
"Kau tak usah memikirkan soal nama putraku, aku sudah mempersiapkannya."
Seketika itu langsung bungkam mulut Adit. Kini dirinya tak bertanya lagi selain mengenai pekerjaan.
Mereka sarapan pagi dalam diam, sesekali Rey memberikan perintah pada Adit, dan Adit tak bisa membantah selain menuruti setiap ucapan bosnya ini.
"Tuan nyonya menelpon saya lagi." kala suara dering ponselnya berbunyi lagi.
"Angkat saja dan bilang padanya jika kau sedang sarapan pagi dikantin."
"Bersama anda tuan?"
"Memangnya bersama siapa lagi kau saat ini."
Adit terdiam, dirinya menjadi serba salah berada di posisinya saat ini.
"Iya hallo nyonya, anda bisa menunggunya sebentar, mungkin sebentar lagi tuan akan kesana."
".....
"Baiklah."
"Apa yang dia tanyakan."
"Kenapa kau tak menjawab seperti perintahku?"
"Ehmm itu karena nyonya menanyakan kapan anda tiba di ruangannya tuan."
"Baiklah, aki akan kesana sekarang, kau habiskan saja sarapan ini."
Rey berdiri dari sana, dan berjalan menjauh menuju dimana ruang perawatan Angel berada.
"Ck, yang benar saja aku sarapan segini banyaknya, ini bukan makanan kesukaanku." Adit berbicara pada dirinya sendiri, pasalnya porsi makan Adit sangat sedikit ditambah lagi dirinya tidak menyukai sayuran.
Sedangkan makanan yang dipesan oleh tuan Rey adalah omelette sayur dengan irisan daging.
"Mbk,.." panggilnya pada salah satu pelayan.
"Tolong ini dibungkus yang rapi iya," karena makanan itu belum tersentuh sama sekali, sehingga Adit berniat memberikannya pada satpam yang berjaga dirumah sakit itu.
"Baik pak."
Pelayan cafe itu melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Adit tadi, sesekali melirik kearah penampilan Adit, yang benar saja. Orang kaya pesan makanan dan tak habis malah dibawa pulang. Namun sikap dinginnya Adit tidak begitu mempedulikan apa kata hati mbk nya.
***
.
.
Krek...
Suara pintu dibuka perlahan, muncul Rey yang memasuki ruangan itu. Saat ini kedua orang tuanya belum bisa datang ke rumah sakit menjenguk Angel dan bayinya, karena ibunya sedang mengantarkan ayahnya berobat di Jepang.
Begitu juga kedua orang tua Angel belum bisa datang kemari karena masih menangani suatu bisnisnya yang sangat urgent.
__ADS_1
"Kau tidur nyenyak sekali, Chris Dominic Faras." mengambil bayi lucu yang masih belum genap berusia satu minggu itu.
Angel yang tadi berpura-pura memejamkan matanya kala mendengarkan suara pintu terbuka. Tidak tahan jika tak menyahut pembicaraan suaminya ini.
"Nama yang indah." Angel.
"Apa kau tidur nyenyak semalam?" tanyanya pada Angel.
Tetapi Angel hanya diam saja, karena indra penciumannya mencium bau wangi parfum, tetapi bukan parfum milik suaminya. Tetapi ia menepis pikiran-pikiran buruk tentang Rey.
"Aku semalam tidur sangat nyenyak."
"Tapi tak seperti biasanya,karena mulai sekarang tidurku akan terganggu, karena dia." tunjuknya pada bayi mungil yang baru saja diberi nama Chris Dominic Faras ini.
"Ehmm iya maafkan aku." jawabnya datar, jauh dari apa yang diharapkan Angel. Padahal Angel sudah berharap akan di rayu atau di bawakan hadiah misalnya, tetapi harapan tinggallah harapan.
"Nanti aku akan membantu mengurus dia."
"Apa kau sudah makan?"
"Belum.."
"Kenapa belum makan, bagaimana jika asimu tak keluar."
"Makanlah, tadi aku sudah memerintahkan Adit belanja banyak buah-buahan,"
"Akan saya g sekali jika kau tak memakannya, karena yang aku beli atas saran dari dokter ahli gizi."
"Iya nanti aku makan."
Mengambil beberapa buah dan mengupasnya, "Ini buka mulutmu." menyuapkan ke mulut Angel.
"Aku sudah bilang nanti, kenapa kamu memaksaku, tak ada bantahan, makan sekarang, atau kau tak akan keluar asimu nanti."
Dengan perasaan kesal Angel membuka mulutnya juga, dan mengunyah perlahan.
"Sini aku bisa sendiri," merebut piring yang ada di tangan suaminya dan makan sendiri lebih nyaman menurutnya dari pada harus disuapi sambil mendengarkan omelan suaminya.
"Apa dia semalam rewel?"
"Tidak, dia anak yang pengertian dan sangat pintar."
"Apa dia menyusahkanmu?"
"Mana mungkin dia menyusahkanku, dia anakku."
"Aku ingin memilikinya, sehingga sama sekali tak menyusahkanku."
"Dia bukan hanya anakmu, tetapi anakku juga,"
"Kau tahu, dia tak akan ada jika bukan karena aku yang membuatnya." debatnya tak mau kalah.
"Terserah apa katamu saja." batin Angel kesal.
Dari pada makan hati berbicara dengan suaminya lebih baik diam saja.
__ADS_1
"Kau sangat tampan seperti Daddy." celoteh Rey berbicara sendiri mengamati bayi mungilnya kembali.
"Kapan aku boleh pulang?" tanya Angel meletakkan piring yang sudah kosong, mengelap mulutnya dengan tisu.
"Nanti aku tanyakan dokter yang merawatmu."
"Apa kamu hari ini tak ke kantor?" tanya Angel hati-hati.
"Kenapa?"
"Tidak, aku hanya bertanya saja, karena ini sudah sangat siang."
"Terserah aku, aku bosnya tak akan ada yang melarangku dan memerintahku."
"Ck, menyebalkan, mulai lagi sifat arogannya muncul, semoga saja anakku nanti tak mencontoh dirinya." batin Angel berdecak kesal.
"Mau di panggil siapa anak kita nanti?"
"Chris aku rasa lebih baik."
"Ehmm iya tidak buruk juga." celetuk Angel tersenyum tipis.
Baru kali ini juga melihat suaminya banyak bicara dan mendebatnya, dan satu lagi suaminya lebih banyak tersenyum jika di banding dengan biasanya.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Angel pada suaminya.
"Nanti saja," masih menimang bayinya. Sepertinya mulai kali ini Rey akan di sibukkan menimang bayinya, dan waktunya dengan Vio akan berkurang.
Suara ponselnya terdengar nyaring dari dalam saku celananya, sepertinya memang ada hal penting sehingga memerlukan dirinya.
"Ehmm iya tunggu aku setengah jam lagi sampai." kala panggilan telepon sedang berlangsung. Lalu mematikannya dam meletakkan bayinya kembali ke dalam tempat tidurnya.
"Aku akan ke kantor, kau tak apa kan, aku tinggal dulu?" tanyanya sedikit pun tak mengalihkan pandangannya dari Chris si imut itu.
"Tidak, aku bisa menjaga diriku sendiri dan dia, kau pergilah jika masih ada kerjaan."
"Ehmm baiklah, aku sudah menyiapkan suster untuk membantu mengasuh Chris jika diriku tak ada, atau sedang sibuk."
Belum sempat juga protes pada suaminya, tetapi Rey sudah lebih dulu memasuki toilet dan merapikan penampilannya disana. Untung saja dirinya selaku membawa baju ganti untuk ke kantor ketika kemana-mana, berjaga-jaga saja jika sedang ada panggilan penting untuk bertemu dengan klien.
"Aku pamit dulu Chris, "
"Sebentar lagi suster akan datang kemari."
Lalu melenggang pergi keluar ruangan Angel dan menutup pintu perlahan.
"Ck, bahkan aku tak sempat membantahnya." gumam Angel kesal.
"Padahal aku bisa merawatnya sendiri ketika aku sudah pulih nanti."
Rey keluar dari rumah sakit ibu dan anak itu dengan mengendarai mobil gilapnya, pergi menuju kantornya. Tadi ada panggilan dari sekretarisnya mengenai pertemuannya dengan klien yang sudah di tentukan dari dua hari yang lalu. Sejak peluncuran produknya.
dan
Bersambung
__ADS_1