
Lalu Raga me menghubungi Vio yang kemaren hari saat bertemu sudah bertukar nomor, tetapi dirinya masih sibuk sehingga belum sempat menghubungi Vio.
Vio saat ini sedang berada dirumah Fani, sementara Fani sendiri masih bekerja.
Kemaren hari tuan Rey telah meminta Adit jika dalam satu minggu produk barunya harus sudah proses finishing, sehingga hal itu membuat Adit menentukan lebih cepat siapa yang akan menjadi model sampul di produk barunya.
"Bagaimana, apa sudah beres?" Tanya tuan Rey pada asistennya Adit.
"Sesuai permintaan anda tuan, semuanya sudah beres."
Saat ini mereka berada di dalam ruangan tuan Rey, membicarakan banyak hal mengenai bisnisnya.
"Ehmm baiklah, lalu bagaimana dengan penyusup data-data itu?"
"Apa mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan?" Tanya tuan Rey masih tak mengalihkan perhatiannya dari tumpukan kertas-kertas di depannya ini.
"Sudah saya bereskan tuan,"
"Kerja bagus, kamu bisa mengambil bonusmu bulan ini."
"Baik tuan."
Adit telah meminta persetujuan penandatangan file untuk model baru mereka, tentu saja tuan Rey sudah mempercayakan hal itu pada Adit, sehingga dirinya merasa tak perlu lagi membaca file yang di sodorkan Adit, dirinya langsung membubuhkan tanda tangan di sana tanpa tahu siapa nama model barunya nanti.
"Kapan shooting akan segera dimulai?" Tanya tuan Rey lagi.
"Mungkin besuk sudah bisa dimulai tuan."
"Hemm baiklah, aku mempercayakannya padamu."
Adit yang selesai mendapatkan tanda tangan tadi kembali ke tempatnya semula, dan meneruskan pekerjaannya.
Adit kemudian menghubungi seseorang di balik panggilannya itu dan memberitahukan jika shooting dimajukan lebih cepat dari waktu yang di tentukan.
"Siapkan lokasi shooting dan keperluan lainnya, jadwal dimajukan lebih cepat, sesuai permintaan tuan Rey." Adit.
"Baiklah tuan."
"Jangan ada yang membuat kesalahan sedikit pun, jika tak ingin gaji kalian dipotong bulan ini."
"Baik tuan, akan kami laksanakan sesempurna mungkin."
"Baiklah, usahakan hasil yang sempurna."
Lalu mereka mengakhiri percakapannya, Vio telah di hubungi Raga jika saat shooting besuk dirinya akan di temani oleh Raga.
Sedangkan di tempat lain, orang-orang yang memandang tuan Rey adalah suami idaman, walaupun terkesan dingin tetapi sangat perhatian terhadap istrinya.
Hal itu membuat seluruh karyawan merasa iri, bahkan jika tuan Rey berminat, mereka rela jika menjadi yang ke dua atau ke tiga.
"Sungguh tubuh Atletisnya menjadi idaman para kaum hawa." Saat salah seorang karyawan di lintasi tuan Rey dan mengatakan demikian.
__ADS_1
"Kau tak ada bandingannya dengan nyonya Angel, sehingga jangan berkhayal terlalu tinggi jika tak ingin jatuh." Karyawan satunya menimpali.
"Sungguh kamu ini, merusak khayalanku saja."
"Terserah kamu saja." Lalu meninggalkan temannya yang masih berkhayal itu.
Begitulah gaduhnya para karyawan tuan Rey yang sering membicarakan dirinya ketika di kantor.
Tuan Rey waktu makan siang nanti akan pulang ke rumah utama dengan di antarkan oleh sopir pribadi mereka. Karena dirinya harus memastikan sendiri apakah Angel sudah makan siang atau belum.
"Jalan sekarang." Perintahnya pada sopirnya saat ini mereka berada di dalam mobil, setelah berjalan keluar kantor dan sepanjang perjalanan hampir seluruh karyawan wanita itu membicarakan dirinya di belakang.
"Baik tuan."
"Mampir di rumah makan kiri jalan pak."
Sepertinya tuan Rey akan memberikan kejutan kecil untuk istrinya dengan membawakan oleh-oleh makanan kesukaan Angel.
Dirinya harap-harap cemas, apakah di terima Angel dengan baik atau tidak. Namun juga tidak ada salahnya untuk memberikan kejutan pada istrinya.
Makanan kesukaan Angel merupakan stik tenderloin dan juga cake red velvet. Tadi dirinya sudah belanja itu semua dan siap pulang ke rumah dengan wajah datarnya yang jarang tersenyum itu.
"Apakah mau mampir kemana-mana lagi tuan?" Tanya sang sopir yang saat ini melihat ke arah spion untuk melihat wajah tuan Rey itu.
"Aku rasa tidak, langsung jalan pulang saja."
"Baik tuan."
Ketika sudah sampai tuan Rey rasanya tak sabaran, berjalan memasuki rumah besarnya, dan tempat yang di tuju pertama adalah kamar utama.
Ceklek... pintu kamar terbuka dan menampakkan Angel yang saat ini sedang membaca buku di kursi sofa di dalam kamarnya.
Tuan Rey mencium sekilas bibir manis Angel. "Apa saja kegiatanmu seharian ini?"
"Tidak ada, aku hanya membaca banyak buku saja,"
"Apa kamu belum makan?"
Karena tuan Rey datang lebih awal tentu saja Angel belum makan siang, tuan Rey berjalan ke arah meja di kamarnya, di sana tersedia lengkap kulkas, piring, gelas dan peralatan makan lainnya.
"Tadi aku membawakanmu ini."
"Ayo sekarang makanlah."
Angel menoleh ke arah suaminya yang berjalan membawa piring kanan kiri ditangannya. Tidak seperti biasanya. Jika suaminya pulang itu biasanya tak begitu mempedulikan dirinya.
Tetapi kali ini dirinya mendapatkan perhatian lebih. Mungkin karena ada calon anaknya sehingga dirinya mendapatkan perlakuan istimewa.
"Sini biar aku sendiri saja yang makan."
Angel merebut salah satu piring yang yang di bawa oleh suaminya dan langsung melahapnya.
__ADS_1
Oh sungguh calon anaknya ini pandai berpura-pura, bagaimana tidak, jika tidak ada ayahnya Angel tak bisa makan apa pun.
Sehari-hari hanya mual dan bolak balik ke kamar mandi saja. Tetapi jika ada ayahnya di rumah bisa melahap semua makanan tanpa memilih.
"Ini udah habis."
"Terimakasih iya sudah pulang kerumah."
"Ehmmm,"
"Baiklah sekarang kamu bisa kembali lagi kekantor."
Tuan Rey sejak tadi hanya mengamati saja tingkah istrinya ini bagaimana.
"Jangan berkeliaran kemana-mana selama aku tidak di rumah, istirahat saja di kamar."
Angel mengangguk, memanjangkan kakinya di sofa panjang. Tuan Rey sebelum berangkat ke kantor memberikan pesan-pesan penting yang wajib di patuhi oleh istrinya. Tetapi lebih terdengar seperti perintah dari pada sebuah pesan penting.
"Jika kamu menginginkan sesuatu bisa menelponku."
Mencium kening istrinya sekilas, dan meraba perut istrinya lalu pergi kembali ke kantor.
"Kenapa jika ada ayahmu kamu bisa menjadi anak yang manis." Angel berbicara pelan dan meraba perutnya yang sedikit menonjol.
"Apa kamu menyukai kehadirannya."
"Oh sungguh anak yang pandai berpura-pura." Angel berbicara dengan calon anaknya.
Tak lama terdengar ketukan pintu, dan ternyata pelayan yang datang membawa buah-buahan yang sudah di kupas dan di potong-potong.
Angel terheran-heran ketika mendapati pelayannya membawakan buah itu. Terlebih dirinya merasa tak memintanya.
"Siapa yang pesan buah-buahan ini?"
"Ini untuk anda nyonya, tadi sebelum tuan berangkat ke kantor telah meminta kami untuk membawakan buah-buahan pada nyonya."
Mendengar itu seketika hati Angel menghangat, walaupun terlihat kaku pada ekspresinya dan sulit di tebak, ternyata di balik semua itu suaminya sangat perhatian, hal itu membuat hatinya meleleh. Wanita mana yang tidak meleleh mendapatkan perhatian yang istimewa seperti ini.
"Baiklah taruh saja di meja sana." Tunjuk Angel.
Pelayan itu berjalan memasuki kamarnya dan menaruh piring berisi buah-buahan tadi di meja kamarnya. Lalu pamit undur diri.
"Ternyata kamu diam-diam juga sangat perhatian, walaupun sulit di tebak." Gumam Angel pelan, dirinya tertawa sendiri jika mengingat hal itu.
"Rasanya aku ingin hamil terus jika begini."
Angel kembali duduk di kursinya tadi dan melanjutkan membaca bukunya kembali seputar kehamilan yang ia beli lewat online.
dan
Betsambung
__ADS_1