
Pagi menjelang, dua orang yang selesai memadu kasih itu masih betah bergulung dibawah selimut. Siapa lagi jika bukan tuan Rey yang memiliki sejuta pesona. Bahkan para orang tua rekan bisnisnya saja berlomba-lomba mendapatkan hati tuan Rey walaupun jadi yang ke dua juga tak masalah.
Mereka mendekatkan anak-anaknya karena memiliki maksud tertentu, apa lagi jika bukan demi mendapatkan suntikan dana di perusahaannya. Hingga ada yang rela berbuat curang padanya hanya sebuah kekayaan.
Bagaimana tidak, tuan Rey memiliki status yang tinggi dikalangan para pengusaha. Dirinya disegani namun juga tak sedikit para penjilat yang bermuka dua.
Tak sedikit pula para wanita seperti artis dan model mendatanginya untuk menjadi teman kencannya satu malam. Tetapi hatinya sepertinya sudah terpatri oleh seseorang. Sehingga sangat sulit untuk menaklukannya.
"Sayang aku ingin kamu dirumah saja beberapa hari ini." Keluh istrinya pada tuan Rey.
" Aku harus bekerja, tak bisa jika terus-terusan menemanimu siang dan malam." Tuan Rey tipe orang yang tidak bisa berbicara keras dengan perempuan.
Sehingga saat memberikan penjelasan pada istrinya pun juga pelan dan halus, agar mudah di mengerti. Apa lagi istrinya ini tipe orang yang tidak bisa di kasar.
Bagaimana tidak, Angelica tumbuh dan besar di keluarga kaya dan terpandang, semua kebutuhan dan fasilitas tentu saja mendapatkan kelas ekslusif. Apa yang dia inginkan dengan mudah bisa didapatkan tanpa harus bersusah payah seperti wanita lain.
"Hiks....hiks..." Suara tangisan Angel yang ditahan. Namun masih bisa terdengar oleh telinga tuan Rey. Tuan Rey yang selesai mandi dan bersiap akan berangkat ke kantor harus berhenti dulu untuk membujuk istri manjanya itu.
Entahlah, tuan Rey sendiri juga bingung, kenapa Angel akhir-akhir ini sangat posesif padanya, jika biasanya saja akan sangat cuek. Tetapi berbeda jika kali semua apa yang dimau harus dituruti, jika tidak akan menangis sepanjang hari seperti anak kecil.
Kemaren saja orang tuanya tuan Rey saat berkunjung kerumah besar itu sangat terkejut, mendapati Angel yang menangis. Ibunya tuan Rey yang seharian menjenguknya itu bingung harus melakukan apa. Hanya karena tuan Rey tak mau pulang dalam satu bulan satu kali. Hal itulah yang menyebabkan Angel menangis sepanjang hari.
Akhirnya dirinya pulang, benar saja jika Angel menangis sepanjang hari, dan ketika dirinya pulang terlonjak girang sambil berlari kencang ingin memeluknya.
"Terus maunya kamu aku gimana?" Tanya tuan Rey dengan suara yang masih lembut.
"Aku ingin sepanjang hari bersamamu."
"Tidak biasanya kamu seperti ini, seperti bukan dirimu." Katanya pelan.
Ehhh suara tangisan itu malah semakin terus menerus dan sesenggukan tak mau berhenti sampai nafasnya sesak. Tanpa banyak kata sebagai suami yang sayang sama istrinya, tuan Rey meraih kepala istrinya dan memeluknya.
"Nanti aku akan pulang lebih cepat."
"Bagaimana?"
Setelah melalui berbagai drama akhirnya tuan Rey bisa berangkat ke kantor juga. Dirinya diantar oleh sopir pribadi mereka. Selama ini tuan Rey tidak begitu memperhatikan istri pertamanya. Karena memang sebelumnya senang bepergian dan semaunya sendiri.
Auhhh terasa mau pecah dirinya jika memikirkan soal hal ini.
Sementara dirumah besar itu, sepeninggal tuan Rey pergi berangkat bekerja. Angelica berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Dirinya sangat lemas, lalu berendam air hangat di sana, dan memejamkan matanya hingga tertidur begitu lama. Sang asisten rumah tangga yang tadi sudah diberi pesan jika istrinya bangun itu diminta mengirim sarapan dan susu hangat ke kamarnya.
Tok...tok
Suara ketukan pintu terdengar sangat nyaring dirumah besar itu, beberapa menit asisten rumah tangga yang bernama Marry itu sebagai kepala pelayan yang mengatur seluruh urusan rumah ini. Dirinya mengantarkan sendiri jika berurusan dengan nyonya di rumah mereka.
Lama berdiri di sana, Marry berteriak memangil Angel.
"Nyonya....nyonya....apakah anda baik-baik saja nyonya.?" Tanyanya dari depan pintu.
Terlihat sekali jika Marry ini sangat khawatir pada majikannya ini. Hingga dirinya memberanikan diri membuka handle pintu itu pelan dan memasuki ruangan kamar Angel.
Matanya menelisik seluruh isi ruangan, rupanya disana tidak ada siapa-siapa. Lalu Marry menaruh makanan di nampan itu ke atas meja.
sambil berteriak memanggil Angel ke balkon, ruang ganti pakaian hingga terakhir di kamar mandi. Ternyata di sana Marry menemukan Angel berendam dengan tubuh kedinginan dan bibir yang sudah membiru.
"Nyonya...apakah anda baik-baik saja nyonya?"
Mulut Marry bergetar ketakutan memegangi kening Angel, ternyata sangat panas. Dirinya bingung harus melakukan apa. Dengan paniknya Marry berteriak memanggil pelayan wanita dirumah ini.
"Lusi....tolong bantu angkat nyonya," akhirnya dibantu dua pelayan yang lainnya dan mengganti seluruh pakaian nyonya mereka, salah satu di antara mereka menyarankan Marry untuk segera menelpon tuan Rey. Takutnya terjadi masalah jika tidak segera dilaporkannya.
Dengan tangan gemetar memegang gagang telepon kamar nyonya mereka, Marry menekan nomor menghubungi tuan Rey. Namun sialnya tuan Rey saat ini sedang meeting bersama para stafnya. Ponselnya juga dalam mode silent.
Lebih dari dua puluh kali panggilan itu tak terjawab. Dari pada kelamaan menunggu tuan Rey mengambil tindakan, Marry berinisiatif menelpon dokter keluarga.
"Bagaimana ini Bik Marry, aku takut nyonya kenapa-kenapa," seru Lusi. Malah menambahkan daftar ketakutannya Marry saja.
"Diamlah kamu, aku akan menghubungi dokter Kendra saja."
Untung saja di ponselnya masih menyimpan nomor dokter Kendra, sehingga tak susah juga dirinya menghubunginya.
Dokter Kendra merupakan sahabat sekaligus teman tuan Rey masa sekolah menengah pertama dulu hingga menginjak sekolah menengah atas, hanya setelah lulus kuliah saja mereka berpisah, dan mengambil jurusan berbeda.
Ayahnya dokter Kendra merupakan dokter keluarganya tuan Rey, itu berarti turun temurun dari ayahnya Kendra ke dirinya.
"Ambilkan air hangat, aku akan mengompres nyonya supaya demamnya turun."
__ADS_1
Lisa dengan cekatan mengambil apa yang diminta oleh Marry dan segera turun kelantai bawah mengambil baskom berisi air hangat serta handuk.
"Bik Marry, kenapa dokter Kendra lama sekali datangnya." Lisa dari tadi sudah panik dan malah menangis terus menerus tak henti-hentinya melihat majikan mereka dalam keadaan seperti ini.
Yang dilakukan Angel hanya merintih menanyakan Rey terus menerus tiada henti.
"Bik Mary, mana Rey bik, aku ingin dia." gumamnya lemah.
"Tenanglah nyonya, tuan Rey sebentar lagi akan datang." Bohongnya.
Setengah jam kemudian barulah dokter Kendra datang tergopoh-gopoh setelah tadi mendapatkan telepon dari bik Marry kepala pelayan rumah ini.
Pintu kamar terbuka, dokter Kendra diantar oleh pelayan yang lain sampai ke kamar Angel.
"Apa yang yang terjadi bik." Kagetnya.
Sepertinya Kendra sangat khawatir terhadap istri sahabatnya ini.
"Aku tidak tau dokter, tadi aku menemukan nyonya di dalam kamar mandi sudah begini keadaannya."
Kendra mengambil stetoskop, memeriksa dengan teliti, seluruh bagian tubuh Angel. Namun tak menemukan luka fisik. Sepertinya ada hal lain yang menyebabkan seperti ini.
***
.
.
Terpaksa kondisi Angel yang menurun drastis, Kendra harus memasang selang infus ditangannya, dan memberikan beberapa vitamin serta obat pereda demam.
"Sepertinya Angel demam karena terlalu lama berendam bi, jadi bibi tak usah khawatir, kabari saja suaminya, agar segera pulang untuk melihat kondisi istrinya seperti apa."
Kata dokter Kendra panjang lebar.
"Baiklah dokter Ken, nanti akan saya sampaikan pada tuan Rey." Bibi Marry.
"Sepertinya aku menemukan fakta lain di dalam tubuh Angel bik," kata Ken.
"Apa itu dok?"
"Jika dugaanku tidak salah, kemungkinan besar Angelica sedang mengandung."
"Apa dok yang anda bilang tadi." Tanya bibi Marry mengulangi.
"Iya bik, sepertinya Angel hamil, dan untuk lebih jelasnya lagi segera di bawa saja ke dokter obygin."
Selama ini yang merawat Angel dirumah besar selama pernikahan mereka adalah bibi Marry, yang lebih tahu seluk beluk nyonya nya itu dibandingkan dengan suaminya Rey.
Sedangkan dikantornya, tuan Rey baru saja menutup rapatnya siang ini, dan dirinya akan kembali ke ruangannya.
Baru saja dirinya mendudukkan tubuhnya, pintu terbuka lebar, disana menampakkan wajah seram Ken sahabatnya yang selama ini jarang bertemu.
"Hai ken, kenapa kamu kemari. Tumben sekali." Berdiri kembali dan berjalan ke arah Ken.
Namun bukan malah mendapat sambutan hangat dari sahabatnya ini, tetapi Ken malah memberinya bogem mentah di wajah tampan tuan Rey. Hingga pipinya terasa panas.
"Dasar lelaki pengecut kamu, istri sakit bukannya menemani malah asyik bekerja terus." Sindirnya meremehkan.
Tuan Rey memegangi pipinya sebelah yang masih terasa panas, dan susut bibirnya mengeluarkan darah segar, mendengar pernyataan itu tuan Rey menoleh ke arah Ken.
"Apa maksud kamu mencampuri urusanku." Detik berikutnya terjadi perdebatan sengit diantara mereka.
"Lelaki tak tahu diri kamu,"
Bukk....buk...
Kendra memukul perut Rey bertubi-tubi, tentu saja tuan Rey kalah telak karena memang dirinya tak siap menerima pukulan lawan.
Asisten Adit yang akan memberikan laporan hasil rapat, memasuki ruangan yang terbuka tanpa di tutup itu sangat terkejut melihat bosnya dipukuli membabi buta seperti itu.
"Tuan Ken tolong hentikan, anda bisa membunuhnya jika begini."
Adit spontan berlari dan melindungi perkelahian itu. Setelah Adit menghadang bosnya, dirinya berujar.
"Jika tuan Ken memiliki masalah pribadi dengan tuan Rey, sebaiknya di selesaikan dengan baik-baik, tidak begini caranya tuan?"
Tatapan mata elangnya masih saja siap menghunus mangsanya. Akhirnya Adit yang bersuara menengahi diantara ketegangan yang terjadi.
"Sebenarnya ada apa tuan Rey dan tuan Ken?" Asisten Adit menoleh ke arah mereka bergantian.
__ADS_1
Mendadak suasana di ruangan ini menjadi hening. Akhirnya Adit bersuara lagi.
"Baiklah jika tuan Ken tak mau bersuara, bisa tinggalkan kami dulu."
Terdengar mengusir secara halus, hal itu bisa dipahami oleh Adit, jika terjadi sesuatu di antara mereka berdua, hingga menyebabkan mereka seperti ini.
Tangan tuan Rey melambai, menyuruh Adit segera pergi dari sana, tetapi Adit enggan meninggalkan tuan Rey sendirian di ruangan itu.
"Tinggalkan kami dulu." Perintahnya.
"Tapi..tuan, bagaimana jika terjadi sesuatu pada anda." Adit ragu. Namun sepertinya tuan Rey tak mau dibantah.
"Baiklah aku akan berdiri di depan pintu, dan tak akan menguping pembicaraan kalian, tapi tolong jangan dengan kekerasan."
Setelah Adit berjalan keluar dan tak terlihat lagi oleh mereka. Barulah kini mereka mau bersuara.
"Sebenernya apa urusanmu datang kemari?"
"Dari dulu aku sudah pernah bilang, jika kamu tak sanggup mencintai Angel, aku masih sanggup untuk membahagiakannya, setidaknya hidupnya tak akan sengsara bersamamu."
"Apa maksud kamu." Seketika mata elangnya beraksi ke arah lawannya.
"Aku tahu, dari dulu kamu tak pernah menginginkan menikah dengan Angel, tapi karena terpaksa menerima perjodohan, kanu tak bisa mundur lagi."
"Dan sekarang, apa pernah kamu meluangkan waktumu untuk istrimu barang sebentar saja, apa pernah kamu hanya mengajaknya sekedar makan malam saja."
Kendra berbicara dengan berapi-api dan masih panjang lagi kalimat peringatan untuk sahabatnya ini. Tuan Rey hanya diam saja menunggu Kendra menyelesaikan sahabatnya berbicara panjang lebar ini hingga selesai.
"Sudah."
"Aku selama ini tak pernah mengabaikannya, tetapi dia yang mengabaikan aku, aku bahkan menuruti semua keinginannya, tetapi dia tak pernah menuruti keinginanku yang sederhana ini."
"Apa keinginan sederhanamu." Tanya Ken mencibir.
"Dia tak mau mengandung anakmu." Seketika itu tangan Kendrik sangat gatal, ingin menonjok lelaki di depannya ini untuk yang ke tiga kalinya. Jika saja tadi tak mengingat dirinya sudah menghajarnya hingga babak belur.
"Cieh...suami macam apa kamu, istri sakit aja tak pernah tahu, tak pernah menanyakan keluhan istrinya."
"Apa maksud kamu."
"Apa kamu pernah menanyakan keluhan istrimu? selama kalian menikah?"
"Tidak kan, istrimu selama ini berjuang sendirian melawan sakit kankernya yang pada saat itu sudah berada di stadium tiga."
"Tetapi demi terlihat tampil sempurna di matamu, dia tak pernah sekalipun menceritakan masalahnya dengan siapa pun, termasuk dirimu, suaminya."
Kendrik menekan kata suami, supaya tuan Rey membuka matanya. Jika dirinya suami yang sangat di butuhkan istrinya, bukan di abaikan.
"Hari-harinya hanya di habiskan di tempat pengobatan dengan dalih pergi bersama teman-temannya."
"Kamu tak pernah tahu dan tak pernah merasakan penderitaannya seperti apa."
"Hanya demi menjadi istri yang sempurna di matamu."
"Lalu kenapa kamu bisa tahu, apa kamu selama ini yang menjadi teman untuk mengobati sakitnya?"
"Tentu saja, aku tak bisa melihatnya menderita sendirian, bahkan jika di akhir pengorbanannya masih tak kau anggap, aku masih sanggup merawatnya."
"Tidak akan pernah terjadi." Ketus tuan Rey.
"Dia istriku, dia milikku, hanya aku yang boleh menentukan jalan hidupnya."
Setelah mendengarkan pernyataan dari sahabatnya itu, dadanya terasa sesak, serasa udara di ruangan ini menjadi sangat engap, minim oksigen. Padahal selama ini tuan Rey hanya sibuk kerja dan kerja tak ada waktu memperhatikan istrinya barang sebentar saja jika bukan Angel sendiri yang merengek.
Kini penyesalan seakan merayapi seluruh pikirannya, dirinya pantas dihukum, lalu bagaimana menebusnya agar dirinya menjadi suami yang berguna.
"Lalu bagaimana sekarang keadaanya?" Tanyanya pada Ken melemah.
Untung saja Ken ke sana membawa tas kerjanya yang hasilnya berbagai laporan kesehatan medis Angel. Walaupun ini privasi pasien, tetapi dengan mengaku sebagai saudara dekat Angel akhirnya mendapatkan salinannya.
"Positif sembuh." Katanya pelan, tuan Rey barulah bisa bernafas lega untuk saat ini.
"Sekarang pulanglah, semua belum terlambat, kamu bisa meminta maaf padanya, dan saat ini istrimu sedang mencari dirimu."
Seketika tuan Rey mengambil jasnya yang tadi tergantung di kursi kebesarannya....
dan
Bersambung
__ADS_1