WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

Perkataan suaminya itu sepertinya tak di indahkan oleh Vio, dirinya malah bersiap-siap mandi lebih cepat, berganti pakaian, lalu menggunakan alat make up tipis.


Setelah tahu suaminya pergi, Vio bersiap akan jalan-jalan ke mall bersama Fani, mencari barang incarannya yang sudah lama ia idam-idamkan. Kapan lagi kan bisa menghabiskan uang suaminya, pikir Vio saat ini, tidak hal yang lebih menyenangkan selain menghabiskan uang sesuka hatinya tanpa ada batasan, semua salah tuan Rey telah menjebaknya menjadikan dirinya istri.


Bukan istri pertama yang menjadi satu-satunya, melainkan istri simpanan pula, huh tak apalah sepertinya juga tak buruk-buruk amat, yang terpenting dirinya bisa hidup mewah, bisa pergi kemana saja yang dia mau, berbelanja dan ke salon tanpa harus bersusah payah bekerja lebih dulu.


Sebenarnya ini semua juga bukan keinginan Vio, melainkan dirinya telah dijebak oleh bosnya, ibarat terlanjur masuk basah, ya udah tidak usah takut, sekalian saja basah semua kan.


Vio tak mau memikirkan ini semua, dirinya tak mau mempermasalahkan hal yang sudah terlanjur terjadi.


Vio sudah cantik dengan dress di atas lutut berwarna peach, dengan tas senada, hasil shopping kemaren saat bersama Fani.


Dirinya mengambil kunci mobil ya g tergantung, lalu berjalan keluar menuju parkiran, di sana telah banyak mobil koleksi tuan Rey, berjejer dan semua itu dengan harga yang fantastis.


Vio memilih mobil yang paling jelek menurut pandangan matanya, supaya tak di ketahui suaminya jika dirinya keluar, akal cerdiknya sepertinya sedang bekerja saat ini.


Tentu saja satpam di sana tak melarangnya, karena mengira jika yang keluar itu adalah sopir yang antar jemput tuan Rey bukan Vio.


Tahap pertama sudah lolos, sekarang dirinya mengendarai mobilnya sendirian menuju rumah Fani, tadi sempat mengirimi pesan pada Fani, jika hari ini akan di ajak bersamanya jalan dan tak usah masuk bekerja.


Iya sebulan lalu Fani telah pindah di kantornya, tepatnya di butik baru Vio yang dibangunkan oleh tuan Rey, Vio memberikan jabatan di sana sebagai manager butik.


Tok...tok...


Suara ketukan pintu dari luar, rupanya Vio baru saja tiba di rumah Fani, memang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman Vio dan tuan Rey.


"Fani...keluar Fan."


"Tidak usah teriak-teriak juga non, ini bukan di hutan tau."


"Iya tapi kamu lama buka pintunya, makanya aku teriakin saja." Balas Vio cuek, lalu dirinya mendudukan tubuhnya di sofa tunggal yang ada di dalam rumah Vio.


"Emangnya kamu mau mengajakku kemana?" Tanya Fani ikut duduk di depan Vio.


"Aku lagi suntuk, ingin jalan-jalan di mall, cepatlah ganti baju sana aku tunggu di sini."

__ADS_1


"Ck...kamu ini kebiasaan sekali mengajak kemana-mana tanpa rencana dulu." Fani tak urung juga menurut pada Vio. Masuk kedalam kamarnya dan selang beberapa menit saja sudah berganti pakaian.


"Ayo, ehmm tunggu...tungggu. Sepertinya ada yang aneh deh kalau aku melihat-lihat kamu?" Kata Fani menelisik penampilan Vio dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas.


"Apaan sih kamu, kayak baru pertama kali lihat aja."


"Ehhh tapi beneran deh, ada yang aneh pada diri kamu?"


"Apa memangnya." Tanya Vio sambil berjalan keluar menuju dimana mobil Vio terparkir.


"Penampilan kamu tak seperti biasanya tau, badan kamu panas." Fani malah memegang kening Vio dan merasakan, tak ada perubahan pada suhu tubuh Vio sepertinya, lalu habis mimpi apa temannya ini semalam, sehingga berpakaian sangat feminim seperti ini, padahal biasanya ping najis Vio jika ada orang lain yang berpenampilan seksi begini.


"Badan kamu tidak panas, katakan kenapa kamu berpakaian seperti ini?" Tanya Fani penasaran.


Vio malah nyengir saja tak menjawab pertanyaan Fani.


"Tidak ada, aku hanya ingin berpakaian seksi saja."


"Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu memiliki maksud terselubung." Fani malah menebak-nebak sendiri dengan penampilan Vio sekarang. Pasalnya Vio paling suka memakai celana panjang jika kemana-mana.


Sedangkan di lain tempat, saat ini tuan Rey ada janji temu dengan klien di sebuah cafe di mall.


"Apa jadwal aki setelah meeting nanti?" Tanya tuan Rey pada asistennya yang bernama Adit.


"Anda ada janji temu dengan klien tuan, di sebuah cafe yang sudah di reservasi oleh Mia terlebih dahulu kemaren." Jelasnya pada tuan Rey.


"Baiklah persiapkan bahan rapatku untuk nanti."


Adit mengangguk lalu pamit undur diri dari sana. Sedangkan tuan Rey meneruskan pekerjaannya, menandatangani dokumen yang memerlukan persetujuannya, dan mengecek proposal masuk, untuk permintaan kerjasama nanti.


Setelah beberapa jam berlalu, tuan Rey berdiri dari kursi kebesarannya, mengambil jasnya yang tergantung di sana, lalu berjalan keluar dengan gagahnya, dan memanggil Adit jika sudah tiba waktunya untuk perjalanan menuju ke cafe yang di maksud oleh Adit tadi.


Di dalam mobil, tuan Rey sama sekali tak membuka ponselnya, karena sedari tadi datang kekantor hingga kini, dirinya sangat sibuk, belum sempat membuka ponselnya sama sekali, sehingga tidak tahu apa yang ada di dalam ponselnya tersebut.


"Tuan nanti meetingnya sekalian makan siang di sana tuan." Adit memberitahu bosnya, mengarahkan spion itu pada tuan Rey.

__ADS_1


"Hemmm baiklah." Tetapi perasaan tuan Rey dari tadi tak enak, namun dirinya tak tahu, sehingga mengabaikan saja.


Setelah beberapa jam sampailah mereka pada cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka dengan klien saat ini, di sana sudah ada tuan Aldo dan asistennya yang telah menunggunya.


"Mohon maaf tuan, apakah kami datang terlambat?" Tanya tuan Rey basa-basi sambil berjabat tangan.


"Anda hanya terlambat lima menit tuan Rey, namun sepertinya kami yang datang lebih awal." Canda tuan Aldo pada tuan Rey.


"Baiklah mari kita mulai." Mereka sedang membicarakan bisnisnya, yang akan mereka bangun. Kali ini mereka akan membuat produk detergen dengan inovasi terbaru, sehingga membutuhkan model yang kompeten, bagian mencari model akan di tugaskan pada Adit.


Setelah deal dengan kerjasama mereka, kini acara dilanjutkan dengan makan sian.


Vio dan Fani baru saja membeli baju dan tas incarannya, lebih tepatnya Fani yang mengantar Vio berbelanja, kali ini Fani tak mau di belanjakan Vio, sebagai gantinya nanti saja jika Fani membutuhkan bantuannya.


"Vio aku sangat lapar, apa kamu tak mau memberiku makan." Tanya Fani sambil memegang perutnya.


"Baiklah ayo, aku akan mentraktirmu makan steak kali ini." Dengan bersemangat Vio memasuki cafe yang ada di dekat mereka berjalan saat ini.


Baru saja dirinya memposisikan tubuhnya, namun sudah di buat terkejut oleh seseorang yang duduk tak jauh dari mereka. Seketika Vio mencari tempat duduk yang membelakangi mereka.


Ketika Fani akan memanggilnya, reflek tangan Vio membungkam mulut Fani, takut terdengar oleh suaminya yang saat ini sedang duduk tak jauh darinya.


Namun terlambat, tuan Rey telah menoleh ke arah mereka, sehingga yang terkejut bukan hanya Vio saja, tetapi Fani dan juga tuan Rey lebih terkejut dari pada dirinya.


Sial sekali Vio hari ini, padahal rencananya akan pulang ke rumah sebelum suaminya pulang. Saat pelayan datang malah Vio dengan santainya memesan banyak makanan.


Mereka makan dengan tenang, Vio lebih tepatnya yang saat ini tenang, sedangkan Fani sudah sangat panik takut dirinya terseret masalah suami istri ini.


Setelah selesai makan Vio dan Fani pergi begitu saja. Tanpa menyapa suaminya, karena juga di sana ada klienya.


Sang pelayan datang memberikan struk tagihan pada tuan Rey, begitu dirinya sedikit terkejut dengan angka di struk itu.


"Mohon maaf pak, mbak-mbak dua orang tadi bilang pada kami, jika makanan mereka bapak yang traktir." Kata pelayan itu.


"Baiklah mbak tam masalah."

__ADS_1


Entahlah setelah ini hukuman apa yang akan di berikan pada Vio nanti ketika dirinya pulang ke rumah. Tuan Rey sepertinya sudah memikirkan hukuman apa yang cocok untuk istrinya yang bandel itu.


__ADS_2