
Tuan Rey berjalan dengan tergesa memasuki lorong rumah sakit, wajah datarnya mampu menyimpan sejuta kepanikan dalam dirinya.
"Bagaimana keadaan Angel mom?" Tanya tuan Rey yang saat ini sudah berhadapan dengan ibunya, rasa panik jangan ditanyakan lagi, namun bertanya dengan tenang, rasa gelisah di hatinya mampu ia sembunyikan dengan rapi.
Nyonya Faras hanya diam saja menahan kekesalan di hatinya, namun tidak berani ia luapkan pada putranya ini. Padahal dari kemaren sudah memiliki ancang-ancang untuk memarahi putranya. Tetapi saat berhadapan seperti ini malah tak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir perempuan yang masih cantik itu, walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
"Lihatlah sendiri." Jawab nyonya Faras singkat namun penuh penekanan. Matanya enggan melihat putranya.
Dokter baru saja memeriksa kondisi Angel, pada saat itu berpapasan dengan tuan Rey yang akan memasuki ruangan istrinya.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya tuan Rey.
"Apakah anda tuan Rey suaminya." Dokter Lee bertanya dengan sopan, karena Tuan Rey salah satu pemilik saham terbesar di rumah sakit ini, Sedangkan tuan Rey hanya mengangguk sebagai jawabannya. Tentu saja dokter Lee tidak mengenal tuan Rey, karena dirinya baru saja pindah kemari setelah sebelumnya dinas di rumah sakit luar negeri. Dokter Lee hanya mendengar namanya saja. Tetapi kali kali pertemuan pertamanya dengan tuan Rey.
"Kalau begitu, mari ke ruangan saya tuan." Ucap dokter Lee sangat sopan kepada pemilik rumah sakit ini.
Tuan Rey berjalan mengikuti dokter Lee memasuki sebuah ruangannya, hatinya saat ini sudah bercampur aduk tidak menentu. Antara panik dan khawatir bercampur manjadi satu.
"Silahkan duduk Tuan." Setelah mereka memasuki sebuah ruangan, yang menjadi ruang dinas dokter Lee ini.
"Sebelumnya saya meminta maaf jika penanganan kami kurang baik, tetapi kami akan berusaha semampu kami untuk memulihkan keadaan nyonya Angel."
"Apa yang terjadi dengan istri saya dok."
"Tolong katakan, dan berikan penanganan terbaik untuk istri saya."
"Anda bisa tenang dulu tuan."
"Saya bisa menjelaskan."
Tuan Rey tak bisa menyembunyikan lagi rasa paniknya, dokter Lee juga atas rekomendasi dari sahabatnya Kendra.
Menurut Kendra dokter Lee memiliki skill penanganan terbaik pada pasiennya.
"Katakan sekarang juga dok." Tuan Rey saat ini sudah akan mengeluarkan kekuasaannya sebagai orang nomor satu di rumah sakit ini. Mungkin dalam semalam jika tak ada perubahan pada istrinya, dirinya akan mendatangkan dokter ahli yang terbaik dari luar.
"Untuk masalah nyonya Angel tidak terjadi apa-apa dengan janinnya tuan,"
"Nyonya Angel mengalami morning sickness yang hebat, tidak makan apa pun, sehingga kurang nutrisi."
"Oleh sebab itu, mohon lebih di perhatikan lagi tuan, nutrisi makanan untuk nyonya Angel, sekarang keadaanya sudah pulih, mungkin besuk siang sudah bisa kembali ke rumah."
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi dokter?"
" Sementara saya telah menyiapkan apa saja yang bisa dimakan oleh istri saya, supaya tak kekurangan nutrisi."
"Ee begini tuan, dalam kondisi tertentu setiap ibu hamil mengalami kondisi yang berbeda-beda."
Kemudian dokter Lee menjelaskan panjang lebar pada tuan Rey, tentu saja banyak protes yang dilayangkan dari tuan arogan ini.
Tuan Rey keluar dari ruangan itu, setelah pembicaraan dengan dokter Lee di rasa sudah selesai.
Dirinya berjalan memasuki ruangan dimana Angel di rawat. Ketika membuka pintu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Angel yang terbaring lemah di sana.
__ADS_1
Berjalan menghampiri istri tuanya dan mengecup keningnya sekilas dan turun mencium perut istrinya, lalu duduk di kursi yang ada di samping Angel berbaring. Sedangkan ayah dan ibunya Angel tak bisa menyalahkan menantunya, karena tak mau mencampuri urusan rumah tangga anaknya, ketika mendengar menantunya tiba, dirinya sudah berpamitan lebih dulu kepada ibunya tuan Rey, nyonya Faras.
Rasa kesal tentu saja ada, dari ke dua orang tua Angel, tetapi tentu saja tak akan berani memarahi menantunya.
***
.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja." Tangannya terulur meraba perut rata Angel dengan penuh kasih sayang.
Tak dapat dipungkiri, jiwa seorang ayah muncul ingin melindunginya, mungkin setelah ini dirinya tak akan pergi jauh-jauh lagi sebelum semua ke adaan membaik seperti semula.
"Aku akan menyalahkan diriku sendiri, jika terjadi apa-apa dengan kalian." Ungkapnya.
"Apa kamu marah padaku, karena sudah ku tinggalkan beberapa hari kemaren." Tuan Rey terus mengobrol sambil tangannya tak henti-hentinya meraba perut rata istrinya.
Hingga beberapa saat dirinya ketiduran, asisten Adit yang berada di luar dicecar beberapa pertanyaan oleh nyonya Faras.
"Bisnis apa yang dilakukan tuanmu itu, sehingga lupa istri dan calon anaknya?" Tanya nyonya Faras terdengar sangat ketus.
Tuan besar Faras saat ini berada di rumah, karena memang bergantian untuk menjaga menantunya, jika istrinya datang lebih dulu dirinya akan menyusul, karena memang tadi ada perlu, namun anaknya sudah datang, sehingga tak perlu menyusul kemari.
"Kami sedang membuka cabang perusahaan baru di bali nyonya." Jawab Adit mantap, dalam hatinya semoga saja nyonya besar tak menanyakan pertanyaan yang membuatnya sulit di jawab.
"Apa sebegitu sibuknya, sehingga melupakan tanggung jawabnya?"
"Jawab, kenapa kamu diam saja."
Sepertinya level marah nyonya Faras ini sudah berada di ubun-ubun, sehingga sang asisten pun terkena pelampiasan amarah nyonya besar bosnya, itu semua karena nyonya Faras tidak berani memarahi putranya sehingga asisten Adit yang kena getah permasalahannya.
Nyonya Faras memandang tajam ke arah Adit, wajahnya masih memerah menahan amarah, siap melontarkan cibiran, tetapi ia urungkan.
Asisten Adit memberikan jawaban terbaiknya, jika bukan hal pribadi tuannya, dirinya masih bisa memberikan pernyataan yang sesuai fakta, tetapi jika menyangkut hal pribadi tuannya, mungkin Adit akan sedikit berbohong, untuk menutupi semuanya soal wanita simpanan tuannya. Bukan apa-apa hanya saja untuk kebaikan semua.
"Syukurlah jika dia tidak memiliki istri yang lain."
Seketika itu Adit menoleh ke arah nyonya Faras kaget, seketika detak jantungnya berubah lebih cepat, sepertinya dirinya dilanda panik, namun masih mampu mengendalikan dengan rapi. Sehingga nyonya Faras tidak mengetahuinya.
Adit hanya diam saja, khawatir pertanyaan itu keluar dari mulut perempuan yang usianya sudah mau melewati paruh baya itu.
Selama tak ada pertanyaan keramat itu, semuanya akan aman untuk Adit. Dan dirinya tak perlu panik dan menjelaskan apa pun mengenai tuan Rey ketika di luar.
***
.
Angel membuka matanya perlahan saat jam memasuki waktu dini hari, matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu terang yang ada di ruangan itu. Sepertinya ada tangan lain yang saat ini menggenggam tangannya.
Tangan satunya yang terpasang selang infus itu terulur, membelai kepala suaminya. Kapan lagi dirinya berani memegang kepala suaminya jika bukan saat-saat seperti ini, saat suaminya tidur terlelap. Jika sudah bangun, dirinya akan sangat takut berbuat macam-macam dengan suaminya.
Tuan Rey yang terlelap itu terbangun, dan membuka suaranya.
"Apa kamu sudah bangun." Masih dalam menutup matanya, dirinya membuka suaranya ketika merasakan sentuhan di kepalanya.
__ADS_1
"Ehmmm iya." Seketika itu Angelica Sanan menjauhkan tangannya dari kepala suaminya.
Tuan Rey mengangkat kepalanya, dan membuka matanya perlahan, sementara rasa kantuk yang tadi mendera sudah hilang seketika, saat melihat Angel membuka matanya.
"Maafkan aku." Dua kata yang pertama keluar dari mulutnya setelah berhadapan dengan istrinya ketika sadar.
"Maaf untuk?"
"Telah meninggalkanmu di saat-saat seperti ini."
"Tak apa, aku sudah tidak apa-apa kok."
Mata mereka saling bertatapan, dalam beberapa menit saling mengunci, lalu tuan Rey mengakhiri pandangannya terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaan dia?"
"Dia baik-baik saja,"
Lalu mereka terdiam beberapa saat, tuan Rey sendiri terasa kaku jika berhadapan dengan istrinya Angel. Berbeda jika berhadapan dengan Vio yang sifatnya bar-bar.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?"
"Aku tak bisa makan apa pun,"
"Benarkah?"
Angel mengangguk pasti, matanya memandang suaminya. Tuan Rey sepertinya harus menekan egonya untuk masalah ini.
"Coba aku suapi mau?" Tanya tuan Rey. Lalu mengambil buah yang tersedia di meja nakas di samping brankar Angel.
Situasi seperti ini membuatnya canggung, Angel sendiri bingung harus berbuat apa.
Dalam keadaan seperti ini saja sangat tampan, sungguh tak sia-sia aku memiliki dirimu. Begitulah batin Angel saat ini.
"Kenapa terus memandangku?" Tuan Rey bertanya tanpa mengalihkan pandangannya yang saat ini sedang memegang pisau dan buah apel.
Dirinya tau jika sedang di perhatikan oleh istrinya. Angel seketika memalingkan pandangannya malu sudah ketahuan kepergok memperhatikan suaminya diam-diam.
"Siapa yang memandangmu." Elaknya.
"Aku sudah tahu kalau aku tampan,"
"Jika ingin memandang ya aku tak apa-apa, tak usah mencuri-curi pandang seperti itu."
Mungkin saat ini wajah Angel sudah merah merona seperti tomat karena malu.
"Ck tau saja jika ada yang mencuri pandang padanya." Dalam hati Angel.
"Tid...tidak. Aku tadi hanya memandang cara kamu mengupas apelnya saja." Angel masih menyangkal pernyataan suaminya.
"Apa kamu merasa takjub dengan caraku mengupas apel." Tuan Rey menyeringai memandang Angel dengan penuh maksud. Lalu terjadilah ciuman antara dua orang yang berada di dalam ruangan itu.
Tentu saja ini merupakan berkah bagi Angel. Karena dirinya tak berani meminta lebih dulu pada suaminya. Mungkin jika ino tidak di rumah sakit sudah di pastikan terjadi pertempuran lain.
__ADS_1
Sepertinya besuk-besuk tuan Rey harus berkonsultasi pada dokter kandungan Angel mengenai hubungan suami istri.