WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Paketan Datang


__ADS_3

Sudah hampir menjelang sore. Dua orang beda generasi itu masih juga belum datang. Vio sudah membaca Novel hampir separuh buku.


"Sudah jam segini juga, kenapa belum pulang." gumamnya. Rasa khawatir dan cemas menyelimuti perasaannya.


Sekali lagi dirinya mencoba menghubungi Adit, namun tak juga tersambung, "Anak itu membuatku kesal saja, kemana juga sih perginya Adit,"


Terdengar suara ketukan pintu, "Selamat sore nyonya, benarkah ini dengan nyonya Rey?" tanya seorang kurir pengantar barang.


"Iya dengan siapa iya?" tanya Vio.


"Ini ada kiriman barang nyonya, mau di turunkan disini apa di taruh dimana iya?"


"Barang? maaf saya tidak pernah memesan barang, barang apa iya?" tanya Vio bingung.


"Ini semua barang tuan Rey nyonya, nanti bisa tanyakan saja pada suami nyonya." jawa kurir tersebut.


"Baiklah turunkan saja disini, nanti biar dirapikan asisten rumah tangga saya," kata Vio, ia juga tidak bisa memasukkan orang luar sembarangan. Apa lagi ketika suaminya tidak ada dirumah.


Sesuai perintah Vio, kurir tersebut menurunkan barang barang dari dalam mobil box.


"Barang sebanyak ini? apa saja isinya?" gumam Vio. lalu memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk membawanya masuk menuju ruang tengah. Karena barang barang itu bukan miliknya, sehingga Vio tidak berani lancang membukanya.


Ia duduk di kursi sofa tunggal untuk menunggu kedatangan suaminya. "Hallo selamat malam Bundanya anak anak." sapa Rey yang mengagetkan Vio sedang duduk diam itu.


"Kalian, kalian dari mana saja?" tanya Vio begitu Rey berjalan mendekat kearahnya.


"Sssttttttt jangan berisik dia masih tidur." jari telunjuk Rey mengarah ke mulutnya, menandakan jangan mengganggu tidurnya anaknya.


Hal itu langsung membuat Vio terdiam, yang tadinya sudah berapi-api ingin marah pada Rey.


Rey berjalan melewati Vio. masuk menuju sebuah kamar minimalis tetapi terlihat elegan. Setelah menidurkan Revi. Mereka berdua keluar kamar menuju ruang tengah lantai dua.


"Kapan Chris akan pindah kemari?" tanya Vio tiba tiba.


"Kenapa memangnya?" tanya Rey balik.

__ADS_1


"Aku rasa dia sangat merindukan kakaknya, Revi terus menerus menanyakan Chris jika sedang bersamaku."


Rey terdiam, lalu mendongak menatap Vio yang sengaja duduk di kursi tunggal. Lantaran ogah ogahan jika harus duduk bersanding dengan Rey.


"Dua hari lagi mungkin, aku harus mengurus visa nya dulu, dan surat kepindahannya kemari."


"Lalu apa rencana kamu selanjutnya?"


"Apa kamu akan menahanku seperti ini terus?" tanya Vio berkata pelan dan menyilangkan kedua tangannya.


"Tentu saja kamu harus tinggal dirumah ini, ini adalah rumah impianmu, tidak seharusnya kamu keluar dari sini."


"Setelah Chris pindah kemari. Aku akan membawamu ke Rusia bertemu ayah ibuku." kata Rey membenahi posisinya, pindah tempat duduk didekat Vio.


Bahkan Vio tidak menyadari jika Rey sudah mendekatinya. Namun detik berikutnya, malah melakukan hal yang tak terduga. mengangkat tubuh ramping Vio.


"Ahhhh...." memukul dada bidang Rey dengan brutal.


"Sstttttt diamlah, atau kamu mau membuat semua penghuni dirumah ini keluar menyaksikan kita berdua." bisiknya pelan ditelinga Vio.


Manjur juga berbicara seperti ini, terbukti setelah Rey berbicara demikian Vio terdiam tak lagi bersuara.


"Tidak, aku rasa aku harus menghukumu supaya lebih nurut," bisiknya, yang malah menbuat bulu kuduk Vio meremang. Merasakan sensasi yang lain.


Rey manutkan bibirnya, menyesapnya dengan penuh perasaan. Lalu berbisik kembali. "Buka pintunya sayang."


Tak dapat dipungkiri jika Vio sendiri merindukan sentuhan hangat suaminya. Merindukan ketika dirinya dimanja dan diratukan.


Vio membuka pintu dan menguncinya. Lalu Rey menurunkan dirinya perlahan diatas ranjang king size. Kamar mewah yang didesain oleh seorang ahli.


Malam ini mereka seperti pengantin baru yang yang saling menginginkan satu sama lain. Walaupun mulut Vio bilang tidak dan protes, namun tubuhnya bereaksi lain.


Rey merindukan bibir manis yang memabukkan ini, sudah lama ia berpuasa membuatnya bringas. Menyesap bibir tipis Vio tanpa melepas sedetik pun tautannya. Tangannya bahkan sudah kemana mana.


Membimbing Vio, agar menautkan tangan Vio ke lehernya. Apa lagi keluar suara lenguhan Vio yang serak membuatnya bersemangat.

__ADS_1


Mulut seksinya turun ke lehernya memberikan sensasi geli bercampur. Membuat empunya hilang kendali hingga kehilangan akal sehatnya.


Ini gila, tubuhku kenapa kamu mengkhianatiku. Batin Vio kesal. Tidak singkron antara tubuh dan juga pikirannya.


"Malam ini dan seterusnya kamu adalah milikku sayang, akan aku pastikan kamu tidak bisa lepas dariku." bisik Rey. Gairahnya sudah memuncak.


Tangannya begitu lihai membuang pakaian Vio dan di ikuti pakaiannya. Berganti jari tengahnya bermain main di area intinya.


"Ahhhhh Reyyyyyy." teriak Vio menjambak rambut Rey kala mencapai pelepasannya yang pertama, sambil menekan kepala Rey yang sedang menjadi bayi besarnya.


Rey begitu tersenyum puas melihat istrinya yang berada dibawah kendalinya. "Kamu sangat seksi sayang, aku menyukai teriakanmu." tersenyum menyeringai.


Belum puas sampai di situ, Vio merasakan ada mulut yang sedang bermain main di area intinya. Sensi lain ditubuhnya kembali bangkit dan terjadi gelombang getaran pada inti tubuhnya.


Teriakan demi teriakan didalam ruangan yang kedap suara itu begitu nyaring. Sampailah pada kegiatan inti. Rey memasukkan inti tubuhnya.


"Keluarkan suaramu sayang." bisiknya terdengar erotis.


Peluh keringat keduanya sudah bertukar, hingga ruangan yang sangat dingin itu berubah menjadi sangat panas. Dua orang yang saling dimabuk asmara seakan telah lama berpisah dan baru dipertemukan dalam rindu yang sangat mendalam.


Malam itu menjadi malam yang panjang untuk keduanya, Rey sedetik pun tak melepaskan Vio, kegiatan bercinta itu terjadi berulang ulang, hingga jam empat dini hari barulah mereka memejamkan matanya.


Rasa capek lelah letih, begitu menyerang Vio tetapi anehnya tidak dengan Rey. Pagi pagi sekali dirinya sudah bangun dan segar sehabis mandi.


Ia sangat puas semalam telah menghukum istrinya yang telah lama meninggalkan dirinya. Ada rasa bahagia tersendiri dihatinya yang paling dalam ketika mengingat semalam dirinya menghajar Vio.


Hingga membuat Vio kewalahan dan melayangkan protesnya. Benar benar seperti maniak bercinta jika sudah bertemu pawangnya.


Ketika berjalan menuju kamar putrinya Revi, terlihat mukanya berseri, siapa pun yang memandangnya ikut merasakan aura positif Rey pagi ini.


"Sayang sudah bangun?" tanya Rey saat dirinya baru saja membuka pintu kamar Revi.


"Bunda mana?" suaranya masih serak khas bangun tidur.


"Ayo mandi sama Papa, Bunda masih tidur kecapekkan." katanya yang sudah mulai mengangkat tubuh Revi dan membawanya kedalam bathup khusus anak anak.

__ADS_1


Mainan didalam bathup iti sangat lengkap hingga membuat Revi enggan untuk mandi cepat cepat. Revi malah memercikan air pada sang Papa. Hingga membuatnya tertawa geli.


Rasanya bagaikan ada ribuan kupu kupu yang hinggap diperutnya jika melihat buah hatinya tertawa girang seperti ini. Ah bahkan kini dirinya sudah rapi dengan kemeja kerjanya.


__ADS_2