WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Vio Pingsan


__ADS_3

Vio berjalan tanpa arah, karena hari sudah malam. Air mata terus menerus keluar tanpa permisi. Sendal yang tadinya ia pakai sudah tak berbentuk.


Terlihat ada gazebo, dirinya menghampiri dan berteduh disana, namun Vio yang phobia gelap membuatnya menangis dan memejamkan matanya, Muisa terdiam dalam dekapannya.


"Muisa bisakah kamu membantuku mencari malaikat penolong kita."


"Aku takut disini sendirian."


"Aku ingin pulang." isaknya merintih menahan dingin dan rasa sakit dikakinya.


Miiiaaaawwww


Hanya itu respon Muisa kucing Anggora kesayangannya.


Suara angin gemrisik membuatnya antara takut dan merinding, Vio menangis namun tertahan.


🌷🌷🌷


.


.


"Nona Vio, anda dimana nona." teriak Adit berjalan menggunakan sepatu boot, dengan senter ditangan kananya dan tangan kirinya membelah rerumputan yang tingginya bahkan mencapai setinggi orang dewasa.


Jalanan itu mencapai lereng-lereng, karena memang bentuk tanahnya yang tidak rata.


"Nona Vio, berilah tanda jika anda mendengar suara kami." teriakan itu saling bersahut-sahutan.


Seluruh penjaga di villa itu berpencar mencari ke berbagai arah, namun belum ada juga tanda-tanda keberadaan Vio.


Rey yang tadinya sudah berjalan ke belakang villa baru saja melangkah beberapa meter saja sudah kembali lagi dan menghampiri helikopter yang masih terparkir dihalaman villa itu.


Ia berinisiatif, melihat dari ketinggian dan mendarat di sebuah area semak-semak.


"Arahkan titik koordinat di sebelah kanan?" perintahnya pada pilot pengendara. Sedikit banyak ia juga memahami cara kerja pilot dan co pilot. Karena dulu ia bercita-cita menjadi pilot. Namun ayahnya kekeh untuk melanjutkan usahanya, sehingga ia urungkan niatnya.


Namun setiap kali bepergian, ia diam-diam belajar dengan pilot pribadi ayahnya.


"Baik tuan."


Hanya satu tujuan Rey saat ini, tempat yang menjadi incarannya. Kalau tidak di puncak bukit ada di lereng yang di sana terdapat gazebo.


"Muisa doamu telah di dengarkan." lirihnya, suaranya hampir hilang. Vio bahkan masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.


Terdengar suara berisik dari helikopter yang baru saja mendarat di dekat gazebo itu, terdapat seseorang disana yang baru saja melompat dan membawa pencahayaan di tanganya.


"Vio, kamu dimana?" detak jantung Rey bekerja dua kali lipat, takut terjadi sesuatu dengan istri simpanannya ini.


"Apakah disana ada orang."


"Tuan Rey," bisiknya pelan.

__ADS_1


"Muisa, apa kamu mendengarkan ada yang memanggil kita."


Dari kejauhan ia melihat sosok lelaki jangkung, berjalan tergesa menuju kearahnya. Vio berusaha bangkit dari duduknya.


"Muisa itu tuan Rey." saking senangnya membuatnya lupa jika ia sedang dalam mode hipotermia. Kedinginan diatas rata-rata.


Detik berikutnya ia terjatuh dan tak sadarkan diri, dengan Muisa ia lepaskan dari tangannya.


"Vio... bangun Vio."


"Jangan tinggalkan aku." isaknya memeluk tubuh Vio erat. Kala menunggu kedatangan dokter pribadinya yang akan dikirim di pulau X.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, seluruh penjaga yang mencari Vio sudah berkumpul ke villa kembali termasuk juga Adit asistennya.


Karena mereka membawa bekal handy talky juga, sehingga Rey bisa memberikan kabar pada mereka untuk kembali lagi ke villa setelah Vio dinyatakan sudah kembali.


Tok...tokkk


Terdemgar suara ketukan pintu dari depan,"Masuk."


"Tuan dokter Ferdi sudah datang, apakah bisa masuk sekarang?" tanya Adit.


"Masuklah, cepat periksa dia." perintahnya.


Adit mempersilahkan dokter Ferdi, masuk dan memeriksa Vio, "Kau mau ngapain?"


"Tentu saja saya mau memeriksa nona Vio tuan."


"Lalu kenapa kau membuka bajunya?"


"Tak ada alasan, bagian mana yang ingin kau periksa, biar aku yang memegangi." Rey berjalan mendekati dokter Ferdi dan siap mengambil alih stetoskop bagian lingkarannya.


"Baiklah tuan, ini bisa anda pegang, dan anda arahkan kebagian sini, sini dan sini." Ferdi memilih mengalah, dari pada harus berdebat terus menerus tak berujung.


"Apa sudah?"


"Yang sebelah sini tuan."


Rey terus saja mengikuti kemauan Ferdi,"Kau ini bisa memeriksa dia tidak, dari tadi hanya sini, sini dan sini saja." bentaknya pada dokter muda yang usianya seusia Arka keponakannya itu.


"Satu lagi tuan sebelah sini." Ferdi hanya diam dan menerima amukan tuan Rey, ia bisa memahami jika tuan Rey sedang dilanda panik saat ini.


"Katakan, apa yang terjadi dengannya?"


"Nona Vio mengalami hipotermia ringan tuan, dan..." ucapan dokter Ferdi tertahan, menatap Rey dalam.


"Dan apa, cepat katakan."


"Emhhh itu tuan tuan, sepertinya nona Vio phobia sesuatu."


"Entah itu petir, binatang buas atau bahkan kegelapan." hal ini bisa saya pastikan melalui detak jantungnya yang bekerja lebih cepat dari orang normal tuan."

__ADS_1


"Lalu, aku harus bagaimana." tak bisa disembunyikan rasa panik yang melanda hatinya saat ini.


"Anda harus memberikan motivasi yang ringan dulu tuan untuk masalah phobia yang diderita nona."


"Kau jangan berputar-putar, katakan dengan jelas."


"Anda bisa memberikan motivasi ringan seperti kata-kata positif yang anda berikan untuk nona Vio tuan."


"Kalau untuk hipotermia, anda bisa memberikan kain hangat yang di selimutkan di seluruh tubuh nona,"


"Namun jika masih belum menurun, anda bisa melakukan hubungan suami istri tuan."


Ucapan terkahir yang keluar dari mulut dokter muda itu mampu menyita perhatiannya. "Kau jangan bercanda, bagaimana bisa aku membuatnya lelah dalam keadaan seperti ini." ketusnya.


"Itu saran dari saya tuan, karena dengan begitu akan mengeluarkan kalori dan juga keringat yang membuat suhu tubuhnya kembali normal."


"Namun jika anda tak yakin, anda bisa memilih cara yang pertama."


Sebelum Ferdi keluar, ia telah memasangkan alat bantu bernafas, berupa oksigen. Karena nafas Vio terdengar berat.


Adit membawa dokter Ferdi keluar dari kamar utama, dan membawanya ke kamar tamu.


"Apa yang terjadi dengan tuan Rey?" tanya Ferdi sangat pelan pada Adit.


"Tak usah banyak tanya jika umurmu masih ingin panjang


"


"Hah tidak asisten tidak bosnya sama saja menyeramkan." dalam hati Ferdi dokter muda itu.


"Silahkan memasuki kamarmu,"


"Jika butuh sesuatu, aku berada dikamar di ujung sana, kau bisa memanggilku."


Adit berbalik menuju kamarnya, sementara dikamar atas, lama Rey memandangi wajah pulas Vio.


Pandangannya sulit ditebak, karena sorot mata tajamnya tak ada yang tahu apa yang di kehendaki.


"Hanya seekor kucing, malah membuatmu semakin tersesat."


"Kau tahu, betapa khawatirnya aku padamu." memasuki selimut Vio, dan memeluknya erat.


"Sepertinya dokter sialan itu sedang mengerjai aku."


"Dia bilang untuk melakukan malam panas, tapi dia malah memasangkan oksigen,"


"Ck, yang benar saja, awas saja besuk." Rey berdecak kesal. Berbicara penuh ancaman.


"Jika hanya seekor kucing saja yang hilang."


"Aku bahkan mampu membelikanmu seratus ekor kucing." ucapnya lagi berbisik ditelinga Vio. Mencium keningnya berulang kali, membelai tangannya dan sesekali menggenggam dengan erat.

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2