WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Pulang ke Bali


__ADS_3

Bocah nakal ini benar-benar susah di kasih tau, jika keadaanya memungkinkan mungkin saja malam ini juga dirinya sudah terbang dari Moscow ke Bali, dan langsung memasukkan ke dalam kamar tak boleh keluar, istri mudanya ini benar-benar susah di atur.


Sekarang dirinya hanya bisa memantau dari jarak jauh, dan memberikan perintah-perintahnya melalui sambungan telepon.


Sedangkan Vio dan Fani saat ini sedang asyik keliling di taman bermain, Fani yang pamit ingin membeli marsmallow yang diminta Vio tadi harus berjalan lumayan jauh, dirinya menunggu di kursi, sambil melihat orang lalu lalang di sana.


"Apakah anda sendirian nona?" Tanya lelaki yang duduk di sebelahnya, dirinya tak begitu memperhatikan siapa lelaki yang baru saja datang itu.


Vio menoleh, menatap lelaki yang tadi menyapanya, betapa terkejutnya dirinya jika lelaki yang berada di sebelahnya tadi adalah teman masa kecilnya dulu, yang bernama Raga.


"Kak kamu?"


"Kamu....Viona bukan?" Raga juga tak kalah terkejutnya yang melihat Vio, perempuan yang selama ini ia cari.


Mereka berjabat tangan dan saling bertukar kabar masing-masing. Raga lebih tua lima tahun dari Vio. Sehingga Vio sering memanggilnya kakak.


"Kak Raga selama ini kemana saja?" Tanya Vio penasaran.


"Aku selama ini bekerja di rumah sakit Medica Surya."


"Aku juga selama ini selalu mencarimu, aku mendatangi rumahmu kala itu, tetapi katanya kamu di usir dari rumah ibu dan ayahmu, apa itu benar?"


Vio mengangguk pasti, rasanya malas sekali dirinya jika menceritakan masa lalunya yang pahit, dirinya selalu di rendahkan di keluarga ayah dan ibunya. Namun Vio tetap menyayangi ayah dan ibunya karena jasa mereka lah sehingga Vio bisa terawat dengan baik dan semua kebutuhannya tercukupi, namun belum sempat dirinya membalas kebaikan kedua orang tua angkatnya, mereka lebih dulu meninggalkan Vio.


Jika mengingat hal itu membuat Vio sakit hati, dan rasanya ingin membalas saudara ibunya itu, yaitu ayah dan ibunya Mia.


"Itu benar kak," Vio menceritakan panjang lebar kisah hidupnya, dirinya selama ini tak pernah ambil pusing soal harta warisan dari ibu dan ayah angkatnya.


Hanya satu prinsipnya, ia harus bangkit dari keterpurukan ini, hidup juga tak memandang ke belakang bukan.


"Aku sudah melupakan kejahatan mereka semua padaku kak, aku tak mempermasalahkan soal harta warisan papa dan mama,"


"Hanya satu yang aku sesalkan, aku belum bisa membalas budi kebaikan mereka padaku selama ini." Vio menitikkan air matanya tanpa permisi.


"Lalu sekarang kamu tinggal dimana?"


Vio mengaku tinggal di rumah orang kaya dan bekerja sebagai pembantu. Sepertinya masalah baru akan muncul, karena Vio sendiri yang menciptakan masalahnya. Entahlah akan bagaimana reaksi tuan Rey jika mengetahui istrinya ini menye-menye.


"Vio ini pesanan kamu" Fani yang baru saja membelikan pesanan Vio.


Fani menoleh pada Vio, seolah meminta penjelasan, siapa lelaki yang saat ini berada di sampingnya ini.


"Fan duduk sini, kenalin Fan ini dia kak Raga teman aku waktu di kampung." Kata Vio jujur, Fani melihat bola mata Vio seolah menelisik di sana, apakah ada kebohongan, sepertinya tidak ada kebohongan, dan nyata adanya jika yang di sebutkan Vio ini adalah teman masa kecilnya.


"Benarkah?"


Lalu mereka bersalaman, saling menyebutkan namanya msing-masing.


"Kenapa kamu tak pernah bercerita padaku?"


"Iya maaf, aku malas saja menceritakan kisah hidupku."


"Sudahlah duduk sini, ayo kita makan ini."


"Tidak aku tak suka, buat kamu saja." Kata Fani menyodorkan kembali Marsmallow yang di tawarkan padanya.


"Kamu masih sama seperti dulu?"


"Iya kak, ini enak tahu."


"Iya tak apa-apa kamu makan yang manis-manis, asal rajin menggosok gigi saja."


"Iya lah, tentu saja aku rajin gosok gigi, karena gigi adalah salah satu asetku."


Fani melirik malas pada sahabatnya ini, makan apa-apa sukanya yang manis, tak ada bedanya dengan anak kecil.

__ADS_1


"Mungkin masa kecilnya kurang bahagia." Fani mencibir.


"Tidak tua tidak muda, jika ingin makan yang manis-manis ya makan saja, kenapa harus menunggu tua atau pun muda." Vio.


"Iya itu kalau prinsip kamu nona."


"Ehmm apa kalian ada acara lagi sehabis ini?" Tanya Raga menoleh pada dua gadis itu secara bergantian.


"Tidak ada, memangnya kenapa kak?" Vio


"Aku ingin mengajak kalian berkeliling."


"Memangnya tadi kak Raga bersama siapa ke sini?" Tanya Vio penasaran.


"Aku bersama anakku."


"Hah kapan kak Raga menikah, lalu kemana sekarang istrinya kak Raga?"


"Ceritanya panjang."


"Ayo berkeliling, setelah itu aku traktir kalian makan."


Raga bersama dengan anak kecil berusia tiga tahun, dan sekarang sedang ditemani oleh pengasuhnya.


Sedangkan di lain tempat, tuan Rey ketika meneruskan mengecek email masuk, dirinya di kejutkan dengan banyak gambar, yang jika di lihat dari sudut pandangnya seperti terlihat mesra, bagaimana tidak, gambar yang di ambil hanya mereka berdua saja.


Ada adegan berpelukan, seperti sepasang kekasih yang saling merindukan satu sama lain, selain itu ada adegan bersama anak kecil, jika orang melihat mereka seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia.


Tadinya tuan Rey memberikan kebebasan pada Vio, namun kepercayaannya itu sepertinya telah di salah gunakan. Baiklah dirinya harus mengambil tak tik supaya Vio mau menurut dengan aturannya.


Jika masih tak menurut juga, dirinya harus terpaksa pulang dari Moscow ke Bali.


Jarak memang jauh, namun jika merindukan orang yang paling di cintai adalah tak sebanding dengan rindu yang tertahan.


"Iya tuan."


"Tapi tuan, kenapa mendadak sekali."


"Tak usah banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan."


Sambungan telepon diputus sepihak, seketika Adit kalang kabut mengatur ulang jadwal tuannya ini.


"Pasti ada masalah dengan istri kecilnya." Kesal Adit bergumam.


Mau tak mau Adit menyiapkan pesawat pribadi tuan Rey untuk kepulangannya besuk ke Bali. Jika tak segera di siapkan, nanti dirinya akan kena amukan. Dan itu sangat di hindarinya.


Pada pagi hari, drama dengan Angel tentu saja sudah pasti, dengan berbagai bujuk dan rayuan tuan Rey, akhirnya Angel mau di tinggal.


Tuan Rey sudah bersiap, dirinya tak membawa apa-apa, hanya membawa tas kerjanya saja, karena jika baju ganti, sudah pasti di rumah istri simpanannya banyak baju ganti yang tersimpan di sana.


"Apakah sudah siap semua?" Tanya tuan Rey pada Adit yang saat ini akan mengantarkan dirinya ke bandara.


"Sesuai perintah anda tuan?"


"Baiklah."


Dirinya memasuki kursi penumpang, ketika pintu mobil di bukakan oleh asistennya itu.


Selang beberapa jam, ketika sampai di rumah besar, ruangan pertama yang menjadi tujuannya adalah kamar Vio.


Dirinya akan membuka pintu kamar, di sana rupanya Vio masih terlelap di dalam selimutnya.


Seketika tuan Rey memasuki selimut Vio, dan memeluknya dari belakang, Vio yang merasakan tubuhnya seperti tertindih itu, membuka matanya perlahan.


Hampir saja dirinya berteriak, namun mulutnya sudah di bungkam oleh tangan kekar tuan Rey.

__ADS_1


"Diamlah jangan berisik."


Seketika Vio tak jadi berteriak, dan memilih diam, memang dirinya semalam pulang tengah malam, sehingga saat ini masih mengantuk.


Tuan Rey memposisikan tubuhnya, menciumi ceruk leher Vio di sana, tentu saja Vio sangat kegelian dengan tingkah bosnya yang sekarang sudah menjadi suaminya ini.


"Apa yang kamu lakukan."


"Aku mau bangun, tangan kamu ini menyingkirlah."


Vio berlari ke kamar mandi, buang air kecil, menggosok gigi dan mencuci mukanya, hanya hal sederhana yang dilakukannya.


Namun mampu membangkitkan gairah tuan Rey. Vio berjalan ke arah cermin rias, ketika itu tuan Rey mengampiri dirinya dan memeluknya dari belakang, mulutnya menciumi ceruk leher Vio dengan gigitan-gigitan kecil di sana, lalu tangannya sudah merayap kemana-mana.


Detik berikutnya baju yang menempel di tubuh Vio dan tubuhnya sudah entah kemana, pergulatan tak bisa di cegah lagi.


"Sayang aku merindukanmu."


Vio terdiam tak menjawab suara serak suaminya, tuan Rey sudah hilang akalnya jika berhadapan dengan Vio.


"Baiklah aku akan memuaskanmu kali ini, tapi aku minta jalan-jalan naik kapal pesiar, bagaimana?" Vio menggoda dengan suara seksi dan erotis di telinga tuan Rey.


"Baiklah, apa pun untukmu sayang."


Seketika itu entah berapa kali Vio memuaskan tuan Rey, sampai ampun-ampun, tetapi kini kebalikannya, dirinya yang di hajar habis-habisan oleh tongkat yang berdiri tegak milik tuan Rey.


Mampu membuatnya merintih, mendesah, dan berteriak tak karuan, tangannya menjambak rambut indah tuan Rey, dan mulut Vio tak bisa diam, terus bersuara, hingga membuat tuan Rey bersemangat melakukan pergulatan panas ini.


Entahlah kekuatan dari mana tuan Rey ini, padahal dirinya baru saja datang, tetapi sudah melakukan olahraga ranjang, sepertinya tuan Rey ini memiliki kekuatan ekstra.


Vio yang haus belaian tentu saja tak menolak, dirinya juga merindukan sentuhan lelaki seperti suaminya tentunya. Tak ada yang bisa menandingi kehebatan suaminya sepertinya.


Suaminya itu mampu membuatnya mendesah dan berteriak beberapa kali, hingga membuatnya lemas. Namun membuatnya ketagihan.


"Aku ingin kamu di sini terus menerus."


"Kenapa." Tanya tuan Rey.


"Aku tak bisa jauh darimu."


"Apa kamu sakit?" Tanya tuan Rey. Tak biasanya istrinya ini menahan dirinya.


"Tidak, aku masih butuh belaianmu." Ucap Vio terus terang.


"Aku bisa menemanimu beberapa hari saja, tapi maafkan aku,"


"Aku tak bisa lama seperti dulu lagi." Kata tuan Rey setelah menyelesaikan pertempuran yang membuat mereka lelah itu.


"Kenapa?" Tanya Vio, wajahnya mendongak, menatap suaminya.


"Ada hal lain yang tak bisa aku tinggalkan." Kata tuan Rey singkat, wajahnya tak berani menatap wajah Vio.


"Apa itu karena istrimu?"


"Ehmm iya."


"Istrimu Angel kenapa?"


"Bukankah dia sudah biasa kamu tinggalkan lama seperti ini, lalu apa alasannya sehingga kamu tak bisa meninggalkannya?" Tanya Vio penasaran.


"Besuk saja ku ceritakan, sekarang tidurlah."


"Kamu sangat lelah."


Walaupun dengan hati yang sangat kesal, Vio akhirnya tidur juga, mungkin karena efek kelelahan, sehingga pertanyaan yang bersarang di dalam pikirannya ia simpan untuk di tanyakan besuk saja.

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2