
Rey baru saja mengecek email masuk di ponsel pintarnya, setelahnya sebuah aplikasi tidak sengaja ia pencet dan disana terdeteksi jika Adit sedang berada dirumah barunya. Hal itu membuat Rey heran.
Ada apa Adit kesana pikirnya. Saat ini dirinya sedang bersantai menikmati udara dingin Villa, masih di tempat yang sama, yaitu Villa tuan Aldo.
"Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan?" tanya seorang penjaga Villa setelah menyajikan kopi pahit dihadapannya.
"Ah tidak, terimakasih pak." balas Rey datar.
Dirinya membereskan leptop yang ada dihadapannya, bergegas pergi dari sana. Bahkan kopinya masih panas belum juga ia sesap sedikit pun.
Rasa ingin marah sangat menggebu gebu, dalam diri. Mugkinkah ada sesuatu yang menarik di rumah barunya. Dalam hati Rey begitu bertanya tanya.
"Hallo kamu dimana?" tanya Rey dalam sambungan teleponnya.
"Saya sedang perjalanan menuju kantor tuan."
"Oh iya tuan, jika anda ingin mengecek sesuatu di rumah baru nona Vio, anda bisa langsung kesana sekarang."
"Saya sudah membawa nona Vio dan juga nona kecil disana." balas Adit dari seberang.
Tanpa ada jawaban darinya, Rey mematikan ponselnya sepihak. Mobil Pajero ia kendarai dengan kecepatan diatas rata rata. Beberapa kaki ia menyalip kanan kiri hingga orang yang ia salip mungkin mengeluarkan umpatannnya.
"Bunda mana Papa Adit?" tanya Revi, nada bicaranya masih cadel.
"Sayang Papa Adit sedang bekerja, kamu waktunya tidur siang, ayo sini sama Bunda."
Mengangkat tubuh mungil Revi kedalam ranjang king size, yang ada didalam ruangan minimalis. "Bunda kapan kita pulang? tanya Revi lagi.
"Kapan kapan, sudah ayo bobok pejamkan mata kamu, jangan banyak bicara."
"Bunda, Bunda kenapa?" tanya Revi mendongak menatap wajah Vio.
"Bunda mengantuk." ucap Vio sambil memejamkan matanya.
Tetapi bocah kecil yang sedang aktif aktifnya itu sama sekali tidak mau memejamkan matanya. Revi terlihat sedang membongkar barang barang yang ada didalam lemari.
Seperti boneka yang sudah tertata rapi, Revi keluarkan dari tempatnya, bahkan ia sedang menemukan pewarna bibir Bundanya.
Revi mencorat coret kaca cermin dengan lipstik berwarna merah menyala, coretan Revi berbentuk acak. Lalu sesekali ia pakai di bibirnya sendiri, melihat hasilnya yang belepotan Revi tersenyum sendiri.
Lalu menemukan pakaian rapi yang tertata di alamari, karena almari itu tidak terlalu tinggi dan bisa dijangkau anak kecil seperti Revi, membuatnya mudah untuk mengacak acak seluruh isinya.
__ADS_1
Ternyata tidak puas sampai disitu saja, Seluruh ruangan sudah seperti kapal pecah, Revi pergi ke kamar mandi dan menyalakan sower. Shower yang letaknya pendek memang didesain khusus untuk anak anak, agar mudah dijangkau.
Revi mengisi ember sampai penuh, lalu masuk di dalamnya, memencet air sabun dengan maksud akan memakainya, namun karena tangan kecilnya tak bisa mengendalikannya sehingga seluruh isinya keluar dari tempatnya.
Habislah seluruh isi sabun karena tumpah, Satu jam lebih Revi mengacak ngacak kamar barunya, sayup sayup terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
Betapa terkejutnya Rey melihat kekacauan yang dibuat oleh Revi Putri kecilnya. "Princessnya Papa, apa yang sedang adik lakukan?" tanya Rey.
Namun melihat keberadaan Rey membuat Revi beringsut mundur. "Ahhhhhh Bundaaaaaa Bundaaaa." Revi menangis berteriak ketakutan dengan kondisi pakaian basah kuyup.
Seketika Vio tergagap bangun. "Revi Revi kamu kenapa?" berjalan tergopoh gopoh melihat keadaan putrinya basah kuyup.
Vio masih belum menyadari kehadiran suaminya, Rey terlihat mengamati pergerakan Vio yang panik karena putrinya menangis pilu hingga membuat tidur nyenyaknya terusik.
"Bunda atut atut..." katanya, walaupun masih cadel suaranya, Vio sudah mengajari Revi belajar bahasa Indonesia.
"Dia sedang membuat kekacauan dan kamu malah keasyikan tidur."
"Apa sebegitu melelahkannya kabur dariku, sampai sampai tak menyadari sedang terlelap." suara bariton membuat fokus Vio beralih memandang ke arah sumber suara.
"Kamu, sejak kapan kamu berada disana?" tanya Vio sambil menimang nimang Revi. Karena baju Revi yang basah, menempel padanya membuat bajunya sendiri ikutan basah.
"Menurutmu?" jawab Rey datar.
Vio terlihat tidak enakan dengan Rey, lalu berjalan melewati Rey yang masih diam ditempatnya.
"Biar aku yang membantu kamu menggantikan Revi."
"Ahh tidak, nanti kamu akan ikut basah semua bajumu."
Rey menatap tajam Vio, pertanda ucapannya tak mau dibantah. "Ah baiklah ini, ini kesempatanmu, karena dia sedang tertidur, kalau dia bangun akan berontak." menyerahkan Revi ke dalam gendongan Rey.
Sedangkan Revi membereskan kekacauan yang dibuat oleh putrinya sendiri. "Tak perlu kamu kerjakan, akan ada seorang pelayan yang membereskannya."
Akhirnya Vio mengganti pakaiannya yang basah, lalu setelahnya mengamati bagaimana Rey menggantikan pakaian anaknya lalu memberikan minyak telon pada seluruh tubuhnya, agar tidak kedinginan.
Lalu melihat bagaimana Rey menidurkan putrinya keranjang dengan sangat hati hati.
Vio berpura pura lagi tidak melihatnya, akan sangat malu jika ketahuan diam diam memperhatikan ketampanan suaminya. Ahh memang seorang ayah idaman batinnya.
"Kenapa? apa aku terlihat keren?" tanya Rey ikut duduk di sofa yang ada didalam kamar anaknya.
__ADS_1
Dua orang Maid telah membereskan kekacauan yang dibuat oleh Revi. "Apa dia setiap hari membuat kekacauan seperti itu?" tanya Rey pada Vio.
"Tidak, ehmm maksudnya kadang kadang." jawab Vio begitu canggung.
"Itu tandanya anak pintar, Kau tahu Chris telah lama mendambakan seorang adik."
"Setiap hari ia menceritakan bagaimana tingkah lucu Revi,"
"Aku tidak menyangka jika seorang putri kecil yang diceritakan oleh Chris itu ternyata Revi, putri kecilku."
"Dia anakku bukan anakmu." ketus Vio.
Entah mengapa Vio masih saja menyimpan sakit hatinya jika mengingat hal hal yang dulu bagaimana Rey memperlakukan dirinya.
"Tapi aku ayahnya, aku yang membuatnya,"
"Dia tidak akan jadi, jika bukan aku yang membuatnya."
"Kamu tak bisa menyangkalnya." ucap Rey dengan suara lembut, namun ada penekanan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Ehmmm iya iya, kamulah pemenangnya, tapi aku yang mengandung dirinya, selama sembilan bulan sepuluh hari, kamu tak berhak mengambil dia dariku."
"Aku tak akan mengambil dia darimu, asal." ucap Rey terhenti. Ada maksud terselubung setiap kata yang diucapkan oleh Rey.
"Apa?" tanya Vio menautkan sebelah alisnya.
"Kamu ada bersamaku dan, aku tak mengijinkanmu keluar dari rumah ini."
Vio berdiri dari duduknya, lalu melihat kearah luar, melihat bagaimana kondisi diluar, sial ternyata Rey telah memasamg kuda kuda keamanan di sekita rumah barunya. Berasa menjadi tawanan saja.
"Apa maksud kamu memberikan banyak bodyguard sebanyak itu?" tanya Vio seolah menantang Rey.
"Aku tak ingin istriku kabur kaburan lagi, dan membuat kepalaku serasa mau pecah."
"Sekolah Chris akan aku pindah kemari, agar dia bisa melihat adik kesayangannya setiap hari." suara Rey terdengar arogan tak mau dibantah.
Vio sangat kesal sekali mengenai hal ini.
lalu
bersambung
__ADS_1
tap love nya iyahh