
Revi bangun dari tidur siangnya, hari ini Rey bekerja dari rumah, lantaran takut ditinggal kabur Vio dan juga Revi, sejak kedatangan Vio kemari bersama Revi, Rey menambahkan sistem keamanan rumahnya yang bagaikan kastil jika terlihat dari Kamera Drone.
Setiap sudut rumah besarnya terdapat penjaga yang menyamar sebagai tukang kebun, ada yang menyapu, memotong tanaman yang kurang rapi, mengelap kaca. Itu hanyalah kedoknya saja, agar tidak terlalu mencolok jika mereka bertugas dengan menggunakan pakaian serba hitam seperti bodyguard pada umumnya.
Vio bingung apa yang harus ia lakukan, untung dirinya sedang ada kesibukan membaca novel yang ia temukan di perpustakaan sebelah tadi. Sehingga ketika Revi tidur dirinya ada kegiatan.
" Bundaaaa ..." teriak Revi yang baru saja membuka mata, tak menemukan Vio ditempatnya, ternyata Vio sedang mengembalikan buku yang selesai ia baca ditempatnya semula.
Dan yang mendengar teriakan Revi kebetulan Re, " Anak Papa sudah bangun?" seketika membuat Revi terdiam seribu bahasa, dirinya beringsut mundur ketakutan dengan detak jantungnya jika ditempelkan pada tubuh orang dewasa berdetak lebih cepat.
Warna air mukanya berubah pucat, Revi begitu ketakutannya sampai memandang ayahnya saja tidak mau.Namun karena Rey merasa sangat merindukan putri kecilnya, membuatnya mendekat dan menggendongnya, mendekapnya seolah takut kehilangan, " Apa anak Papa mau mainan?" tanya Rey, sedangkan Revi masih diam saja karena ketakutannya.
" Ayo jalan jalan sama Papa membeli mainan,"
Tanpa menunggu persetujuan vio, Rey membawa Revi keluar rumah, jalan jalan menggunakan salah satu koleksi mobil mewahnya.
Tidak ada tujuan yang mau mereka kunjungi, memang Rey sendiri tidak pernah jalan jalan hanya sekedar belanja mainan untuk anaknya Chrish dulu.
Rey terdiam sesaat, sebelum pergi mencari tempat mainan, "Bundaaa Levi apal," ucap Revi yang bicaranya masih cadel.
" Revi mau apa sayang?" tanya Rey memelankan laju mobilnya setelah sampai disalah satu Mall yang mereka lintasi, lalu tan berpikir panjang Rey memarkirkan mobilnya di Basemen.
Menggendong kembali Revi yang masih terdiam ketakutan. "Bundaaa Lepi apal," ulangnya. Rey terdiam mencerna kata apa yang diucapkan oleh Revi baru saja.
Ketika melewati Stand yang menjual makanan dan minuman, Revi mengarahkan tubuhnya untu berhenti, Rey mengikuti saja apa kemauan Revi.
"Oh anak anak Papa sedang lapar?"
__ADS_1
" Baiklah ayo kita makan," katanya.
Jika orang lain yang melihat mereka berdua, sungguh seorang ayah yang sangat sayang pada anaknya, yang mendapatkan julukan Super Dad, karena ketelatenan Rey menjaga putrinya.
Rey memesan makanan satu porsi untuk Revi saja, lalu dirinya membiarkan Revi makan sendiri, karena Revi tidak mau disuapi, " Anak Papa kenapa pintar sekali, apa Bunda mengajari hal demikian?"
Revi mengangguk, lalu bercerita jika dirinya ingin berkunjung ke Disneyland bersama Papa Adit, Bunda Vio, Kakak Chris, yang mana cerita Revi ini malah membuat Rey kebakaran jenggotnya.
" Lalu Papa Adit akan mengajak adik Revi kapan jalan jalan ke Disneylannya?" tanya Rey lagi.
Ternyata Revi menggelengkan kepalanya tidak tahu, setelah Revi selesai makan, Rey mengajak Revi berkeliling untuk mencari tempat mainan anak anak. Membuat REvi yang tadinya sangat rewel terdiam, karena mendapatkan apa yang dia inginkan.
Revi belanja begitu banyak mainan hari ini, seperti Kuda pono, boneka barby, tenda anak anak, dan masih banyak lagi. Hingga belanjaannya diangkut mobil Box dan diantar ke alamat tujuannya.
" Mainan apa lagi yang princesnya Papa inginkan?" tanya Rey lagi.
Revi sudah kelelahan sepertinya, ia ingin pulang dan tidak mau berjalan sendiri, membuat Rey selalu siap bersedia untuk menggendongnya.
Jadi tidak heran jika sekarang Vio tak bisa membalasnya, malah putrinya sendiri yang membalasnya, dengan cara tidak mau dekat dekat dengannya, kecuali dirinya menjanjikan mainan atau sedang membawa mainan seperti saat ini tadi.
Bahkan dulu dirinya sempat tidak menginginkan anak yang lahir dari Vio. " Pantas saja kamu sangat membenci Papa nak, dulu Papa tidak menginginkan kehadiranmu, mungkin itulah sakah satu alasan ibumu kabur dari Papa,"
" Tapi percayalah, seluruh kasih sayang Papa hanya untukmu, Papa berjanji akan menebus semua salah Papa pada Bundamu," gumam Rey, lalu mengecup kening Revi mulai menjalankan kendaraannya roda empat, membelah jalanan kota Bali.
Dirumah besar, Vio yang sibuk memilah milah buku selanjutnya, buku apa lagi yang akan ia baca, ruangan perpustakaan ini memang Rey buatkan khusus untuk dirinya, mengingat Vio yang sangat menyukai membaca, terutama membaca Novel.
Setelah bertemu buku yang sudah tepat menurutnya, dirinya kembali ke kamar Revi, namun alangkah terkejutnya Vio ketika sampai didalam sana sudah tidak menemukan Revi berada ditempatnya.
__ADS_1
"Dimana putriku?" tanya Vio pada salah satu seorang lelaki yang sedang sibuk membenahi taman.
" Tadi saya melihatnya menaiki mobil bersama tuan nyonya," kata penjaga yang sedang memotong rumput lalu merapikan kembali tanaman yang masih belum rapi.
" Menaiki mobil bersama, karena seingat Vio anaknya itu tidak mau bersama Rey,"
Tanpa berkata apa apa lagi Vio berlari ke dalam rumah mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi Rey, namun sama sekali ponsel Rey tak bisa dihubungi hingga membuatnya berjalan mondar mandir bagaikan setrikaan kusut.
" Kemana kira kira perginya mereka," berulang kali Vio mendesah frustasi, takut terjadi apa apa dengan Revi, akhirnya membuatnya memutuskan menelpon ADit.
" Ada apa kamu siang siang menelponku begini?" kata Adit dari seberang sana.
" Aku lagi butuh bantuanmu, kau tahu tuanmu itu membawa kabur anakku," katanya lagi dengan bersungut sungut, tetapi sayangnya Adit tidak bisa melihat wajahnya.
" Hah mana ada membawa kabur begitu, dia ayah kandungnya kalau kamu lupa," kata Adit mengingatkan.
" Iya aku tahu, tapi tuanmu itu tidak biasa menghibur anak kecil yang sedang menangis, aku khawatir kalau Revi akan pobia padanya,"
"Pikiranmu terlalu jau, jangan kau pikirkan tentang hal buruk pada suamimu, cukup sudah kamu selama ini membuatnya menderita bertahun tahu,"
"Ditambah lagi aku yang kena batunya,"
" CK, apaan kamu ini,"
" Kau tak percaya, lihat saja ini pekerjaanku begitu menumpuk, entah kapan ini selesainya, ini adalah salah satu hukuman yang aku terima karena telah menyembunyikan istri dan anak orang,"
" Tak apa, nanti aku akan mengusulkan bonus padamu, kamu jangan berkecil hati," kata Vio malah terdengar seoerti sedang membujuk anakkecil.
__ADS_1
" Baiklah aku tunggu kabar baiknya darimu," jawab Adit dari seberang telepon.
Lalu sambungan telepon Vio matikan sepihak, dirinya kembali membaca buku Novel yang tadi ia baca, yang sempat tertunda dengan judul Scandal. Seperti yang ada di ReadNovel.