
Adit menoleh, menatap wajah sendu Vio, "Tak usah kau masukan hati."
"Bukankah sudah sering kau mendengarkan kata-kata pedasnya." lanjut Adit menenangkan Vio.
"Tapi aku merasa dia bukan dirinya."
"Dia bukan seperti Rey yang ku kenal, seolah aku tak pantas menggendong bayinya." tangis Vio pecah, detik berikutnya menangis sesegukan.
Adit membelokkan mobilnya di taman di tengah kota, dan turun dari sana, kebetulah taman saat sore hari menjelang malam tidak begitu ramai, sehingga Adit dan juga Vio mengambil langkah menuju tempat duduk disana.
"Tenangkan dulu pikiranmu, ini..." Adit menyodorkan sebuah coklat ditangannya, diberikan pada Vio.
"Kamu ini tahu saja jika ini yang paling aku suka."
Vio menyambarnya dari tangan Adit, dan mengusap air matanya kasar dengan kedua tangannya.
Lalu membuka isinya, dan melahapnya perlahan. "Pelan-pelan makannya, aku tak akan memintanya lagi."
"Kau tahu, jika aku merasa dia akan mengabaikanku untuk beberapa bulan ke depan." Vio menyela di tengah-tengah kegiatan mengunyah coklatnya dari Adit.
"Kau jangan terlalu berspekulasi dini."
"Tapi aku merasa begitu,"
"Dia akan sibuk merawat bayinya, dan juga Angel."
"Tak akan ada waktu lagi untukku."
Tanpa Vio sadari jika hatinya sudah tertaut dengan pria beristri itu, tetapi dirinya belum menyadarinya.
"Apa kamu sedang mengharapkan dia berada di sampingmu setiap saat?" tanya Adit menatap manik hitam Vio.
"Bukan itu yang aku maksud."
"Lalu?" Adit menaikkan salah satu alisnya. Menunggu jawaban yang keluar dari mulut Vio.
"Aku hanya ingin waktunya sebentar saja."
"Satu minggu tiga kali mungkin, atau kalau tidak satu minggu dua kali."
"Misalnya dia sibuk, satu minggu sekali juga tak apa."
"Kenapa begitu?" tanya Adit lagi.
"Aku rasa aku butuh teman berantem."
"Ehh bukan, teman berdebat maksudnya." ralat Vio lagi, menutup mulutnya lucu sambil tertawa kecil. Hal itu malah mengundang perhatian Adit sendiri. Dengan Vio yang begini malah sangat lucu menurutnya, dan dia rasa hatinya mulai merasakan hal lain.
"Jadi ..., kau tak mengharapkan kehadirannya setiap hari?" tanya Adit lagi memastikan.
Vio menggelengkan kepalanya pelan, mengunyah lagi coklat yang sudah tersisa setengahnya ini.
"Kenapa?"
"Aku sadar diri, jika aku hanyalah istri simpanannya, bukan istri satu-satunya, jadi ..."
__ADS_1
"Aku harus tahu diri, ada istrinya yang lain yang membutuhkan perhatiannya lebih di bandingkan aku." ungkap Vio lagi.
"Kau memang berbeda dengan yang lain,"
"Berbeda apanya?"
"Bagaimana tidak, jika perempuan lain mungkin ingin menjadi istri satu-satunya, menjadi nyonya nomor satu, memiliki fasilitas premium, dan ..."
"Yang pasti tidak disembunyikan, ingin status yang pasti."
"Kau memang unik."
Vio tak menghiraukan celotehan Adit, dirinya asyik menikmati mengunyah kegiatan makan coklatnya lagi.
"Kau tak mengerti menjadi aku."
"Sudahlah jangan membahas ini lagi, aku sedang malas."
"Sekarang, antarkan saja aku pulang."
Vio bangkit dari duduknya, membuang sampah setelah selesai makan coklat pemberian Adit. Memasuki mobilnya kembali dan meneruskan perjalanannya.
"Dia memang perempuan unik, yang pernah aku temui, andai saja belum menjadi milik orang lain." batin Adit.
Melajukan mobilnya, membelah melewati beberapa ruas jalan yang semakin ramai semakin menjelang malam itu.
Lampu-lampu yang tadinya masih belum menyala, saat kini mereka kembali sudah kelihatan indah sinarnya. Berwarna warni dan memanjakan mata bagi yang memandangnya.
"Kenapa malah belok, aku kan minta diantar pulang."
Vio mengambil ancang-ancang siap menonjok orang yang duduk di kursi kemudi itu.
"Ayo turun,"
"Aku tak mau, mau ngapain kita kesini." Vio kekeh tetap pada pendiriannya.
"Turun atau aku akan menyeretmu keluar." pintanya terdengar sangat menjengkelkan bagi Vio.
Vio malah diam tak bergeming ditempatnya, pasalnya kini Adit membelokkan mobilnya di hotel bintang lima yang mereka lintasi.
"Kau akan kelaparan jika tak mampir makan dulu." ucap Adit akhirnya.
"Ck, bilang dari tadi kenapa." kesal Vio, yang membuka pintu mobilnya perlahan dan membanting pintunya dengan keras.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Adit yang jalan beriringan disampingnya.
"Tidak," Vio menggelengkan kepalanya, padahal tadi dirinya sudah berpikiran macam-macam.
Acara makan malam dengan Adit selesai, saat akan memasuki mobilnya kembali, sebuah dering ponselnya menyala.
"Hallo iya tuan."
"Kemari, aku tunggu dalam waktu lima belas menit."
"Saya tidak bisa tuan, karena masih berada diluar." Adit menjawab sambil menoleh ke arah Vio, Vio juga sama memandangi Adit yang sedang melakukan panggilan dengan Rey.
__ADS_1
"Tak ada bantahan."
Kemudian panggilan dimatikan sepihak," Dasar bos gila, menyuruh orang seenaknya saja, apa jalan juga tak butuh waktu."
"Dikiranya jin apa, sekali jalan tiba-tiba muncul saja." dumel Vio.
Adit yang mendengarkan kekesalannya itu tersenyum dan menggeleng pelan, melajukan kendaraanya kembali.
"Kenapa kamu bisa betah bekerja padanya?" tanya Vio ngedumel lagi.
"Iya karena uang."
"Bisa keluar tandukku aku, jika menghadapi bos seperti itu tiap hari."
"Hei sadarlah, siapa yang kamu bicarakan."
"Dia suami kamu, mantan bosmu juga kan." Adit mengingatkan.
"Ehmm iya, aku sarankan padamu, supaya kedepannya nanti kamu membangun usahamu sendiri, supaya kamu menjadi bos sendiri."
Tak terasa hingga mobil yang membawa mereka sudah memasuki basemen area apartemen yang Vio tempati.
"Kamu tak usah mampir hari ini, karena aku sedang kesal aku tak menerima tamu." Vio keluar dari mobil Adit dan berjalan cepat memasuki unit apartemennya.
"Bagaimana bisa istri bos yang satu ini bisa bersikap bar-bar seperti ini." gumam Adit pelan. Mengamati Vio yang sedang berjalan ke arah masuk hingga tak terlihat lagi punggungnya.
🌷🌷🌷
Adit berbelok kembali menuju kerumah Rey, Rey yang saat ini sedang menimang bayinya di dalam kamar anaknya, keluar kala sebuah pemberitahuan jika asistennya itu sudah sampai di ruang kerjanya. Dirinya meletakkan baby Chris dan menyusul Adit.
"Tuan, anda memanggil saya kemari apa ada hal yang perlu saya tangani tuan."
"Siapa yang menyuruhmu membawa Vio kemari?" tanya Rey tanpa basi-basi.
"Nona Vio sendiri tuan." jawab Adit tegas, memang benar adanya, karena Vio kemaren mengaku menjadi adiknya Adit, sehingga akan sangat tidak pantas jika dirinya tak menjenguk istri tuannya itu yang habis persalinan.
"Benarkah?" Rey masih berdiri disampingnya, berkacak pinggang, dan pandangan matanya mengintimidasi.
"Saya berani bersumpah tuan."
Hening ... tak ada jawaban lagi, hingga beberapa menit, Rey menatap Adit garang lagi, mencari ada kebohongan disana, tetapi hasilnya nihil. Tak menemukan apa-apa.
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu, tapi ..."
"Lain kali aku tak mengijinkan dia kemari lagi tanpa seijinku."
"Baik tuan, "
Rey duduk di sofa tunggal dan di ikuti oleh Adit,"Ehhm saya mau bertanya suatu hal tuan."
"Kenapa nona Vio tak anda ijinkan menggendong tuan muda Chris?" tanya Adit hati-hati.
dan
bersambung
__ADS_1