
Hari sudah menjelang tengah malam, Vio terbangun karena perutnya yang keroncongan, kemudian pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri di sana.
Dirinya berganti pakaian tidur bentuk Night Dress yang panjangnya di atas lutut, lalu pergi ke dapur, hal pertama yang ia tuju adalah lemari penyimpan makanan, di sana membuka kulkas dua pintu, mengeluarkan bermacam-macam bahan untuk dimasak.
Hanya membuat omelette sayur saja yang mudah dan praktis, lalu menikmati di meja makan besar itu sendiri, tentu saja sangat sepi, semua pelayan rumah ini sudah pada tidur, sehingga membuat dirinya yang kelaparan mau tak mau memasak sendiri di dapur mewah itu.
Vio menyendok makanannya tinggal satu suap saja. "Kenapa kamu bangun di tengah malam begini?" Reflek sendok di tangannya ia jatuhkan ke piring hingga menimbulkan suara gaduh, Vio memegang dadanya karena kaget.
"Kamu, selalu saja membuatku kaget." Omelnya pada tuan Rey.
"Apa yang kamu makan?"
"Tak ada sudah habis, dan sekarang aku mau tidur." Vio sepertinya sedang kesal karena tuan Rey menganggu acara makannya. Untungnya saja makanan di piringnya juga sudah habis.
"Begini iya cara berbicara dengan suami kamu?"
Tetapi Vio masa bodoh, dirinya berjalan tanpa menghiraukan tuan Rey yang sepertinya sangat jengkel padanya.
"Vio, suamimu sedang berbicara,"
"Lalu kenapa kalau suamiku berbicara." Vio seketika berhenti di tempatnya dan menoleh kebelakang, menyahut omongan suaminya dengan ketus.
"Tak ada sopan-sopannya pada suami kamu."
"Kalau ada orang berbicara itu di dengarkan, jangan di tinggalkan dengan seperti itu, akan tidak sopan sekali namanya."
"Memangnya aku pikirin, kalau mau sama yang sopan ya pergi sana saja ke istri tua kamu."
Vio sedang menabuh genderang perang, entahlah apa yang terjadi setelah ini, perang dunia suami istri atau yang lainnya. Vio berlalu dari sana, tetapi bukan ke tempat tidurnya yang tadi kamar utama yang ia masuki, malam ini ia kesal dengan suaminya yang tadi dirinya meminta untuk di temani suaminya, tetapi ditolak.
Vio menutup pintu dengan suara keras, lalu menguncinya, tuan Rey tadi pergi ke dapur hanya karena haus di tenggorokannya, tetapi melihat istrinya tak ada di sampingnya, dirinya berniat pergi ke dapur, padahal di dalam kamar mereka sudah tersedia lemari es yang isinya bermacam-macam snack dan air dingin.
Selesai meminum air tuan Rey berjalan ke kamar utama, disana tak menemukan istrinya, lalu mencari ke seluruh ruangan, kamar mandi dan balkon ternyata juga tak ada.
"Sepertinya sedang ngambek." Gumamnya pelan.
Lalu tuan Rey berjalan ke kamar sebelah, dan ternyata benar jika Vio berada di sana, saat tuan Rey membuka daun pintu kamar itu tak bisa terbuka, karena terkunci dari dalam.
__ADS_1
Diam-diam tuan Rey mengambil kunci cadangan dan membukanya perlahan, sedangkan Vio yang merasa tuan Rey tak akan mengganggunya lagi dirinya menikmati rebahannya, memejamkan mata walaupun sangat ingin di peluk oleh suaminya, tetapi tetap saja tak bisa memejamkan matanya.
Sepertinya matanya tak bisa di ajak berkompromi, namun saat berbalik tuan Rey menangkap tubuh Vio yang memang dirinya sudah masuk ke dalam selimut istrinya, Vio malah mencari posisi ternyaman di lengan suaminya dan memeluknya erat.
Tuan Rey menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, yang jarang terlihat, ingin sekali menjahili istrinya ini, walaupun marah tetapi ingin tetap di rayu dan di berikan kasih sayang, seperti pelukan misalnya.
"Tadi saja marah-marah tak jelas, jika sudah seperti ini malah mencari ketek suaminya," gumam tuan Rey pelan.
"Aku berjanji akan membagi waktuku untuk kalian, tiga hari di sini dan empay hari di sana, tak apa buat aku bolak balik Bali ke Moscow,"
"Maafkan aku sayang, aku harus melakukan ini semua, tetapi aku juga tak bisa meninggalkan Angelia Sanan, karena dirinya sedang mengandung anaku,"
"Anak yang selama ini aku dambakan." Gumam tuan Rey pelan, dan menciumi puncak kepala istrinya berulang ulang.
Tentu saja Vio mendengarkan semua apa yang di katakan oleh suaminya, karena dirinya belum sepenuhnya tidur. Dalam hati juga ia sangat cemburu dengan istri tuanya itu.
"Ternyata istrinya sedang mengandung, sepertinya setelah ini aku akan tersingkirkan dari hatimu,"
"Keputusanku sudah tepat, jika selama ini aku menggunakan alat kontrasepsi, karena aku tak mau membagi penderitaanku nanti dengan anakku kelak."
"Biarkan aku saja yang menderita, setidaknya kalau aku di campakkan tak akan meninggalkan bekas yang mendalam jika tak ada anak." Begitulah batin Vio, tak terasa dalam tidurnya mengeluarkan air matanya.
Pagi hari menyambut, seluruh pelayan dirumah ini sudah di sibukkan dengan tugasnya masing-masing. Mereka bekerja sesuai tugas dan bagiannya, tetapi tidak dengan dua orang yang saat ini masih betah bergelung di bawah selimut tebal ini.
Vio masih terlelap dalam tidurnya, sedangkan tuan Rey sudah membuka matanya dari tadi, tetapi masih tak tega jika harus memindah kepala istrinya yang saat ini berada di dadanya, walaupun terasa sangat kebas tetapi ia masih betah memandang wajah cantik alami ini.
Vio menggeliat dari tidurnya, tuan Rey tak henti-hentinya mencium wajah Vio bertubi-tubi.
"Sayang apa kamu tak mau bangun, ini suah siang."
"Jam berapa memangnya?" Tanya Vio masih memejamkan matanya.
"Ini sudah siang."
"Benarkah?"
"Iya."
__ADS_1
Vio malah tertawa kencang mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari suaminya.
"Bagaiamana apa mau dua ronde lagi?" Goda tuan Rey pada istri kecilnya ini.
"Tidak mau," Reflek Vio langsung terbangun, berlari ke kamar mandi, tetapi sialnya pintunya tak di kunci, tentu saja suaminya menyusul ke sana, dan terjadilah olahraga pagi itu di dalam kamar mandi hingga mencapai dua ronde.
Seketika tubuh Vio terasa lemas tak bertenaga, sehabis mandi dan berganti pakaian dirinya rebahan di kamar, tuan Rey meminta pelayan mengantarkan sarapan istrinya ke kamarnya.
Berbeda dengan muka Vio, tuan Rey kelihatan sangat cerah mukanya hari ini, bagaimana tidak mendapatkan asupan cinta di pagi hari membuat harinya terasa di dihinggapi banyak kupu-kupu. Walaupun hari sudah menjelang siang baru berangkat ke kantornya, tetapi tak menyurutkan semangatnya, tak banyak jadwalnya hari ini. Hanya rapat bersama para stafnya dan menyelesaikan file yang perlu ia tanda tangani.
"Aku sudah meminta pelayan untuk mengantarkan makanan ke sini, hari ini kamu istirahat saja di rumah, taj usah keluar rumah tanpa seizinku,"
"Apa kamu mengerti?"
"Aku akan mengusahakan pulang lebih cepat, supaya bisa makan malam bersama."Sambil memakai dasi di depan cermin.
Vio diam saja tak menjawab petuah suaminya panjang lebar, lalu tuan Rey mencium puncak kepala istrinya. Vio melihat sekilas suaminya, tangannya reflek membenarkan dasi suaminya itu.
Hal yang seumur-umur tak pernah ia lakukan, dan sekarang ia lakukan bersama suaminya.
"Jangan pulang terlalu malam," Ulang Vio.
"Tidak, kenapa memangnya."
Vio melirik suaminya kesal, seketika bibirnya manyun ke depan dan tak mau bersuara lagi, jika sudah sangat malas.
"Tak usah banyak tanya, pasti kamu ingin menertawakan aku kan?"
"Mana ada seperti itu." Tuan Rey menaikkan sebelah alisnya.
"Iya ya sudah, pergilah sana aku ingin sendiri tak mau di ganggu,"
" Benarkah tak mau di ganggu, jika begitu akan aku batalkan pergi ke kantor hari ini." Sambil mengendurkan dasinya kembali.
"Tidak...tidak, sana-sana pergilah ke kantor, aku akan menunggu suamiku pulang ke rumah rayunya." Vio seketika panik sendiri mendengar ucapan suaminya tak jadi berangkat ke kantor.
dan
__ADS_1
Bersambung