
Di ruangan yang minim cahaya, tapi karena hari sudah pagi dan sinar mentari sudah meninggi membuatnya menggeliat dari tidur nyenyaknya.
Vio mengucek matanya perlahan, menyesuaikan cahaya mentari yang masuk melalui celah-celah kaca atas yang tidak tertutup gorden.
"Kau sudah bangun." tanya Rey masih dengan memejamkan matanya.
Vio yang tadinya memandangi wajah tuan Rey lama menjadi salah tingkah, ketahuan oleh si empunya.
"Ehmm iya, aku ingin mandi, karena badanku terasa lengket." keluhnya.
"Apa kamu sudah bisa jalan?"
"Kenapa aku tak bisa jalan, aku rasa aku sudah sehat sekarang."
Vio bangkit dari tidurnya dan turun dari ranjang king size itu perlahan, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aduhhh keningku." memegangi keningnya yang kejedot daun pintu kamar mandi.
"Sudah ku bilang hati-hati, masih saja begini." Rey yang tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakangnya.
"Aku sudah hati-hati tadi, tapi ternyata kepalaku masih pusing."
"Ahhh kau..." belum juga Vio menyelesaikan ucapannya tetapi tubuhnya sudah terasa melayang, diangkat Rey.
"Kau ini apa-apaan, aku bisa jalan sendiri." omelnya.
Namun suara cemprengnya tak di indahkan oleh Rey, Vio di dudukkan diatas meja dekat wastafel, kemudian dironya mengisi bath up dengan air hangat dan memberinya parfum aroma terapy, menambah kesan wangi yang menenangkan.
"Ehh tunggu... tunggu, kau mau apa?" Vio memegangi tangan Rey kala tangan kekar itu memegangi pakaiannya dan siap di lepaskan dan Rey menghentikan aksinya.
"Tentu saja melepaskan pakaianmu."
"Jangan, aku bisa sendiri." Vio.
"...." tak ada jawaban dari Rey, dirinya masih melanjutkan aktivitasnya melepaskan pakaian Vio hingga menyisakan bra berwarna hitam.
Vio menutup tubuhnya membentuk silang dan memlototi Rey, "Kenapa kau tutupi?"
"Tentu saja, karena aku sangat malu." menoleh kearah yang lain.
"Awwww..."
"Kau ini dasar suami tak ada akhlak." memukul-mukul dada Rey lagi.
Ternyata Rey mengangkat tubuhnya lagi dan kali ini menceburkan ke dalam bath up yang sudah terisi dengan air hangat itu.
"Aku sudah melihatnya dan bahkan merasakannya beberapa kali, jadi apa lagi yang kau tutupi," melepas seluruh pakaiannya sendiri dan ikut memasuki bath up dari arah belakang, tangannya merayap membuka pengait bra itu.
"Iya tapi tak usah kau bicarakan dengan vulgar juga lah." mengerucutkan bibirnya lucu.
__ADS_1
Rey yang melihat tingkah istri mudanya ini sangat gemas, memeluknya dari arah belakang dan meremat benda yang bentuknya kembar itu.
"Ahhhh... kau." desah Vio, tak tahan membungkam mulutnya sendiri.
Kali ini misi Rey harus berhasil mengelabui Vio, "Bagian mana yang tadi lengket." alasannya.
"Ngapain juga kau ikut mandi denganku, apa kau akan mengerjaiku lagi."
"Menurutmu?"
"Iya mana aku tahu isi hatimu," ketusnya.
"Apa seperti itu ketika berbicara dengan suamimu sendiri?"
"Ya kau pergi saja sana, bukannya aku dari dulu memang seperti ini, lalu kenapa sekarang malah kau permasalahkan." jawabnya sangat panjang bagaikan kereta lewat.
"Ahhhh... kam...kamu." ketika Rey membuatnya lemah tangannya terus merem*s benda kenyal itu dan bibirnya menc*** area tengkuknya.
Rahangnya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis membuatnya semakin geli dan merasakan sensasi yang lain. Vio menggelinjang dan menikmati di sela-sela omelannya.
"Bagaimana sayang?" suara Rey yang sudah dipenuhi kabut gairah. Dirinya sudah tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.
Tangannya membalikkan badan Vio dan kepalanya turun di area dadanya, bermain seperti bayi, membuat Vio berteriak tidak karuan.
"Keluarkan sayang, jangan kau tahan."
Tangan Vio menekan kepala Rey lebih kuat, agar Rey tak melepaskan his*pannya.
Tangan yang semula meraba punggung bagian belakang turun ke bagian inti, dan bermain-main disana.
Memainkan dengan naik turun dan kadang berputar. "Rey.... ak..aku..." Vio memejamkan matanya merasakan jika sesuatu yang tertahan dalam dirinya sebentar lagi akan meledak.
"Rey... ehmmm." menggigit bibir bawahnya dan berteriak memanggil nama suaminya.
Entahlah kamar mereka itu kedap suara atau bukan, hingga menciptakan suara berisik dari mulut keduanya.
Kini giliran Vio yang mengambil alih, Menaiki tubuh suaminya dan menari disana. "Sayang...aku ingin."
Rey memejamkan matanya merasakan sensasi yang beberapa menit di rasakan oleh Vio.
"Katakan sayang." ucapnya, tangannya yang berganti memainka punc*k benda k*n** itu.
"Aku ingin keliling dunia." ucap Vio tersendat-sendat akibat kelakuannya yang brutal diatas tubuh Rey.
"Aku akan mengabulkannya,"
"Bersabarlah sayang." bisiknya pelan.
"Ayo lebih cepat sayang." memejamkan matanya, ketika merasakan miliknya terasa di cengkram kuat, karena Vio yang akan mencapai puncaknya yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Sesuai yang kau inginkan sayang." tersenyum nakal.
Keduanya meneriakkan nama orang terkasihnya masing-masing. Vio ambruk di atas tubuh sixpack yang di dambakan kaum hawa itu. Suara air yang tadinya saling berbenturan berubah menjadi sunyi, kala kedua orang itu melepas cintanya masing-masing.
"Kau selalu saja mengelabuiku." Vio memeluk tubuh Rey lemah.
"Tentu saja, aku suka melihat wajah cemberutmu." Rey berucap seolah tak memiliki dosa.
"Tapi aku baru saja sembuh, dan kau."
"Tapi kamu menikmatinya juga kan." Rey menatap wajah Vio yang merona karena malu. Seketika Vio menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rey.
Mereka melanjutkan mandinya dengan pindah di shower untuk membilas masing-masing tubuhnya.
"Ini milik siapa?" Vio yang jahil iseng-iseng memegang alat tempur yang sudah mengerut ketika tidur.
"Tentu saja milikmu." Rey meladeni kekonyolan Vio.
"Bukan, kau salah."
"Lalu?" tanya Rey menggosok sabun di tubuh Vio.
"Ini bukan milikku, karena masih ada Angel, jadi milik bersama." detik berikutnya Vio tertawa terbahak-bahak.
"Aku belum pernah lagi berkumpul dengannya sejak dia melahirkan."
Seketika Vio terlonjak kaget, pasalnya usia Chris udah hampir sepuluh bulan jalan saat ini, itu artinya sudah sangat lama mereka tidak berkumpul sebagai suami istri untuk memadu cinta.
"Kau tak boleh begitu, harus adil padanya juga." omel Vio.
"Dia yang tidak mau?" jawab singkat Rey.
"Tidak mau, kenapa?" tanya Vio.
"Dia masih takut, karena masih teringat saat ketika melahirkan Chris."
Vio menganggukkan kepalanya mengerti. "Apa sampai begitu traumanya dia sampai tak mau lagi berhubungan suami istri." gumam Vio pelan, tetapi masih terdengar di telinga Rey.
"Iya sewaktu itu dia mengalami pendarahan, dia tidak tahan dengan rasa sakitnya."
Tapi walaupun begitu tetap saja setiap pernikahan mendambakan kehadiran anak.
Vio jadi membayangkan sendiri jika dirinya yang hamil akan seperti apa, apakah akan mengidam yang aneh-aneh seperti Angel, atau merasakan sakit saat melahirkan. Dirinya jadi menggelengkan kepalanya sambil menggosok rambutnya dari air shower.
Tapi ingatannya jadi teringat ucapan Rey waktu tempo hari, kala dirinya membicarakan soal anak, membuatnya tak ingin hamil saat ini.
dan
Bersambung
__ADS_1