
Hari ini Rey begitu murka, seluruh anak buahnya ia kumpulkan, satu persatu tak luput dari amukannya. Ia begitu kesal lantaran tak satu pun ada yang menemukan keberadaan Vio.
"Kalian memang tidak bisa diandalkan, aku tidak mau tahu cari istriku secepatnya," teriaknya dihadapan ribuan anak buahnya.
"Baik tuan." jawab mereka serempak.
Mereka membubarkan diri, kini tinggal Rey dan juga Adit. Suasana mencekam kembali lagi pada dua orang yang berhadap hadapan.
"Dan kamu Adit, cari Vio kemana saja, temukan keberadaannya, sekali saja kamu menyembunyikan mereka untuk yang kedua kalinya."
"Aku pastikan hidupmu tidak akan selamat." murkanya.
Setelah mengatakan demikian Rey pergi meninggalkan Adit yang masih diam mematung.
Malam hari, ia begitu kacau tidak bisa memikirkan hal lain selain Vio dan Vio. Yang memenuhi isi kepalanya hanya dua orang Vio dan juga Revi.
Bagaimana mungkin dua orang itu bisa lolos dari jangkauannya, untuk yang pertama kali anggap saja dia memang lengah, tapi untuk yang kedua kalinya ia pastikan jika Vio tidak akan lepas dari genggamannya.
Rey memasuki mobilnya, mengendarai dengan kecepatan diatas rata rata, menuju tempat rekan kerjanya, kebetulan sekali rekan kerjanya sedang tidak ada pekerjaan diluar kota.
"Aku melihatmu sangat kacau."
"Apa yang membuatmu demikian tuan?" tanya Aldo rekan kerjanya.
"Tidak, hanya saja aku sedang mengkhawatirkan dimana keberadaan istriku." jawab Rey, saat ini mereka duduk berhadap hadapan.
Hal itu membuat Aldo menegang, lantaran Vio pergi kerumahnya bersama anaknya yang masih balita. "Apa anda sudah mencarinya tuan?" tanya Aldo berusaha setenang mungkin.
"Bahkan aku mengerahkan seluruh anak buahku, mereka sama sekali tidak bisa diandalkan."
"Aku akan menghukum mereka semua jika tidak bisa menemukan istriku." jawabnya dengan mata memerah menahan amarah.
"Anda tenanglah dulu tuan."
Suasana malam ini begitu dingin, lantaran hawa dingin pegunungan anginnya begitu menusuk hingga membuat mereka harus menggunakan Coatnya.
"Istri anda pasti akan ditemukan."
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah melepasnya begitu saja."
"Lihat saja nanti jika sudah ketemu." salah satu tangannya mengepal hingga buku buku jari tangannya memutih.
"Apa anda malam ini akan menginap tuan, jika iya sudah tersedia kamar kosong yang siap ditempati."
"Kabut pegunungan sangat berbahaya jika berkendara dimalam hari."
"Sepertinya memang aku akan bermalam disini," jawab Rey datar.
__ADS_1
Mereka kembali menyesap minuman hangatnya yang baru saja disajikan oleh orang yang berjaga Villa disana.
"Apa yang membuat istri anda kabur dari rumah tuan?"
"Ehmmm maaf tuan jika saya telah lancang menanyakan hal pribadi soal perihal ini."
"Aku tidak tahu, tetapi sepertinya dia marah tentang beberapa hal."
"Maksud anda?" tanya Aldo yang tidak begitu mengerti.
"Entahlah dia cemburu mengenai istri pertamaku, atau mengenai hal lain."
"Sebelumnya dia memang marah padaku." suara Rey melemah.
Aldo sudah tidak begitu terkejut mendengarkan hal ini, menjadi rekan bisnis Rey bertahun tahun membuatnya tahu sedikit banyak tentang Rey dan keluarganya.
Bahkan keluarganya masih belum mengetahui perihal dirinya yang memiliki dua istri. Vio dinikahi secara diam diam memang posisinya yang membuatnya seperti itu.
"Baiklah tuan saya rasa anda perlu menenangkan diri dulu, mari saya tunjukkan kamar anda."
Entah mengapa Rey begitu nurut, biasanya dia yang semaunya sendiri tetapi saat ini tak ada kata kata lain selain mengikuti kemauan Aldo.
***
.
.
"Vio kamu sudah menyusahkan semua orang, bahkan telah membuat suami kamu murka."
"Entahlah, hukuman apa yang akan diberikan tuan Rey padamu." gumam Adit.
Saat ini ia sudah menemukan titik lokasi dimana Vio berada, melalui gps diponselnha yang Adit hubungkan diam diam dengan ponsel miliknya, Adit telah mengendarai mobilnya menuju tempat dimana Vio berada.
Setelah sampai begitu Adit langsung turun dan mengetuk pintu rumah besar tuan Aldo rekan kerja Rey.
"Maaf tuan anda mencari siapa iya?" tanya sang asisten rumah tangga yang membukakan pintu rumah besar itu.
"Dimana nyonya Aldo?" tanya datar Adit.
"Sebentar tuan saya panggilkan, anda bisa menunggu dulu, mari silahkan masuk."
Asisten rumah tangga kembali lagi memasuki rumah untuk mencari sang majikan. Terdengar suara tangisan anak kecil yang melengking ditelinga Adit.
Tidak salah lagi, jika itu memang suara Revi ketika sedang menangis. Namun Adit masih berusaha menahan untuk tak mencari keberadaan sumber suara.
"Nyonya ada yang mencari anda?" suara sang Asisten rumah tangga menginterupsi keduanya kala mendiamkan Revi yang rewel.
__ADS_1
"Siapa bik?"
"Saya juga lupa menanyakan namanya nyonya."
"Baiklah saya akan menemuinya sebentar bik." menyerahkan kembali Revi ke pangkuan Vio.
Berjalan keluar, dalam hatinya siapa yang pagi pagi begini bertamu. "Tuan anda." jari telunjuk nyonya Aldo tanpa sadar telah diarahkan pada Adit.
"Iya nyonya ini saya."
"Maaf tuan Adit, ada keperluan apa iya anda kemari?"
"Saya sedang mencari seseorang, saya rasa orang itu berada disini."
"Anda salah tuan, tidak ada siapa siapa dirumah kami."
"Tapi sepertinya saya mendengarkan suara tangisan anak kecil baru saja." Adit berusaha bersabar, agar tak tersulut emosi.
"Itu suara anak saudara saya tuan, memangnya siapa yang anda cari tuan?"
"Setahu saya anda belum pernah menikah." jawab nyonya Aldo menekan rasa gugupnya.
"Anda akan memberitahu saya untuk menyuruh orang itu keluar sendiri atau saya sendiri yang akan menggeledah rumah anda nyonya." sepertinya kesabaran Adit berada di puncaknya hingga matanya terlihat menajam dan wajahnya memerah menahan amarah.
Nyonya Aldo seperti di intimidasi membuat nyalinya menciut, melihat wajah Adit yang terlihat angker.
Huaaaa....
Suara tangisan anak kecil semakin mendekat, detik berikutnya, "Papa..., papaaaaa." Revi turun sendiri dari gendongan Vio dan berusaha berlari kearah Adit.
Hal itu membuat Vio begitu terkejut, dan menutup kedua mulutnya. "Adit kamu."
"Iya ini aku, kamu sedang tidak bermimpi."
Padahal nyonya Aldo begitu mati matian menutup Vio yang telah bersembunyi dirumahnya, tetapi Vio tidak tega jika nyonya Aldo mendapatkan intimidasi dari Adit, hingga membuatnya harus turun sendiri menghadapi masalahnya.
Vio menoleh pada nyonya Aldo mengisyaratkan lewat sorot matanya agar nyonya Aldo meninggalkan dirinya dan juga Adit.
Anak kecil itu menangis terus ternyata sedang menginginkan sesuatu, salah satunya kangen bertemu Adit.
Mungkin Revi sedang menginginkan sosok seorang ayah, hingga membuatnya gelisah dan rewel.
"Maaf."
"Untuk apa kamu meminta maaf padaku."
"Aku bukan suami kamu, pulanglah dan temui dirinya."
__ADS_1
"Jika kamu tidak pulang, maka mereka semua akan kehilangan pekerjaannya."
Vio mendongak menatap manik hijau mata Adit.