
Suara tangisan Revi terdengar sangat melengking hingga menembus pendengaran keduanya, yaitu Rey dan juga Vio. Mereka saling pandang, padahal Vio sudah merasa was-was, ternyata apa yang ia khawatirkan selama ini terjadi, Vio begitu takut jika putrinya direbut oleh Rey.
"Sayang kamu bangun?" Vio ketika menghampiri Revi, ternyata bocah berusia dua tahun itu sudah duduk ditempat tidurnya, mungkin saja terbangun karena mencari Bundanya.
"Bunda Bunda..." teriaknya masih dengan menangis sesegukan, hingga nafasnya tersengal sengal.
"Cup.. cup sayang, bunda disini, jangan takut iya." memeluk Revi dan memberikan ketenangan disana.
Seketika suara tangisan Revi yang tadinya melengking langsung terdiam seketika. "Apa yang membuatmu terbangun hemmm..."
"Ayo sekarang tidurlah."
Revi menggelengkan kepalanya, pelukan semakin erat, ia seperti sedang ketakutan akan sesuatu. Interaksi keduanya bahkan tak luput dari pengamatan mata elang Rey.
Revi yang ketakutan hingga membuatnya tertidur itu akhirnya diletakkan lagi ditempat tidurnya. Hingga membuat pergerakan Vio sangat hati-hati.
Setelah meletakkan kembali Revi ke tempat tidurnya, Vio lantas menemui Rey kembali, bingung apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.
"Katakan anak siapa itu?" tanya Rey, wajahnya menatap lurus ke arah Vio, pandangan matanya terlihat sangat tajam.
Vio merasa seperti sedang ketahuan menyembunyikan sesuatu. "Bukan urusan anda tuan, silahkan anda pergi dari rumah saya." menunjuk pintu keluar.
"Hah apa kamu sedang ketakutan akan sesuatu nyonya Rey?"
"Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Baiklah, urusan kita belum selesai, aku pasti kembali lagi." Rey menekan kata-katanya. Kemudian keluar rumah.
Vio memegang dadanya sendiri setelah kepergian Rey, kini kehidupan tenangnya sepertinya tidak akan ia dapatkan lagi, apa yang selama ini ia sembunyikan telah terungkap. Rey telah melihat Revi.
"Hallo Adit, kamu dimana?"ketika sambungan ponselnya terhubung.
"Ada apa denganmu? apa kamu punya masalah?" suara Adit diseberang sana.
"Ehmmm iya, aku dapat masalah besar Dit, kau tahu jika tuan Rey baru saja kemari, sepertinya masalah akan segera datang setelah ini."
"Aku takut dia mengambil Revi dariku Dit," suara Vio terdengar menahan isak tangisnya.
"Tenanglah jangan jadikan beban pikiranmu, aku akan membelamu sebisaku jika itu terjadi."
"Sekarang aku harus bagaimana Dit?"
"Jangan terlalu kamu pikirkan dulu, aku akan mencari cara dulu, sekarang tenangkan saja dulu dirimu."
Setelah obrolan yang membuat beban pikiran Vio itu tercurahkan, Vio berjalan kesana kemari dengan menggenggam ponsel ditangannya. Ia sangat yakin jika tuan Rey saat ini sedang menyusun rencana selanjutnya untuk mengetahui kehidupannya.
__ADS_1
"Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku pergi kemana pun sepertinya dia bakalan ada suruhannya yang membuntutiku." Vio memejamkan matanya bingung, pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
***
.
.
"Bunda... bundaaaaa bangunnnn." suara tangisan Revi begitu melengking kala Vio dilarikan kerumah sakit terdekat, lantaran suhu tubuhnya demam tinggi.
Tadi pagi pagi sekali Adit sudah berkunjung ke rumah Vio untuk melihat keadaan Vio, setelah semalam Vio bercerita panjang lebar mengenai masalahnya.
"Papa... aku mau bunda, aku mau bunda." tangisan itu begitu sulit dihentikan.
"Sayang berhenti dulu nangisnya, nanti bunda akan sedih kalau mendengarkan Revi menangis."
"Bunda hanya kecapekan, nanti juga akan bangun lagi kan."
Adit begitu tidak sampai hati melihat tangis Revi yang pecah, karena merindukan ibunya. Semalam setelah kepergian Rey, Vio menghubungi Adit dan bercerita banyak hal. Bahkan kekhawatiran mengenai dirinya dan juga Revi.
"Bagaimana kabar Vio?" suara yang sudah Adit kenal itu menginterupsi percakapannya dengan Revi.
Revi yang tadinya menangis kini sudah bisa tenang setelah melihat vidio film kartun lucu kesukaannya.
"Tu..tuan anda."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Vio masih diperiksa dokter didalam tuan."
Namun kini pandangan mata Rey beralih menatap intens bocah kecil dalam gendongan Adit. "Kau berhutang penjelasan padaku."
Adit hanya mengangguk saja sebagai jawabannya, saat ini ia belum bisa berbicara banyak lantaran kondisi Vio yang belum stabil dan Revi yang baru saja diam dari rewelnya.
Tidak menunggu waktu lama, Revi tertidur dalam pangkuan Adit, Vio sudah pindah ruangan di kamar perawatan, mereka saat ini sedang berada didalam, setelah Adit meletakkan Revi di ranjang king size di samping brankar Vio.
Letak sofa ruangan itu dengan brankar tempat Vio lumayan jauh, sehingga ketika berbicara pelan pun tidak begitu mengganggu yang sedang sakit.
Rey duduk dengan gaya elegan, satu kaki kirinya bertumpu dengan kaki kanannya, tatapan mata tajamnya mengintimidasi lawan bicaranya, seperti Adit sedang melakukan kesalahan besar dan siap di eksekusi.
"Ehmmm jadi begini tuan." Adit berdehem untuk menetralkan tenggorokannya yang terasa kering akibat suasana tegang sedang ia hadapi saat ini.
"Saya tidak tahu jika nona Vio berlari kemari."
"Ketika almarhum nyonya Angel sakit keras, dan dipindah kemari, sampai nyonya meninggal," Adit menjeda ucapannya. Menceritakan dengan rinci duduk permasalahannya.
__ADS_1
"Beberapa bulan setelah kepergian nyonya Angel, saat itu sedang akan diadakan pesta kebun."
"Disitulah saya bertemu nona Vio tuan."
"Hemmm kau memang hebat,"
"Ti...tidak tuan anda jangan salah paham dulu."
"Benarkah, lalu hukuman apa yang cocok untukmu?"
Rey menoleh pada Revi dan Vio bergantian, melihat sorot mata tajamnya saja sudah membuat Adit mengerti apa arti tatapan mata itu.
"Siapa ayahnya?"
"Anda tanya sendiri saja dengan nona Vio tuan mengenai hal itu."
"Jika dia kabur waktu itu, dan sekarang usia anaknya dua tahun, itu artinya dia anak." ucapan Rey terjeda, berganti menatap Adit.
"Kau tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" tanya Rey, suaranya sedikit berbisik namun penuh ancaman.
"Aku akan mengambilnya, dan kau tidak berhak lagi mengasuhnya."
"Tapi tuan, bagaimana jika nona Vio mencari putrinya."
Rey menoleh lagi, memicingkan matanya ke arah Adit, tanda ia sedang tak ingin dibantah.
"Baiklah tuan, nanti saya yang akan menjelaskan pada nona Vio."
"Hah good job."
"Sebelum kau menerima hukumanmu, maka kau nikmati saja waktumu." ucapa Rey telak. Seketika itu membuat kerongkongan Adit terasa kering, bahkan ia bersusah payah mengeluarkan suaranya kembali.
"Baiklah tuan, saya mohon ampuni saya, ini semua atas permintaan nona Vio."
"Apa yang kamu ketahui setelah bertemu dengannya?"
Adit mendongak, menatap wajah lawan bicaranya yang tegas dan seperti ingin mengeluarkan tanduknya.
"Nona sedang hamil tuan."
Rey jadi mengingat saat saat dimana dia dan Vio melakukan hubungan suami istri sebelum kepergian Vio saat sebelum Vio kabur melarikan diri.
"Hah aku akui kau memang begitu pandai menyimpan rahasia, bahkan aku banyak kehilangan momen berhargaku dengan anakku sendiri."
"Memang patut aku acungi jempol."
__ADS_1
Rey yang sejatinya jarang tertawa, sekali tertawa menjadi menakutkan bagi Adit, menyiratkan ada rencana lain dalam benaknya.
"Sekali lagi saya mohon ampun tuan, jangan hukum kekeliruan saya, kalau pun dihukum tolong jangan lenyapkan nyawa saya, saya masih memiliki seorang ibu yang bergantung pada saya." Adit begitu ketakutan hal ini terjadi sejak lama. Namun saat inilah semuanya terbongkar.