WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Bertemu tuan Aldo


__ADS_3

"Maksud anda tuan?"


"Ehmm iya tuan, saya saat waktu dinihari pergi ke rumah sakit, untuk memeriksakan kondisi istri saya yang sedang sakit, namun tidak di duga kalau saya bertemu dengan tuan Adit disana."


Aldo terlihat melihat jam yang melingkar di lengan kirinya. Ia merasa jika pembicaraannya mengenai kerja sama sudah selesai dan kini sudah waktunya berpamitan.


"Mohon maaf tuan, jika tidak ada lagi hal lain yang dibahas, saya pamit undur diri."


"Ehhmmm baiklah." jawab Rey datar masih memikirkan ucapan tuan Aldo baru saja.


Setelah kepergian rekam bisnisnya, Rey bergegas menghubungi Adit melalui sambungan seluler ponselnya.


Kali ini terhubung, tapi tidak diangkat.


"Dirumah sakit gps nya." gumam Rey pelan.


"Papa kenapa papa tidak makan?" Tanya Chris melihat isi piring ayahnya yang baru dimakan sedikit.


"Ehmm Chris apa makanmu sudah selesai?"


"Belum papa, sebental Chlis masih mau menghabiskan ini dulu."


***


.


.


"Apa kamu sudah menghubungi bosmu?" tanya Vio kala dirinya terbangun.


"Belum, aku juga baru saja terbangun,"


"Ehmm iya ya, tapi ini sudah siang, kamu akan dianggap karyawan yang tidak tahu diri."


"Tidak, aku sudah mengirim surat ijin elektronik, melalui email yang masuk lewat sekertaris."


"Jadi, intinya kamu sudah ijin?" tanya Vio lagi memastikan.


"Tentu saja, aku tak mungkin mengabaikan hal sepenting ini dalam pekerjaan dam tanggung jawabku."


"Ehhm iya aku tahu, kalau tidak mungkin kamu tidak akan memiliki jabatan seperti sekarang ini,"


"Kau meremehkanku?" tanya Adit mengintimidasi.


"Aku tidak bilang begitu."


"Baiklah baik, sekarang kau bisa beristirahat." Vio mengalihkan perhatiannya pada putrinya baru saja terlelap dalam tidurnya.


"Dia sangat cantik, tapi kenapa ini seperti fotocopian suami kamu, apa karena kamu membencinya." Adit menaik turunkan alisnya, mengamati bayi yang terlelap dalam mimpinya itu.


"Jangan berbicara seperti itu lagi di hadapanku, itu sangat menyakitiku." lirih Vio.


"Baiklah tidak lagi."


"Apa kamu membutuhkan sesuatu?"


"Ehmm iya,"


"Apa?" tanya Adit menatap Vio, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Vio.


"Aku rasa aku belum menghubungi nenek Sam, apa aku bisa meminta tolong padamu?"


"Hanya itu? apa ada lagi?"


"Aku rasa itu dulu, setidaknya aku harus mengabarinya, agar aku menjadi cucu yang baik untuknya."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan keluar sebentar, jika kau membutuhkan sesuatu maka bisa hubungi aku, lewat telepon rumah sakit, kamu masih menyimpan nomorku kan."


"Iya, kau pergilah, aku juga akan beristirahat."


"Ck, kau mengusirku."


"Jangan salah paham, tadi siapa yang bilang ingin pergi." Vio membalikkan kata-katanya lagi.


"Baiklah, aku pergi, kau istirahatlah."


Adit bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju keluar, setelah kepergian Adit, Vio berusaha memejamkan matanya, namun baru saja matanya terpejam sudah mendengarkan suara tangisan bayi.


"Revi kau bangun nak." Vio berusaha mengambil bayinya dari ranjang mini, dan menempelkan pada dadanya.


Sepertinya air susunya sudah mulai merembes, keluar. Sehingga tanpa susah payah memerlukan obat untuk membuat asinya keluar.


"Duh bayi cantik bunda, sudah pintar ***** aja." gumam Vio menatap bayinya takjub.


"Iya hallo tuan?"


"Kau tidak masuk bekerja, sedang ada keperluan apa?"


"Saya ada keperluan diluar tuan."


"Sampai kau tak pamit?"


Saya sudah pamit melalui surat elektronik yang saya kirim lewat email, apa sekertaris Li tidak membukanya?"


"Benarkah? kenapa tadi sekertaris Li tidak tahu ketika saya tanya, baiklah kalau begitu akan saya tanya lagi nanti."


"Terimakasih tuan."


"Jangan kau tutup dulu teleponmu, akan sangat tidak sopan jika orang lain belum selesai berbicara sudah main tutup saja."


"Hemm iya ada." suara Rey dari seberang sana terdengar datar.


"Baiklah apa itu tuan?"


"Siapa yang kau jaga dirumah sakit?"


"Kerabat saya tuan."


"Kerabat, sejak kapan kamu memiliki kerabat di Tokyo?"


"Kenapa aku baru tahu?"


Tanya Rey bertubi-tubi tanpa ada jeda, baru saja tinggal disini beberapa minggu yang lalu tuan, sehingga saya perlu menemaninya disaat sakit begini.


"Kerabat kamu laki-laki apa perempuan?"


"Perempuan tuan." menjawab dalam satu kali tarikan nafas, agat Rey tidak curiga terhadapnya.


"Kamu tidak sedang berbohong kan?"


"Untuk apa saya berbohong sampai tidak masuk bekerja tuan."


"Baiklah, aku percaya padamu, jangan sekali-sekali kau berbohong, atau akan ku kirim kau ke negeri Konoha." ancam Rey dibalik sambungan telepon.


"Saya tidak berani tuan."


"Jangan terlalu lama tidak masuk, dan jangan lupakan tanggungjawabmu."


"Baik tuan saya mengerti, ini sedang berusaha saya selesaikan."


"Hemm bagus."

__ADS_1


Lalu sambungan telepon terputus, rupanya Adit sedang berada dikantin rumah sakit, sambil membuka MacBook didepannya untuk mengerjakan sisa laporan laporan masuk yang selanjutnya membutuhkan persetujuan tanda tangan tuan Rey, dan semuanya akan menjadi mudah. Namun tidak boleh ada kesalahan sedikit pun dalam ketikan tulisan didalamnya, karena tuan Rey begitu teliti satu persatu mengoreksinya.


"Kau dari mana saja, kenapa ke kantin saja begitu lama sekali?" tanya Vio memicingkan matanya.


"Ucapanmu seperti seorang istri yang sangat merindukan suaminya."


Seketika snack yang ada di samping Vio melayang begitu cepat ke arah wajah Adit, namun sayangnya tidak kena, dan langsung ditangkap Adit.


"Kau jangan ke gr an, aku hanya bertanya saja."


"Bertanya apa rindu."


"Tidak ada."


"Sudah kau kasih tahu nenek Sam?" Vio mengalihkan pembicaraannya.


"Sudah, sebentar lagi akan sampai sini, kamu bersabarlah."


"Hemmm aku akan bersabar."


"Ehh apa yang kau bawa itu?" tanya Vio yang melihat kantong plastik ditangan Adit.


"Ini kacang tanah, untuk kau makan, supaya asimu keluar banyak, dan membuat dia kenyang." mata Adit beralih ke arah box bayi.


"Hah kalau begini kau begitu perhatian, aku jadi tersentuh."


"Memang selama ini siapa lagi yang perhatian sama kamu?"


"Hemmm iya iya aku tahu, kalau dirimu memang butuh pengakuan." kesal Vio menyambar kantong plastik ditangan Adit.


"Hah teman tak ada akhlak, bilang terimakasih atau apa kek sudah dibawakan oleh-oleh juga." gumam Adit.


"Aku mendengarnya, tak usah bergumam begitu."


"Baguslah, aku jadi tak perlu lagi menjelaskan padamu." jawab Adit santai, lalu mengambil bayi lucu itu dan menggendongnya dalam dekapan hangat Adit.


"Siapa namanya?"


"Revi..."


"Revi?" Adit membeo.


"Iya kenapa, bagus bukan namanya?"


"Ehmmm iya aku tahu apa itu kepanjangannya."


"Ehmm iya tak usah kau sebutkan, oh iya ngomong-ngomong aku kapan bisa pulang?"


"Nanti sore juga boleh pulang, apa tak ada yang kau keluhkan lagi?"


"Tidak ada, aku sudah sehat."


"Baiklah, nanti aku akan bicara pada dokter yang menanganimu."


Sore hari telah tiba, nenek Sam juga sudah berada disana, kini Vio dan bayinya telah bersiap-siap untuk pulang ke rumah yang telah di siapkan untuk Vio dari Adit.


Bukan dari Adit, tapi dari tuan Rey dengan dalih keluarga Adit datang kemari belum menemukan tempat tinggal yang cocok, kebetulan sekali Rey memiliki rumah yang kosong diarea dekat pinggiran kota.


"Aku tidak mau iya tidak mau, aku lebih nyaman tinggal disana." ketus Vio kekeh dengan pendiriannya.


"Tapi nanti akan menyulitkan kegiatanmu."


"Baiklah kalau kamu keberatan, tunggu aku sampai pulih dulu, aku akan mencari tempat tinggal yang baru untuk putriku nanti, tapi untuk sekarang jangan paksa aku untuk tinggal dirumah baru kamu." Vio wajahnya sudah tidak ramah sama sekali, lantaran kesal dengan Adit, padahal niat Adit baik.


Tetapi malah salah paham begini

__ADS_1


__ADS_2