
Angel begitu terpesona melihat penampilan suaminya dilayar kaca yang saat ini ia pandangi, hingga membuat matanya enggan untuk berkedip, walau hanya sebentar saja. Sungguh tak dapat dipungkiri ketampanan tuan Rey.
Bahkan ia bisa menggaet gadis belia sepuluh dalam satu waktu jika dirinya mau, namun itu bukanlah tipenya.
Tuan Rey tipe orang yang bertanggung jawab dengan hidupnya, keluarganya dan usahanya. Semua yang menjadi miliknya tak akan pernah bisa jatuh ke tangan orang lain, itu adalah pegangan hidupnya.
Tetapi anehnya ada yang ganjil dengan hati Angel, Angel merasa jika tuan Rey memiliki hati yang lain selain dirinya. Tetapi ia tak memiliki bukti apa pun, sehingga tak bisa mengajukan protes pada suaminya.
Sedangkan ditempat lain, Vio sedang asyik jalan-jalan di sekitaran restauran, menikmati makan siangnya dengan tenang, setelah selesai makan siang dirinya kembali lagi ke apartemen Adit dengan membawa sekantong belanjaan berbagai macam snack dan juga minuman.
Hal pertama yang ia lakukan saat di ruang televisi adalah rebahan sambil berbalas pesan dengan Fani. Hingga tak terasa hari sudah sore sampai membuatnya ketiduran.
Ceklek..
Suara pintu apartemen dibuka, "Rupanya kamu sedang tidur." Tuan Rey melepaskan jasnya dan menaruhnya asal, kemudian duduk berjongkok mengamati wajah manis Vio lalu mengecup sekilas keningnya.
Adit yang tadi mengekorinya berpamitan masuk ke kamar sebelah yang sekarang ia tempati, ia tak ingin mata sucinya ternodai oleh adegan suami istri yang dapat mencemari matanya.
"Apa yang kau mimpikan, hingga aku ganggu seperti ini saja tak terusik."
Tuan Rey menciumi seluruh wajah Vio, tak ada satupun yang terlewatkan. Tetapi hal itu malah membuat Vio merasa di belai sayang oleh seseorang di alam mimpinya.
Lama tuan Rey menunggu Vio terbangun, tetapi nyatanya Vio masih juga terlelap, hingga dirinya memutuskan duduk santai di balkon di temani oleh Adit dan secangkir kopi yang ia minta pada Adit tadi.
"Ehmm tuan, apa yang anda rencanakan setelah nyonya Angel melahirkan?"
"Tentu saja merawatnya dan juga anakku."
"Lalu bagaimana dengan nona Vio?"
"Apa anda akan mempertahankan keduanya?" Adit.
Lama tuan Rey terdiam, dirinya tak langsung menjawab pertanyaan Vio. Adit sendiri sudah menunggu dengan jawaban yang keluar dari tuan Rey.
"Kenapa?"
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Adit tetapi malah bertanya balik," Ehmm tidak, aku rasa nona Vio juga berhak bahagia tuan."
"Kau telah berpikir jika Vio tidak bahagia hidup bersamaku." Matanya memicing memandang ke arah Adit, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bu...bukan begitu tuan, maksud saya nanti setelah nyonya Angel melahirkan waktu anda akan tersita banyak untuk merawat anak anda."
"Dan saya mengkhawatirkan jika nona Vio menuntut perhatian anda." Adit memberikan alasan yang menurutnya masuk akal.
"Aku akan membagi waktuku dengan adil, kau tahu jika milikku tak akan bisa di usik oleh siapa pun." Mode arogannya mulai muncul tak mau dibantah.
Adit mengangguk pasrah, musnah sudah harapannya untuk mengambil alih Vio dari tangan tuan Rey. Dirinya tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan tuan Rey.
Tring...
Suara notifikasi di ponsel Adit menandakan jika ada pesan masuk. "Para komplotan orang yang ingin membunuh Vio sudah berada di markas tuan."
"Ehmm iya, suruh mereka semua memasukkan ke dalam penjara bawah tanah."
"Aku akan menunggu sampai Angel melahirkan dulu, karena aku tak mau terjadi sesuatu dengan calon anakku nanti, jika tangan ini membunuh seseorang." Matanya berkilat marah, rahangnya mengetat, giginya terdengar gemelutuk dan tangannya mengepal seperti sedang ingin menghabisi seseorang.
Hingga malam hari, Vio sudah terbangun di tengah malam, tuan Rey tadi memberikan kabar pada Angel jika dirinya sedang ada kerjaan tambahan, padahal saat ini dirinya sedang menggempur habis-habisan Vio.
Vio yang tadi baru bangun tidur terkejut melihat wajah suaminya tepat berada di depan wajahnya, seketika serangan ciuman bertubi-tubi, yang awalnya hanya ciuman biasa berlanjut menjadi penuh hasrat, hingga membangkitkan hal lain pada keduanya.
Tangan yang semula diam, selanjutnya merayap kemana-mana hingga suara ******* itu lolos dari mulut Vio.
Hingga lewat tengah malam, setelah tuan Rey menyelesaikan kegiatan panasnya dengan istri simpanannya ini, Vio kembali lagi terlelap dalam tidurnya.
Tuan Rey yang baru saja akan memejamkan matanya mendengarkan suara ponselnya terus menerus berbunyi, hingga entah ke berapa kali baru ia angkat.
"Siapa yang malam-malam mengganggu waktu istirahatku."
"Hallo."
"Baiklah aku akan segera menyusul." Dirinya menggunakan lagi baju yang tadi sempat berserakan di lantai, walaupun sudan kusut tak berbentuk, tetapi ini darurat. Angel rupanya akan melahirkan dan saat ini sedang perjalanan menuju rumah sakit terdekat diantarkan oleh dokter Rica dan juga sopir pribadinya yang biasanya mengantarkan Angel ketika akan pergi ke dokter.
__ADS_1
Tuan Rey berlari keluar dengan langkah lebarnya, dirinya mengambil seribu langkah agar segera sampai ke rumah sakit tempat dimana Angel akan berjuang untuk anaknya.
Ia mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.
Mengendari mobil sudah macam pembalap, bahkan mungkin saja banyak kendaraan yang mengumpatinya ketika dirinya menyalip dengan sembarangan.
Sesaat setelah sampai dirumah sakit, ia memarkirkan mobilnya asal dan berlari memasuki rumah sakit dengan pikiran yang sudah bercampur aduk.
"Dimana letak istriku dok?" Tanyanya pada dokter yang biasanya menangani istrinya.
"Tenanglah tuan, istri anda sedang di dalam ruangan operasi sekarang."
"Biarkan saya masuk dan menemaninya." Masih dengan nafas yang memburu akibat berlari secepat yang ia bisa.
"Tunggu tuan, anda belum bisa masuk karena menunggu tanda tangan persetujuan dari wali pasien dulu."
Tanpa berpikir panjang tuan Rey mengikuti dokter kandungan dan menandatangani berkas yang diminta oleh dokter.
"Sekarang tak akan ada yang menghalangiku untuk menemani istriku." Langkah lebarnya menuju ruang operasi.
Sungguh suami pasien yang sangat menyebalkan jika dokter bertemu hal semacam ini.
"Angel...!!! Angel apa kau baik-baik saja."
Tuan Rey yang melihat Angel menggunakan selang oksigen dan tangan yang di infus, sudah tidak bisa berfikir dengan jernih lagi, pikirannya kacau takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.Saat itu juga telah di adakan operasi cesar dengan penangan kelas vip.
"Kau adalah wanita hebat, kamu pasti bisa, aku di sini." Bisiknya pelan di telanga Angel. Tangannya menggenggam tangan Angel, satunya lagi memegang kening Angel dan tak henti-hentinya menciumi puncak kepala Angel.
Memberikan kekuatan. Angel hanya dibius bagian perutnya saja, kali ini sudah menggunakan metode yang canggih menurut ilmu kedokteran.
Operasi berjalan hingga satu jam lima belas menit lamanya, tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi tampan yang membuatnya takjub, ada perasaan membuncah dihatinya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Kamu hebat sayang." Lirihnya
dan
__ADS_1
Bersambung