
Hari ini adalah jadwal periksa Angel ke dokter kandungan. Angel sudah berganti baju dam bersiap. Tinggal menunggu suaminya selesai bersiap.
Tuan Rey keluar dari ruangan walk in closet dengan pakaian yang sudah rapi. Setelah mengantarkan istrinya periksa nanti dirinya akan lanjut ke kantor.
"Sudah ayo."
Angel bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah suaminya.
Tangannya ia tautkan di lengan suaminya yang kokoh itu. Hati dan perasaannya deg-degan, bagaimana tidak sebentar lagi akan bertemu dengan anak mereka.
Hingga memasuki sebuah ruangan dokter Angel tak henti-hentinya tersenyum manis. Tadi sebelum datang kemari sudah membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit ini. Sehingga ia dan suaminya tak perlu menunggu lama.
"Silahkan tuan, nyonya."
Dokter itu mempersilahkan Angel berbaring di brankar dan suster membuka baju istrinya mengoleskan gel untuk melakukan usg.
"Wahh bayinya sangat aktif nyonya, calon jagoan dan semua perkembangannya terlihat normal."
Ini adalah yang dinanti-nanti tuan Rey sejak lama, selama pernikahan mereka. Perasaan bahagia tuan Rey tak bisa digambarkan bagaiamana saat ini.
Dirinya menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
"Kira-kira berapa lama lagi dok kami bisa bertemu dengan calon anak kami?"
"Kalau di lihat dari usia kandungan nyonya, ini tidak sampai satu bulan, karena posisi bayinya juga sudah turun."
Tuan Rey mengangguk mengerti, lalu dokter memberikan resep vitamin untuk menebusnya di apotik terdekat.
Mereka berjalan keluar setelah tuan Rey menyuruh Angel duduk di kursi tunggu dan dirinya yang mengantri untuk menebus vitamin atas saran dokter tadi.
"Apa setelah ini kamu akan pergi ke kantor."
"Iya, kau akan ikut bersamaku." Jawab tuan Rey kembali datar setelah keluar dari ruangan itu.
Angel sudah biasa menghadapi hal itu. Sehingga tidak terlalu memikirkan hal ini.
Seluruh karyawan kantor menoleh pada perempuan yang berada di samping tuan Rey, bagaimana tidak, selama ini yang mereka tahu tuan Rey adalah lelaki yang singel dan mapan, hanya orang-orang tertentu saja yanhg mengetahui jika tuan Rey pria yang sudah beristri, termasuk Mia yang duduk dimeja sekretaris.
"Selamat pagi tuan, apa ada yang anda butuhkan?"
"Tidak terimakasih."
Mia yang merasa di cuekin merasa harga dirinya di rendahkan, awas saja nanti dia akan menaklukan tuan Rey apa pun dan bagaimana pun caranya, tak peduli sekali pun tuan Rey sudah memiliki istri atau belum.
Mia kembali duduk di meja sekretaris dengan perasaan kesal tak menentu, melihat suami istri yang baru saja lewat di depannya.
"Duduklah, aku akan ada rapat sebentar, kau bisa mengelilingi ruangan ini atau baca-baca buku jika bosan." Perintahnya pada Angel.
"Jika menginginkan sesuatu, kau bisa meminta pada ob yang letak ruangannya berada di ujung sana."
__ADS_1
"Ehmm iya aku mengerti."
"Kamu bisa meneruskan pekerjaanmu kembali."
Tuan Rey melepas jasnya, dan meletakkan di senderan kursi kebesarannya, lalu mencium kening Angel sekilas dan keluar dari ruangannya.
"Aku tak akan lama," kata tuan Rey datar.
Dirinya berjalan keluar, wajahnya terlihat dingin dan kaku, seperti biasa dalam keadaan apa pun dirinya akan kelihatan tampan dan berwibawa. Hal seperti inilah yang disukai dari wanita, rata-rata wanita menyukai laki-laki berwajah dingin. Karena menurut mereka itu malah membuatnya penasaran dan ingin memilikinya.
Rapat masih kurang satu jam dimulai, namun dirinya mengawali memasuki ruangan itu hanya untuk menghubungi Adit untuk menanyakan bagaimana kabar Vio.
Tuuuttt...
Suara sambungan telepon yang belum diangkat dari balik panggilannya, setelah panggilan ke tiga kali barulah diangkat Adit.
"Iya tuan, apa ada yang anda perlukan?"
"Bagaimana perjalananmu hari ini, apakah Vio menyulitkanmu?"
"Saya rasa tidak tuan, karena di dampingi dokter dari klinik kemaren."
"Hemm jika Vio membutuhkan sesuatu, kabari aku."
"Dan...jangan lupa apapum perkembangannya nanti kabari aku."
Oh Tuhan, bahkan mereka belum berangkat tetapi tuan Rey sudah menanyakan ini dan itu, jika Angel bukan dalam keadaan hamil besar dan sebentar lagi melahirkan, mungkin dirinya tak akan mau menemani Vio ke negeri orang.
"Baiklah ingat pesanku tadi." Sambungan telepon dimatikan sepihak setelah dirinya berbicara panjang lebar, sungguh tidak adil, bahkan tuan Rey tak membiarkan Adit melayangkan protesnya.
Setelah sambungan telepon dimatikan sepihak, lalu dirinya melangsungkan rapatnya, di sana para stafnya sudah bersiap rapat membahas produk baru mereka.
Tinggal diluncurkan saja, dan pengambilan gambar mengenai model juga sudah siap setelah di desain sedemikian rupa.
"Permisi tuan, apa rapatnya sudah bisa dimulai?"
Tuan Rey mengangguk setuju, dengan matanya masih tak mengalihkan pandangannya pada ponselnya, lalu dirinya duduk memposisikan tubuhnya di kursi pemimpin.
"Bagian desain sampul silahkan presentasi lebih dulu."
Mereka melakukan sesuai instruksi tuan Rey, yang mendapatkan bagian awal presentasi adalah desain finishing.
Tentu saja akan menampakkan wajah foto model itu, tuan Rey masih belum menyadari siapa foto yang dipajang di sampul produk mereka.
Karena dirinya masih sibuk berbalas pesan di ponselnya, dirinya hanya mengangguk setuju saja. Tetapi di akhir presentasi itu tuan Rey baru mendongak menatap layar lebar di sana. Betapa terkejutnya dirinya jika yang menjadi model produknya adalah Vio dengan pakaian terbuka.
"Sebentar, apa itu modelnya?" Tanyanya menunjuk layar lebar itu.
"Iya tuan, tadi saya sudah menjelaskan dan anda menyetujuinya."
__ADS_1
"Ganti modelnya."
Sontak saja hal itu membuat orang-orang disana terkejut, proyek kerjasama ini tinggal sebentar lagi, bagaimana mungkin di ganti dalam waktu dekat, sementara proses finishing desain produk sudah di lakukan, dan tanggal peluncuran produk juga sudah ditentukan.
Logikanya jika mereka mengganti modelnya, maka akan menyita waktu tenaga dan pikiran.
"Tapi tuan, waktu peluncuran produk tinggal dua hari lagi."
"Aku tak peduli, dan tak suka dibantah."
Hal itu membuat seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu panik.
"Siapa yang memilih model itu?"
"Ehmm saya sendiri tuan." Jawab staf bagian desain sampul produk.
"Kenapa alasanmu memilih model ini?"
Sempat bingung dengan pertanyaan yang lontarkan tuan Rey, namun dengan cepat staf bagian desain sampul ini bisa mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Karena dia adalah temannya teman saya tuan."
Tidak ada yang berani membantah, tetapi ini sudah tahap pencetakan beberapa produk sebagai contoh.
Dengan berat hati rapat ini berganti haluan, dan mereka harus mencari model dadakan.
Setelah keluar dari ruangan rapat itu. Karyawan bagian penanganan produksi juga bingung, pasalnya sudah beberapa ratus produk yang sudah mereka cetak sebagai contohnya itu.
"Bagaimana ini."
"Kita cari saja dulu, kamu bertindak cepatlah cari model baru."
Akhirnya mereka kelabakan, karena waktunya sudah sangat mepet.
"Apa kita menelpon tuan Adit saja ya untuk meminta sarannya."
"Kenapa kamu tak bilang dari tadi."
"Ayo sekarang kamu hubungi dia."
"Iya sabarlah."
Tuttt....
"Bagaimana apa sudah tersambung."
dan
Bersambung
__ADS_1