WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Jalan-jalan


__ADS_3

Tuan Rey saat ini tengah mengamati istri mudanya itu menonton drama dengan kaki berselonjor. Terkadang tertawa dan kadang bersedih mengikuti drama yang ia tonton.


Tuan Rey mengambil posisi duduk disampingnya dan mengangkat kaki Vio ke pangkuannya, kemudian dirinya membuka ponselnya dan membalas pesan chat dari istrinya.


"Sayang apa kamu sudah sampai" Angelica


"Hemm iya sudah"


"Jangan telat makan, jangan bekerja terlalu capek" dan masih banyak lagi pesan-pesan peringatan dari istri pertamanya itu. Vio melirik sekilas, melihat suaminya yang diam-diam membalas chat itu. Tetapi Vio cuek saja tak begitu mempedulikan tuan Rey.


Tiba-tiba saja ponsel Vio berbunyi dan dilihatnya ternyata Fani telah menelponnya.


"Ya Fan, besuk weekend iya, baiklah akan aku usahakan"


Tuan Rey tak begitu mempedulikan dirinya yang telah berbicara panjang lebar dengan Fani.


"Baiklah tunggu aku besuk iya" kalimat terakhir yang Vio ucapkan.


"Kau mau kemana" tanya tuan Rey datar.


"Tentu saja jalan-jalan, besuk jan weekend" jawab Vio cuek.


"Tak boleh jalan sendirian selain bersamaku" titahnya.


"Kenapa begitu, aku kan hanya jalan-jalan bersama Fani, seharusnya tak jadi masalah kan."


"Tetap saja tidak di izinkan" suara berat tuan Rey.


"Kau tak berhak melarangku, urus saja istri tuamu itu" kemudian Vio mematikan televisinya dan berlalu dari sana menuju kamar.


Tetapi baru saja dirinya akan berjalan melewati tuan Rey, dirinya sudah ditarik hingga terduduk dipangkuan suaminya itu.


"Lepaskan aku, aku lagi tak ingin melihat wajahmu" kesalnya sambil meronta dari pelukan suaminya itu.


"Kau berbicara apa sayang, hemm....!!!."


"Apa kau ingin lagi" tanya tuan Rey yang sudah mengangkat tubuh ramping Vio.


Vio tak terima dirinya meronta-ronta memukul dada tuan Rey, tetapi apalah daya, sepertinya tenaga Vio tak sepadan dengan tenaga lelaki yang gagah nan perkasa itu. Tenaga Vio hanya seperempat dari tenaga tuan Rey mungkin.


Tuan Rey memasuki kamar mereka yang ada dilantai dua dan meletakkan tubuh Vio di sana.


"Bagaiaman....hemmm, apa kau ingin besuk tak bisa berjalan."


"Ahhhhhh....tidaaakk, aku tidak mau" teriak Vio dengan muka cemberut.


"Jika tak ingin, menurutlah."


"Besuk aku akan mengajakmu ke suatu tempat" tuan Rey memberi tahunya.

__ADS_1


"Baiklah karena besuk tak jadi jalan dengan Fani, maka sekarang aku ingin berjalan menggunakan mobil baru bersamamu."


" Dan..." ide jahil Vio seketika muncul untuk mengerjai suaminya itu.


Tuan Rey menatap curiga pada Vio, sepertinya istri simpanannya ini telah melakukan sesuatu yang licik.


"Apa" tuan Rey mengamati wajah Vio yang terlampaui senang dan mengernyitkan alisnya.


"Aku ingin berkeliling kota dan kamu sebagai pengemudinya"


"Baiklah ayo" perkara mengemudi saja hanya enteng baginya, tak ada masalah. Siapa takut dengan tantangan ini pikirnya. Padahal Vio sudah merencanakan sesuatu untuk mengerjai dirinya nanti.


Vio berjalan keluar mendahului dirinya, sedangkan tuan Rey mengamati istrinya itu dari atas kebawah.


"Vioo.. berhenti" panggilnya.


Vio menoleh ke sumber suara itu, tetapi hanya berhenti ditempatnya.


"Apa lagi" tanya Vio.


"Kau mau keluar dengan pakaian seperti itu" tanyanya.


"Memangnya kenapa, ini kan pakaian normal yang biasa aku pakai sehari-hari atau kemana saja."


"Ganti sekarang, aku tunggu lima belas menit" sambil melihat jam yang melingkar ditangan kirinya.


"Sudah ayo" Vio berjalan santai menuju kearahnya.


"Pakaian apa itu, ganti lagi yang lebih baik dari itu."


"Ihhh kami ini apa-apaan sih" kesal Vio tapi tetap menuruti perintah suaminya itu walaupun mulutnya sudah sangat gatal untuk tidak membantahnya.


Tuan Rey kembali membuka ponselnya mengecek email masuk disana. sambil menunggu Vio kembali.


Vio keluar dari ruang ganti yang kedua kalinya, awas saja jika disuruh ganti lagi, dirinya akan bertekad menyumpal mulut suaminya itu dengan bajunya saking kesalnya.


"Huh...niat hati mau mengerjainya ini malah aku yang dikerjai" gumamnya pelan, dirinya berjalan ke arah tuan Rey sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Sudah ayo" dengan muka cemberut.


"Nah...begitu lebih baik" katanya dengan mengulas sedikit senyumnya.


Saat ini Vio menggunakan dress sedikit melewati lutut berwarna peach, dengan dada tertutup tidak seperti tadi yang memiliki belahan dada rendah, dan panjangnya diatas lutut. Mungkin bisa dikatakan baju kurang bahan.


"Awas saja nanti" dalam hati Vio, dirinya sudah menyusun rencana mengerjai suaminya itu. Hingga membuatnya tertawa pelan.


Tuan Rey melirik Vio sekilas, lalu bertanya. "Kenapa dengan dirimu."


"Tidak ada, aku hanya senang saja, karena kita akan jalan-jalan hari ini" kilahnya beralasan.

__ADS_1


"Benarkah"


"Iya, kenapa kau tak mempercayaiku" dengan suara meninggi, karena dirinya sepertinya sedang menahan kekesalannya pada suaminya itu.


Mereka memasuki mobil dan menempatkan diri masing-masing.


"Jalan-jalan kemana" tanya tuan Rey.


"Kemana saja pokoknya jalan" jawab Vio asal.


Tak ada lagi setelah ini pembicaraan diantara mereka, hening beberapa saat. Hingga beberapa menit Vio masih tak memiliki tempat tujuan.


"Barangkali kamu punya rekomendasi tempat tujuan yang bagus" usul tuan Rey pada Vio.


"Oh iya aku, aku ingin mengunjungi taman bermain untuk anak" ide cemerlang itu muncul begitu saja


"Baiklah" akhirnya tuan Rey melajukan kendaraanya menuju tempat yang dimaksud Vio.


Sampailah mereka ditempat bermain anak, sebenarnya tempat ini bukan tempat bermain anak, tetapi sebuah taman yang di hiasi dengan lampu-lampu yang indah jika dimalam hari, memilik tanaman-tanaman yang terawat, banyak di alat permainan anak. Sehingga lebih dominan orang tua yang memiliki anak kecil yang mengunjungi tempat ini.


"Aku ingin naik kereta kelinci" kata Vio


"Cek kau ini seperti anak kecil saja."


"Iya sudah kalau dirimu tak mau aku akan naik sendiri" kata Vio sudah berjalan akan menuju kereta kelinci itu.


"Baiklah tunggu aku" tuan Rey baru kali ini dirinya seumur hidup mengunjungi tempat seperti ini yang dipenuhi oleh ibu-ibu dan anak-anak kecil. Kalau pun ada yang membawa suaminya juga satu dua.


"Hai pak aku ingin naik kereta kelinci dengan suamiku" kata Vio.


"Wahh bersama suaminya ya non"


"Suami non sudah tampan, mana sayang istri lagi" puji bapak pengendara kereta kelinci itu.


Sedangkan seluruh ibu-ibu yang berada disana tentu saja memandangnya dengan takjub atas anugerah Tuhan yang satu ini.


Dirinya telah memposisikan duduk dipinggir dengan Vio disebelahnya, kemudian ada anak kecil yang ingin duduk di pangkuannya.


"Tidak apa-apa buk biar bersama saya kalau boleh" ijinnya.


Karena anak kecil itu menangis ingin duduk di pangkuannya. Vio malah menahan tawa. "Sepertinya anda punya fans baru tuan" bisiknya pelan.


" Tak apa, setelah pulang dari sini kita membuat yang seperti ini." Vio malah memelototi dirinya dengan garang, tuan Rey menahan senyum.


Disana juga banyak ibu-ibu yang memuji kebaikan hati tuan Rey.


"Wahhh suaminya udah baik mana tampan pulang ning" begitulah pujian ibu-ibu yang membawa anaknya itu.


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2