WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Jadwal Periksa Angel


__ADS_3

Sudah satu jam lamanya Adit dan juga Rey menunggu di depan ruangan dimana Vio di rawat. Tetapi masih belum ada tanda-tanda dokter akan keluar dari sana.


Tuan Rey berjalan mondar mandir diliputi kepanikan yang luar biasa. Hal-hal yang tak di inginkan telah bersarang di dalam pikirannya.


Adit yang melihatnya tentu saja ikut pusing melihatnya. "Anda duduklah tuan." Tetapi suara Adit sama sekali tak di indahkan oleh tuan Rey.


Tadi Adit sempat meninggalkan tuan Rey sebentar untuk membeli minum dirinya dan juga tuan Rey.


Selama dokter masih belum keluar dari ruangannya, suasana tegang masih menyelimuti mereka.


Terutama Adit, dirinya akan terkena semburannya jika sedikit saja salah bicara.


Beberapa menit kemudian dokter membuka pintu ruangan itu dan keluar dari sana di ikuti oleh dua suster.


Walaupun klinik ini tidak terlalu besar tetapi memiliki fasilitas yang memadai dan penanganan yang bagus.


Tuan Rey menoleh berjalan cepat ke arah dokter untuk menanyakan kabar Vio.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya dok?"


"Keadaan istri anda mengalami shock berat, banyak luka di seluruh tubuhnya, istri anda akan kehabisan darah jika sedikit saja tidak segera di tangani."


Tuan Rey tubuhnya menegang, jantungnya berdetak kencang, mulutnya terkatup rapat, tak bisa berkata-kata lagi mengenai hal ini.


"Tetapi anda tenang saja tuan,"


" Lukanya sudah di beri antibiotik, agar bakterinya tidak menyebar, namun karena banyak sayatan hampir di seluruh tubuhnya, maka saya sarankan anda membawanya ke dokter kulit ahli sejak dini, agar tak meninggalkan luka yang serius di kulit istri anda."


Tuan Rey mengangguk mengerti dan segera memberikan perintah untuk Adit agar segera membuat jadwal penerbangannya menuju Korea.


Saat ini dirinya berada di dalam ruang perawatan Vio, ia bisa melihat bagaimana penderitaan Vio.


Ceklek pintu ruangan terbuka dari luar, tuan Rey menanyakan jadwal yang di tentukan Adit untuk mengantarkan Vio ke Korea. Tetapi sedikit pun tak mengalihkan pandangannya dari Vio.


"Sementara waktu aku akan menemaninya sampai pulih."


"Jangan menganggu waktuku jika itu tidak perlu."


"Tetapi bagaimana dengan nyonya Angel tuan, aku rasa dia lebih membutuhkan anda, karena di sana ada calon anak anda." Adit.


"Untuk masalah nona Vio, anda bisa mempercayakan saya yang mengurusnya sementara waktu, sampai nyonya Angel melahirkan."


Tuan Rey terdiam sejenak, memikirkan keputusan selanjutnya, jika dipikir-pikir juga ada benarnya apa yang di sampaikan oleh Adit.


Tidak mungkin saat persalinan nanti Adit yang menemani. Akhirnya keputusan final ia sampaikan pada Adit.


"Baiklah, kabari aku jika ada hal yang mendesak."


"Jika nona Vio sudah sadar, makan bisa di terbangkan ke Korea secepatnya tuan."


Tuan Rey mengangguk mengerti sebagai jawabannya, tangan memegang salah satu tangan Vio yang tidak terkena selang infus.


***


.


.


Sementara itu di rumah mewah, Angel tidak bisa memejamkan matanya, dirinya membolak balikkan tubuhnya miring ke sana kemari, tadi pamit suaminya itu mau pergi ke ruang kerja sebentar.


tetapi hingga waktu dini hari bahkan masih belum kembali. Dirinya bangkit dari tidurnya, berjalan ke bawah, di sana terlihat sepi. Lalu Angel mengambil air minum di lemari pendingin yang berada di dapur, tetapi dirinya di kejutkan oleh kepala pelayan di rumah itu.

__ADS_1


"Anda belum tidur nyonya?" Tanya pak Sun dari arah belakang.


"Ehh kau mengagetkanku," Angel memegangi dadanya.


"Apa ada yang anda butuhkan nyonya, jika iya saya bisa membangunkan pelayan."


"Tidak, tidak...aku bisa melakukannya sendiri, ehmmm itu aku mau menanyakan apa tuan Rey masih sibuk?" Tanya Angel ragu-ragu.


Pak Sun yang tidak tahu menahu soal hal itu bingung harus menjelaskan apa pada Angel, karena yang ia tahu tadi keluar dari ruang kerjanya dan berlari keluar dengan wajah tak bersahabat.


"Saya rasa anda tidur dulu nyonya, karena tuan Rey sudah terbiasa kerja dengan sangat larut seperti ini jika sedang berada di sini."


"Baiklah," Angel pergi meninggalkan ruangan meja makan itu dan berlalu dari sana menuju ke kamarnya.


"Apa setiap hari dirinya akan kerja hingga lupa waktu seperti ini jika di di sini."


"Bahkan aku tidak begitu mengetahuinya apa saja aktifitasnya sehari-hari dan hobinya apa." Gumam Angel pelan sambil membuka pintu kamarnya, dan kembali merebahkan tubuhnya di sana.


Saat ini Angel tidak mau berfikiran macam-macam soal suaminya bagaimana. Ia hanya mau fokus dulu dengan kandungannya yang sebentar lagi akan melahirkan.


Hanya tinggal satu bulan lagi kemungkinan dirinya akan melahirkan putra pertamanya.


Hingga larut dalam pikirannya hingga tertidur sampai esuk hari, pagi harinya ia berharap saat membuka matanya orang yang pertama ia lihat adalah suami tampannya.


Tetapi ternyata itu adalah bayangannya saja, nyatanya suaminya ini tidak berada di sampingnya. Hal itu membuatnya kecewa dan tak bersemangat.


Dirinya bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sejak kemaren ia datang kerumah ini, belum sempat melihat-lihat seluruh rumah ini dan halamannya, Angel menghibur dirinya sendiri, turun ke bawah di sana sudah ada dokter Rica yang duduk minum air putih sambil mengamati ponselnya.


"Dokter Rica, bangun jam berapa?" Sapa Angel ramah.


"Ehmm iya seperti yang kamu lihat."


Seluruh pelayan di rumah ini sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Pagi ini sepertinya Angel akan melewati sarapan paginya hanya bersama dengan dokter Rica saja.


"Tidak usah terlalu formal seperti itu."


"Anggap saja aku temanmu."


"Ehmm iya nyonya, " jawab dokter Rica masih kaku.


"Apa semalam tidurmu nyenyak?"


"Ehmm iya nyonya, karena seluruh badanku sangat capek."


"Benarkah, apa perlu aku bilang ke suamiku agar mencarikan tukang spa."


"Ti...tidak tidak nyonya, sekarang sudah tidak capek lagi karena sudah tidur semalaman."


"Tak apa, aku juga akan pijat nanti,"


"Nanti iya menunggu suamiku pulang dulu."


Dokter Rica jadi mikir, kemana perginya tuan Rey, padahal mereka nyampai di rumah ini sekitar sore menjelang malam hari, dan ini masih pagi, apa iya pergi sepagi ini.


"Ehmm memangnya suami nyonya pergi kemana?" Tanya dokter Rica mengumpulkan keberaniannya bertanya pada Angel.


"Ehmmm dia masih ada perlu."

__ADS_1


Jawab Angel menjadi gelagapan sendiri. Tetapi belum juga Angel menyelesaikan kalimatnya tuan Rey sudah tiba-tiba muncul dengan memakai kaos.


Tadi sewaktu di rumah sakit, Adit menyarankan tuan Rey pulang, tetapi sebelum pulang Adit membelikannya satu steel baju ganti yang ia belikan di toko terdekat Klinik itu.


Agar baju yang penuh darah yang menempel pada tubuhnya tak membuat Angel bertanya-tanya, padahal dirinya tidak kepikiran sampai di situ.


Soal urusan Vio, biar Adit yang mengurusnya. Vio masih setia memejamkan matanya dan hidungnya menggunakan selang oksigen.


Dengan adanya perdebatan sengit, akhirnya tuan Rey menuruti perkataan Adit juga.


Pulang ke rumah lebih dulu agar jika Angel mencarinya saat ini tak menimbulkan curiga pada Angel. Karena Adit tau ada yang harus dijaga selain perasaan Angel, yaitu keselamatan buah hatinya.


"Ehhh sayang kamu."


"Ehmmm iya,"


"Sini kemarilah."


Hal itu malah membuat dokter Rica merasa canggung dengan situasi seperti ini, melihat suami istri yang berciuman mesra di depannya.


"Semalam kamu pergi kemana?" Tanya Angel.


"Aku ada perlu," Jawab tuan Rey singkat, lalu mendudukkan tubuhnya di sebelah Angel.


"Ehmmm bibik, bisa menyiapkan sarapan paginya sekarang iya."


"Baik nyonya."


Dirumah yang sama, dan di tempat yang sama, asisten rumah tangga ini melayani nyonya mereka yang berbeda, akan terasa sangat aneh.


Biasanya yang ia layani adalah nyonya Vio, dan sekarang nyonya yang lain, mbok Yem yang sering berbincang dengan Vio jadi merindukan nyonya Vio.


Dirinya yang merasa kehilangan. Dalam hati ia selalu berdoa agar tuan Rey di satukan kembali oleh dengan nyonya Vio.


Terdengar kejam, walaupun ia tahu jika nyonya Vio adalah istri simpanan tuan Rey.


Tetapi ia sudah merasa cocok dengan nyonya Vio yang suka berbagi dengan pelayan di rumah ini dan sikap baiknya tak mudah di lupakan.


Makanan sudah terhidang dengan sempurna di atas meja. Angel melayani suaminya mengambilkan makanan.


"Nanti jadwalmu periksa kandungan."


"Aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat sini,"


"Dokter Rica akan ikut bersama kita?" Tanya Angel.


"Dokter Rica bisa istirahat di rumah dulu."


"Baiklah."


"Habiskan makananmu." Perintahnya pada Angel datar.


Lalu mereka makan dalam diam, tak ada lagi pembicaraan di antara suami istri ini. Dokter Rica melirik sekilas lalu berucap dalam hati.


"Mereka ini suami istri, tetapi kenapa terasa sangat kaku, seperti bukan suami istri saja."


Sesekali dokter Rica melirik ke arah mereka, dan bertanya-tanya dalam hatinya.


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2