
Hari yang dinantikan Revi telah datang, kakaknya Chris sudah pindah kemari dan tinggal satu rumah dengan mereka. Hal itu membuat Revi begitu bersemangat menjalani hari harinya. Tiada hari tanpa keributan kedua kakak beradik itu, setiap hari selalu ada ada saja hal hal yang diributkan kedua anak itu. Tak jarang pula membuat kepala Vio pening.
Jika Rey menjanjikan liburan di akhir pekan. Tetapi Vio tidak menyetejui karena nanti sekolah Chris akan terhalang. Dan akan ijin beberapa hari.
Dan sekarang inilah Rey akan menepati janjinya. Karena sekolah Chris yang sudah liburan semester akhir tahun.
"Apa semuanya sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Rey pada Vio.
Semenjak kejadian itu pula cinta Rey dan Vio semakin kuat, tak ada lagi pertengkaran suami istri, hanya sesekali saja karena perbedaan pendapat.
"Tidak ada, semuanya sudah siap."
"Dimana suster Ana?" tanya Vio pada Rey.
"Mana aku tahu?" jawab Rey sambil merapikan pakaiannya.
Vio berjalan menuju kamar keduanya. "Kakak adik apa kalian sudah bersiap?" tanya Vio kelihatan kepalanya saja, menengok dari pintu depan.
"Belum bunda, dari tadi adik mengganggu kakak terus." adu Chris pada Vio.
Seperti saat ini, Revi mengeluarkan barang barang yang sudah dipacking Chris tetapi tidak mau mengembalikannya kedalam tas lagi.
"Lihatlah itu bunda?" tunjuk Chris pada lemari pakaian yang isinya sudah keluar semua.
"Reviiii teriak Vio kesal."
Tapi tersangkanya malah keluar, mencari perlindungan pada ayahnya. Vio sudah sangat gatal tangannya ingin segera menghukum kejahilan Revi.
"Papa Papa..." teriak Revi seolah olah dirinya yang menjadi korban.
Begitu masak ke kamar ibu dan ayahnya, Revi mencari ayahnya, dengan reflek Rey mengangkat tubuh imut Revi dan membawa ke dalam gendongannya.
"Ada apa anak gadis Papa pagi pagi sudah berteriak teriak saja?"
"Bunda marah marah marah Papa." adu Revi dengan memeluk erat tubuh Rey.
Mendapatkan pembelaan seperti itu membuat Revi tenang. Tapi ternyata Vio berlari mengejar dimana anaknya pergi tadi.
"Reviiiii kamu apakan kakak kamu?" teriaknya sudah keluar tanduknya.
"Ada apa pagi pagi begini sudah teriak teriak saja?" tanya Rey memicingkan matanya.
__ADS_1
"Papa lihatlah tingkah anak gadismu itu pada kakaknya, selalu mengacaukan semuanya." kata Vio.
"Dia hanya sedang mengeksplor sesuatu yang menurutnya menarik saja, jadi tidak perlu membuatmu naik darah seperti itu, atau umur kamu akan pendek karena seringnya marah marah." kata Rey begitu telak.
Membuat Vio menarik nafas panjang dan mengeluarkannya berkali kali, "Awa saja kalau Papamu tidak ada." batin Vio, menajamkan pandangannya pada Revi.
"Tidak usah mengumpat, atau Revi tidak akan sayang padamu, karena Mamanya suka mengomel."
"Hah baiklah Papa baik, teruskan saja pembelaanmu pada anak gadis satu ini yang suka jahil." kata Vio menahan kekesalannya.
Pagi ini entah berapa kekacauan yang dibuat Revi, seperti menumpahkan susu yang baru saja dibelinya. Satu kaleng penuh di buka dan dipakai mainan masak masakan.
Membuka lemari pendingin yang isinya banyak makanan, Revi mengambil salah satu buah naga dan di pakai mandi serta sampo. Chris sangat kesal pada Revi jika sudah begini.
Rey yang sedang dikamar berdua dengan putrinya berniat akan mengganti pakaiannya, karena tadi membuat kekacauan lagi.
Tidak di sangka. Malah menemukan tubuh putrinya yang lebam lebam. "Sayang siapa yang melukaimu seperti ini?" tanya Rey menelisik luka disetiap tubuh Revi.
"Dia..." tangannya menunjuk ke arah luar. Membuat Rey bingung.
"Siapa? apa Bunda Vio yang menyiksamu seperti ini? ketika Papa tidak ada dirumah?" tanya Rey. Dirinya berjalan kearah kotak P3k untuk mencari obat anti lebam.
Revi menggelengkan kepalanya. "Kalau bukan Bunda siapa lagi?" tanya Rey lagi berusaha memahami bahasa putrinya.
Rey terhenti sejenak, orang yang memakai baju putih katanya, siapa pagi dirumah ini orang yang memakai baju putih jika bukan suster Ana.
"Suster Ana?"tanya Rey.
Revi mengangguk, lalu membisikkan kata kata ditelinga Rey dengan sangat pelan. "Tapi jangan bilang bilang iya, nanti Sustel Ana malah pada Levi." bisiknya pelan ditelinga Rey.
Hal itu membuat Rey naik pitam, sepertinya keamanan putrinya terancam. "Tidak, Papa tidak marah Revi tenang saja,"
Ternyata putrinya itu mendapatkan ancaman dari suster Ana, awas saja nanti, tunggu pembalasan dariku, begitulah pikir Rey. Ia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya saat ini.
"Dimana suster Ana?" tanya Rey begitu dirinya turun untuk mengambil sesuatu yang ada dipantry, kebetulan sekali istrinya itu berada di kamar bersama Chris dan juga Vio.
"Suster Ana bukankah ada dibelakang tuan." kata salah seorang yang sedang memotong rumput.
"Panggil kemari sekarang juga." perintahnya.
"Baik tuan."
__ADS_1
Tidak berapa lama suster Ana mengetuk pintu salah satu ruangan yang ternyata isinya adalah mainan Revi.
"Sini duduk." perintah Rey. Sorot matanya yang tajam tak gentar membuat suster Ana takut.
"Ancaman apa yang kamu berikan pada putriku?" tanya Rey tanpa basa basi. Begitu suster Ana duduk dihadapannya.
Seketika wajah suster Ana memucat. "Bukankah semua bonusanmu sudah ku cairkan, apa begini selama ini caramu kerja."
"Ma...maaf tuan bukan maksud saya seperti yang anda tuduhkan, saya tidak pernah mengancam nona kecil, sekalipun dia membuat kekacauan." kata suster Ana.
Brakkkkk
Seketika Rey menggebrak meja yang ada di hadapannya lalu dengan sorot mata yang tajam menunjuk wajah suster Ana. "Aku telah mempercayakan anak anakku kepadamu selama ini."
"Tapi ternyata kamu salah memilih lawan. Kemasi barang barang kamu sekarang juga."
"Tapi tuan."
"Saya mohon maaf." reflek suster Ana bersujud di kaki Rey.
Rey keluar memanggil salah satu bodyguardnya untuk mengemasi barang barang suster Ana. "Keluarkan dia dari rumah ini sekarang juga," perintah Rey begitu arogan dan tak mau dibantah.
"Bunda bunda Papa dimana?" tanya Revi yang sudah selesai ditata rambutnya okeh Vio.
"Sebentar lagi juga kemari."
"Jadilah anak yang penurut, jangan membuat masalah dengan kakakmu dan juga Bunda."
"Revii apa kamu mengerti?" kata Vio memanggil nama putrinya dengan menekan disetiap kalimatnya.
"Iya Bunda, Levi mengelti." katanya, suara khas anak anak yang masih belum jelas berbicara.
"Dengerin Bunda, kalau kamu ada membuat masalah, yang kena Bunda nanti, Bunda yang akan dimarahi Papa kamu," kata Vio lagi, pikirannya menerawang mengingat bagaimana kala dirinya ditegur Rey karena berteriak pada Revi.
"Revi kalau dikasih tahu itu di dengarkan bukannya malah main main sendiri." teriak Vio tanpa sadar.
"Ada apa?" tanya Rey yang baru saja datang, membuka pintu dan berjalan ke arah mereka.
"Tidak ada?" jawab Vio menggelengkan kepalanya. Padahal Revi juga anaknya dan Rey, tapi kenapa malah seperti anak tiri.
Ibu dan anak tiri lebih tepatnya. "Putriku kamu marahi lagi?" tanya Rey datar.
__ADS_1
"Tidak, siapa juga yang marah pada putrimu." jawab Vio. Ia menjadi manis jika ada suaminya begini.
"Dasar suami menyebalkan," batin Vio.