WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Pencarian


__ADS_3

"Kamu tak pernah memakai pengaman."


"Bagaimana jika benihmu tumbuh disana?" pancing Vio.


"Aku belum ingin memiliki anak lagi,"


Bagai petir di siang bolong Vio yang mendengarnya, dia merasa terpukul dengan jawaban Rey baru saja. Pasalnya setiap pernikahan pasti mengharapkan keturunan, tetapi pernikahan ini hanya pernikahan jebakan. Batin Vio.


"Benarkah apa dugaanku, jika aku tak memiliki arti di matamu."


"Aku hanyalah pelampiasan nafsumi saja."


Vio jadi semakin yakin dengan spekulasinya sendiri, jika ia hanyalah menjadi pelacur pribadi Rey yang berkedok istri simpanan.


"Karena Chris masih kecil,"


"Aku masih perlu mengurusnya dengan baik."


"Hemmm." Vio hanya menjawab dengan gumaman saja.


🌷🌷🌷


.


Sejak percakapan malam itu Rey kembali pulang ke Bali, menemani Angel dan mengurus usahanya, bahkan ini sudah sembilan bulan berlalu.


Tak ada yang Vio lakukan, ia hanya berkebun dan juga merawat hewan ternak kesayangannya.


Muisa kucing kesayangannya yang selalu ia bawa kemana saja.


"Mbok Inah tau Muisa perginya kemana?" tadi lari ke belakang non."


"Kebelakang?" Vio membeo.


"Iya non."


"Baiklah terimakasih mbok."


"Iya non sama-sama." membungkuk hormat.


Vio berlari ke arah pintu belakang mencari kucingnya yang hilang tadi.


Kucing yang ia kejar semakin menjauh dari jangkauannya, Vio mendekat sedikit demi sedikit. Namun rupanya ia sudah berjalan terlalu jauh dari villanya.


Hari yang tadinya cerah berubah menjadi semakin gelap, mendung pun tiba, sebentar lagi hujan akan mengguyur.


Tapi langkah Vio terus mengejar kucing berwarna orange yang memiliki bulu sangat lebat itu.


"Oh Tuhan, sebentar lagi akan turun hujan."


"Kena kamu." ketika ia bisa menangkap kucingnya, posisinya sudah berada jauh dari villanya. Vio berniat jalan untuk kembali.


"Kemana jalan pulangnya."


"Kenapa aku bisa lupa."


"Hah hujan."

__ADS_1


"Mana gelap begini lagi."


"Bagaimana jika ada hewan liar menghampiri kita." paniknya berbicara dengan Muisa.


Hujan pun turun dengan lebat, petir yang bersahut-sahutan membuat Vio takut dan mencari perlindungan dibawah pohon, langit yang semula cerah berubah menjadi gelap akibat mendung yang menyelimutinya.


"Mama papa, Vio takut." Vio memejamkan matanya dengan memeluk kucingnya.


Ia mendekap erat Muisa. seluruh bajunya sudah basah kuyup.


Hujan turun membuatnya kedingingan, bibirnya memucat dan tangannya menggigil, dibarengi air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


Vio berteduh dibawah pohon yang rindang, walaupun pohon itu mampu melindungi dirinya tapi tetap saja basah seluruh pakaian yang ia kenakan. Tak ada yang Vio pikirkan selain menyelamatkan Muisa.


🌷🌷🌷


Rey baru saja bertemu dengan klienya di sebuah cafe, perasaan tidak enak tiba-tiba saja melanda hatinya.


"Hallo..."


"Mana Vio?" tanya Rey dalam sebuah panggilan pada mbok Inah asisten rumah tangga di villa baru yang dihadiahkan pada Vio. Karena sebelum menghubungi telepon rumah, Rey lebih dulu menghubungi di nomor ponsel Vio, tetapi sudah beberapakali tidak tersambung.


"Maaf tuan, itu anu."


Mbok Inah bahkan bingung harus menjawab apa, antara takut dan kawatir bercampur menjadi satu.


"Katakan dengan benar dimana Vio?" bentaknya sudah tak sabaran.


Adit yang mengamati tuannya sedang tidak sabaran jadi ikut mengumpati dirinya.


"Nona Vio belum kembali tuan, seluruh penjaga sedang mencari keberadaanya." mbok Inah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan yang sebenarnya dari pada menyembunyikan sesuatu yang bisa berakibat fatal.


"Apa yang terjadi tuan?" tanya Adit dengan tenang.


"Siapkan helikopter sekarang juga."


"Apa tidak salah tuan, ini masih ada jadwal makan malam dengan klien nanti."


Rey memicingkan matanya ke arah Adit, mengisyaratkan jika ia tak mau dibantah dan harus di ikuti kemauannya.


"Baiklah tuan." ucap Adit akhirnya.


Sepanjang perjalanan menuju kantornya Adit hanya terdiam sesekali melirik Rey, ia bisa melihat jika Rey sedang mengkhawatirkan sesuatu. Tapi Adit hanya bertanya-tanya saja dalam hati.


"Helikopter sudah mendarat di rooftop tuan,"


"Siapkan barang-barang yang perlu ku bawa ke pulau X."


Adit yang saat ini sudah berjalan membututi Rey menuju atap kantornya, lebih dulu memasuki ruangan Rey untuk menyiapkan keperluan apa saja yang perlu dibawa Rey.


"Kenapa kau lama sekali, apa kamu tak tahu jika waktuku sudah habis terbuang sia-sia karena menunggumu." geramnya.


"Ini tuan, silahkan anda periksa lagi,"


Adit menyerahkan sebuah tas ditangannya kepada Rey, tanpa ada sepatah jawaban, Rey berbalik memasuki sebuah helikopter yang sudah menunggunya beberapa menit yang lalu.


"Oh Tuhan, ada apa dengan nona Vio."

__ADS_1


"Kenapa kau masih berdiri disitu?"


Adit berpikir jika dirinya tidak ikut, padahal tadi sudah bernafas lega dari cengkraman Rey. Tapi diluar dugaannya ternyata dirinya juga harus menemani tuan Rey.


"Saya pikir anda akan datang sendiri tuan." ucapnya sangat pelan.


"Aku merasa ada yang tidak beres dengan Vio."


"Nona Vio?" Adit membeo.


Rey menganggukkan kepalanya, kepalanya ia senderkan pada sandaran kursi kabin di dalam helikopter.


"Sepertinya kelemahan anda nona Vio tuan." batin Adit bermonolog.


"Bahkan bersama nyonya Angel saja anda tak selemah ini."


Perjalanan yang mereka tempuh hanya empat puluh lima menit saja, sampailah di halaman villa pribadinya.


Rey berjalan tergesa menuju villa, "Kumpulkan seluruh penjaga."bentaknya pada salah satu pegawai yang berjaga disana.


"Iy...iya tuan," penjaga di depan sudah siap dimarahi tuannya, pasalnya sebelumnya sudah diberi pesan agar menjaga nona mudanya dengan baik.


"Katakan, dimana terakhir kalian melihatnya?" tak ada satupun di antara mereka yang berani menjawab pertanyaan Rey. Seluruh asisten rumah tangga baik laki-laki maupun perempuan terdiam.


Padahal wajah Rey sudah merah padam, siap meluapkan amarahnya. Hujan masih tak kunjung reda. Terdengar beberapa pohon tumbang di belakang villa.


"Apa kalian tidak bisa bekerja dengan baik."


"Bahkan hanya menjaga satu orang saja kalian bisa lalai."


"Kamu, " tunjuknya pada salah satu penjaga di bagian belakang villa.


"Iya tuan."


Maju satu langkah dan mendapatkan bogeman mentah dadi tangan halus Rey.


"Itu hukuman untukmu, karena sudah lalai."


"Tuan apa sebaiknya kita melakukan pencarian sekarang saja, dari pada harus membuang waktu kita saat ini?" usul Adit sebelum hal lain terjadi lebih parah.


"Gantikan tugas dia, dan berikan uang pesangonnya."


Seketika penjaga itu bersujud di kakinya, Adit yang melihatnya masih memiliki hati nurani.


"Dia hanya lalai tuan, apakah harus memecatnya?" tanya Adit memberanikan diri.


"Dia bukan lalai, tapi mengabaikan tugasnya."


"Ah sudahlah, urus mereka terserah."


Rey berjalan ke belakang villa menggunakan mantel plastik.


"Tuan hujannya masih lebat anda mau kemana?" tanya Adit.


"Kau pikir aku harus bersantai disini menunggu Vio kembali?"


"Bukankah kamu sendiri tadi yang bilang, jika pencarian sebaiknya segera dilakukan." ucapan Rey telak mengenai Adit.

__ADS_1


Rey sudah tidak mempedulikan para pelayan yang tadinya ia kumpulkan.


Adit menggerakkan seluruh penjaga dan membawakan bekal mantel serta senter.


__ADS_2