
Adit turun dari mobilnya dan berjalan mengekor dibelakang Akash, "Suster tolong ada pasien darurat sus."
Suster cantik yang kelihatan masih sangat muda itu terkesima melihat ketampanan Adit, dengan cekatan dan bersemangat membuatnya melayani Adit sepenuh hati.
"Apa fasilitas klinik ini sangat terbatas?" tanya Adit tiba-tiba.
"Saya rasa masih sangat terbatas tuan."
Setelah selesai diperban tangannya Adit keluar dari ruangan yang baunya seperti obat-obatan itu, dirinya berjalan keluar di ikuti oleh Akash dibelakangnya.
"Akash... kamu datang kesini lagi?" tanya nenek Sam kala melihatnya.
"Iya nek, apa nona itu baik-baik saja?" tanya Akash menghentikan langkahnya, Adit yang mendengarnya reflek menoleh kebelakang.
"Iya, sepertinya nona Vio mencoba melakukan bunuh diri."
"Bunuh diri,lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Akash begitu terkejut mendengarnya.
"Bunuh diri? siapa yang ingin bunuh diri?" tanya Adit menyela pembicaraan mereka. Dua orang itu tidak menyadari jika masih ada Adit disana.
"Ehmm itu tuan pekerja baru yang kemaren pingsan." jelas nenek Sam hati-hati dan sangat sopan.
"Kenapa dia ingin mencoba bunuh diri, apa gaji yang kami berikan kurang?"
"Jika kurang bilang saja, aku akan mengajukan kenaikan gaji pada bos."
"Ti...tidak tuan bukan seperti itu." nenek Sam menjadi bingung sendiri bagaimana memulai ceritanya.
"Kalau begitu bolehkah aku melihatnya?" tanya Adit penasaran, pasalnya banyak orang yang datang ke tempatnya hanya untuk menjadi karyawan pemetik kebun anggur, selain karena gajinya yang tinggi tetapi juga masih banyak tunjangan yang diberikan, serta bonus akhir tahun, serta tempat tinggal yang nyaman dan gratis pula yang disediakan khusus untuk para pekerja dikebun.
"Kenapa kalian diam saja, aku hanya ingin melihatnya, bukan menggigitnya."
"Baiklah tuan, silahkan." nenek Sam memandu jalan mereka, sambil berbincang kecil.
"Apa penyebab dia ingin mengakhiri hidupnya?" tanya Adit lagi.
"Mungkin dia malu atas perbuatannya sendiri tuan." nenek Sam juga mengambil spekulasinya sendiri karena belum mengetahui yang sebenarnya terjadi.
"Perbuatan apa?"
"Itu kalau cucu saya sedang hamil." semenjak Vio tinggal dirumahnya, ia telah mengakui Vio sebagai cucu angkatnya jika bertemu orang-orang.
"Hamil..., jadi.. apa cucu nenek hamil diluar nikah?" tanya Adit.
Sam mengangguk lemah, ikut prihatin atas musibah yang dialami Vio.
__ADS_1
Nenek Sam membuka pintu kamar perawatan Vio, Adit yang mengekor dibelakangnya masih belum melihat wajah Vio dengan jelas. "Itu tuan, silahkan anda melihatnya, namun sekarang masih tertidur, karena pengaruh obat tidur." jelas nenek Sam.
Adit yang melihatnya dari kejauhan perlahan mendekati brankar itu, melihat dengan seksama, namun alangkah terkejutnya Adit, jika orang yang selama ini dia cari malah kini terbaring lemah dihadapannya.
"Jadi dia selama ini kabur dan tinggal disini, pantas saja tak ada yang menemukannya." gumam Adit pelan.
"Tuan apa anda mengatakan sesuatu?" tanya Sam yang sepertinya mendengar Adit berbicara.
"Hah tidak nek,"
"Sudah berapa bulan dia jadi pekerja kita?"
"Saya tidak mengingatnya dengan jelas tuan,"
Adit hanya mengangguk mengerti, dan pandangannya kembali kepada Vio.
"Jadi nona Vio hamil," dalam hatinya Adit bermonolog.
"Apa nenek Sam sudah memastikan keadaanya pada dokter jika cucu nenek ini beneran hamil?" tanya Adit yang menghentikan langkahnya, hanya berjarak beberapa meter saja dari brankar Vio berbaring.
"Sudah tuan, dan ini hasil USG nya." nenek Sam menyodorkan amplop bertuliskan klinik tersebut, yang berisikan dua lembar gambar berwarna hitam, mirip seperti siluet, dan dibuka oleh Adit karena rasa penasarannya.
Adit mengamati gambar tersebut dengan seksama, terlihat satu titik dalam sebuah gambar berwarna hitam yang lebih mirip siluet itu.
"Baiklah ini nenek simpan baik-baik."
"Aku akan kembali ke villa, setelahnya nanti aku akan kembali lagi." Adit berpamitan pada nenek Sam, dirinya harus berganti pakaian, akibat bajunya tadi terkena percikan darah yang berasal dari lukanya sendiri.
*****
Rey kembali disibukkan dengan pekerjaannya pagi itu, dirinya saat ini berada disebuah ruangan yang megah, dengan arsitektur khas budaya Jepang, beberapa bulan sebelum Angel dibawa ke Tokyo dirinya lebih dulu membuka anak cabang perusahaannya disana.
Karena jadwal yang padat, urusan Chris di cover oleh suster Ana yang sejak lahir memang mengasuhnya. "Kenapa papa selalu saja sibuk semenjak mama meninggal?" tanya Chris sendu.
"Sabarlah sayang, papa mungkin sedang sibuk karena pekerjaannya banyak, jadi jagoan harus belajar yang rajin, supaya papa bangga." suster Ana sambil memakaikan baju seragam sekolahnya.
Bahkan hanya untuk sekedar sarapan pagi bersama putranya saja Rey tak sempat, bukan tak sempat tapi memang dirinya yang menyibukkan diri. Agar pikirannya tidak melulu soal Angel dan juga Vio, ah memiliki dua istri memang membuat kepalanya rasanya mau pecah saja.
Tringgh...
Suara nada dering telepon rumah yang terletak di dalam kamar Chris terdengar, "Bagaimana Chris? apa dia baik-baik saja?" tanya Rey dalam sebuah panggilan yang terhubung telepon rumahnya langsung.
"...."
Begitulah seharian Rey akan selalu memantau Chris dari kejauhan, bahkan cctv dirumahnya terhubung langsung dengan MacBook ditangannya, dan jangan lupakan saat ini dia sedang mengamati putra tunggalnya dari layar laptop kerjanya.
__ADS_1
Walaupun Angel sudah tiada namun dirinya menjaga Chris dengan baik,"Bukan itu masalahnya tuan, masalahnya tuan kecil membutuhkan sentuhan anda." suster Ana berbicara sendiri, setelah sambungan telepon rumah dimatikan.
Setelah melakukan panggilan dengan suster Ana pria itu terdiam sebentar, memikirkan bagaimana nasibnya ke depan bersama dengan putranya.
"Bahkan ini sudah satu bulan lebih, sejak kematian Angel." katanya.
"Tuan maaf saya masuk tanpa mengetuk pintu dulu."
"Hemmm, ada apa dirimu kemari dengan buru-buru sekali?" tanya Rey memandang wajah asistennya itu.
Adit ingin sekali buka suara, namun dia jadi teringat pesan Vio tadi malam, setelah dirinya tersadar, dan Adit sedang bersamanya,
*FLASHBACK*
"Anda sudah sadar nona?" ucapan pertama kali, ketika dirinya melihat Vio yang mulai mengerjapkan matanya.
"A...Adit kamu?" suara Vio tercekat ditenggorokannya.
"Ini saya nona."
"Kenapa kamu bisa ada disini?"
"Karena suatu pekerjaan."
"Bukankah pekerjaanmu tidak ada disini?"
"Apakah anda lupa nona, jika tuan memiliki beberapa anak cabang perusahaannya dimana-mana."
Mendengar hal demikian, membuat Vio bungkam seketika, benar adanya jika Rey memiliki anak cabang perusahaan diberbagai negara.
"Lalu kenapa kamu bisa menemukan aku disini?"
"Apa kamu tidak dicari oleh tuanmu?"
"Bukan saya yang dicari tuan nona, tetapi anda."
"Ahhh jangan katakan dulu, kalau aku ada disini, aku masih ingin sendiri menenangkan diri."
"Sampai kapan nona?"
"Aku tidak tahu."
"Aku harap kamu bisa bungkam mengenai keberadaanku."
"Tetapi saya tidak janji nona."
__ADS_1
"Kau jangan macam-macam Adit," matanya memandang tajam ke arah Adit, tanda tak mau dibantah omongannya.