WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Hadiah Yang Di Inginkan


__ADS_3

Kemudian kembali lagi setelah dirinya diminta kembali oleh Rey, memang lokasinya tidak begitu jauh, hanya beberapa kilo meter saja.


Makan malam berlangsung romantis, dengan lilin yang menyala, dan suasana yang hening, seluruh ruangan telah dihiasi sedemikian rupa, karena Vio menyukai tanaman.


Maka seluruh hiasan menggunakan bunga-bunga hidup, dan menyajikan makanan khas kesukaan Vio.


"Kenapa kamu tiba-tiba saja mengajakku makam malam romantis?"


"Apa kamu memiliki niat yang tidak aku ketahui?"


"Atau, setelah ini kamu akan mencampakkan aku?" Vio memberondong pertanyaan bertubi-tubi.


"Makan dulu makananmu," Rey tak bergeming ditempatnya. Melahap makanan di depannya dengan tenang, tak sedikit pun terusik dengan banyaknya pertanyaan dari Vio.


"Kenapa aku menjadi curiga begini," Vio menghentikan kegiatan mengunyah makanannya.


"Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia?"


"Ck, selalu saja begitu." Vio berdecak kesal, karena merasa diabaikan dengan pertanyaannya.


Akhirnya mereka makan malam dengan tenang, hanya ada mereka berdua, menambah kesan romantis kian terasa kala sebuah instrumen mengiringi.


"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu." ucap Rey akhirnya kala dirinya menyelesaikan kegiatan makannya, mengelap mulutnya dengan tisu.


"Ck, kenapa hanya mengelap tisu saja malah membuatnya semakin tampan, rasanya aku ingin memiliki dia seorang diri." batin Vio terus berperang dalam hatinya.


"Sesuatu apa, katakan sekarang,"


"Jangan malah membuatku kian penasaran." menatap Rey balik.


"Kau akan tahu sendiri nanti."


"Apa sudah selesai makanmu?" Rey yang melihat piring didepan Vio sudah kosong itu.


"Sebentar, aku ingin ke toilet dulu."


"Hemm jangan lama-lama."


Vio mengangguk sambil berlalu dari hadapan Rey, namun tidak lama kemudian dirinya muncul.


"Kenapa cepat sekali ke toiletnya." tanya Rey memandang Vio takjub. Pasalnya malam ini Vio menggunakan gaun warna merah maroon, dengan model sabrina yang panjangnya diatas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya.


"Ehmmm iya, urusanku juga sudah selesai."


"Lain kali jangan menggunakan gaun yang minim bahan." sambil berdiri untuk membayar bill tagihan.


Tak lama setelah itu kembali menghampiri Vio, dan berjalan menuju pintu keluar. "Biasanya aku juga seperti ini, lalu dimana masalahnya?" tanya Vio.


"Jelas saja salah, aku tak ingin mata nakal lelaki diluar sana memandangmu dengan tatapan memuja."


"Mana ada, kita kan hanya jalan berdua, dan sepanjang jalan ini juga sepi, lalu lelaki mana yang kau maksud." tanya Vio tak mau kalah.


"Kalau tidak begini juga kamu tak akan tertarik padaku,"


"Secara, aku kan hanya istri dibalik layar." ucap Vio yang terdengar seperti gumaman, namun masih bisa di dengar oleh Rey.


"Apa kamu bilang, lalu kamu maunya yang seperti apa?" tanya Rey yang tadi mendengarkan ucapan Vio.

__ADS_1


"Tidak, lupakan..., anggap saja hanya angin lalu."


🌷🌷🌷


"Kau mau membawaku kemana?" tanya Vio menoleh, kala dirinya keluar dari dalam mobil yang baru saja berhenti.


"Nanti kamu bisa melihatnya sendiri." Rey keluar dari mobil, dan membukakan pintu mobilnya untuk Vio.


"Ayo..." menengadahkan tangannya.


"Adit juga akan ikut." mencari keberadaan Adit.


"Suamimu aku, bukan dia, kenapa kamu mencarinya." ketus Rey.


"Hey sayang, jangan ngambek, aku kan hanya bertanya saja."


"Saya ikut nona." jawab Adit yang sudah berjalan mengekor dibelakang mereka itu.


"Kita akan naik itu?" tanya Vio lagi menunjuk sebuah helikopter yang sudah terparkir di tanah lapang.


"Ehhhmmmm." jawab Rey hanya sebuah gumaman.


"Ck, jawaban macam apa itu." Vio berdecak, mengerucutkan bibirnya lucu.


"Jangan berekspresi seperti itu jika tak ingin dicium disini." ucap Rey datar.


"Itu terserah padaku,"


Mereka berjalan memasuki sebuah helikopter, dan mengambil posisi tempat duduknya masing-masing.


"Baru saja Vio akan memasangkan sabuk pengamannya, tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak.


"Ini ditempat umum, apa kau tak tahu malu." Vio melotot kesal.


"Kau mengomeliku."


"Menurutmu..."


"Itu salahmu sendiri, sudah kubilang, kondisikan bibirnya." Rey.


"Ck, beralasan saja kau ini." Vio terus saja membantah tak mau kalah."


"Kau ingin mengulangnya."


"Tidak, tidak..., suamiku." Vio tersenyum simpul, dan senyuman yang dipaksakan menimbulkan hawa dingin.


"Aku rasa akan sangat bahagia jika jalan-jalan berkeliling dunia dengan seseorang yang mencintaiku." Vio hanya berceloteh asal.


"Anda akan menginginkan jalan-jalan keliling dunia nona?" tanya Adit yang menyahut Vio dari arah belakang mereka itu.


"Hemmm iya, andai saja aku memiliki suami yang seutuhnya milikku, aku akan bahagia,"


"Tapi takdir berkata lain, aku menjadi seorang simpanan pria kaya."


"Padahal bukan kehidupan seperti ini yang aku inginkan." Vio berucap santai.


Adit menjadi was-was sendiri, takut jika wajah Rey sudah berubah merah padam menahan amarah.

__ADS_1


"Walaupun anda istri simpanan tetapi hidup anda melebihi istri satu-satunya nona." jawab Adit netral.


"Ehmmm iya, itu menurut kamu."


"Tapi kamu tak pernah menjadi aku."


"Adit jika kamu terus saja berbicara, aku akan melemparmu dari ketinggian ini." Rey sepertinya sudah berada di ubun-ubun tingkat amarahnya.


Seketika itu Adit menjadi diam tak bersuara, "Kenapa begitu, dia memiliki mulut, jadi berhak bersuara."


"Kau tak boleh mengintimidasinya."


"Dia kan kakakku." bela Vio pada Adit.


Rey menoleh, menatap tajam ke arah Vio dengan pandangan yang menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya. Seketika itu nyali Vio menciut, tak lagi buka suaranya.


"Dasar lelaki otoriter,maunya menang sendiri."


"Ingin sekali aku menonjok muka nya yang terasa menyebalkan itu." batin Vio.


"Kau mengumpatiku..?" tanya Rey.


"Siapa yang mengumpatimu, kepedean sekali." Vio menjawab dengan ketus. Karena berada dalam satu ruangan dengan suaminya ini terasa membosankan.


Vio menjauhkan kepalanya, bersender pada kabin disebelahnya, ia tidak sudi menempel pada suaminya.


"Biarkan saja, aku tak akan mau dekat-dekat orang gila ini." batin Vio terus saja berbicara.


Namun yang terjadi malah sebaliknya, baru saja dirinya ini memejamkan matanya sebentar, kepalanya sudah di tarik dengan salah satu tangan Rey, dan mendekatkan di dadanya.


"Kelinci nakal satu ini, terus saja membangkang jika dikasih tahu." gumam Rey pelan, dan mencium puncak kepalanya sekilas.


"Dia selalu saja membuatku kesal, tapi aku juga menyayanginya."


"Tuan," panggil Adit dari arah belakang.


"Ehmmm..."


"Tadi nyonya Angel mengirimi saya pesan singkat tuan, nyonya mengatakan jika anda berada diluar jangan lupa makan,"


"Dan jaga diri anda baik-baik." Adit.


Tidak berapa lama helikopter yang membawa mereka telah sampai di tempat tujuan, Vio yang masih terlelap dalam mimpinya, di angkat oleh Rey memasuki sebuah mobil yang sudah menunggunya sejak sejam yang lalu.


"Bagaimana tuan?"


"Tak apa, nanti jika dia sudah bangun juga akan melihat kejutan yang dia impikan." Rey.


Rey mengisyaratkan untuk menjalankan mobilnya, sopir pribadi yang ditunjuk oleh Adit itu juga begitu cakap, tak kalah dengan sopir pribadi Rey yang berada di Bali.


"Apa anda tidak mengkawatirkan sesuatu tuan?"


"Maksud kamu?" Rey.


"Bagaimana dengan nyonya?"


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2