WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Baby R


__ADS_3

Suasana menegangkan sedang terjadi kala dokter mengatakan jika setelah operasi caesar, Vio dinyatakan kehilangan banyak darah, tidak ada hal yang terjadi dengan bayi mungil yang baru saja beberapa jam yang lalu dilahirkan Vio dengan jenis kelamin perempuan.


Adit terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya, menghubungi sana sini, nampaknya ia sedang mencari pendonor darah yang cocok dengan golongan darah yang dimiliki Vio.


Vio memiliki golongan darah AB- yang termasuk dalam kategori langka. Sedangkan stok bank darah rumah sakit sendiri dengan golongan tersebut telah habis. Kebetulan sekali atau entah bagaimana.


Adit panik bukan main, beberapa jam yang lalu telah terjadi perdebatan, jika bisa ambil darahnya saja, namun sialnya darah Adit dan darah Vio tidak sama.


"Vio aku harus bagaimana?"


Beberapa kali Adit menyugar rambutnya kasar, memejamkan matanya agar bisa berfikir dengan jernih, saat ini sama sekali membuat pikirannya buntu. Harus meminta pertolongan dengan siapa.


Adit berlari keluar, menuju basemen dimana mobilnya terparkir. Kali ini ia harus bertindak sendiri mencari keluarga kandung Vio.


"Anda mau kemana tuan?" tiba-tiba suara seseorang yang dikenalnya terdengar menginterupsi.


Ya tuan Aldo sedang mengantarkan istrinya Check up dirumah sakit, karena kebetulan malam itu maagnya sedang kambuh.


"Saya sedang ada keperluan untuk mencari pendonor darah tuan."


"Pendonor darah?" tuan Aldo membeo.


"Iya," jawab Adit singka, terlihat dari raut wajahnya yang panik serta diliputi rasa cemas luar biasa.


"Ehmmm maaf kalau boleh tau apa golongan darah yang tuan Adit butuhkan?" tuan Aldo tidak lagi bertanya lebih banyak, karena ia tahu dalam situasi seperti ini tidak diperlukan cukup waktu untuk berbasa basi.


"AB- tuan."


"AB-" tuan Aldo membeo lagi.


Saling menatap dengan nyonya Aldo, ini golongan darah yang sangat langka, bahkan dokter sendiri yang menjelaskan pada tuan Aldo kala itu ketika dirinya sedang Check up. Istrinya mengangguk menandakan kepada suaminya agar mau menolong tuan Adit.


"Anda bisa mengambil darah saya tuan."


"Baiklah, kalau begitu tuan dan nyonya bisa ikut bersama kami." Adit dan mereka berdua berbalik arah, menuju ke tempat dimana Vio dirawat.


Mereka bergegas menemui dokter yang merawat Vio, Jika kini telah menemukan orang sebagai pendonornya.


"Dokter saya sudah menemukan calon pendonornya." ketika memasuki ruangan dokter tanpa mengetuk pintu. Karena dilanda kepanikan setengah mati.

__ADS_1


"Baiklah, akan saya periksa dulu tuan." kata dokter menggiring tuan Aldo sebagai calon pendonor darah.


Lama Adit dan juga nyonya Aldo menunggu di kursi ruang tunggu, mereka sama-sama terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing, tak ada yang berniat memulai pembicaraan.


"Maaf tuan jika saya lancang, kalau boleh tahu kerabat anda siapa iya yang sedang sakit?" tanya tuan Aldo hati-hati.


"Bukan kerabat tuan, dia teman dekat saya." jawab Adit singkat.


Tidak berapa lama terdengar derap langkah kaki dan pintu ruangan terbuka, ternyata sudah selesai sesi pengambilan darah yang dibutuhkan.


"Sudah selesai tuan, semoga bisa membantu kerabatnya yang sedang sakit." tuan Aldo masih meringis memegangi lengannya yang tadi bekas jarum pengambilan darah.


"Terimakasih tuan Aldo atas bantuan anda, saya tidak tahu lagi harus membalas dengan cara apa."


"Hah tidak usah anda pikirkan mengenai hal itu tuan."


"Kalau boleh tahu siapanya anda yang sedang sakit?" pertanyaan tuan Aldo sama persis dengan pertanyaan istrinya, yaitu nyonya Aldo juga menanyakan pertanyaan yang sama beberapa menit yang lalu.


"Hanya teman dekat tuan." jawab Adit singkat tanpa berniat memperpanjang obrolannya kali ini.


"Baiklah, titip salam buat teman anda semoga segera sembuh, dan saya bersama istri saya mohon pamit."


"Baik tuan dan nyonya Aldo, sekali lagi terimakasih banyak."


Setelah kepergian tuan Aldo dengan istrinya, Adit barulah bisa bernafas lega, kali ini dirinya tidak harus merasa was-was karena sebuah pertanyaan.


Adit berjalan menuju ruangan khusus bayi, bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang cantik, memiliki hidung mancung, dan alis yang tegas, sama seperti Rey ayahnya.


Adit berdiri dari kejauhan, diluar ruangan. "Sus... tunggu."


"Iya tuan.."


"Bolehkah saya masuk, saya mau melihat bayi saya."


"Baiklah tuan, mari saya antar," setelah Adit diminta menunjukkan kartu sebagai tanda ayah kepada suster tersebut.


"Silahkan anda melihatnya tuan, waktunya hanya sepuluh menit."


Adit mengangguk mengerti. Walaupun ini bukan bayinya, namun entah mengapa Adit seperti memiliki anak perempuan yang cantik, hal ini membuat dadanya berdegup kencang, rasa bahagia bercampur menyeruak menjadi satu.

__ADS_1


Bayi mungil yang membuatnya takjub akan kehadirannya, namun ada rasa bersalah dan juga sedih. Sangat disayangkan karena ayah kandungnya sendiri bahkan tidak tahu.


"Maafkan aku tuan, bukan anda yang pertama kali melihatnya putri anda, tetapi aku."


"Entah kesalahan apa yang anda buat dengan Vio, hingga membuatnya membenci anda sampai sejauh ini." Adit mengambil ponselnya, lalu mengabadikan momen indah ini. Dan menjadikannya sebagai layar wallpaper ponselnya.


"Semoga kelak nanti dirimu tumbuh menjadi penyemangat ibumu." gumam Adit menatap bayi perempuan itu lama.


"Bahkan hanya hidungmu yang kau fotocopy dari ibumu, lainnya fotocopy dari ayahmu."


"Aku berjanji, akan menyayangimu seperti anak kandungku sendiri." janji Adit pada dirinya sendiri.


"Maaf tuan, waktunya sudah habis, mohon menjaga ketertiban peraturan rumah sakit,"


Adit keluar, lalu menemui dokter yang tadi menangani Vio. "Bagaimana kondisi Vio dokter?"


"Nyonya Vio, sudah membaik tuan, itu semua berkat kecekatan anda dalam mencari pendonor darah untuk nyonya."


"Sekarang sudah dipindahkan diruang perawatan ibu dan anak."


"Apa anaknya sudah bisa dipindah bersama ibunya dok?" tanya Adit.


"Karena nyonya sudah berpindah dikamar perawatan, maka otomatis bayinya bisa ikut pindah bersama ibunya tuan."


Adit mengangguk mengerti, lalu bergegas menemui Vio diruang perawatan, tidak berapa lama bayinya telah dipindahkan di samping dirinya.


"Semoga kamu kuat menjalani hari-harimu setelah ini." gumam Adit menatap wajah polos Vio yang memejamkan matanya akibat efek samping dari obat.


Waktu pagi telah menyongsong, sinar mentari telah menembus kaca rumah sakit, Vio mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui kaca transparan.


"Dimana aku." gumam Vio masih mengumpulkan kesadarannya.


Lalu matanya fokus menatap seseorang yang tertidur di kursi samping brankarnya. "Adit.., bangunlah dit." Vio mengguncang lengan Adit, namun Adit masih enggan membuka matanya.


"Biarlah, mungkin dia masih kelelahan, pikir Vio."


Mata Vio beralih menatap bayi perempuan yang ada di sebelah sisi kanannya, "Baby R gumam Vio." menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Rasa bahagia, haru, bercampur menjadi satu, tidak menyangka jika dirinya akan menjadi ibu secepat ini. Bahkan dulu ia sempat tidak ingin memiliki anak, apa lagi memiliki anak dengan tuan Rey, jika mengingat nama itu membuat ulu hati Vio terasa nyeri.

__ADS_1


Pasalnya kehadiran anaknya bukanlah keinginan tuan Rey.


Bersambung


__ADS_2