WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Masalah Vio


__ADS_3

"Kau tahu, kenapa bos kamu itu bisa bermuka dua seperti itu." kesal Vio berapi-api.


"Mana aku tahu nona, dia kan suami anda, seharusnya anda yang lebih tahu mengenai sifatnya."


"Tanganku rasanya sangat gatal ingin menonjok muka sombongnya itu." Vio memperagakan dengan tangannya meninju ke arah udara.


"Anda kan bisa mengancamnya nona, jika tuan Rey sedang datang pada anda, kau cueki saja dia, dan jangan kasih jatahnya."


Mendengarkan omongan Adit baru saja membuat Vio tersenyum jahil, boleh juga sepertinya ia gunakan ide Adit.


"Apa karena dia takut dengan Angel?" tanya Vio meminta pendapat Adit.


"Aku rasa,"


"Ck, kenapa kau malas menjawab pertanyaanku, jangan bilang kalau kamu sedang membela bosmu." kesal Vio pada Adit.


"Mana ada aku membela tuan, tuan Rey kan tipikal jutek dam sangat arogan."


"Tapi aku merasa jika aku menggendong anaknya takut aku melukainya."


"Kau tau kan, bagaimana dia berbicara dan menunjukkan wajah tak sukanya padaku ketika aku menggendong baby Chris."


"Apa karena hal itu membuat anda sangat kesal nona?" tanya Adit, yang fokus melihat jalanan depan. Saat ini mereka sedang didalam mobil, dengan Vio nebeng padanya.


Vio terdiam tak menanggapi pembicaraan Adit, pikirannya masih menerawang bagaimana Rey tadi bersikap sangat arogan padanya.


"Jika memang benar begitu, kenapa anda tak membuat bayi anda sendiri nona?"


"Kau jangan gila, dia tak ingin memiliki anak dariku." kesal Vio.


"Kalau itu kan masalah gampang nona, anda bisa pura-pura lupa saja menggunakan alat kontrasepsi, lalu jika sudah hadir dia diantara kalian, apa setega itu dia menolak kehadirannya,"


"Lagi pula apa alasan dia tak mau memiliki anak dengan anda." heran Adit.


"Dia ingin fokus mengurus Chris dulu, karena baby Chris adalah anak impiannya, yang nanti akan menjadi penerus dirinya."


"Tapi aku tak seharusnya dia menolak memiliki anak dengan anda nona,"


"Berani berbuat juga harus berani bertanggungjawab, jangan mau enaknya saja."


"Sudahlah, lebih baik ajak aku ke suatu tempat saja yang bisa mengembalikan moodku kembali, aku jadi malas jika terus-terusan membahasnya."


"Baiklah, akan aku tunjukkan tempat favoritku nona." Adit kembali fokus menatap jalanan, yang semakin sore menjelang malam semakin ramai, karena para pekerja pada pulang kantor.


"Kau tahu, kalau aku selama ini merasa kesepian." ucap Vio kala mereka mendudukkan tubuhnya di sebuah taman, Adit memberhentikan mobilnya di taman kota.

__ADS_1


"Kesepian, kesepian karena apa nona?"


"Ehmm maaf kalau aku lancang ingin tahu." ucap Adit akhirnya.


"Sudahlah, kau jangan memanggilku nona, panggil aku Vio saja."


"Baiklah, Vio."


"Aku tidak tahu siapa orang tuaku sebenarnya, aku juga tidak tahu kenapa orang tuaku membuangku."


"Aku sangat membenci mereka, tapi diwaktu bersamaan aku juga ingin melihat rupa wajah ibuku dan juga ayahku."


"Tapi aku takut dengan kenyataan, jika ternyata kehadiranku tak diharapkan mereka."


"Bukankah kedua orang tua angkatmu dulu sangat menyayangimu?"


"Kau benar, tapi tetap saja, tetapi jika ayam lahir mencari induknya, maka sama dengan apa yang aku rasakan,"


"Aku ingin melihat rupa wajah mereka seperti apa, tapi aku juga tetap menyayangi kedua orang tua angkatku." tak terasa Vio menteskan kedua air matanya.


"Jika seperti ini, kau sangat terlihat lemah, kemana Vio yang aku kenal dulu, selalu terlihat kuat dan tak takut pada siapa pun." ucap Adit.


"Kau tahu, jika suatu saat kau sudah tak di inginkan lagi oleh tuan Rey, bolehkan aku menjadi pendamping hidupmu?" tanya Adit sangat pelan, memegang tangan Vio yang terasa dingin malam itu.


"Kau tampan, memiliki karir yang bagus, dan juga single yang di inginkan oleh semua wanita."


"Kau bisa memilih wanita mana saja yang kau mau Adit." Vio meneteskan bulir air matanya, menoleh pada Adit dan menarik tangannya dari genggaman Adit.


"Aku tahu, tapi bukan itu yang aku inginkan, aku ingin hidup bersama orang yang aku sayangi."


"Orang yang pantas kau sayangi adalah perempuan single, dan dia gadis baik-baik."


"Bukan sepertiku, wanita simpanan om-om."


"Kalaupun suatu hari nanti keberadaanku tak di inginkan lagi oleh Rey, aku akan pindah dari kota ini."


"Dan aku memutuskan tak akan menikah lagi, mungkin aku akan membangun sebuah panti untuk anak-anak yang terlantar sama sepertiku."


"Kau jangan berkecil hati, jalanmu masih panjang, harapanmu masih bisa kau gapai, tapi tidak dengan menutup hatimu."


"Aku suka melihat Vio yang bar-bar, bukan Vio yang lemah seperti ini."


Vio terdiam, menahan seluruh air matanya yang sudah tak bisa ia tahan lagi,"Menangislah di pundakku, jika itu membuat hatimu lega."


"Terimakasih, kau memang orang yang pengertian."

__ADS_1


Disela-sela suasana seperti ini perut Vio terdengar keroncongan,"Kau lapar?" tanya Adit pada Vio. Membuat Vio tersenyum simpul.


"Ehmmm iya, aku lupa makan siang tadi, karena aku buru-buru ingin kemari menjenguk baby Chris."


"Baiklah, ayo kita mencari tempat makan terdekat sini." Adit bangkit dari duduknya, menarik tangan Vio untuk mengikutinya.


"Tapi aku ingin makan bakso setan, agar seluruh amarahku ini bisa ku lampiaskan."


"Baiklah ayo, aku tahu tempatnya." Adit terus berjalan menggandeng tangan Vio. Beberapa kali ponselnya berdering, namun tak ada yang mengangkat, pasalnya ponsel Adit tertinggal didalam mobilnya yang terparkir.


"Bocah sialan itu, kemana perginya sampai tak menjawab pesan dan tak mengangkat panggilanku." kesal Rey kala dirinya saat ini berada diruang kerjanya.


Tokk..tok


Suara ketukan pintu menginterupsi amarahnya,"Sayang ini kopi untuk teman lembur kamu." Angel manaruh kopi hitam diatas meja kerjanya.


"Ehmm iya kau taruh saja diatas meja."


"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya Angel ikut berdiri di samping suaminya.


"Hanya sedikit, kau tak usah mengkhawatirkanku."


"Oh iya, apa kamu sesibuk itu sampai beberapa minggu kemarin tak pulang?" tanya Angel.


Angel sepertinya sudah mulai curiga dengannya,"Ehmm iya, ada sedikit masalah." jawab Rey santai.


"Bisakah kau tak mematikan ponselmu jika berada diluar kota?" pinta Angel, memeluk dirinya manja.


"Maafkan aku, mungkin aku hanya sedang lupa mengisi baterainya."


"Kamu tidurlah dulu, nanti aku akan menyusulmu." pinta Rey pada Angel.


"Sebentar, aku hanya sedang merindukanmu saja, kenapa semenjak ada baby Chris kamu tak pernah menyentuhku lagi." protes Angel padanya.


"Aku pikir kamu masih trauma melahirkan, makanya aku tak mendekatimu." jawab Rey datar.


"Tidak, malam ini aku menginginkanmu." Angel memberanikan diri merayu suaminya. Mungkin akibat terlalu lama diabaikan juga.


Detik berikutnya Rey terbuai oleh rayuan istrinya, apalagi saat ini Angel menggunakan pakaian lingeri seksi, yang membuat gairahnya memuncak. Tanpa berpikir panjang ia melahap balik bibir manis Angel.


Untuk pertama kalinya mereka bercinta di sofa ruangan kerjanya. Ia jadi melupakan amarahnya pada Vio dan juga Adit.


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2