WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Vio yang Malang


__ADS_3

Adit sudah mondar mandir di dalam ruangan kerja tuan Rey yang luas itu. Dirinya berpikir bagaimana cara menyampaikan pada tuannya agar tak sampai murka mendengar hal ini.


Ckelek...


Suara pintu ruangan terbuka, tuan Rey melangkahkan kakinya mendekati di mana Adit berdiri di sana. Adit yang di tatap penuh dengan tanda tanya itu sudah mengerti apa maksud tuannya.


"Ehmm tuan, anda duduklah dulu."


Adit lebih dulu memposisikan tubuhnya di sofa tunggal yang berada di dalam ruangan itu.


"Katakan."


Tuan Rey menajamkan pandangannya pada Adit, dalam keadaan seperti ini dirinya sudah menduga jika ada hal yang tidak beres.


"Tuan ini gawat, saya tak bisa bertindak tanpa ijin dari anda."


Tuan Rey menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan penjelasan apa yang mau di sampaikan dari mulut Adit.


"Nona Vio sedang dalam masalah tuan."


"Saat ini nona Vio pergi ke kampung halamannya karena panggilan dari saudara ibunya, jika rumahnya akan di jual dan membutuhkan tanda tangan darinya."


"Tapi masalahnya nona Vio kekeh jika rumah orang tuanya tak boleh di jual."


"Hal itu membuat dirinya dalam masalah tuan."


"Katakan pada intinya." Seketika itu buku kuduk Adit terasa merinding mendengarkan kemurkaan tuannya, matanya berkilat tajam, giginya terdengar gemlutuk dan kedua tangannya mengepal menandakan amarah menguasai dirinya.


"Nona Vio sedang di sekap."


Seketika bogem mentah melayang pada wajah Adit, hingga Adit yang tidak siap terpental di kursi sofa. Wajahnya setengah tak berbentuk lagi.


"Kamu memang tidak bisa di andalkan brengsek."


"Tuan tolong hentikan ini, anda bisa membunuhku." Teriak Adit wajahnya rasanya sampai kebas. Teriakan ke tiga kalinya baru ia hentikan.


Tuan Rey berlari keluar, mencari dimana letak kunci mobil berada dan menghubungi teman keponakannya.


"Tuan tunggu dulu, aku akan menyetir mobilnya," namun tuan Rey sama sekali tak mengindahkan suara Adit. Dirinya sudah tidak mempedulikan apa pun dalam ke adaan ini.


Di dalam ruangan kerja tuan Rey termasuk salah satu ruangan yang kedap suara. Sehingga berteriak sekencang apa pun di sana juga tak akan ada orang yang mendengarkan.


"Dev tolong lacak nomor ini." Dalam sambungan telepon kepada teman keponakannya itu.


Baru saja dirinya mengendari mobilnya beberapa kilo meter. Terdengar panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya, tapi ia tak menghiraukannya.

__ADS_1


Adit yang mengejar mobil tuan Rey sudah kehilangan jejaknya beberapa kilometer.


"Tolonglah tuan angkat teleponku, anda tak bisa menghadapi ini sendirian." Suara lirih Adit.


Tuan Rey yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata sudah tak menghiraukan apa pun, hingga ponselnya berbunyi, dan dirinya melihat nama yang ada di dalam layar ponsel itu. Ternyata Dev teman keponakannya.


"Hallo paman, lokasi nona Vio berada di gudang bekas yang beralamatkan jalan X."


"Baiklah terimakasih."


Sambungan telepon dimatikan sepihak, dirinya sudah pernah melintasi jalan yang di maksud Dev tadi, jalan yang sepi dan menuju hutan.


Dirinya menambahkan kecepatan laju mobilnya, beberapa kali orang yang berpapasan dengannya bahkan mengumpatinya.


Tujuannya hanya satu. Membawa Vio dalam keadaan selamat . Bisa gila dirinya jika terjadi sesuatu dengan Vio.


Walaupun Vio tidak menurut padanya, juga hal ini tidak ia inginkan.


Perjalanannya bahkan ia tempuh sekitar dua jam, lumayan jauh jika ia menempuh dengan kecepatan di atas rata-rata. Gedung tua sudah terlihat dari pandangan matanya.


Di sana terlihat sepi dan juga seperti tak ada tanda-tanda kehidupan, namun kakinya membawa langkahnya masuk dengan perlahan. Hingga dirinya mendengarkan suara teriakan pilu Vio.


"Ahhh sakit, sakit." Itulah suara pertama yang ia dengarkan di telinganya. Kemurkaannya semakin bertambah mendengarkan suara pilu Vio.


Suara penjaga yang dipukul olehnya menggunakan kayu yang ia temukan di dekat gedung tua itu, bahkan dirinya ketika pergi kesana tak membawa senjata apa pun.


"Suara apa itu." Ibunya Mia menoleh, dan memberikan perintah pada preman suruhannya.


"Di sini tak ada siapa pun sayang, jika kau tak menurut maka lebih baik kau mati saja." Ibunya Mia sudah kehilangan akal sehatnya, ia akan membunuh Vio dengan tangannya sendiri dan sebelum melakukan itu, melakukan penyiksaan beberapa kali sayatan di wajahnya, dan bagian lengan.


Seketika bau darah segar tercium anyir, dan Vio menangis dengan histeris tak berdaya menghadapi ini sendirian.


"Rasakan ini, sebentar lagi kamu akan pergi ke neraka." Tangannya sudah mengarahkan pisau ke arah tubuh Vio.


Namun belum sempat pisau itu menancap di tubuh Vio, dirinya lebih dulu di pukul bagian pundaknya hingga tubuhnya oleng dan pisaunya terlempar entah kemana.


Vio tidak bisa melihat apa yang terjadi karena matanya di tutup, tetapi ia bisa mendengarkan suara siapa yang melakukan ini padanya.


"Mama, papa sakit...."


Suara tangi pilu Vio terdengar nyaring, tuan Rey yang melihatnya mendekat dan menggendongnya. Bahkan saat dirinya memasuki ruangan dimana Vio berada sempat mengalahkan preman-preman itu.


Mungkin saking murkanya hingga ketakutan tak ada lagi dalam dirinya, yang ada hanya kemurkaan ingin segera menghabisi seluruh orang, siapa saja yang terlibat dalam hal ini.


Sesaat dirinya akan terkena pukulan dari preman yang keluar dari ruangan dimana tempat Vio di siksa, tetapi Adit datang dengan senjatanya dan menghujani mereka dengan tembakan brutal.

__ADS_1


Saat ini Vio sudah dalam dekapan tuan Rey, ketika membuka ikatan matanya Vio sudah lebih pingsan karena shock.


"Cepat, ayo cepatlah." Tuan Rey tubuhnya gemetaran melihat keadaan Vio seperti ini.


"Bertahanlah sayang, bertahanlah, kau harus membuka matamu."


"Vio kau tak boleh memejamkan matamu."


Tuan Rey yang saat ini memeluk tubuh Vio di dalam mobilnya yang di kemudikan oleh Adit, wajahnya diliputi kepanikan yang luar biasa.


"Adit kau cepatlah, apa kau tak bisa menyetir dengan benar." Teriaknya terdengar arogan.


"Anda bersabarlah tuan, saya akan berhenti di rumah sakit terdekat."


Nafas Vio mulai memburu seperti kehabisan oksigen, tetapi belum ada satupun rumah sakit atau bahkan klinik yang bisa mereka jumpai.


"Vio jangan seperti ini Vio, bangunlah kau tak boleh meninggalkanku."


"Katanya kau akan jalan-jalan keliling dunia, bahkan aku belum mengabulkan permintaanmu."


Beberapa kali tuan Rey mengguncang tubuh Vio, namun nafas Vio sangat berat. Hingga terlihat klinik kecil.


Adit membelokkan mobilnya dan membantu membukakan pintu. "Suster tolong sus, pasien gawat darurat."


Tuan Rey yang merupakan mantan ketua mavia itu membereskan sisa-sisa kejadian ini dengan bersih tanpa campur tangan kepolisian.


Adit yang menjadi tangan kanannya sudah menyuruh orang-orangnya lebih dulu. Ia tahu apa harus dilakukan untuk tuannya.


"Sus tolong istriku sus, selamatkan dia." Vio di bawa masuk di ruangan pasien gawat darurat.


"Anda tunggu diluar tuan,"


Tuan Rey mendudukkan tubuhnya di depan ruangan Vio di tangani, " Tangani masalah ini dengan cepat."


"Aku mau semua orang yang berhubungan dengan rencana pembunuhan ini harus mendapatkan hukuman setimpal."


"Dan bawa mereka ke hadapanku."


Matanya menajam, menandakan penuh kemurkaan dan apa yang keluar dari mulutnya adalah sebuah titah yang tak bisa di bantah.


Adit sebelum diminta sudah bergerak lebih dulu membereskan hal ini.


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2