
Hari ini Rey sangat sibuk dengan pekerjaannya, setelah selesai meeting dirinya menyempatkan pulang kerumah utama untuk melihat keadaan putra semata wayangnya itu.
"Papa..., mama kapan pulang?" tanya Chris masih menggunakan seragam sekolahnya itu.
"Secepatnya papa akan membawa mama pulang, anak papa apa sudah makan?" tanya Rey mengangkat tubuh gembul Chris.
Chris menggelengkan kepalanya, tandanya ia belum makan siangnya. Biasanya Chris mengikuti kelas full day, tapi karena dia sedang bersedih saat ini, sehingga gurunya menelpon suster Ana untuk menjemputnya lebih awal.
"Sepertinya kau tumbuh sangat baik, ayo makan papa suapi." mendudukkan tubuh lucu Chris di kursi.
"Sus tolong siapkan makan siang untuknya." perintah Rey kembali datar ketika dirinya berbicara dengan suster Ana.
"Papa... kenapa bunda tidak pernah menengok aku lagi?"
"Padahal aku kangen bunda, biasanya dia akan kemari bermain bersama mama." celoteh putra kecilnya itu.
"Bunda...?" tanya Rey bergumam pelan, namun Chris masih bisa mendengarnya. Rey memandang Ana tajam, meminta penjelasan lewat sorot matanya.
"Maaf tuan, yang dimaksud tuan kecil adalah nona Vio."
"Vio.." Rey membeo.
Suster Ana mengangguk, sambil menyajikan nasi merah, dan sayur brokoli yang di tumis di campur seafood.
"Sejak kapan dia akrab dengan Chris?" tanya Rey terlihat penasaran. Pasalnya dia tidak tahu jika setiap hari Vio bermain ke rumah utama saat dirinya sedang bekerja, dan sudah sangat akrab dengan Angel dan juga Chris.
"Hampir setiap hari nona Vio bermain kemari tuan, dan akan pulang saat jam tiga sore." suster Ana menjelaskan seperlunya saja.
Rey terdiam sejenak, apa benar dengan apa yang di bicarakan oleh pengasuh putranya itu. "Papa... aku jadi belsedih." suara teriakan Chris membuyarkan lamunan Rey.
"Katakan? jagoan papa bersedih kenapa?" Rey menatap putranya intens.
"Kenapa saat aku sedang sedih malah bunda tidak ada, mama juga sedang sakit, aku jadi sendilian dilumah." wajahnya memelas, ternyata dugaan Rey selama ini salah, jika Vio telah menjauhi keluarganya, buktinya bahkan Chris sampai merindukannya.
"Tak usah kau pikirkan, mama pasti akan sembuh dan bunda pasti akan main kesini lagi." Rey jadi merasa bersalah, pasalnya setiap kali Vio mendekati Chris dia jadi takut berlebihan, pasalnya Vio bukan ibu kandungnya. Hingga tak segan-segan ia membentak Vio dihadapan Angel.
"Ayo anak papa yang tampan ini, sekarang makan dulu, buka mulutnya." mengarahkan sendok ke mulut Chris.
"Tidak mau papa, aku sudah besal, aku bisa makan sendili."
Chris merebut sendok di tangan Rey, lalu melahap makanannya sendiri tanpa bantuan Rey.
"Papa janji nak, mama pasti akan sembuh dan bunda Vio pasti akan kembali bersama kita." batin Rey.
"Papa sudah habis."
__ADS_1
"Baiklah, sekarang mandi, ganti baju lalu istirahat dulu iya." Rey semenjak Angel sakit dirinya menggantikan peran Angel. Dirinya meluangkan waktunya demi melihat tumbuh kembang putranya itu.
Sementara di tempat lain, Adit hari ini ada janji temu dengan dokter Budi, dokter bedah syaraf yang menangani Angel.
"Bagaimana keadaan nyonya Angel dok?" setelah pemeriksaan mereka sedang duduk berhadapan dengan dokter.
"Menurut hasil lab. ini bisa anda baca tuan." dokter Budi menyerahkan selembar kertas, hari ini adalah hari pertemuan ke dua sejak pemeriksaan kemaren.
"Jadi..., nyonya Angel menderita kanker otak stadium empat." Adit menajamkan penglihatannya, dan membaca kertas itu berulang-ulang.
"Benar tuan, apakah nyonya Angel selama ini tidak merasakan gejalanya?" tanya dokter Budi.
"Apakah masih bisa sembuh dok?" Adit sendiri nampak syok, tadi dia telah bersedia membantu Rey untuk menangani Angel, namun ternyata diluar perkiraan. Angel menderita kanker otak stadium empat, lalu bagaimana cara Adit menyampaikan berita ini pada Rey.
🌷🌷🌷
.
.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Rey saat ini mereka sedang berdiri di depan ruangan VVIP Angel.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan,"
"Apa maksud kamu, memangnya kamu salah apa?" tanya Rey suaranya meninggi satu oktaf.
Rey membukanya dan membacanya satu-satu, seketika kakinya terasa lemas, bahkan tak bisa menopang tubuhnya sendiri.
"Tuan, tenangkan diri anda."
"Jadwalkan penerbanganku untuk Angel ke Jepang."
"Aku dengar disana ada dokter ahli syaraf pengobatan kanker otak terbaik." ucap Rey dengan lemah.
"Baik tuan."
Adit menjauh dari sana, menghubungi seseorang, setelahnya memberitahu Rey mengenai jadwal penerbangan menuju negeri Sakura itu, dan Adit juga yang telah menginformasikan pada dokter Yamada.
Sambil menunggu jadwal penerbangan yang dilakukan besuk sore, Angel telah mendapatkan perawatan intensif, seperti kemoterapi dan juga infus, serta obat-obatan terbaik yang telah dipilihkan dokter.
"Sabarlah dulu, besuk kita akan terbang menuju negeri Sakura,"
"Kau harus sembuh, Chris telah mencarimu sejak kemaren, kenapa kamu tak pernah mengeluh padaku." Rey berbicara sendiri, sedangkan kondisi Angel semakin hari bukannya semakin membaik, tetapi semakin menurun.
"Kamu harus kuat, kau tak boleh lemah, bagaimana dengan putra kita yang kau inginkan selama ini, apa kau tega meninggalkan dia seorang diri."
__ADS_1
Keluar dari ruang perawatan Angel, tubuh Rey terlihat tidak bersemangat lagi, dirinya berjalan dengan langkah gontai.
"Mari saya antar anda pulang tuan." Adit yang mengkhawatirkan keadaan Rey, berinisiatif mengantarkan, tak membiarkan Rey mengemudi sendiri dalam keadaan lelah seperti ini. Antara lelah hati dan juga pikirannya.
"Bagaimana dengan mobilmu?" tanya Rey.
"Masalah itu gampang tuan, nanti akan ada orang suruhan yang mengambilnya."
Didalam mobil, tak ada percakapan apa pun, baik Rey dan juga Adit, mereka sama-sama terdiam dalam pikirannya masing-masing.
"Mungkin ini salah satu hukuman untuk anda tuan." batin Adit.
"Namun tak seharusnya nyonya Angel yang terkena penyakit mematikan itu, aku merasa tak tega melihat nyonya Angel berbaring lemah seperti itu." Begitulah pemikiran Adit.
"Siapa yang ingin makan?"
"Anda tuan, saya rasa anda harus makan dulu sebelum pulang." Adit membelokkan mobilnya menuju restauran yang buka dua puluh empat jam.
"Aku tak lapar, kau makanlah aku tunggu disini." Rey bersedekap dada.
"Tapi anda belum makan sejak tadi siang tuan, jika anda tidak makan dan sakit, lalu bagaimana dengan tuan kecil."
Seketika Rey tanpa menjawab Adit keluar dari dalam mobil dan melangkah lebih dulu. "Maafkan saya tuan kecil, jika tidak begini maka papa anda tak akan mau dibujuk hanya karena makan." gumam Adit menggelengkan kepalanya sendiri.
"Apa kau masih ingin berdiri disana." teriak Rey ketika menoleh, ternyata tak ada pergerakan dari Adit.
"Baik tuan." Adit mengambil langkah seribu untuk menyusul Rey.
Lain tempat lain waktu, saat ini Vio tinggal di sebuah pedesaan di pegunungan letaknya, namun tak jauh dari kota.
"Nek sini biar aku bantu."
"Tidak usah nak, nenek sudah biasa membawa barang banyak seperti ini."
"Tak apa nek." Vio merebut barang yang dibawa oleh nenek tersebut, dirinya merasa kasihan.
"Kamu orang mana nak?"
"Saya penduduk sini juga nek. "jawab Vio seadanya.
"Siapa nek pemilik kebun ini?" tanya Vio yang ikut bekerja di kebun anggur yang sangat luas itu.
"Apa kamu penduduk baru, soalnya saya tak pernah melihatmu nak,"
"Iya nek."
__ADS_1
" Jadi kamu pekerja baru juga nak."