangguk setuju, lalu meminta pendapat suaminya dengan masukan dari nyonya Via tadi.
"Bisa dibicarakan lagi nanti." Jawab Rey kembali datar ke wajah aslinya.
"Ehmmm kalau boleh tahu kenapa nyonya Via dan tuan tidak membawa anaknya serta?"
Via dan Aldo mereka saling bertatapan. Lalu Via berhasil menguasai kesedihan hatinya lagi." Karena anak kami banyak nyonya, jadi sangat tidak mungkin membawa serta ketika ada acara seperti ini." Via.
"Banyak berapa?" Angel masih saja penasaran.
"Sekitar tiga puluhan." Via.
Angel sangat terkejut mendengarkan jawaban dari mulut Via begitu pula Rey, bagaimana bisa mereka memiliki anak sampai tiga puluh, apa tiap tahun mereka melahirkan dan beranak pinak terus menerus.
"Ehmm anak-anak angkat kami nyonya tuan." Via menjawab keterkejutan mereka.
Ini baru masuk akal, pikir mereka. "Lalu anak kandung tuan dan nyonya sendiri ada berapa?" Angel.
"Dulu kami memiliki putri cantik yang sangat kami dambakan, lalu suatu hari insiden telah terjadi pada kami, hingga putri kecil kami entah diculik entah kemana." Aldo menjawab sekilas.
"Berbagai upaya sudah kami lakukan nyonya, tetapi Tuhan lah yang menentukan."
"Jika dia masih hidup mungkin sudah sekitar dua puluh dua usianya." Nyonya Via menyahut sambil menyeka air matanya yang keluar tanpa permisi.
"Ehmm maafkan kami nyonya, tuan." Angel memandang Rey.
Rey hanya menyimak dari tadi, dan sedikit bicara. Bahkan jika diperlukan saja. Memang seperti itu pembawaan suami yang dingin. Bagi sebagian orang sangat membosankan.
Hingga hari sudah larut malam, acara makan malam itu banyak di isi cerita-cerita dari keluarga Aldo dan soal peluncuran produk baru bisnis mereka.
"Baiklah tuan Aldo dan nyonya senang bertemu anda." Rey.
Mereka berjabat tangan lalu segera pamit undur diri. "Lain kali kami yang akan mengundang tuan dan nyonya."Rey.
Jarang sekali Rey menghadiri acara ramah tamah seperti ini, bahkan sering kali ia menyuruh Adit menggantikannya. Entah angin apa kali ini dengan lapang dada dirinya mau turut serta hadir dalam acara perjamuan. Mungkin bisa jadi karena Adit tak ada sehingga dengan sangat terpaksa harus dirinya sendiri yang datang.
Sepanjang perjalanan Angel hanya diam saja.
dan
Bersambung
__ADS_1