
Vio menggeliat dalam tidurnya, suhu tubuhnya semakin meninggi. "Mama..., mama...." rintihnya.
Rey yang terlelap dalam tidurnya terusik kala mendengarkan suara rintihan Vio. "Kau kenapa?" matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu. Tangannya terulur untuk menyentuh kening Vio yang ternyata masih belum menurun panasnya.
"Badanmu masih panas," Rey terbangun dari tidurnya dan memeriksa keadaan Vio.
Lama ia berfikir keras, akhirnya ia berinisiatif untuk membuka seluruh pakaian Vio dan juga dirinya. Rey kembali merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh polos Vio, untuk menurunkan suhu tubuhnya ia melakukan skin to skin.
"Jangan takut, disini ada aku." mencium puncak kepala Vio berulang-ulang.
"Jangan tinggalkan aku sendirian, aku takut." isaknya, tapi matanya masih terpejam.
Memegangi tangan Rey dengan kuat seolah takut ditinggalkan lagi.
🌷🌷🌷
.
.
"Dimana dia, kenapa akhir-akhir ini dia sering bepergian." Angel menggendong Chris yang terbangun ditengah malam.
"Tuan muda kenapa nyonya?" tanya suster Ana yang mengambil alih baby Chris dari gendongan Angel.
"Aku tak tahu, tadi dia tidur, tapi tiba-tiba saja terbangun dan menangis." paniknya mengambil ponsel diatas meja nakas dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Nyonya suhu tubuh tuan muda sedang naik." adu suster Ana kala dirinya sedang memeriksa keadaan baby Chris.
"Iya tapi suamiku tak bisa dihubungi, aku harus bagaimana sekarang?" Angel bingung untuk mengambil keputusan sendiri, pasalnya ini juga tengah malam. Lalu dirinya memencet tombol darurat untuk memanggil kepala pelayan.
"Suster Ana, tolong bantu aku, aku harus melakukan apa sekarang?"
"Sebaiknya anda tenanglah dulu nyonya, untuk masalah tuan muda biar aku saja yang menangani dengan pak Sun."
Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan teryata pak Sun memiliki respon yang sangat sigap dalam segala keadaan.
"Pak Sun, masuklah."
"Ada perlu apa nyonya, anda memanggil saya kemari?"
"Bisakah kamu hubungi suamiku, karena dia sangat sulit dihubungi."
Pasalnya nomor ponsel Rey sedang berada diluar jangkauan, jika dirinya sedang bersama dengan Vio, maka ponselnya akan ia nonaktifkan.
Aktif kembali jika dirinya sudah kembali ke rumah utama dan bersama dengan baby Chris serta Angel.
__ADS_1
"Baiklah nyonya, akan saya coba untuk menghubungi tuan." pak Sun mengangguk hormat dan pamit undur diri dari hadapan Angel.
"Suster Ana, kenapa tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak seperti ini?" Angel duduk di sofa tunggal, menaruh ponselnya di meja yang ada dihadapannya dan memejamkan matanya untuk menepis perasaanya yang rasanya tak menentu.
"Anda sedang mengkhawatirkan tuan besar nyonya, maka hal itu sangat wajar jika seorang istri mengkhawatirkan suaminya."
"Tidak suster Ana, aku merasa jika dia telah menyembunyikan sesuatu padaku." lirihnya sangat pelan.
"Apa yang anda cemaskan nyonya?"
"Bukankah tuan sedang pergi untuk perjalanan bisnis." suster Ana mengingatkan tujuan Rey tidak pulang kerumah. Karena tempo hari Angel sempat bercerita padanya.
"Ahh mungkin saja ia, dia tidak mengkhianati aku."
"Maksud anda nyonya?" tanya suster Ana kala dirinya sudah bisa menenangkan baby Chris dan menaruh kembali di ranjang bayi, lalu mengambil air hangat di wastafel yang bersetting otomatis panas dan dingin itu, untuk mengompres kening baby Chris.
"Kau tahu suster Ana, aku merasa jika suamiku telah memiliki idaman lain."
Suster Ana diam mendengarkan keluh kesah nyonya mudanya,"Apakah maksud anda jika tuan Rey memiliki perempuan lain nyonya?" tanyanya.
"Ehmmm iya tebakanmu benar."
"Ahh kalau itu aku tak yakin nyonya, karena anda dan juga tuan adalah saling menyayangi, apalagi ada baby Chris yang sangat ia impikan,"
"Seperti yang anda ceritakan." suster Ana menaruh kembali baskom dimeja dekat wastafel, kala dirinya selesai melakukan tugasnya merawat bayi mungil yang menggemaskan itu.
Suster Ana menganggukkan kepalanya pelan, dan menyuruh Angel untuk kembali beristirahat.
Meskipun sangat sulit Angel memejamkan matanya, namun ia masih berusaha untuk tetap bisa tidur. Karena ia menyusui sendiri bayinya.
"Aku harus kuat demi Chris."
"Kenapa nyonya tak ada kepikiran untuk menghubungi asisten Adit?" suster Ana berbicara pada dirinya sendiri.
Lalu dirinya berusaha mencari-cari kontak Adit. Ia tahu karena waktu itu keadaan darurat, sehingga suster Ana perlu menghubungi Adit untuk membantu baby Chris membawa ke rumah sakit kala dirinya tak berani menghubungi tuan Rey secara langsung.
"Asisten sialan, tak bisa dihubungi juga lagi, awas saja nanti." suster Ana menggenggam ponselnya kembali dan mencoba untuk mengiriminya pesan.
"Dimana tuan Rey, bilang padanya jika tuan muda sedang sakit." dalam chat nya dia kirimkan pada asisten Adit.
"Hah..., sudahlah lebih baik besuk pagi saja aku akan menghubunginya kembali,"
"Sekarang mungkin dia sedang sibuk." suster Ana juga merasa khawatir dengan nyonya mudanya ini, sehingga diam-diam berinisiatif untuk menghubungi Adit sendiri.
Pagi hari, Angel begitu bangun langsung turun ke lantai dasar untuk menemui pak Sun untuk menanyakan kabar tentang suaminya.
__ADS_1
"Apa kalian melihat pak Sun?" tanya nya ketika sedang berpapasan dengan pelayang dirumahnya yang sedang menyapu.
"Pak Sun sedang berada di belakang nyonya."
Tanpa membalas asisten rumah tangganya itu, Angel berjalan setengah berlari untuk berhadapan dengan pak Sun.
"Pak Sun, pak Sun...., kemarilah."
"Baik nyonya..." berjalan tergesa menghampiri Angel.
"Bagaimana, apa sudah bisa menghubungi suamiku?" tanyanya langsung tanpa basa basi.
"Maafkan saya nyonya, tuan masih belum bisa saya hubungi hingga tadi pagi."
"Pak Sun ini bagaimana sih, bukankah pak Sun ini sangat tahu dia ada dimana dan sedang melakukan apa saja,"
"Kenapa hanya menghubungi dia saja tak bisa." teriaknya hingga terdengar oleh pelayan lain yang sedang mengerjakan tugasnya.
Pak Sun hanya diam saja mendapatkan amukan bertubi-tubi dari Angel. "Aku tunggu sampai siang jika pak Sun masih belum bisa menghubungi Rey, sebaiknya pak Sun keluar saja dan ambil pesangonmu."
"Maafkan saya nyonya, jangan pecat saya, saya akan berusaha sebaik mungkin," pak Sun bersujud di kaki Angel yang matanya berkilat amarah, akibat Rey yang sulit dihubungi bahkan dalam keadaan darurat sekali pun.
Angel yang melihatnya, ia merasa kasian juga kesal, dirinya juga bukan tipe wanita yang sangat kejam, tapi jika sudah berkabut amarah, maka apa pun bisa ia lakukan.
"Nyonya... tuan muda panasnya sudah turun." suster Ana menggendong baby Chris dan menghampiri Angel yang sedang memarahi pak Sun.
"Benarkah..., coba sini aku lihat." Angel mendekat tangannya terulur meraba kening baby Chris.
"Syukurlah nak, kamu sudah sembuh.."
Suster Ana yang mengetahui situasi tidak baik-baik saja dengan segera membawa Angel masuk kembali ke dalam rumah.
"Nyonya tunggu dulu." langkahnya ditahan oleh pak Sun.
"Apa lagi?"
"Anda tak jadi memecat saya kan?" memastikan kembali akan nasibnya.
"Tidak, asal kau bisa mengerjakan tugasmu dengan benar."
Sementara di tempat lain Vio dan juga Rey masih saja saling berpelukan, waktu dini hari Vio meminta agar selang infusnya dilepaskan, dan itu memerlukan tenaga dokter, sehingga Rey meminta dokter pribadinya menuruti apa kata Vio.
Hah itulah yang menyebabkan mereka bangun kesiangan dan masih terlelap di alam mimpinya.
dan
__ADS_1
bersambung