WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Sindrom Cauvade


__ADS_3

Acara satu jam lagi akan segera dimulai, seluruh hidangan sudah tertata rapi pada tempatnya, dekorasi disepanjang aula tertata begitu mewah dan rapi, khas menandakan sesuai karakter pemiliknya, bahkan tamu-tamu undangan satu persatu sudah mulai berdatangan.


Namun nampaknya Rey masih belum bisa keluar menemui tamu-tamunya hanya untuk sekedar menyapa, itu semua karena rasa pusing dan mual kembali menyerang dirinya.


"Tuan apakah masih pusing?" tanya Adit yang baru saja memasuki ruangannya.


" Aku rasa aku memiliki penyakit yang serius, tolong panggilkan aku dokter kemari."


"Baiklah tuan."


Adit terlihat mengeluarkan ponselnya dibalik saku mantelnya, dan sedang serius mengetikan sesuatu.


"Bersabarlah sebentar tuan, dokter yang saya hubungi sedang perjalanan kemari." terang Adit.


"Ini air hangat, anda bisa meminumnya agar kondisi anda membaik."


Adit mengambilkan segelas air hangat dan menaruh tepat di depan Rey. "Hemmm."


"Apa tamu-tamu sudah berkumpul semuanya?"


"Sudah sebagian tuan, anda maunya bagaimana?"


"Tunggu sebentar lagi, setelah dokter memeriksaku."


"Baiklah."


Tidak terlalu lama dokter yang tadi dihubungi Adit tiba disana, seluruh tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang ada dulu oleh Adit, sebelum acara dimulai. Karena memang situasinya sedang genting, pemiliknya tidak baik-baik saja. Tapi Adit masih bisa jika hanya mengendalikan tamu undangan saja.


"Silahkan masuk dokter Yuki?" ucap Adit pada dokter muda berkacamata itu.


"Saya pikir anda yang sakit tuan?"


"Hah anda bercanda iya,"


Adit membuka daun pintu lalu memberi jalan pada dokter Yuki, "Maaf tuan permisi, apa anda yang sedang sakit?" tanya dokter Yuki sopan.


"Hemmm, kamu yang akan memeriksaku?" tanya Rey mendongak menatap wajah dokter Yuki di depannya.


"Iya tuan, mari tuan silahkan berbaring di sana saja."


"Apa tidak bisa disini saja?" tanya Rey datar, memegang kepalanya dengan salah satu tangannya. Karena yang dirasakan Rey saat ini tidak menentu.


Dokter Yuki terdiam sebentar, melihat kondisi Rey yang sepertinya merasakan berat di kepalanya.


"Ehmmm baiklah tuan, kalau begitu anda bisa berbaring sebentar."

__ADS_1


"Yang benar saja harus berbaring, kepalaku rasanya sudah mau pecah ini."


"Maaf tuan memang seperti itu aturannya, lalu bagaimana..."


"Sudahlah cepat kau periksa jangan banyak bicara." potong Rey.


Membuat dokter muda itu bungkam, lalu melakukan tugasnya, menaruh tasnya dan membuka isinya, memasang stetoskop di telinganya untuk memeriksa detak jantung Rey.


"Bagaimana? sakit apa yang saya derita?" tanya Rey bangkit dari berbaring nya dengan kepala masih terasa berat.


"Kalau berdasarkan pemeriksaan saya tidak ada yang sakit dengan tubuh anda tuan?"


"Makanan apa hari ini yang anda makan tuan?" dokter Yuki nampak serius dengan pertanyaannya kali ini.


"Aku tidak bisa makan seharian ini,"


"Lalu sudah berapa hari anda mengalami hal semacam ini tuan?"


"Sudah hampir lima bulan penuh,"


"Tapi biasanya terjadi di pagi hari saja, siangnya sudah bisa beraktivitas sampai malam, jadi apa aku memiliki penyakit yang serius?"


"Apa anda sudah menikah tuan?"


"Aku sudah memiliki anak bahkan." ucap Rey lemah. Masih menahan sakit di kepalanya.


"Itu namanya Sindrom Cauvade, atau disebut kehamilan simpatik, istri anda yang hamil tapi anda yang kebagian mual dan pusing tuan."


Seketika Adit yang berada di belakang dokter Yuki menahan tawanya, "Hah anak anda memang benar-benar tahu cara menyiksa ayahnya tuan." dalam hati Adit ingin tertawa.


"Kau jangan sembarangan bicara, istriku sudah meninggal." ketus Rey memicingkan matanya ke arah dokter Yuki, yang seketika itu membuat dokter Yuki terdiam beberapa saat.


"Jadi penyakit apa yang aku derita ini?"


"Masalah kesehatan anda baik-baik saja tuan, lambung dan segala macam tidak ada masalah, baiklah akan saya resepkan obat pereda mual."


Tentu saja dalam hal ini Adit yang bisa menyambungkan kejadian demi kejadian. "Bahkan istri kecil anda tidak mengalami demikian tuan." batin Adit bermonolog, namun dirinya masih menyimak dua orang yang saling berdebat itu.


"Ini kebetulan saya membawa obat pereda mual dan pusing tuan, dan sisanya bisa anda menebusnya di apotik terdekat."


Dokter Yuki menyerahkan beberapa tablet obat diatas meja, lalu segera berpamitan keluar, Adit yang sejak tadi berdiri sebagai pendengar tentu saja mengantarnya hingga pintu keluar.


"Sebetulnya kehamilan apa tadi kata dokter?" tanya Adit setelah mereka berada diluar ruangan Rey.


"Jadi kehamilan simpatik ini sering terjadi tuan Adit, meskipun tidak semua suami mengalami hal demikian. Namun dalam beberapa kasus itu karena kuatnya ikatan emosional antara suami istri, sehingga suami bisa merasakan apa yang istrinya rasakan."

__ADS_1


"Seperti menanggung mual dan pusing saat istrinya hamil?" Adit menaikturunkan sebelah alisnya.


"Ehmm iya begitulah."


"Bagaimana kabarnya nona Vio tuan Adit?"


Dokter Yuki praktek di klinik terdekat, ketika Vio berusaha bunuh diri, dokter Yuki lah yang menangani sementara, sehingga sering bertemunya dokter Yuki dengan Vio membuat Adit ikut akrab juga dengannya.


Vio juga mengaku sebagai adik dari Adit, "Ehmmm baik."


"Baiklah titip salam buat nona Vio tuan, saya permisi dulu." ucap dokter Yuki sopan.


Adit hanya menganggukkan kepalanya saja, dan berbalik arah menuju ruangan Rey.


***


"Sepertinya tamu undangan sudah berkumpul tuan, apa anda sudah baikan?" tanya Adit yang sepertinya Rey lebih baik setelah meminum obatnya beberapa menit yang lalu.


"Ehmmm baiklah ayo." Rey bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar dengan Adit mengekor dibelakangnya.


"Selamat malam para tamu undangan, terimakasih atas waktunya sudah menyempatkan hadir di acara pesta kebun ini,"


"Mungkin ini hanya pesta kebun sederhana, dan untuk merayakan sebagai keberhasilan kita, yang menghasilkan buah anggur yang melimpah serta berkualitas tinggi, sehingga mampu menjadi bahan dasar minuman wine terbaik dam juga bahan kosmetik."


"Untuk ke depannya, semoga kerja keras kita dapat dikembangkan ke berbagai industri lainnya, dan dapat di perluas lagi."


Tak sedikit rekan bisnis Rey yang takjub melihatnya berada diatas podium, dengan wajah tampannya serta postur tubuhnya bagaikan model terkenal, tidak lupa juga wibawa yang dimiliki Rey mampu memikat siapa saja yang berhadapan dengannya. Baik kaum Hawa maupun kaum Adam.


Acara penyambutan berlangsung meriah, setelahnya hanya jamuan makan malam, dan berbincang-bincang dengan kolega bisnisnya.


"Anda memang pebisnis sejati tuan." para penjilat akan menampakkan mukanya dihadapan Rey, hal itu dapat tercium kala dirinya meraih kesuksesan.


"Tidak, saya hanya masih banyak perlu belajar."


"Ah anda sangat merendah tuan."


Rey hanya tersenyum tipis, yang bahkan jika tidak ditatap mukanya tidak akan terlihat.


"Silahkan dinikmati hidangannya,"


Tidak lupa juga berbagai minuman produksi dari kolega bisnisnya sebagai penyajian minuman utama di acara malam ini.


Seorang waiters datang dengan membawa sebuah nampan berisi gelas yang sudah ada isinya cairan merah. Nampaknya wine produksi terbaru dengan kualitas terbaik.


"Ini untuk anda tuan."

__ADS_1


"Ehmm..." jawab Rey hanya sebuah gumaman saja.


dan


__ADS_2