WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Hallo, Adit kau kemana saja sampai tak menghubungki?" terdengar suara Vio yang sangat melengking dibalik panggilan itu.


"Hah maafkan aku, lagian juga kamu ini baru angkat telepon bukannya menanyakan kabar tapi malah memberondong banyak pertanyaan."


"Hah aku kesal sekali denganmu, kau tahu jika aku menginginkan sesuatu tapi tidak ada kamu itu membuatku frustasi." mendengarkan penuturan Vio baru saja membuat Adit was-was apa saja keinginan Vio.


"Memangnya kau menginginkan apa?"


"Aku ingin buah plum yang warna kuning, nanti kamu harus antar kesini, aku tunggu."


"Hemm baiklah, akan aku carikan di supermarket terdekat nanti."


Panggilan itu berlangsung sepuluh menit kurang lebih, Vio dan Adit segera mengakhirinya, Adit mengelus dadanya lega. "Akhirnya hanya buah plum saja permintaanya, seharusnya ini tidak sulit kan." gumam Adit pelan. Ia bisa bernafas lega jika permintaan Vio tidak begitu menyulitkan dirinya tidak seperti suaminya tadi pagi.


"Sedang apa kamu disini?" tiba-tiba saja Rey muncul dibelakang Adit.


"Siapa yang meminta buah plum?" tanya Rey memicingkan matanya ke arah Adit, karena tadi dirinya tidak sengaja mendengar gumaman Adit.


"Hah anda kesini tuan?"


"Iyach aku sedang mencarimu."


"Kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Pertanyaan yang mana tuan?"


Adit berusaha mengalihkan perhatian Rey, "Siapa yang meminta buah plum seperti katamu tadi?"


"Ah tadi ibu saya tuan, katanya ingin memakan buah plum, mulutnya kurang enak makan sesuatu." Adit terpaksa berbohong.


"Baiklah kalau begitu tinggal kau suruh seseorang saja untuk membelikan sebanyak yang ibumu mau."


"Baik tuan."


"Ada apa anda mencari saya tuan?" tanya Adit segera menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


"Tidak aku hanya butuh udara segar saja."


Rey ikut duduk di kursi dekat gazebo, yang tengahnya terdapat meja. "Apa menurutmu tinggal ditempat seperti ini membuat suasana baru lebih fresh." tanya Rey menghirup udara sebanyak mungkin dan mengeluarkannya bebas.


"Hemm sedikit tuan.."


"Menurutmu dimana keberadaan Vio? apa dia sebentar saja tidak pernah ingat aku?" tanya Rey melemah, tidak seperti biasanya menjadi Rey yang gagah dan berwibawa disegani banyak orang dan juga rekam bisnisnya.


"Anda bersabarlah tuan, jika anda dan nona Vio masih berjodoh pasti akan bertemu kembali." Adit dalam hal ini merasa bersalah, pasalnya dirinya sudah menemukan keberadaan Vio, namun malah Vio sendiri yang tidak mau bertemu dengan Rey. Hal itu membuat Adit tutup mulut. Padahal bisa saja Adit membocorkan hal ini, namun Adit takut jika Vio akan melarikan diri lagi, dan malah membuatnya sangat khawatir.


"Alangkah lebih baiknya anda memikirkan tuan kecil dulu tuan."


"Sebentar lagi tuan kecil akan memasuki sekolah dasar, bukankah dia anak yang membanggakan." Adit berusaha mengalihkan pembicaraan, pasalnya dirinya sendiri takut terpeleset omongan jika dalam situasi begini.

__ADS_1


"Ehhmm iya kau benar, dia memang anakku, telah berhasil melewati beberapa lomba yang dia ikuti disekolahnya,"


"Kemampuan tuan kecil memang tak dapat diragukan lagi tuan, multitalenta dari darah anda mengalir deras pada tuan kecil." Adit membesarkan hati Rey.


"Hemmm dia selalu saja ingin ibu baru, dan kau tahu siapa yang dia inginkan menjadi ibunya?"


"Siapa tuan?"


"Vio..., lucu sekali kapan mereka bertemu, kenapa Chris begitu antusias setiap kali menceritakan Vio, aku sendiri belum pernah melihat kedekatan mereka."


"Salah anda sendiri tuan, jika bukan karena anda melarang nona Vio untuk dekat dengan tuan kecil, mungkin kejadiannya tak akan sampai seperti ini." batin Adit bermonolog.


"Apa rasa mual dan pusing anda sudah hilang tuan?" tanya Adit menoleh pada Rey.


"Sudah, kenapa?" tanya Rey datar.


"Tidak ada tuan, hanya saja saya akan menyiapkan sarapan pagi anda, karena nanti perut anda akan sangat tidak enak jika pagi-pagi makan yang manis-manis."


"Sarapan pagi yang akan kau siapkan padaku?"


"Ehmm itu saya baru mau menanyakan pada anda, anda menginginkan sarapan pagi apa tuan?"


"Kau bertanya padaku?" Rey menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja tuan."


"Baiklah tuan, bisa anda tunggu sebentar."


Adit berdiri dari duduknya dan berjalan menuju Villa, dimana letak dapur berada. "Hah tadi kan aku menanyakan hal ini supaya aku bisa pergi dari hadapan tuan, tapi kenapa malah seperti senjata makan tuan begini." gumam Adit, tangannya membuka gagang pintu kulkas.


"Oh Tuhan, hari ini aku selamat." Adit memegang dadanya sendiri, tidak rugi juga dirinya menyuruh seseorang untuk selalu memenuhi isi kulkas jumbo itu, semua bahan masak dapur mulai dari sayuran segar, bumbu-bumbu, hingga buah-buahan komplit tersedia.


"Anda ingin membuat apa tuan?" tanya salah satu maid yang datang dari arah belakang Adit.


"Aku ingin membuat Jajangmyeon isi Seafood,"


"Oh bukankah itu makanan Korea tuan."


"Ehmmm iya kau tahu?"


"Tentu saja tahu tuan, apa tuan ingin aku bantu?"


Perempuan berkulit putih, rambut lurus hitam legam dan mata sipit yang khas itu menawarkan bantuannya pada Adit.


"Baiklah, kamu bantu potong-potong jamurnya, dan juga kamu cuci kerang-kerangnya."


"Baiklah tuan."


Semuanya yang memasak Adit namun dengan instruksi Nara, yang berprofesi sebagai maid disana.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, Nara juga yang membantu menyajikan, Adit yang kelihatannya cuman hanya acak-acak area dapur.


"Kalau tuan Adit yang memasak akan menambah pekerjaanku saja."


"Bagaimana bisa?" tanya Adit.


"Tentu saja, seluruh dapur jadi berantakan, sementara akulah yang membersihkan area dapur."


"Baiklah tak usah mengeluh, nanti akan aku tambah bonusmu."


Mendengar kata bonus membuat wanita muda yang berprofesi sebagai maid itu tersenyum sumringah. Namun Adit tak begitu memperhatikan.


"Ck, bukannya bilang terimakasih atau apa kek, main tinggal saja, dasar tidak tahu sopan santun." omelnya.


***


.


.


Adit berjalan dengan kesusahan, pasalnya ini dataran bentuk lereng-lereng, tidak rata untuk ukuran tanahnya sendiri. Namun Adit berusaha memberikan yang terbaik untuk Rey.


"Silahkan tuan."


"Ehmmm."


Membuat kesal seseorang memang, sudah sudah payah acak-acak dapur tapi ketika masakan jadi bukannya disambut dengan antusias tapi malah dicuekin, bahkan dilirik saja tidak.


"Saya membuatnya sepenuh hati tuan, apa anda tidak berniat mencicipinya?"


"Apa bahan-bahan yang kamu gunakan tadi aman?"


"Tentu saja tuan, semuanya bahan berkualitas premium."


"Kau tidak mencampurkan sesuatu di dalamnya kan?"


"Saya hanya mencampurkan bumbu bubuk tuan."


"Baiklah bisa kau cicipi lebih dulu." perintahnya, yang membuat Adit dongkol setengah mati.


"Sudah tuan, apa anda percaya sekarang." setelah Adit mengambil sendok, mengambil sedikit lalu menuangkan ke tangannya.


"Baiklah aku percaya." Rey mengambil sendok, disambut Adit antusias dalam hati, pasalnya dirinya tidak begitu menyukai dalam hal masak memasak.


"Ini beneran kamu yang memasak?" tanya Adit, mulutnya masih mengunyah kerang abalon bercampur bumbu merah.


"Tentu saja tuan, bagaimana rasanya menurut anda tuan?"


"Lumayan."

__ADS_1


__ADS_2